"Santi, kamu duduk dulu ya, aku mau masak. Kalian pasti lapar. Mas, kamu mandi dulu ya," ucap Winda lagi. "Iya, dek," jawab Mas Rendy singkat. Duh, kenapa hatiku ikut terenyuh melihat kemesraan mereka. Andai saja aku yang jadi Winda sudah pasti aku bahagia sekali. "Win, boleh aku bantu kamu memasak?" tanyaku lagi. Wanita itu tersenyum. "Boleh sih, tapi emangnya kamu gak capek?" Aku bangkit dari duduk, lalu menghampiri Winda. "Enggak dong, sudah lama kita gak ketemu, aku ingin masak bareng sahabatku ini..." ledekku sambil menjawil pipinya yang putih natural. "Ya sudah, ayo..." Di dapur aku hanya membantu mengiris bumbu2, dan mencucinya. Selebihnya Windalah yang memasak. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya, membuat keterampilan masaknya terlihat bertambah bagus. "Hebat kamu ya, Win. Kamu jadi tambah pintar masak," pujiku. "Tiap hari sudah jadi pekerjaanku, San." "Senang deh punya suami yang mau menerima masakan apa saja," sahutku lagi. "Sebenarnya Mas Rendy agak pemilih, tapi dia akan tetap makan masakanku," jawabnya sambil tersenyum. "Oaa... Oaa.. Oaa..." Terdengar suara tangis bayi, membuat kami terkesiap. "Ah, Sofia bangun, aku kesana dulu," tukas Winda sambil tersenyum. "Iya, biar ini aku yang lanjutkan," jawabku mantap. Aku menyiapkan makanan yang sudah dimasak oleh Winda dan membawanya ke meja makan. Rupanya Mas Rendy sudah duduk disana. Aku tersenyum ketika dia menatapku menghidangkan makanan. Seakan banyak pertanyaan didalam benaknya. "Maaf mas, kalau saya lancang. Tadi adek Sofia nangis, jadi Winda nenangin dia dulu," jawabku agak gugup. "Oh iya, gak apa-apa," jawabnya santai lalu kembali menatap layar handphonenya. Winda segera kembali membawa bayinya dalam gendongan. "Maaf mas, tadi Sofia nangis," tuturnya pada suaminya itu. Mas Rendy tersenyum dan menghampiri istrinya lalu mengecup kening anaknya. "Tidak apa-apa, dek," jawabnya kemudian. Duh, kenapa mereka terlihat mesra sekali. "Makasih ya Santi, udah jauh-jauh datang malah ikut bantuin aku," ujar Winda. "Santai aja Win, lagian kita udah lama gak ketemu, kan?" sahutku lagi. Kamipun menikmati makan malam bersama. Selesai makan bersama, akupun mengutarakan maksudku padanya. "Maaf sebelumnya Winda, Mas Rendy, boleh tidak untuk malam ini saja aku bermalam disini?" tanyaku dengan hati-hati. Winda dan Mas Rendy saling berpandangan. "Bagaimana menurutmu, Mas?" Winda bertanya pada suaminya lagi. "Terserah kamu saja, dek," jawab Mas Rendy. "Ah begini, biar aku jelaskan dulu Winda, Mas Rendy, sebenarnya kedatanganku kesini selain ingin ketemu kalian, aku juga ingin cari-cari pekerjaan. Kebetulan di kota ini aku tidak mengenal siapa-siapa, hanya kalian saja. Semoga saja kalian mau aku repoti. Jadi, aku ingin izin menginap untuk malam ini saja. Besok aku akan mencari rumah kontrakan. Kalau tidak boleh biar aku pulang saja, tapi aku takut kalau keluar sendirian malam-malam." "Santi, jangan bicara seperti itu, kamu boleh kok menginap disini. Nanti aku bereskan dulu ya, kamar tamunya," jawab Winda kemudian. "Apa gak merepotkan kamu, Win?" "Enggak kok, tenang aja Santi. Oh iya mas, barangkali di kantormu ada lowongan? Biar Santi melamar di tempat kamu bekerja, dia lulusan S1," sahut Winda lagi. "Di tempatku sih gak ada, lowongannya baru saja ditutup, tapi kalau di tempatnya temanku ada, dek. Biar nanti kuhubungi dulu orangnya, siapa tahu masih membutuhkan," jawab Mas Rendy yang membuat jantungku berdegup tak karuan. "Wah, terima kasih ya, Mas," sambungku lagi. "Oh iya mas, sekalian besok antar Santi cari-cari kontrakan," cetus Winda lagi. "Tidak, Win. Tidak usah, nanti malah merepotkan kalian." "Gak apa-apa kok San, kamu kan belum tahu daerah sini," sanggahnya lagi. Aku kembali menatap Mas Rendy yang pandangannya belum lepas dari layar handphone. "Menurutmu gimana, Mas?" tanya Winda pada suaminya. "Ya? Sebentar sayang, mas lagi nanya-nanya tentang pekerjaan," jawab Mas Rendy. Kenapa hatiku merasa panas ketika Mas Rendy memanggil Winda dengan sebutan sayang? Hah, ya jelas mereka kan suami istri, kenapa aku harus cemburu sih. "Santi, aku rapikan kamarnya dulu ya, biar kamu bisa istirahat," ucap Winda. "Ah iya, makasih Win," jawabku. Aku mengamati wajah Mas Rendy, biarpun diam dia terlihat mempesona. Aku jadi mengutuk diriku sendiri, kenapa aku yang selalu tertinggal di belakang Winda. Winda sudah kembali dengan senyuman yang mengembang. "Santi, kamarnya sudah siap ya. Kamu bisa bebersih badan dulu." "Makasih ya, Win," aku mulai beranjak tapi tiba-tiba Mas Rendy mencegahku. "Oh tunggu!" cegatnya. "Ya?" "Di kantor temanku ada lowongan. Kamu siapkan berkas-berkasnya saja dulu. Nanti besok aku antar ke kantornya. Terus sekalian aku antar kamu cari kontrakan," ucap Mas Rendy. Hatiku bahagia mendengar ucapannya. Yess! Selangkah lagi aku akan mendekatinya. "Apa gak ngerepotin, mas?" "Ngerepotin sih, tapi akan aku bantu. Katanya disini kamu belum kenal siapa-siapa? Lagi pula kamu kan temannya Winda," jawab Mas Rendy. "I-iya, terima kasih, Mas," sahutku. "Aku permisi dulu ya, Win, Mas," lanjutku lagi. "Iya Santi, selamat istirahat," ujar Winda sambil tersenyum. *** Paginya, aku berboncengan motor dengan Mas Rendy. Tentu saja kami berpamitan dengan Winda. Setelah agak jauh dari rumah, aku sengaja memeluk Mas Rendy dari belakang. Awalnya reaksinya keberatan. "Maaf mas, aku takut kamu ngendarai motor terlalu kencang," sahutku. "Oh iya, gak apa-apa. Aku ngejar waktu soalnya," jawab Mas Rendy. Setelah cukup lama berkendara, akhirnya kami sampai juga di sebuah perusahaan. Seseorang menyambut kami. Dan tak butuh waktu lama, aku langsung diterima karena rekomendasi dari Mas Rendy. Hatiku langsung bahagia mendengar ini. "Mas, aku minta nomor teleponmu, boleh?" "Oh iya, boleh." Lalu dia menyebutkan nomor teleponnya. Aku langsung save dengan nama sayang. "Nanti kalau mau diantar cari kontrakan, kabari saja ya. Aku pamit dulu, mau kerja juga," ucap Mas Rendy berpamitan. "Iya mas, terima kasih." *** Jam pulang kantor, aku segera mengirimkan pesan pada Mas Rendy. [Mas, aku sudah pulang] Tak berselang lama pesanku dibalas. [Tunggu 30 menit lagi, aku sampai disana] Aku tersenyum, seperti gayungku bersambut. Mas Rendy punya perasaan yang sama padaku. Benar yang dikatakannya, selang 30 menit Mas Rendy datang. Kami mencari-cari kontrakan bersama. Dan akhirnya aku dapatkan walaupun luasnya tidak seberapa. Tapi cukup untukku berteduh. "Ayo pulang dulu, kamu pamitan dulu sama Winda," perintah Mas Rendy. Ah, padahal aku masih ingin berlama-lama denganmu, mas. Aku mengikutinya dan menaiki boncengan motornya. Sesampainya di rumah, aku langsung mengemasi baju-bajuku dan berpamitan pada Winda. "Winda, terima kasih banyak ya atas bantuanmu. Aku pasti tidak akan lupa. Aku akan sering main kesini." "Iya Santi, kamu hati-hati ya di tempat yang baru. Sukses terus untuk karirmu," jawabnya. "Aku juga minta maaf nih, ngrepotin suamimu terus, kamu jangan cemburu ya." "Iya Santi, aku percaya kok sama kalian." "Makasih Win, aku pergi dulu. Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Aku diantar oleh Mas Rendy lagi menuju rumah kontrakan. *** Awalnya memang biasa saja, Mas Rendy tak menanggapiku. Tapi aku selalu gencar mengirimkan SMS perhatian untuknya. Dan setiap hari libur kerja aku selalu mampir ke rumahnya dengan dalih ingin menemui Sofia. Saat itu Sofia berumur satu tahun, mereka mengadakan syukuran ulang tahunnya. Memang sederhana hanya bagi-bagi rezeki ke anak-anak yatim. Akupun diundang oleh Winda dan membantunya masak-masak. Malam harinya setelah acara itu selesai, aku pamit pulang. Entah kenapa Mas Rendy berinisiatif mengantarku pulang. Tentu saja Winda mengizinkannya, dia selalu positif thinking pada siapapun. Sesampainya di rumah kontrakan... "Tunggu mas, jangan pulang dulu. Aku buatkan teh dulu ya," cegahku yang dijawab anggukan kepalanya. Rumah kontrakan sudah aku isi dengan perabotan dapur yang kubeli dari gajiku. Kalau dihitung dari awal bekerja, rupanya sudah setengah tahun aku berada disini. Hidup disini jauh lebih baik dari pada hidup di kampung. Aku meletakkan teh manis itu di meja. "Mas, ada yang ingin aku katakan padamu," ucapku pada Mas Rendy. gelas berisi teh manis hangat di meja. Aku duduk di sampingnya, sangat dekat. "Mas, ada yang ingin aku katakan padamu," ucapku pada Mas Rendy. Dia terlihat gugup dan memandangku heran. "Ada apa Santi?" "Aku menyukaimu, mas," sahutku tanpa basa-basi. Aku meraih tangannya dan meletakkan diatas dadaku. "Kau dengar detak jantungku? Hatiku selalu berdebar-debar ketika dekat denganmu. Dan sialnya aku merasakannya saat pertama kali kita bertemu," ungkapku. "Tidak Santi, ini salah," jawabnya sambil melepas genggaman tanganku. "Aku tahu mas, ini salah. Kamu suami sahabatku. Tapi aku tak bisa membendung perasaan ini lagi. Enam bulan aku menyimpannya sendiri. Tapi sekarang aku sudah gak sanggup. Aku mencintaimu, mas," rayuku lagi. Aku yakin Mas Rendy akan luluh. Segera kupeluk tubuhnya dari samping. Dia terlihat kebingungan. "Tapi...." "Tapi apa, mas? Apa kamu tak punya perasaan sama sekali terhadapku?" Dia memandangku dengan tatapan bingung. "Mas, kita bisa berhubungan tanpa sepengetahuan Winda. Percayalah Winda takkan curiga. Dia kan orangnya baik, selalu positif thinking terhadap kita. Bagaimana mas?" tanyaku lagi. Mas Rendy masih terdiam, tapi aku yakin sekali dia akan menerimaku. Tanpa aba-aba lagi, kukecup bibirnya dengan lembut dan menggoda. Rupanya dia meresponku. "Aku pulang dulu," pamit Mas Rendy sedikit membuatku kecewa. "Iya mas, sering-seringlah main kesini, aku selalu menunggumu," jawabku lagi sambil memeluk lengannya. Dia tersenyum sambil mengangguk. Inilah awal mula aku berhubungan dengan Mas Rendy dan mengkhianati sahabatku sendiri. Sampai-sampai hubungan kami terlalu jauh, kami sangat terlena dengan nafsu sesaat. Dan sekarang aku hamil, tentu saja hamil anaknya, bukan anak orang lain.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (94)
FRANSISCAMERI
bagusss ceritanya, alami bgt, kisah ini spt hidupku saat ini😭, perbedaannya aq blm menemukan calon suami baru spt mas anjar, smoga Tuhan menghadirkan untukku aamiin🤲, tanpa terasa meneteskan air mata membaca novel ini, tks buat penulis, msh menunggu kelanjutan ceritanya😇
15/01/2022
0
Alfredo Singkoh
ceritanya bagus
03/08
0
IlhamDian
emang sih ini aplikasinya berguna banget untuk mendapatkan hasil bisa uang bisa DIAMOND mantap sihh tapi tolong jangan terlalu banyak iklan harus diperbaiki yaa👍💯
bagusss ceritanya, alami bgt, kisah ini spt hidupku saat ini😭, perbedaannya aq blm menemukan calon suami baru spt mas anjar, smoga Tuhan menghadirkan untukku aamiin🤲, tanpa terasa meneteskan air mata membaca novel ini, tks buat penulis, msh menunggu kelanjutan ceritanya😇
15/01/2022
0ceritanya bagus
03/08
0emang sih ini aplikasinya berguna banget untuk mendapatkan hasil bisa uang bisa DIAMOND mantap sihh tapi tolong jangan terlalu banyak iklan harus diperbaiki yaa👍💯
16/01
0Lihat Semua