Ketika Surgaku Tak Lagi Sempurna Bag 12. Pindahan Pagi ini begitu cerah, matahari bersinar dengan indahnya, ku mulai aktivitas pagi ini penuh semangat. Mas Anung sedang menyiapkan mobil dan orderan jamu yang akan diantarkannya, sedangkan anak-anak sudah minum susu dan menikmati sarapan. Dan aku masih berganti menyiapkan nota-nota yang akan dibawa Mas Anung. "Masak apa? Ibu ikut sarapan disini ya!" Ibu tiba-tiba masuk dan langsung menyiapkan piring dan isinya untuk dimakan. "Monggo Bu, tapi saya masaknya cuma sayur asem, lele goreng dan sambal terasi," aku menjawab sambil menyiapkan nasi untuk Mas Anung. "Ayah, makan dulu, ditunggu nenek!" Anakku memanggil ayahnya yang masih sibuk memasukkan pesanan jamu dan wedang uwuh ke dalam mobil. "Iya, sayang, sebentar!" jawab Mas Anung. Ibu terlihat menikmati sekali sarapan pagi ini. "Kapan kalian akan pindah?" Ibu mertua bertanya. "Insyaallah hari Minggu kami pindah, Bu," jawabku singkat. Aku merasa ada sesuatu di balik kedatangan ibu pagi ini. "Setiap hari kami akan mencicil sedikit demi sedikit barangnya, biar besok minggu tidak terlalu banyak." Mas Anung menjawab sambil menikmati sarapan pagi ini. "Barang-barang di rumah ini jangan kamu bawa, biar tetap seperti semula, kalian hanya membawa pakaian saja." Ibu mertua berkata sambil menatap tajam padaku. "Kami hanya membawa barang-barang yang kami beli setelah menikah, Bu. Tenang ibu, kami tidak akan melupakan ibu, kami akan sering kemari, Bu!" Mas Anung menjawab sambil menatap ibu penuh kasih sayang. Bagaimanapun juga seorang ibu pasti akan merasa kesepian, seandainya ditinggal salah satu anaknya pergi. "Jangan kau pengaruhi Anung, dia harus ada kalau aku butuh bantuan. Ingat Dias, Anung itu anak laki-laki tertua, dia harus bertanggung jawab dengan ibu dan adik-adiknya. Aku senang kalau kamu pergi dari rumahku, bosan aku melihat wajahmu!" Ibu menjawab tanpa melepaskan tatapan matanya padaku. "Ibu, jangan berbicara seperti itu! Dias ini istriku, kenapa ibu sangat membencinya!" Mas Anung terlihat tidak terima. "Ibu, akan memberikan rumah ini kepada Musa, ingat jangan bawa barang-barang yang ada di rumah ini!" aku mulai membaca maksud kedatangan ibu kali ini. "Mesin cuci, lemari es, televisi, dan barang-barang elektronik lainnya tetap kami bawa, enak banget Musa langsung dapat enaknya!" Aku menjawab dengan asal. "Dias, kamu itu cuma menantu, tidak bisa mengambil keputusan. Kamu harus menuruti permintaan ibu!" Aku mulai kesal dengan sikap semena-mena ibu. "Anak-anak, ayo kita berangkat sekarang, ini sudah siang lho!" Aku segera mengakhiri perdebatan pagi ini. Mood Ku sudah hilang gara-gara ibu mertua yang tidak tahu diri. "Ayo, semua masuk ikut ayah ya, kita berangkat bareng, ayah yang mengantarkan kalian. Dias kamu naik motor saja ya, nanti langsung ke rumah usaha kita. Nanti motormu ditinggal saja di sana!" Mas Anung segera mengakhiri sarapan pagi ini. "Lele dan sayur asemnya, saya bawa lho, kasihan kakakmu belum makan!" Aku sudah mulai kesal dengan ibu. "Ayo, kita berangkat!" Aku sudah malas berada ditempat ini. "Dias, ingat kamu di rumah ini itu cuma debu, hanya jadi kotoran saja. Makanya tahu diri dong, jangan berlagak seperti bos!" Ibu memasukkan sisa sayur dan lele beserta perlengkapannya di dalam rantang. "Mas kita berangkat bareng semua saja, aku baru malas naik motor!" Aku sudah bosan dengan segala perlakuan ibu, ingin segera pergi meninggalkan rumah neraka ini. "Oke," jawab Mas Anung singkat. *** Hari ini Mas Anung sengaja menutup bengkelnya, setelah mengantarkan pesanan jamu dan wedang uwuh di kabupaten dan kecamatan, dia akan memindahkan barang-barang yang ada di rumah kami. Ucapan ibu tadi pagi kuabaikan. Karena barang-barang elektronik itu kami membelinya dengan uang kami sendiri. Rumah usaha yang minimalis konsepku, aku sangat senang dengan hasil renovasi rumah ini. Bahan-bahan utama produksi jamu sudah berada disini, bahkan salah satu pegawaiku sudah memulai menjemur empon-empon disini. Anak-anak terlihat senang sekali, karena mereka memiliki kamar masing-masing dan dirombak sesuai keinginan mereka. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak. "Enak banget ya, barang-barang kamu angkutin semua, rumah yang disana jadi kosong dong! Bagaimana Musa bisa tinggal disana kalau semua, barang-barang kalian angkut?" Mbak Nina terlihat emosi mendengar jawaban Mas Anung. "Itu bukan urusan saya, kalau dia mau tinggal disana, ya modal dong! Jangan mau enaknya saja!" Jawabku tak kalah ketus. "Dias, maaf itu ada yang mau bertemu!" Mbak Lastri mengajakku meninggalkan rumah dan pindah ke toko kami. "Siapa, mbak?" tanyaku penasaran. "Kamu temuin saja dulu, kelihatannya orang penting!" Jawab Mbak Lastri ragu-ragu. "Oh, Mbak Lastri ini bikin penasaran saja!" ucapku. Segera aku meninggalkan rumah dan menemui tamu tersebut. "Assalamualaikum, Mbak Dias ya, kami dari kecamatan, langsung saja njih!" Tamu tersebut memperkenalkan diri. "Waalaikumsalam, iya, ada yang bisa saya bantu? Mohon maaf tempat kami masih berantakan!" Jawabku. "Setelah kami amati dalam dua bulan ini, usaha jamu instan dan wedang uwuh ini sangat-sangat bermanfaat bagi semuanya. Mbak Dias membuka lapangan pekerjaan baru, Mbak Dias juga menampung empon-empon yang dulunya hanya dijadikan sampah oleh masyarakat kini bisa menghasilkan uang. Dan juga nama desa kita jadi terangkat. Kami dari pihak kecamatan bermaksud menjadikan usaha Mbak Dias menjadi ikon dari kecamatan kita," aku hanya melongo mendengar semua perkataan tamu itu. Aku tidak menyangka jika usahaku ini bisa begitu dikenal. "Bagaimana Mbak Dias, setuju atau tidak dengan penawaran kami. Seandainya setuju, akan kami buatkan kontrak eksklusif dan mematenkan usaha tersebut menjadi usaha di kecamatan kita." Mata ini langsung berkabut mendengarnya, dan aku hanya bisa berkata… 💖💖💖🙏🙏🙏💖💖💖 Apa yang akan dikatakan Dias, tunggu up babnya besok ya! Terima kasih sudah berkenan membaca ceritaku, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian. Aamiin Jangan lupa follow akun author ya, like dan jejaknya juga sangat ditunggu Selamat membaca
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus
27/05/2025
0bagus
23/01/2025
0good
02/12/2024
0Lihat Semua