Ketika Surgaku Tak Lagi Sempurna Bag 14. Rejeki di tempat baru Hari ini aku bangun kesiangan karena semalam sampai dirumah hampir jam 11 malam dan mata ini baru bisa terpejam dini hari tadi. Segera aku menata tas dan koper-koper yang sudah aku isi pakaian tadi malam. Lumayan banyak juga pakaian kami, aku pilih yang masih bisa kami pakai dan pakaian yang kekecilan sengaja aku pisahkan. Supaya bisa diberikan kepada yang lebih berhak, walaupun bekas tetapi masih layak pakai. Martabak dan terang bulan menjadi menu sarapan pagi ini, susu dan nasi sebagai pelengkapnya, kata wong jowo nek ora mangan sego ora elok. "Tidak masak kamu, Yas?" Ibu langsung duduk dan meminum susu yang sudah kusiapkan di meja makan. Memang sudah menjadi kebiasaan ibu setiap pagi pasti sarapan di rumah kami. "Tidak bu, hanya ini yang bisa saya siapkan pagi ini," jawabku singkat. Sambil kulihat penampilan ibu yang sudah rapi pagi ini. "Ibu, ikut ke rumah kalian yang baru ya! Ibu pengen lihat seperti apa rumah yang begitu kalian idam-idamkan. Apa benar kamu bisa merubah gubuk menjadi istana!" terlihat Ibu tersenyum mengejek. "Silahkan, asal jangan buat onar di sana!" Di sana tempat orang bekerja, jadi tidak mungkin akan tenang!" ucap Mas Anung mantap. Aku hanya tersenyum mendengar segala ucapan Mas Anung. "Sudah benar-benar berubah kamu ya, Nung! Pasti pengaruh dari Dias!" Ibu tampak terkejut dengan ucapan Mas Anung. "Sudahlah, Bu, jangan menyalahkan Dias. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan perubahanku. Bagiku dia pendamping terbaik," Mas Anung tampak kesal dan segera menyudahi sarapannya. "Ayo, segera berangkat, masih banyak pr yang harus kita kerjakan disana. Dias, koper dan tas sudah masuk ke mobil semua, kan?" Mas Anung memeriksa barang-barang yang akan kami bawa. "Sudah semua, Mas!" Aku berkata sambil membereskan meja makan. Anak-anak sudah duduk manis di mobil bersama neneknya. *** Papan nama, banner dan selebaran sudah siap di dalam toko. Mas Anung segera memasang papan nama dan banner di depan pintu masuk toko, sedangkan selebaran akan kami berikan kepada konsumen yang datang di toko kami. Bahan mentah dan bahan kering sudah tertata rapi di ruang produksi, besok tinggal mengemasnya dengan cantik. Untuk yang sudah siap jual, juga sudah tertata rapi di etalase, wedang uwuh dan jamu instan yang sudah dipesan juga sudah kami pisahkan, besok tinggal mengantarkan sesuai alamat dan nama pemesannya. Ibu terlihat sibuk membantu menata pakaian anak-anak di dalam kamar, sengaja aku melatih anak-anak untuk mandiri, menata pakaian dan memasukkannya ke dalam lemari yang sudah kami beli kemarin. "Rumah kalian benar-benar bagus ya, tolong dapur di rumah ibu dirombak seperti disini, tentunya peralatan di dapur juga harus diganti yang baru, pokoknya seperti yang ada di sini." Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan ibu. "Dias, Anung kalian dengar yang ibu ucapkan tidak!" Ibu terlihat emosi. Mas Anung hanya menatap ibu sekilas. "He … yang mau pakai rumah ibu kan, Musa, kenapa harus kami yang membiayai renovasinya? Biarlah Musa sendiri yang merombak dan membiayainya sendiri!" Malas sekali menjawab perkataan ibu. Ibu terlihat tidak terima karena melihat perubahan rumah orang miskin ini. "Lancang sekali kamu, seharusnya kamu membantu Anung untuk bisa menuruti permintaan ibu!" Ibu menatap tajam mataku. Kutinggalkan ibu dengan berbagai pertanyaannya, aku abaikan segala caci maki dan hinaannya. Aku sudah terbiasa mendengarnya dalam sepuluh tahun pernikahan kami. Mas Anung terlihat bersemangat membereskan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah ini. "Assalamualaikum, bisa saya bertemu dengan Mbak Dias?" tanya seseorang yang terlihat santai dalam penampilannya. Terlihat beberapa orang yang mengikutinya. "Waalaikumsalam, iya, saya Dias, ada yang bisa kami bantu?" tanyaku penasaran. "Perkenalkan saya, timses dari salah satu partai, dan maksud kedatangan kami, kami ingin memberikan penawaran kerjasama. Adapun kerjasama itu dengan membeli produk jamu instan untuk kami jadikan bingkisan kepada warga supaya mendukung salah satu calon kami. Tapi maaf sebelumnya, bisakah kami diberikan contoh minuman yang sudah diseduh saat ini? Kami akan memilih yang cocok menurut kami!" ucap seseorang itu. "Bisa, sebentar kami persiapkan! Monggo silahkan duduk dulu atau dilihat-lihat dulu produk-produk yang kami pasarkan!" jawabku sambil menyiapkan minuman yang kami jual. "Mbak, saya memilih wedang uwuh saja, untuk minggu ini tolong disiapkan seribu bungkus dan minggu berikutnya seribu bungkus, jadi total yang saya pesan selama satu bulan ada empat ribu bungkus!" Terlihat bapak itu begitu menikmati minuman yang kuseduh, begitu juga bapak-bapak yang lainnya. Aku hanya melongo mendengarnya, rasanya tidak percaya dengan yang beliau katakan. "Mbak, ini perjanjiannya sudah saya buatkan, tolong dibaca kemudian ditandatangani!" Beliau menyodorkan hp untuk saya pelajari dulu. "Iya pak, sudah saya tandatangani dan segera saya buatkan kwitansi untuk pembayaran dpnya." Aku berkata dengan bergetar. "Bisa minta nomor rekeningnya, sudah masuk ya, lima puluh persen pembayaran. Lima puluh persennya setelah semua pesanan siap!" Aku hanya menganggukkan kepala, setelah melihat nominal di laporan m-banking, empat puluh juta sudah masuk. Bergetar tanganku melihat nominal yang begitu besar masuk dalam sekejap. "Mengapa bapak memilih produk kami!" dengan bodohnya aku menanyakan pilihannya. "Jangan bertanya mengapa saya memilih, tetapi selalu pertahankan dan tingkatkan kualitas produk anda!" Bapak itu menjawab sambil berlalu dari hadapanku. Aku mengantar beliau-beliau yang merupakan timses itu sampai pintu depan toko. Rasa tidak percaya masih menyelimutiku saat ini. Begitu banyak rejeki yang tiba-tiba datang di tempat yang baru kami. Segera ku hilangkan rasa keterkejutanku saat ini, aku melangkah mantap menuju rumah kami. Allah memang sudah mengatur segalanya, rezeki tidak akan tertukar dan rezeki itu akan datang di waktu yang tepat. "Mbak, besok kita mulai bekerja keras menyiapkan wedang uwuh, kita mendapatkan pesanan yang sangat banyak. Seribu bungkus setiap minggunya, selama satu bulan. Selain itu kita juga harus menyiapkan orderan dari tempat-tempat lainnya." Aku berkata dengan mantap, mbak Lastri masih tampak kebingungan mendengar yang aku katakan baru saja. "Alhamdulillah, Dias, semoga rezeki kita selalu lancar ya, aamiin. Untuk opening besok bagaimana, sudah kau undang pihak-pihak yang berkaitan atau bagaimana?" Mbak Lastri tampak ragu dengan pertanyaannya. "Besok kita berbagi saja, Mbak, kita bagi-bagi makanan dan sembako kepada warga sekitar saja." Aku berharap semoga selalu diberikan kemudahan dalam segala hal. "Oke, besok agak siang saja ya, kita pesan makanan di warung ayam bakar Bu Tejo ujung jalan itu, biasanya melayani pesanan mendadak!" Mbak Lastri ikut merasakan kegembiraan yang aku rasakan. "Untuk sembako, kita bisa pesan sesuai budget kita di grosir dekat sini, biar semua merasakan rejeki kita!" saran Mbak Lastri. Aku tersenyum bangga mendengar saran mbak Lastri. 💖💖💖🙏🙏🙏💖💖💖 Alhamdulillah bisa up pagi ini. Saya ucapkan terima kasih kepada pembaca setia cerita saya, semoga selalu diberikan kemudahan dan kelancaran rezeki seperti Dias. Aamiin Jangan lupa follow akun author supaya tidak ketinggalan bab barunya, like dan komen comelnya juga sangat dinantikan. Terima kasih. Selamat membaca
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus
27/05/2025
0bagus
23/01/2025
0good
02/12/2024
0Lihat Semua