"Aruna ...." Panggilku dan Raka bersamaan. Saat aku hendak melangkah masuk, Raka sudah berlari mendekati Aruna, hingga membuatku menghentikan langkah. Dari ambang pintu, aku hanya mampu berdiri terpaku seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa, dan hanya sanggup menatap ke arah Aruna. Sementara itu, Raka duduk di depannya, dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna, hingga jarak mereka begitu dekat. Raka memegang kedua bahu Aruna yang terguncang karena menangis sambil mengatakan sesuatu. Entah apa yang dia katakan, namun, beberapa saat kemudian, Aruna terlihat tenang. Dia tidak lagi menangis, walau sesekali dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Raka menoleh ke arahku, entah kenapa, pandangan matanya membuat darahku berdesir. Harusnya, aku yang berada di sana, mengusap air mata Aruna dan menenangkannya, serta memberikan bahuku untuknya bersandar. Tapi, aku justru mendapati diriku sendiri berdiri kaku dan hanya bisa menatap tangan Raka menghapus sisa air mata di wajah Aruna. "Juna ...." Panggil Raka. "A--Aruna kenapa?" tanyaku tergagap. Benar-benar bodoh. Bahkan untuk menjawab panggilan Raka pun, membuatku tergagap, kehilangan kata-kata. Aku menarik napas dalam, dan bergegas mendekati Aruna. Aruna menundukkan wajah, begitu aku mendekatinya. "Aruna ...." lirihku, sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh tangannya. Akan tetapi, Aruna buru-buru menarik tangannya dan beringsut menjauh dariku. Hatiku mencolos, seolah ada sesuatu yang hilang dan ditarik paksa dari sana. "Aruna ... kenalkan, ini temanku, namanya Arjuna," ucap Raka lirih. Apa yang Raka coba lakukan? Apakah dia sengaja mencari muka di depan Aruna, dan memanfaatkannya, karena saat ini dia tidak mengenaliku? Aku menarik napas dalam, kucoba menahan gejolak di dada. Bukankah selama ini aku berusaha menemukan Aruna? Ketika saat ini dia sudah ada di depanku, harusnya aku merasa bahagia. Tapi ... kenapa justru hatiku sakit dan hampa? "Arjuna ...?" lirih Aruna. Perlahan, dia mendongak, menatapku dengan sorot mata bimbang. "Iya, dia Arjuna, temanku juga temanmu," lanjut Raka. "Temanku?" ulang Aruna. "Iya, temanmu," jawab Raka. Kutatap Raka dengan pandangan protesku. Apa-apaan ini? Kenapa dia memperkenalkanku sebagai temannya. "Aruna, kita bahkan bukan sekedar teman. Kita bahkan sudah meni ...." "Arjuna ini teman dekatmu dulu, Runa. Kamu ingat, kan?" Raka memotong cepat ucapanku. Sementara itu, Aruna memandangku dengan tatapan entah. Namun yang pasti, sorot matanya memperlihatkan kebingungan. "Juna, apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu, dengan mengatakan pada Aruna, kalau kalian sudah menikah?" desis Raka. "Aku sudah mencarinya ke mana-mana, dan saat ini aku sudah menemukannya di sini. Apa aku salah mengatakan padanya tentang hubungan kami?" protesku. "Kamu tidak salah, hanya waktunya yang kurang tepat," jawab Raka dengan berbisik. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aruna, sambil menatapku dan Raka bergantian. "Tidak, kami ngobrol sedikit," jawab Raka berbohong. "Baiklah, aku sebaiknya mengantarmu kembali ke kamar," ucap Raka. Raka memapah Aruna menuju kursi roda yang berada di sudut ruangan. Kenapa dengan kaki Aruna, sampai dia tidak bisa berjalan? "Aruna, kenapa dengan kakimu?" tanyaku. Kudekati Aruna yang sudah duduk di atas kursi roda, mendorong tubuh Raka untuk menjauh dari Aruna, hingga membuatnya hampir saja terjatuh. Akan tetapi, sungguh di luar dugaanku. Saat aku berjongkok hendak melihat kakinya, Aruna justru mendorongku. Sorot kemarahan begitu nyata terpancar dari sorot matanya. "Pergi, jangan sentuh aku!" Sentaknya. "Apa yang baru saja kamu lakukan, Juna? Jangan berbuat konyol," ujar Raka yang sudah berdiri di samping Aruna. Tangannya dengan cekatan mengambil kain yang terjatuh, dan meletakkan di atas pangkuan Aruna. Bukan, itu bukan kain. Tapi sebuah scarf yang sering dipakai Aruna. Iya, itu adalah scarf favoritnya. Kembali, dadaku terasa nyeri. Bukan karena perlakuan Aruna yang sama sekali tidak mengenaliku dan hanya mengenal Raka. Namun, dia bahkan masih menyimpan dan membawa scarf itu yang merupakan pemberian Raka, walaupun dalam keadaan hilang ingatan. "Aku akan membawa Aruna kembali ke kamarnya, setelah itu, kita bicara." Raka mendorong pelan kursi roda Aruna, kuikuti mereka tanpa bersuara. Sesekali Raka mengajak Aruna berbicara, yang ditimpali dengan jawaban pendek. Percakapan yang terdengar kaku, seperti dua orang yang baru kenal satu sama lain. Namun, entah kenapa, melihat mereka bercengkerama, membuatku merasa cemburu. Karena, lagi-lagi, bukan aku sosok yang berbicara dengan Aruna. Tapi, Raka. Apakah Aruna begitu membenciku? Sehingga, dia sama sekali tidak mengingatku dan bahkan seolah terhapus dari memori ingatannya? Raka berhenti di depan sebuah kamar, seorang perawat datang dan membantunya untuk membawa Aruna masuk. Kamar itu tidak terlalu besar, hanya ada lemari kayu, meja kecil yang dihiasi bunga mawar yang tertata cantik dan kursi. "Kamu lihat, kan? Di sinilah Aruna tinggal," ucap Raka membuka percakapan. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari saku celananya, tak lama, asap rokok sudah mengepul dari mulutnya. Kukibaskan asap rokok yang menerpa wajahku, sambil sedikit terbatuk, aku bertanya, "Jadi, sejak kapan kamu mengetahui kalau Aruna ada di sini?" Raka kembali menghisap rokoknya, lalu mengembuskan pelan asapnya. Lirih dia berkata, "Setelah aku mengatakan padamu, kalau aku melihat Aruna di rumah saki jiwa. Hari itu juga, aku datang ke sini untuk memasktikan apa yang kulihat. Dan seperti yang kamu lihat, dia benar-benar ada di sini." "Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku? Bukankah kamu juga tahu, kalau aku selama ini juga mencari keberadaannya?" protesku. "Untuk apa? Bukankah kamu tidak percaya saat aku memberitahukan padamu saat itu?" cubir Raka. "Apakah kamu akan tetap merahasiakannya dariku, seandainya aku tidak menemukannya di sini?" "Tergantung," jawab Raka sambil mematikan rokoknya. "Maksud kamu, apa?" selidikku. Raka menarik napas dalam, lalu dia memutar tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Cukup lama dia terdiam sambil, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Aruna sakit, Juna. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwanya." "Aku tahu, Aruna sakit karena depresi. Dan aku juga tahu, akulah penyebabnya," selaku cepat. "Tidak, Juna. Kamu tidak mengerti," ucap Raka sambil menggelengkan kepala. "Apa yang tidak kumengerti? Walau aku belum bisa menjadi suami yang baik, tapi aku cukup tahu, apa yang terjadi pada Aruna. Dia depresi dan tertekan, karena sikapku selama ini ...." ujarku. Kuacak rambutku kasar, ada rasa penyesalan ketika melihat kondisi Aruna. Walau bagaimana pun, aku punya andil besar atas apa yang menimpanya saat ini. Andai saja aku bisa lebih memerhatikannya selama ini. "Juna, Runa sebenarnya ...." Raka menggantung kalimatnya. Hal itu membuatku semakin penasaran. "Runa kenapa?" tanyaku penasaran. "Dokter bilang, Aruna mengidap skizofrenia," lirih, Raka berkata. Namun, mampu membuat tulang sendiku menjadi lemas. "Skizofrenia?" ulangku. Tanganku bergetar, bahkan seluruh tubuhku kini berguncang menahan sesak di dada. Kutatap ruangan di mana Aruna berada, yang cukup jauh dari tempatku duduk saat ini. Apakah ini jawaban atas semua pertanyaanku selama ini? Bahwa, semua yang terjadi memang berhubungan dengan Aruna. Tapi ... bagaimana dia bisa melakukan semuanya? Sementara dia selama ini berada di rumah sakit jiwa?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (250)
Allan
sungguh menarik dan sangat memotivasi kalau segala sesuatu harus di lakukan dengan cara yang baik
sungguh menarik dan sangat memotivasi kalau segala sesuatu harus di lakukan dengan cara yang baik
24/01/2022
1Seru banget ceritanya... S2 nya ada ngga ya?
08/04
0Novel nya bagus
23/03
0Lihat Semua