"Aku memang tak pernah memutuskan hubungan denganmu, Steve!" "Kau meninggalkanku tiba-tiba, itu sudah jelas kau memutuskanku." Steve menyela tak terima ucapan Rose barusan. Wanita itu menanggapi nada sinis Steve dengan senyum tipis di bibir. Dia mengalihkan pandangan sesaat, menatap pantulan dirinya pada lemari kaca seolah menunggu bayangannya itu membantunya. Sesaat setelahnya, Rose kembali menatap Steve, tanpa kedip, menatapnya cukup lama seolah dia menginginkan Steve mengerti tentangnya hanya dengan tatapannya. Namun, tidak. Steve memutus kontak dengannya, enggan menatapnya. Rose menarik napas, jemarinya terkepal kuat, ingin sekali menggenggam tangan kekar itu. Namun, dia harus membatasi diri. "Aku memang meninggalkanmu tiba-tiba tanpa pamit, atau boleh dikata terlalu mendadak. Aku mengingat jelas sehari sebelum hari itu, kau dan aku masih setia mengukir kisah manis ...." Rose menggantung kalimatnya, menarik napas kuat mengisi paru-parunya yang terasa menyesakkan. "Sangat jahat. Aku jahat–" "Rose!" sela Steve. Ada perasaan tak terima saat wanita itu mengatai dirinya sendiri jahat. Rose menyungging senyum. "Dengarkan aku seksama!" pintanya. Lalu, dia terdiam sesaat merangkai kalimat yang akan diutarakannya. "Aku memang meninggalkanmu. Namun, bukan berarti aku memutuskanmu ... aku mencintaimu, sangat mencintaimu hari itu, bahkan hingga–" Rose meneguk kasar lidahnya. Tidak, dia tak harusnya melanjutkan ucapannya, itu berarti bahwa dia masih berharap pada lelaki di hadapannya. "Apalagi jika bukan kau sudah bosan denganku." Rose membuang wajah, helaan napas meluncur dari bibirnya. "Lagi-lagi kau menyimpulkannya sendiri," lirihnya. "Apa kau tak pernah memikirkan alasanku melakukan hak demikian?" Rose memberanikan diri mengangkat kepala, menatap manik Steve. Kaca-kaca dalam manik Rose kian menjelas, lalu dia mengalihkan pandangannya, mengerjap-ngerjapkan matanya kembali. Steve pun terdiam. Sudah sepuluh menit berlalu tanpa suara. Wanita itu pun sama, Rose menunduk, saling menautkan jemarinya dengan erat hingga jelas urat-urat hijaunya di punggung tangannya. "Orang tuaku tak nenyetujui hubungan kita," ungkap Rose, lalu dia mendongak menatap Steve. Raut wajah pria itu entah mengartikan apa, sulit bagi Rose untuk menerkanya. Lidah Rose kembali kelu, dia menengadahkan kepala, menahan air matanya yang ingin terjun kembali. Rose hanya tersenyum kikuk mendapat tatapan sendu oleh Steve. Pria itu pun kini merasakan penderitaan yang dialami Rose. Walau dia masih belum mengerti tentang semuanya, ia kini paham, bahwa wanita itu juga sama tersiksanya dengannya hanya karena tindakannya hari itu, membuat penyesalan dalam dua tahun belakangan ini. Entah kenapa, separuh hati Steve serasa diremukkan seketika saat melihat mata wanita itu memerah, Steve tahu wanita itu mati-matian untuk tidak menangis. "Kau masih ingat permintaanmu yang tak pernah kupenuhi? Bertemu dengan orang tuaku!" Steve membuang pandangan menatap nanar meja di sampingnya. Satu permintaannya yang tak pernah terpenuhi. Kala Steve sering membawa Rose berkunjung ke rumah orang tuanya, bagaimana rasa senang orang tuanya melihat kekasih Steve. Namun, di saat Steve meminta untuk bertemu dengan orang tua Rose, wanita itu selalu menolak. "Ayahku penggila kerja, mustahil kau bisa bertatapan atau berbincang dengannya, " ujar Rose setiap permintaan itu meluncur dari bibir Steve. "Kenapa aku meninggalkanmu hari itu tiba-tiba? Itu karena aku tak memiliki pilihan lain. Orang tuaku memaksaku meninggalkanmu, atau kalau tidak, Ibu akan mengancam Leo dan Anna, Ibu akan memorak-porandakan pasangan baru itu jika aku tak menurutinya. Ini pilihan sulit bagiku. Aku mencintaimu dan keluargaku, tapi aku terpaksa merelakan kebahagiaanku sendiri demi Leo. Kakakku pun sama menderitanya denganku, pernikahannya dengan Anna kurang direstui oleh Ibu." Rose terdiam, menunduk sesaat sebelum melanjutkan kembali ucapannya. Suasana kembali terasa mencekam, terlebih bulir-bulir air mata Rose kini meluncur. Tangan Steve mengepal kuat, menahan diri untuk tidak menarik Rose dalam dekapannya. "Maafkan aku, terlalu emosional," ujar Rose mengusap pipinya kembali. "Sebelum kedatanganku kemari dalam program pertukaran pelajar, aku sudah ditunangkan dengan Carlos, tepatnya karena paksaan ibuku. Aku jelas tak menyetujui pertunangan itu, Carlos sahabatku sedari kecil, dan aku tetap menganggapnya sahabatku saja walau benar adanya, pria itu begitu mencintaiku. Namun, aku tak bisa ... maaf, aku tak pernah bercerita tentang ini." Suara Rose memelan. Steve membatu di tempatnya, satu hal yang baru saja dia ketahui. Dia pun terdiam saja, menunggu was-was kalimat Rose selanjutnya. "Ibu memberiku aneka ancaman untuk segera memutuskanmu, dan menikah dengan Carlos. Aku selalu menolak. Aku mempertaruhkan hidupku demi mempertahankanku, hingga Ibu mencabut kartu debitku. Dia pernah mengancamku, akan mengeluarkan namaku jika aku tak menurutinya, aku tak peduli, dan dia tak melakukannya. Namun, saat dia mengancam Leo dan Anna, aku tak bisa berkutik lagi. Aku hanya memiliki Leo yang selalu mendukungku, disaat semua orang memaki namamu dihadapanku, Leo tetap mendukungku tentang hubungan kita," ujar Rose dengan senyum tipis di bibir, "dia pria terbaik yang pernah kutemui." Rose menoleh ke belakang, sayup-sayup terdengar kikikan bayi Leo. Lalu, dia kembali menatap Steve. Lama. Dan Steve pun sama, keduanya begitu hanyut dalam tatapan temu keduanya. "Aku ingin jujur saja, Steve. Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu bahkan hingga detik ini." Rose memberanikan diri mengulurkan tangan menggenggam tangan kekar Steve. "Aku tahu kau kekasih Lynn. Wanita itu begitu mencintaimu, aku senang kau mendapat cinta yang lebih layak darinya. Walau begitu, aku akan tetap mencintaimu, Steve, meski cintamu tak dapat kumiliki. Aku senang dengan rasa ini." Steve masih bergeming, tatapannya lurus menatap Steve, begitu takut untuk berkedip. Dia kini mengerti tentang wanita itu, segala prasangka buruknya yang menyalahkan wanita di hadapannya, yang ternyata tidak bersalah sama sekali. Steve melihat jelas, betapa rapuhnya wanita di depannya, manik jernihnya menyiratkan penuh penyesalan, dan cinta yang besar untuknya di sana. Steve memejamkan mata sesaat, menetralisir debar dan mengurai benang kusut yang kian berkecamuk dalam kepalanya. "Maafkan aku, Steve. Aku tahu, tak pantas menerima maafku setelah apa yang aku lakukan. Terlebih aku tokoh kunci dari permasalahan rumit ini." Steve menggelengkan kepala, tatapannya sendu menatap Rose. "Aku sekarang mengerti, kau atau aku tak salah, tetapi keadaan yang membuatnya demikian rumitnya. Aku pun salah di posisi ini, aku selalu salah paham padamu. Benar yang kau katakan, aku memang menumpahkan segala kesalahan ini padamu, semuanya." "Jika aku berada di posisimu, barangkali aku akan melakukan hal yang sama sepertimu." Rose menyandarkan punggungnya di sofa, matanya terpejam. "Sekarang ini terasa jauh lebih ringan. Aku tersiksa dengan semua ini selama ini. Aku kini merasakan kelegaan, seolah rasa bersalah yang membelenggu kini terlepas," lirih Rose diikuti senyumnya. Steve melirik wanita itu, memerhatikan wajah itu yang tak pernah dia perhatikan secara seksama. Dia mengakui, ada rindu yang menyelusup dalam dadanya pada wanita di hadapannya, sekali pun setelah apa yang terjadi. Mata Rose mengerjap, lalu dia beranjak dari duduknya. "Tunggu aku di sini sebentar," ujarnya lalu berbalik, berlari kecil menaiki undakan tangga. Rose muncul dengan kotak perhiasan berbungkus beledu marun. Rose menyodorkan kotak tersebut pada Steve.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (62)
Ha KyoLee
Tetap semangat Thor. ceritanya bagus dan menarik. Ditunggu kelanjutannya Thor. 😍😍😍
Tetap semangat Thor. ceritanya bagus dan menarik. Ditunggu kelanjutannya Thor. 😍😍😍
03/03/2022
3cerita sangat baik
06/08/2025
0bagus
20/07/2025
0Lihat Semua