logo text

bag 21. Benalu Di Rumahku

Ketika Surgaku Tak Lagi Sempurna
Bag 21. Benalu di rumahku
"Oke, untuk skincare aku tetap tidak mau membayar, ini merupakan pembagian hasil keuntungan untukku!" Aku dan Mas Anung hanya bisa menggelengkan kepala, tetapi kami tetap harus mengalah, untuk menjaga kewarasan kami.
Segera aku membersihkan diri, setelah seharian berada di luar rumah. Ku tunaikan kewajiban tiga rakaat, kemudian menyimak hafalan anak-anak dan menyiapkan makan malam kami. Sebetulnya bukan menyiapkan, cuma memindahkan, karena semua sudah dikerjakan Bude Ari. Dan aku yakin kedua benalu itu hanya sebagai patung hidup disini.
"Mah, sudah selesai belum, aku buru-buru nih, takut telat!" Mas Anung terlihat sudah rapi di depanku.
"Sudah, Mas, ini tinggal memanggil Ibu! Atau mau saya ambilkan dulu saja, tidak perlu menunggu lainnya datang?" Aku sengaja memberi penawaran, karena Mas Anung terlihat sangat terburu-buru.
"Diambilkan saja dulu, aku takut telat! Aku sangat berharap banyak dari sini!" Aku senang melihat perubahan Mas Anung.
"Siap bos, ini, monggo segera dinikmati makan malamnya!" Segera kuberikan piring yang berisi nasi dengan lauk pelengkapnya.
"Ngapain kamu, makan duluan! Benar-benar tidak tahu sopan santun kamu ya, masih ada orang tua di sini kok diabaikan!" Mbak Nina terlihat kesal.
"Mau kemana, Nung, tumben malam-malam berpenampilan rapi?" Ibu heran dengan Mas Bayu.
"Saya ada pekerjaan baru, Bu, doakan semua berjalan dengan lancar ya!" Mas Anung menikmati makan malam dengan terburu-buru.
"Wah, ada tambahan biaya hidup dong!" Mbak Nina dengan benar-benar benalu.
"Mbak, cobalah cari pekerjaan, jangan hanya mengandalkan ibu. Kami memberikan uang tiap bulan kepada ibu, bukan untuk menghidupi keluargamu lho! Seharusnya kamu itu makan dari uang suamimu, bukan dari ibu! Masak suami istri hidup terpisah dengan status tidak jelas seperti ini!" Mas Anung segera menyelesaikan makan malamnya dan segera berangkat menuju kantor pusat partai.
"Benar, apa yang dikatakan Mas Anung itu, Mbak! Kamu sehat lho, seharusnya tenaga dan pikiran bisa kau gunakan untuk bekerja, bukan untuk merongrong terus!" Alhamdulillah aku bisa mengatakan segala uneg-unegku, semoga bisa menyadarkannya. Tetapi kulihat Mbak Nina tetap cuek tanpa ada ekspresi apapun.
"Urus dirimu sendiri, jangan mengurusi masalahku!" Segera ku tinggalkan meja makan, aku sudah malas mendengar segala perkataan Mbak Nina, pasti ada caci maki untukku.
"Ayo, anak-anak mulai belajar ya, masuk kamar masing-masing gih!" Anak-anak segera meninggalkan meja makan.
"Dias, aku belum selesai bicara! Dasar adik tidak punya akhlak!" Mbak Nina terlihat begitu marah.
"Emang gue pikirin, loe numpang tinggal dirumah gue, ingat itu!" gumamku.
Setelah anak-anak masuk ke dalam kamar masing-masing, aku segera menuju toko untuk memeriksa laporan hari ini. Dan merekap orderan yang belum direkap.
Alhamdulillah lumayan banyak orderannya, setiap hari selalu ada tambahan orderan dari konsumen baru. Ku periksa juga laporan keuangan dalam tiga bulan terakhir, laba bersih per bulan pun sudah lumayan banyak. Kalau ku hitung secara kasar saja dengan keuntungan per bulannya tetap, maka tahun depan aku bisa membeli sebuah mobil lagi. Aamiin, semoga selalu Kau permudah jalanku. Aku pasrahkan segalanya, semoga bisa memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
"Mah, belum tidur!" tersadar aku dari lamunan panjangku. Ternyata sudah hampir tengah malam, dan Mas Anung baru pulang dari kegiatannya.
"Bagaimana kegiatan malam ini, Mas?" tanyaku penasaran.
"Alhamdulillah berjalan dengan lancar, ternyata asyik juga berbicara politik dengan orang yang benar-benar menguasainya. Aku masih perlu banyak belajar dari Gendis dan suaminya. Suaminya Gendis benar-benar orang yang profesional dan berpengalaman. Terima kasih untuk doa dan dukungannya ya, Mah!" Mas Anung masih terlihat bersemangat.
"Mas, perlu aku buatkan sesuatu?" Aku sudah merasa mengantuk kalau harus mendengarkan cerita Mas Anung.
"Wedang uwuh saja, Mah! Terima kasih ya, sayang!" Mas Anung menuju kamar untuk berganti baju.
"Mas, wedang uwuhnya kuletakkan di meja ya!" Kulihat Mas Anung menikmati sebatang rokok sambil memandang langit. Dan kulihat dia mengangguk.
"Aku tidur dulu ya!" sudah tidak terdengar lagi suara Mas Anung, karena aku sudah benar-benar mengantuk.
***
"Mah, bangun, sudah siang!" Kulihat kedua anakku duduk di atas kasurku, baru tersadar, ternyata aku bangun kesiangan. Mas Anung dan dua anakku sudah pulang dari masjid.
Segera aku bangun dan melaksanakan kewajiban dua rakaat. Setelah itu segera kusiapkan sarapan yang simple saja, nasi goreng plus telur ceplok. Makanan favorit di keluarga kecilku ini.
"Dias, minuman untuk kami mana?" Mbak Nina tiba-tiba berteriak dan mengagetkanku. Benar-benar benalu orang ini.
"Bikin aja sendiri, Mbak, kan tinggal nyeduh saja. Tidak perlu memasak air, itu ada dispenser!" Pagi-pagi sudah bikin emosi saja orang ini.
"Mbak, ada apa? Kok teriak-teriak!" Mas Anung tiba-tiba duduk di meja makan.
"Istrimu itu, bukannya menyiapkan kita minuman malah sibuk sendiri!" Mbak Nina bersungut-sungut.
"Lha Mbak Nina ngapain aja di sini? Tidak punya kesibukan selain mencaci maki Dias? Kamu itu yang santai, tidak memiliki kesibukan apapun, mbok bantu kami menyiapkan apa kek!" Mas Anung mulai malas melihat tingkah laku Mbak Nina.
"Wah, sudah pandai menjawab rupanya adikku ini! Kamu itu jangan sok sibuk ya, saya bukan asisten kamu, tidak ada kewajiban untuk menyiapkan keperluanmu! Kamu adikku seharusnya kamu menuruti segala perintahku!" Mas Anung hanya geleng-geleng mendengar segala ucapan bibir kakaknya.
"Sebaiknya, Mbak Nina pulang ke rumah suamimu saja, banyak kewajiban seorang istri yang kamu tinggalkan lho! Daripada kamu sibuk dengan dirimu sendiri yang tidak jelas itu, lebih baik mengabdikan diri kepada suamimu! Kemarin saja nangis-nangis minta suaminya dikeluarkan dari penjara, setelah benar-benar keluar malah ditinggalkan, sebenarnya apa sih keinginanmu?" Mas Anung benar-benar muak dengan tingkah laku Mbak Nina.
"Oh, kau mengusirku! Oke, ingat, aku tidak akan membuat keluarga kalian hidup tenang!" Mbak Nina berlalu dengan segera.
Mbak Nina segera mengeluarkan koper yang dibawanya, sedangkan ibu masih ingin tinggal disini. Mungkin Mbak Nina belum sempat menceritakan pertengkarannya dengan Mas Anung. Biarlah dia pergi, paling tidak satu benalu dalam hidupku sudah meninggalkan rumahku.
"Sebenarnya kalian ada masalah apa? Sampai Nina pergi mau mengadu ke suaminya?" Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu.
"Biasalah, Mbak Nina, dinasehati tidak mau, ya begitulah! Ibu masih ingat kebiasaan Mbak Nina, kan?" Ibu hanya menarik nafasnya.
"Anak-anak kalian sudah siap belum?" Sudah hampir jam tujuh lho!" Aku menyiapkan tas yang akan kubawa bekerja.
"Anak-anak berangkat bareng aku saja, Mah! Untuk mobil box nanti ada Sengkuni yang bawa, tidak usah khawatir dia salah satu orang kepercayaanku." Mas Anung segera menuju mobil diikuti anak-anak.
"Pamit dulu sama nenek, nak!" Anak-anak segera mencium tangan neneknya.
"Dah…," mobil Mas Anung meninggalkan rumah.
"Dias, Ibu ikut tinggal di rumah ini ya, ibu betah tinggal di sini, ada teman mengobrol setiap saat. Bude Ari ternyata asyik juga diajak ngobrol dan momong cucu bareng-bareng!" Aku hanya bisa menahan nafas dan segera menganggukkan kepala.
"Saya pamit, dulu ya, Bu!" Segera ku tinggalkan ibu, dan ternyata aku masih belum bisa bernafas dengan lega.
"Assalamualaikum," segera ku pacu motorku.
💖💖💖😀😭😍💖💖💖
Alhamdulillah bisa tambah satu bab lagi, insyaallah malam ada tambahan lagi.
Terima kasih bagi pembaca yang berkenan membaca ceritaku ini, semoga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Aamiin
Jangan lupa follow akun jerami ya, terima kasih, like dan komennya juga sangat ditunggu!!!
Selamat membaca

Komentar Buku (12)

  • avatar
    Naii Cntik

    bgus

    27/05/2025

      0
  • avatar
    123bagus

    bagus

    23/01/2025

      0
  • avatar
    ZidanAlfa

    good

    02/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru