Sendiri, menyepi, di ruang yang yang sempit dan sunyi. Meski begitu, bagiku tempat ini adalah satu-satunya ruang ternyaman di rumah. Dinding yang membisu, menjadi saksi kepedihan hati yang berteriak meski tak terdengar. Setelah kejadian itu, aku tenggelam dalam tangis dan lara. Ketenangan sepertinya enggan singgah dan semakin menjauh. Kriiiiing Kriiiiing Suara handphone berdering memecah sepi. Dalam pelukan gundah dan terkapar lemah, aku terhentak. Membuka kelopak mata yang mulai bengkak. Menyeka tetesan bening, dan mencari keberadaan suara deringnya. Satu nama tertulis dalam layar kecil. "Verrel?" lirihku. Berkali-kali benda kecil ini berdering, berkali-kali pula aku mengabaikannya. Hanya memandangnya dengan tatapan kosong, pikiran gamam dan kacau. Hingga aku letakkan kembali benda pemberian ayah tersebut pada lantai. Kutundukkan wajah, lalu mendekap dengkul dan bersandar pada papan kayu penyanggah ranjang. "Ayah, Serra rindu," lirihku. Dengan tenaga yang masih tersisa, kuangkat tubuh yang ringkih ini sekuat tenaga. Meski gontai dan terasa kaku sekujur tubuh, kedua kaki melangkah perlahan ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, aku kembali menangis tersedu sembari menyalakan shower. Dengan pakaian yang masih dikenakan, aku duduk meringkuk dibawah aliran air yang mengucur dari atas kepala. Kubiarkan baju ini basah kuyup. Luka kebiruan di lengan dan paha mulai merajam. Aku menyeringis kesakitan karena tirta mengguyur pipi dan badanku yang papah. Batinku terus saja meronta, sampai kapan aku harus merasakan sakitnya hati dan raga? Nalar mulai liar menunjukkan gejolaknya. Aku harus kabur dari rumah ini! Aku kembali bangkit lalu menggapai pasta dan sikat gigi. Dengan sesak di dada yang tak tertahankan. Tanganku menggosok cepat barisan gigi. "Aw!" Aku terhentak karena sikat gigi melukai sisi bibir yang terluka. "Cuih!" Busa putih terlihat memerah bercampur darah kental yang kembali mengalir di bibirku. Segera aku berkumur dan membilas wajah dengan lembut, lalu bergegas untuk berganti pakaian. **** Setelah kejadian yang menyakitkan itu, aku memilih untuk duduk di sudut favorit kamar. Memandang luas di depan jendela yang terbuka lebar. Sedari tadi, yang kulakukan hanyalah duduk. Memandang langit malam yang mendung. Berkali-kali kuhela napas jenga. Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Namun, aku baru menyadarinya setelah dua ekor cicak saling bersenda gurau di dekat jam dinding. Pandanganku kemudian tertuju pada pagar rumah yang bergeser terbuka. Seorang laki-laki berjaket hitam dengan ransel besar di punggungnya, berjalan semakin mendekati rumah. "Bukankah itu Kak Roy?" gumamku dalam hati. Setelah kupastikan lagi dan membesarkan kedua bila mataku, ternyata benar. Kakakku pulang setelah beberapa bulan merantau. Kedua sudut bibir merekah. Ada sedikit asa dan cahaya yang hadir kembali di hati. "Kaaaak! Kak Roy!" teriakku ke arahnya. "Hei, Neng. Kamu belum tidur?" teriaknya dengan kedua sudut mata menyipit. "Belum!" Kulambaikan kedua tangan padanya. Brakkk! Suara gebrakan pintu sangat keras terdengar di indera pendengaranku. Aku pun melirik dan berbalik badan ke arah sumber suara. Aku terkejut ketika mendapati Ibu yang sudah berdiri di hadapanku. Entah kenapa semakin hari, sosoknya membuat jantungku berdegup kencang. "Bb—bu ...," lirihku. "Dengar Serra! Jangan katakan apapun kepada Roy tentang kejadian tadi sore dan sebelumnya!" Rautnya memandang begitu sengit dengan jari telunjuk mengarah kepadaku. Perempuan itu mendekatiku. Lalu menarik lengan dengan kencang. "Awas ya! Kalau kamu gak bisa jaga mulutmu, kamu akan rasakan sendiri akibatnya!" Setelah melepas cengkramannya, Ibu ke luar kamar dengan terburu-buru. Ketukan pintu dari arah ruang tamu terdengar. Aku yang masih mematung bak manekin, seketika gontai dan tersungkur ke lantai. Telapak tangan bergetar menahan amarah. Hingga kuhela napas dalam, memejamkan kedua netra, kemudian bangkit untuk menghampiri kakakku yang baru pulang. Terdengar sayup-sayup percakapan diantara mereka. Kuhentikan langkah dan berhenti di pintu kamar. [Assalamu'alaikum, Bu.] salam Kak Roy. [Wa'alaikumussalam, Roy! Ya ampuuun kamu kok gak kasih kabar dulu sih mau pulang?] tanya Ibu. [Surprise, Bu.] Kak Roy terkekeh. [Oh, ya, Serra mana, Bu] tanyanya lagi. [Di kamar, tidur mungkin. Udah sana kamu mandi, ganti baju, terus makan. Ibu siapin makanan yang enak buat kamu ya.] jawab Ibu. Percakapan mereka kemudian terhenti. Mendengar betapa manisnya sikap Ibu kepada Kak Roy, membuat bola mataku berkaca-kaca. Betapa tidak, aku yang sedari tadi belum menyentuh makanan di rumah, diabaikan begitu saja. Justru sebaliknya, Ibu mengancamku untuk tidak meneguk minuman ataupun menyantap makanan meski hanya sedikit. Perlakuan yang sungguh tidak adil. "Neng!" seru Kak Roy yang mempercepat langkahnya ke arahku. "Kak ...." Kulayangkan senyum padanya. "Kamu nangis, Neng?" tanyanya. "Ee—enggak. Ss—siapa yang nangis," elakku. "Mata kamu merah gitu kok," celetuknya. "Ih, apaan sih. Enggak!" Aku kembali mengelak sembari menggilas kedua mata. "Aku cuma rindu sama kakak," lanjutku. Kudekap dia dengan penuh rindu. "Ya ampuuun, kamu. Kakak juga rindu sama adikku satu-satunya yang bawel, cerewet, manis, dan imut." Dia mengacak rambutku dan membalas dengan dekapan juga. "Aduh, Kak." Aku mengerang saat lengan ini didekap kencang Kak Roy. Seketika Kak Roy pun melepaskan diri. "Kenapa, Neng? Kamu sakit?" Dia memandangku dan memastikan kondisiku. "Ee—enggak, Kak," jawabku dengan wajah tertunduk. "Neng, pipi kamu memar." Dia mengibas rambutku yang tergerai. "Lho, bibir kamu juga kenapa, Neng?" tanya Kak Roy khawatir. "Enggak kak, aku—," "Tunggu, ini lengan kamu juga kenapa? Memar gini." Kak Roy memotong ucapanku dan memeriksa kondisiku yang kacau karena penuh luka lebam. Rautnya kini semakin terlihat khawatir. Tas ransel dia lempar ke lantai. Lalu menuntunku masuk ke kamar dan duduk di kursi belajar. "Aku gak papa, Kak. Gak perlu khawatir gitu deh. Kakak pasti capek. Udah sana ganti baju terus makan," pintaku sambil membetulkan posisi duduk. "Apanya yang gak papa, kamu gak sadar badan kamu lebam kaya gini? Udah diobatin?" tanya Kak Roy panik. "Tadi dia jatoh dari tangga, Roy," sambung Ibu yang tiba-tiba muncul di dekat kami. "Jatuh dari tangga? Kok bisa?" Dia menatapku penasaran. "Ii—ya, Kak. Serra keburu-buru mau ke bawah. Eh, malah jatoh," jawabku gagap. "Ya Allah, kamu mah aya-aya wae, Neng. Lain kali hati-hati!" seru Kak Roy. "Tadi lukanya udah Ibu obatin, kok. Udah sana kamu bersihin diri, Roy. Sebentar lagi makanan siap." Ibu berbohong untuk menutupi fakta. Perempuan itu kemudian berlalu dari kamar. "Ya udah, kakak ke kamar dulu, ya," timpalnya. Kemudian Kak Roy pun pergi melangkah ke kamarnya. Aku hanya menanggapi dengan anggukan. Kuhela napas dalam-dalam, lalu mendengus pelan sambil emandang punggung kakak laki-lakiku yang kian berlalu. Botol air mineral yang berada di atas meja belajar, kuambil dan kuteguk setengahnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (270)
e******s@gmail.com
sangat seru dan menginspirasi
11/06/2022
0
Wan Wan
aduh, urusan mental ini selalunya dalem banget. jadi ikut terhanyut 😿
love yang banyak buat author mwah walaupun bikin sedih dari awal blurbnya 🙂🧡🧡🧡🧡🧡🧡
19/05/2022
0
AmaliaRedyta
Wah, bagus ini ceeitanya. Semangat update babnya, kak!
sangat seru dan menginspirasi
11/06/2022
0aduh, urusan mental ini selalunya dalem banget. jadi ikut terhanyut 😿 love yang banyak buat author mwah walaupun bikin sedih dari awal blurbnya 🙂🧡🧡🧡🧡🧡🧡
19/05/2022
0Wah, bagus ini ceeitanya. Semangat update babnya, kak!
31/03/2022
0Lihat Semua