Lima hari berlalu sekejap mata. Waktu bergulir cepat mengaburkan jejak air mata Inshira. Meskipun Berlindung dalam naungan make up, tak jua melunturkan kesedihan di wajah ayu gadis itu. Tatapan hampanya menembus setiap partisi dan berlabuh entah ke mana. Ketidakberdayaan menjamah pikiran kala asa telah musnah ditelan oleh pesimistis. Siapa yang bisa menolongnya? Saat keluarga sendiri menjadi penopang keberlangsungan kehancuran masa depan sang gadis. Apa yang mereka anggap benar, baik, malah menjerumuskan Inshira ke jurang maut. Mereka membunuh mental wanita muda itu. Pakaian merah bermotif burung merak menjuntai indah menyentuh lantai. Ia digiring bak domba ke tempat pembantaian. Tawa-tawa palsu dan bodoh mewarnai suasana glamor. Mereka memuji betapa cantik rupa si gadis dan betapa beruntungnya dia. Andai saja mereka bisa mendengar jeritan suara hati, tak seorang pun sanggup berdiam di tempat ini. Sialnya, tak seorang pun memahaminya. Ferry Lim tersenyum pongah di ujung ruangan. Setelan jerau yang sepadan dengan Inshira membuat gadis itu merasa mual. Dia benci sekecil apa pun tingkah langkah sang pemuda. Pemuda berambut panjang itu mengulurkan tangan. Karpet merah terasa bagai jalan api membakar kemarahan Inshira. Sangat enggan, Inshira meletakkan jemari ke sana. Ia bersyukur setidaknya sarung tangan merah menjadi lapisan penghalang bersentuhan langsung dengan kulit Ferry Lim. "Baik, kita mulai sekarang!" Pembawa acara bertepuk tangan meminta hadirin untuk diam sejenak. "Hari ini, kita akan memulai acara pertunangan. Hadirin yang berbahagia, kita sambut dua keluarga yang akan bersatu hari ini." Tepuk tangan riuh membuat kepala Inshira berdenyut nyeri. Gadis itu berjuang untuk tidak menangis. Rahangnya berkedut dan hatinya teriris sembilu. "Jangan menangis, jaga sikapmu. Kau akan menjadi mempelai yang berbahagia hari ini. Bagaimana rasanya bertunangan dengan musuh abadimu?" bisik Ferry sembari tersenyum pongah. "Bisa kau diam, aku ... tidak akan pernah membiarkanmu mendapatkan apa yang kau mau," balas Inshira. "Oh really? Tapi kau sudah kalah hari ini, Cantik." Ferry menaikkan sebelah alis tebalnya. "Keluarga Lim dan Keluarga Ng yang berbahagia." Pembaca acara menunjuk kedua keluarga mempelai. Hadirin mengangkat gelas wine sebagai bentuk sukacita dan penghormatan kepada kedua keluarga. "Tanpa berlama-lama, mari kita saksikan kedua mempelai akan mengadakan pertukaran–" Sura ribut menghampiri rungu setiap hadirin, memutus perkataan pria muda yang tengah memegang mikrofon. Mereka menoleh. Pintu VIP restoran terbuka lebar diterobos beberapa orang. Inshira mengedip tak percaya. Sosok remaja tampan berhidung mancung dan berkulit mulus dalam setelan putihnya berjalan menghampiri mereka. Langkahnya tegap. Cepat dan pasti. "Koa ... Tan?" lirihnya bingung. Ferry mendengkus kasar. "Siapa kalian?" hardiknya marah. Bak pangeran berkuda putih, Koa berteriak lantang. "Hentikan pertunangan ini!" "Siapa mereka?" "Mau apa?" Dengung kebingungan memenuhi seisi ruangan. Pihak Keluarga Lim melirik Keluarga Ng penuh curiga dan tidak senang. Koa menarik Inshira ke sisinya. Menatap tepat ke mata pria paruh baya di samping si gadis. "Paman, aku akan menikahi putrimu. Hentikan pertunangan ini." "Apa?" David Ng memegang dadanya oleh keterkejutan yang luar biasa. Putrinya tak pernah memiliki kekasih sebelumnya. Bagaimana bisa tiba-tiba saja remaja itu melakukan lamaran mendadak di saat acara pertunangan. Edwin Tan menepuk bahu Koa. Ia mengedik pada dua bodyguard untuk melindungi putra tunggalnya. Kedua bodyguard bersiaga di samping Koa. "Ini seharusnya menjadi pembicaraan para ayah, bukan? Koa, kau terlalu lancang." Ia tertawa kecil. "Pak Edwin Tan?" David Ng menujuk pria paruh baya tampan di samping Koa dengan raut semakin bingung. "Pak David Ng. Lama tidak berjumpa." Keduanya berjabat tangan layaknya sahabat lama. "Apa-apaan ini? Kalian bersekongkol?" Ferry Lim meradang. Merasa sangat malu. Seharusnya semua berjalan sesuai dengan rencananya. "Tidak, bukan begitu." David Ng merasa di posisi serba salah. Ia bahkan tak mengerti. Kenapa Edwin Tan bisa ikut dalam acara ini? Mereka memang rekan bisnis sedari dulu, tetapi pertunangan tertutup ini hanya dihadiri kerabat dekat kedua mempelai. "Bagaimana orang ini bisa datang dan mengacau jika kalian tidak memberi tahu hari pertunangan ini. Jika kalian mempermalukan keluarga besarku dan membatalkan pertunangan ini, maka aku akan ....." Ayah Ferry Lim mendengkus kasar sebelum melanjutkan. "Menjebloskan putrimu ke penjara dan mencabut semua investasi." Wajah lelaki paruh baya gemuk itu memerah oleh amarah. "Bukan begitu, Pak Hendrawan." David Ng semakin gugup. Terlebih, ia takut masa depan putrinya hancur jika harus mendekam di penjara. Nama baik Keluarga Ng sebagai pendiri yayasan Cahaya Harapan juga akan tercoreng. "Jadi acara dilanjutkan atau tidak?" ancam Ferry Lim. "Batal," ujar Edwin Tan. "Tidak, tidak!" David Ng berusaha menyanggah. Edwin Tan menepuk bahu David Ng. "Untuk urusan Inshira Ng, aku akan membantumu. Perihal investasi, jangan khawatir. Kami akan berinvestasi. Semua ancamannya tidak akan berlaku." "Ta ... tapi, putriku?" "Jika dia kalah dalam persidangan dan harus dipenjara ...." Edwin beralih menatap Inshira. "Apa kau siap, Nak?" Koa meremas jemari Inshira. Gadis itu merasa hatinya membuncah oleh kehangatan. Ia mengangguk cepat. "Aku siap!" ucapnya mantap. "Ayah, aku tidak akan pernah mau bertunangan dengan orang yang telah membuat Yudi meninggal. Percayalah padaku kali ini." David Ng terlihat kebingungan mengambil keputusan. Keluarganya mendekat satu persatu, mulai berunding membantu pria Ng itu mengambil keputusan. Ferry Lim dan keluarganya berdiri cemas. Malu, tentu saja bukan kepalang. Jika acara ini batal, ia akan menjadi perbincangan di kalangan keluarganya sendiri. Edwin Tan turut memberi dukungan. Menjelaskan rencananya di hadapan Keluarga Ng. Mereka terbagi menjadi dua kubu. Ricuh, Keluarga Lim pun tak tinggal diam. Mereka melontarkan ancaman dan penghinaan demi tetap menjalankan acara. "Apa-apaan ini cepat mulai acaranya?" bentak salah satu anggota Keluarga Lim. "Tenang dulu, saya akan menjelaskan duduk persoalannya." Dengan wajah tenang Edwin Tan menjelaskan kepada Keluarga Ng. Sesuai dengan cerita dari Koa diam-diam Edwin menyuruh detektif sewaan menangani kasus Inshira. Edwin memberikan bukti tindakan impulsif Ferry terhadap Inshira. Juga tindak tanduk pemuda itu di belakang mereka. Bagaimana ia sering mengunjungi kelab malam dan menggoda gadis-gadis cantik. Hati ayah mana yang sanggup melihat anaknya dinikahkan dengan tipe pria playboy seperti ini. Semakin melihat bukti yang dipaparkan Edwin, wajah David Ng semakin gelap. Keluarga Inshira yang lain pun tak terima dengan hal tersebut. Kericuhan semakin memanas. "Lihat ini, Ferry bahkan terlihat check in di hotel bintang lima dengan seorang gadis muda." Bukti-bukti foto diedarkan ke anggota Keluarga Ng. "Jangan asal bicara. Ayah, aku dijebak, bantu aku menjelaskannya." Ferry memohon pada ayahnya. "Bisa saja anakku dijebak 'kan, mereka ingin menghancurkan pernikahan ini!" hardik Ayah Ferry. "Anda bisa konfirmasi sendiri setelah acara ini batal. Jika memang aku berbohong kalian bisa mengecek sendiri ke hotel tersebut. Ah, ini nomor telepon gadis muda itu, ancam dia atau apa pun terserah. Tapi ini kebenarannya. Satu lagi, haruskah aku menurunkan martabak sebagai pimpinan perusahaan ternama demi menjatuhkan Ferry yang bukan siapa-siapa bagiku?" tanya Edwin Tan. Keluarga Ng mulai bergumam setuju. Berbisik-bisik dan mulai menyetujui pembatalan pertunangan. Inshira tak memedulikan hal itu. Matanya terpaku hangat di wajah remaja pria tampan di hadapannya. Segala keributan sirna, seolah ia dan Koa berada di dimensi lain. Dunia mereka berdua. "Terima kasih," lirihnya. "Kau tidak perlu sejauh itu hingga menikahiku. Terima kasih sudah datang dan menghentikan kegilaan ini." Air mata jatuh tak terbendung. Koa meremas jemari Inshira semakin kuat. "Aku menyukaimu." Hanya kalimat gugup itu yang keluar. Tak ada kata-kata penyanggahan atau penghiburan. Namun, ketulusan Koa membuat Inshira menangis terharu. "Kau berharga, tidak pantas dengan sampah seperti Ferry Lim. Apa pun predikat yang mereka sandangkan padamu. Bagiku, kau hanya Inshira. Seorang gadis baik hati yang menyelamatkan hidup seorang remaja." Inshira tersedak air mata. "Jangan menangis. Tunjukan keberanianmu di hadapan mereka. Mereka tak berhak memiliki hidupmu. Hidupmu adalah pilihanmu." "Sejak kapan kau jadi pandai berbicara." Inshira tertawa, air mata masih mengalir deras sementara ia menghapusnya terburu-buru. Make up-nya menjadi kacau. Persetan dengan semua itu. Ia benci dihias lalu dipertontonkan layaknya tropi. "Sejak aku mengenalmu." Senyum remaja tampan itu memukau Inshira. Membuat degup jantungnya berdetak semakin cepat. Jika hari itu dia tak berhenti sejenak di taman dan melihat Koa dibully, akankah remaja tampan ini bersamanya sekarang. Ia ingat wajah dekil kurus yang dihajar, dikeroyok, tapi sinar mata perlawanan tak padam meskipun tubuhnya kesakitan. Pesona itulah yang membuat Inshira menghentikan perundungan. Ia ingin membantu sinar mata itu tetap terang. Dan kini, semua pemikirannya tentang Koa ternyata benar. Pria yang bangkit lagi meski jatuh, yang berjuang meski terluka. Sinar mata itu tak pernah padam di netra Inshira. Mereka tak sadar, saling menatap satu sama lain. Bahkan saat pembatalan pertunangan itu telah dikumandangkan. Keluarga Lim berderap pergi dengan wajah merah padam. Keluarga Ng ribut mendiskusikan solusi. Kedua insan itu masih bergeming. "Shira, maukah kau jadi pacarku?" Kalimat tembakan itu terlontar begitu saja dari bibir Koa. Inshira mengusap mata basahnya. Ia mengangguk kuat. "Ya, aku mau." Seolah bunga-bunga bermekaran di karpet merah. Kerlipan cahaya membutakan presensi semua orang. Hanya mereka berdua. Pemahaman terpancar pada bola mata keduanya. Ini bukan hanya tentang cinta, tetapi perasaan nyaman bersemayam membuat keduanya saling mengerti dan saling mendukung satu sama lain. Ini adalah ... bentuk penerimaan. Apa adanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (107)
GAMINGF14ONE
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
06/04/2022
0bagus bgt suka
14/05/2025
0Kerenn bgtt ceritanya
05/05/2025
0Lihat Semua