Aku masih terpaku menatap layar monitor CCTV, mencoba mengamati lebih jelas, sosok yang terlihat di video yang sedang diseret seseorang. Sambil berharap, semoga orang yang tertangkap kamera itu bukan Aruna. Entah kenapa, firasatku mengatakan, kalau itu adalah Aruna. Tapi, jika dilihat tanggal dan jam nya, bukankah itu terjadi sekitar seminggu yang lalu, seperti yang dikatakan pemilik warung, bahwa Aruna terakhir datang ke warungnya seminggu yang lalu. Kuacak rambut dengan kasar, pikiran buruk berseliweran dalam kepala, jujur, aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna, terlebih, dia saat ini sedang hamil muda dan sampai saat ini aku belum menemukan keberadaannya atau titik terang keberadaannya. Terlepas dari segala masalah yang terjadi di antara kami. "Moza ...." Mendadak, di tengah kebingungan yang mendera, aku seolah mendengar seseorang membisikkan nama Moza di telinga. Sangat lirih, namun aku bisa mendengar dengan jelas. Aku memutar tubuh, mencoba mencari keberadaan orang yang baru saja berbisik padaku, namun tidak kutemukan siapa-siapa di rumah. Justru aku merasakan bulu kuduk meremang, tengkuk terasa dingin seolah ada yang meniup dari belakang. Kuusap kedua lengan bergantian, dan bergegas mengambil kunci mobil. Yang ingin kulakukan sekarang adalah, secepatnya kembali ke rumah Moza, dan menanyakan langsung padanya, apa yang sudah dia lakukan ketika bertemu Aruna. Aku merasa, Moza tahu sesuatu tentang Aruna dan berusaha menyembunyikannya dariku, terlebih, dia selalu terlihat gugup setiap kali membahas Aruna. *** Kupacu mobil menuju rumah Moza. Hari menjelang senja, ketika sampai di rumah besar tersebut. Rumah terasa lengang dan sunyi, namun pintu depan terbuka, dan sesekali berderit setiap kali angin kencang berembus. Hal itu membuatku merasa ngeri, karena semakin memberi kesan mistis dan angker semakin kental di rumah ini. Lagipula, kenapa Moza begitu ceroboh, membiarkan pintu rumah terbuka tanpa menguncinya? Aku bergegas masuk ke dalam, saat melewati ruang tamu, aku mendengar suara salah satu acara di TV yang berasal dari ruang keluarga. Apakah Moza sedang menonton televisi saat ini? Saat sampai di ruang tengah, tidak terlihat Moza ada di sana. Sementara, televisi dibiarkan menyala dengan suara keras tanpa ada yang menontonnya. Aneh, memang. Dia bahkan tidak menyambut kedatanganku, sangat berbeda sekali seperti kebiasaannya selama ini, yang selalu menyambutku di depan pintu. "Moza, Moza ...." Panggilku, sambil menaiki tangga menuju lantai atas. "Moza ...." Panggilku pelan, sambil mendorong pintu kamar pelan. Ketika pintu terbuka penuh, krpalaku melongok ke dalam, namun lagi-lagi, tidak ada Moza di sana. Ada rasa kecewa, ketika tidak mendapati Moza berada dalam kamar. Kuhempas tubuhku ke atas tempat tidur, sambil menunggu Moza datang. Mungkin dia sedang keluar dan lupa mengunci pintu. Ah ... entahlah. Getaran ponsel di saku celana, membuatku terbangun. Ah, rupanya aku tertidur tadi. Kukeluarkan ponsel dan melihat siapa yang mengirim pesan padaku, siapa tahu itu dari Moza. "Bro, ke tempat biasa, yuk. Bosan banget di rumah." Aku menarik napas dalam, setelah membaca pesan, yang ternyata dari Raka. Kulirik arloji, ternyata sudah pukul 7.15 malam. Cukup lama juga aku tertidur. "Sorry, Bro, gue di rumah Moza," balasku singkat. Tidak ada balasan lagi, setelah pesan dibaca. Aku yakin Raka mengerti jika aku mengatakan sedang bersama Moza. Aku kembali membuka ponsel, ada sesuatu yang kurasa janggal. Namun aku tidak tahu, apa. Ah ... ternyata, tidak ada pesan atau telepon dari Moza sejak aku kembali pulang kemarin. Dan itu sangat janggal, karena dia akan selalu menanyakan keberadaanku, baik lewat pesan atau telepon. Aku mencoba menghubungi nomor telepon Moza, namun selalu diluar jangkauan. Berkali-kali kucoba meneleponnya kembali, namun hanya jawaban dari operator yang kuterima. Hal ini membuatku kesal. Kuputuskan untuk melihat kembali status aplikasi pesan miliknya, di sana tertulis kalau dia terakhir aktif kemarin, pukul 7 pagi, waktu di mana aku mengantarnya ke halte. Bergegas aku turun kembali ke lantai bawah untuk menuju garasi. Di sana, mobil Moza masih terparkir seperti semula. Tidak ada tanda-tanda mobil itu baru dipakai. Kubuka pintu mobil, baru saja kubuka, bau anyir menyeruak menusuk hidung hingga membuatku mual. Namun bukan itu yang membuatku terkejut, karena di lantai mobil, ada genangan berwarna pekat yang hampir mengering. Dengan tangan bergetar, aku menyentuh cairan itu dengan ujung jari, ternyata darah, dan hampir mengering. Aku mundur cepat, hingga kepala terantuk pintu mobil. Ada yang tidak beres sedang terjadi, dan aku yakin, ini bukan sesuatu yang baik. Karena ada genangan darah di mobil, sementara Moza tidak ada di rumah. Moza, apa yang terjadi padamu? Lalu, darah siapa yang tertinggal di mobil milikmu ini? ** Dengan panik, aku mencari keberadaan Moza di dalam rumah. Setiap ruangan kuperiksa, bahkan kamar mandi tidak luput dari tempat yang kuperiksa, berharap Moza ada dalam salah satu ruangan yang ada di rumah ini, tapi lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan. Moza tidak ada di rumah. Belum juga aku menemukan Aruna, kini Moza pun hilang tanpa jejak. Brakk!!! Sebuah lukisan yang tergantung di dinding lorong jatuh. Padahal tidak ada angin yang menerpa atau tersenggol sesuatu. Semenit kemudian, tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam rumah. Beberapa pigura yang tergantung berjatuhan, angin bertiup semakin kencang seolah hendak memporak-porandakan seisi rumah. Tiba-tiba aku teringat dengan cerita Moza, tentang gangguan yang diterimanya akhir-akhir ini. Apakah saat ini, aku juga sedang diganggunya? Susah payah aku berusaha keluar dari rumah, ketika sampai di teras, tidak ada angin atau apa pun. Suasana sangat tenang, jalanan lengang. Hanya sesekali pengendara bermotor lewat. Aku berlari dan masuk ke dalam mobil, lalu memacunya kencang. Hanya ada satu tujuan yang ada di kepalaku saat ini. Ke rumah nyai Sukma. Saat mobil yang kukendarai tiba di pinggiran kota, suasana begitu sepi dan mencekam. Yang terlihat hanya pohon jati yang dan mahoni yang berjajar di sepanjang jalan. Dari kejauhan, terlihat sebuah gapura menuju sebuah dusun yang terletak di pinggir hutan. Rumah besar yang terbuat dari kayu, dengan model lama dan lebih mirip seperti pendopo, berdiri angkuh di bawah temaram lampu. Seorang wanita muda, datang menghampiriku, ketika aku keluar dari mobil. "Yustin, apakah Nyai ada?" tanyaku pada gadis yang menyambutku. "Ada, dia sedang menunggumu," jawabnya singkat, dengan tatapan sinis padaku. Aku kurang menyukai gadis ini sejak awal, karena dia tidak pernah bersikap ramah padaku. Bahkan, seolah menunjukkan rasa tidak suka padaku. Aku berjalan mengikutinya menuju sebuah ruangan. Di sana, seorang wanita tengah baya sedang duduk sambil memejamkan mata. "Akhirnya kamu datang juga, Juna." ---
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (250)
Allan
sungguh menarik dan sangat memotivasi kalau segala sesuatu harus di lakukan dengan cara yang baik
sungguh menarik dan sangat memotivasi kalau segala sesuatu harus di lakukan dengan cara yang baik
24/01/2022
1Seru banget ceritanya... S2 nya ada ngga ya?
08/04
0Novel nya bagus
23/03
0Lihat Semua