logo text

Bab 8 Sebuah Penjelasan

Benda persegi itu mengaburkan netra Koa. Ia membawa benda itu ke dada, mendekapnya erat. Tidak percaya seseorang masih memperhatikannya di rumah ini. Siapa yang telah memberikan obat memar padanya?
Apakah para pelayan berinisiatif membantunya sekarang? Koa menggeleng bingung, tidak mungkin. Mereka lebih suka menggunjingkan dirinya daripada terlibat dengan majikan baru yang dimusuhi majikan lama.
Koa ragu-ragu memakai obat tersebut ke wajahnya. Bagaimanapun remaja itu sangat berterima kasih. Ia masih harus bertemu dengan Edwin dan Galina dan rupa babak belur ini akan menjadi sarang pertanyaan.
Waktu bergulir cepat, membawa kecemasan tiada tara di hati Koa. Ia berjalan bolak-balik mengecek memar di wajah dan bengkak yang justru makin membesar bukannya mengecil, dalam hati kecilnya Koa tahu mustahil menghilangkan bekas tersebut dalam sekejap.
Tepat jam enam sore, pelayan datang mengetuk di pintu kamar dan memberitahu Koa untuk segera turun. Koa meremas jemarinya oleh cemas yang bercokol.
Kakinya terasa berat, setiap langkah membawa beban moral. Koa teramat takut membaca kekecewaan di wajah ayah dan ibunya.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Seruan kekhawatiran Galina memecah keheningan meja makan.
Koa menunduk semakin dalam. Kelu di lidah membungkam jawaban dari bibirnya. Ia menarik napas dalam, gemetar tak mau berhenti menari di setiap saraf tangan kurusnya.
Ibu menghampiri Koa tergesa dan menaruh tangan dingin di pipi Koa. Alisnya mengernyit sementara ia memeriksa wajah sang buah hati.
"Apa yang terjadi?" Suara berat Edwin Tan bertanya, langkahnya pun dibawa mendekati putra satu-satunya.
"Siapa yang memukul putraku?" geramnya, menggertakkan gigi.
"Alah, dia bukan dipukuli saja, tapi juga memukul. Dasar, hari pertama aja sudah bikin masalah," keluh Winola.
"Apa maksud kamu, Win?" tanya Edwin tak percaya.
Winola mendengkus. "Pangeran yang kalian kira lemah lembut ternyata barbar juga. Siapa yang tahu dulunya dia preman di sekolah?"
"Benar begitu Nak, kamu yang mulai duluan?" Galina mencengkeram lengan Koa kuat, meminta jawaban.
"Ya." Memang dia yang memulai duluan.
Edwin mendengkus kasar. "Ayah masih harus mengajarimu banyak hal." Nada kecewa terdengar dalam suaranya.
Galina mendorong Koa untuk duduk, tak bertanya lebih lanjut, kenapa dia memulai perkelahian? Apakah tidak penting mengetahui alasannya? Apakah dia tak berhak membela diri?
Koa menahan desakan air mata di ujung pelupuk. Rasa sakit perlahan mengisi setiap bagian tubuhnya. Remaja itu menelan kembali semua pembelaan diri yang sudah ia siapkan.
"Bersikaplah yang baik Koa. Di sini berbeda dengan di desa, jika kamu memulai perkelahian lagi, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah dan mencoreng nama baik keluarga kita." Galina menepuk lembut lengan Koa.
Koa berkedip cepat, membuyarkan likuid bening yang ingin jatuh. Tak seorang pun memahaminya. Koa ingin berteriak keras pada Galina. Ini untukmu, semua untukmu. Tahukah kau mereka menghina dirimu sehingga aku bertindak seperti itu?
Jika itu Paman Indra, dia tidak akan menasihati Koa, tetapi bertanya alasan dibalik kesalahan yang Koa buat. Karena Paman Indra tahu pribadi Koa, ia tahu Koa tak suka terlihat masalah.
Mereka tak mengenalnya sebaik Paman Indra. Mereka ... hanya orang tua di atas kertas.
"Dia, pasti punya alasan." Suara lembut Yumna mengagetkan semua orang.
Ini pertama kali Koa mendengar ia terlibat percakapan keluarga. Terlebih lagi kalimat barusan merupakan bentuk pembelaan bagi Koa.
"Apa pun alasannya, memulai perkelahian tetaplah sebuah kesalahan," balas Edwin. Tindakan Koa bisa mencoreng nama baik keluarga dan Edwin tidak ingin Koa dipermalukan kelak oleh hal ini di depan khayalak saat ia menyerahkan kekuasaan padanya.
"Karena Ayah akan menyerahkan kekayaan padanya? Sebagai pimpinan kelak? Karena dia anak laki-laki satu-satunya di Keluarga Tan? Ia harus hidup tak bercela?" Yumna mencengkeram gelas hingga buku jarinya memutih.
Koa menatap wajah Yumna tak percaya. Inikah alasan dibalik kebencian kakaknya? Karena ayah akan menyerahkan perusahaan pada Koa kelak. Tidak, dia tak menginginkan hal itu. Tidak sepeser pun.
Galina berdeham canggung. Edwin menggeleng lemah. Namun, tak bisa menyangkal sepatah kata pun.
Winola tertawa mengejek. "Hanya karena dia anak laki-laki, lalu Ayah menyerahkan semua padanya. Begitu tak kompetennyakah anak perempuan bagi Ayah? Kakak bekerja keras sejak dini, apa Ayah tak melihatnya? Apa Ayah buta? Kami juga anak-anak Ayah!"
"Cukup!" Edwin menggebrak meja. "Koa juga adik kalian. Apa kalian tak bisa menjaga perasaannya?"
"Lalu kami apa? Ayah tak pernah menjaga perasaan kami dengan membawa masuk anak haram ini!" teriak Winola.
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Winola. Gadis itu berkedip tak percaya. Begitu juga dengan seisi ruangan. Para pelayan menutup bibir dan menunduk canggung.
Winola membanting gelasnya ke lantai bersama luapan emosi. "Ini semua karena dirimu!" tudingnya ke arah Koa. Ia kemudian berlari meninggalkan meja makan sambil menangis keras.
Serpihan benda tajam tersebut diinjak Yumna kala ikut berjalan pergi. Kakak pertamanya bahkan tak menunjukkan reaksi sakit. Koa merasa bersalah. Semua kekacauan ini karena dirinya.
Dia benar-benar berharap menghilang saat itu juga.
Pikiran itu terus menggerogoti lamunan Koa, berputar tiada henti membentuk probabilitas. Jika dia menghilang akankah mereka bahagia?
Koa tak bisa menutup mata malam itu. Ia turun dari tempat tidur setelah bolak-balik puluhan kali. Meraih kantong keresek dari Paman Indra yang belum sempat ia buka karena kekacauan tadi sore.
Remaja itu memilih duduk di balkon sambil memandang bulan. Jemari kurusnya mengeluarkan jajanan desa beraneka ragam. Sontak bibir Koa bergetar menahan emosi. Betapa ia rindu camilan enak ini. Paman Indra mengingat semua kesukaannya.
Air mata luruh ketika ia menggigit sepotong kudapan dengan warna-warni cerah yang bakal bikin anak kota mengernyit ngeri mengingat banyaknya pewarna makanan yang dipakai. Koa menikmati setiap gigitan. Rasa lapar mulai mendera karena tadi dia hampir tak menyentuh makanan mewah di meja makan.
Ia rindu lelaki pendiam itu, sekasar apa pun ucapan Paman Indra waktu itu, tak mampu memadamkan rasa sayang Koa.
Di sisi lain, Paman Indra pun memandang langit malam bersama rembulan sebagai penerang. Kekhawatiran bercokol di hati lelaki besar itu. Kerinduan memakan ketenangan dalam sikapnya.
Apa Koa baik-baik saja?
Apa dia makan teratur?
Apa Koa merindukanku, atau malah sudah lupa?
Indra menghidupkan rokok yang tak pernah ia isap. Menemani kesendirian seolah seseorang bersamanya saat ini.
Indra berjanji dalam hati, ia akan kembali ke rumah mewah itu untuk melihat keadaan Koa.
Bulan memudar perlahan, langit dari gelap mulai memunculkan titik cahaya. Kedua lelaki itu bergeming di tempat masing-masing. Saling merindukan. Berharap angin sepoi menyampaikan kelesah mereka satu sama lain. Berharap di pertemuan berikutnya mereka bisa saling mendekap erat.

Komentar Buku (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru