Singkat cerita, kepopuleran Koa berkumandang seantero SMA Cahaya Harapan. Setiap hari, mereka mengerubunginya remaja tampan itu di sekolah. Beberapa mengagumi Koa secara tulus. Menganggap ia berbakat. Yang lain mendekati Koa demi manfaat dalam pelajaran. Bahkan tak sedikit gadis-gadis populer menyelipkan surat cinta ke loker Koa. Tentu saja kejadian tak terduga ini membuat si remaja tampan terlihat malu. Dulu, di kampung halamannya memang beberapa gadis sempat menyatakan cinta pada Koa, tapi tak pernah Koa bayangkan jika gadis-gadis cantik di kota akan tertarik padanya. Ia ingat saat pertama menginjakkan kaki ke SMA Cahaya Harapan, tak seorang gadis pun meliriknya. Jika mata mereka bersitatap dengannya mereka akan segera mengalihkan pandang. Lucunya sekarang, saat Koa balas menatap, gadis-gadis itu malah tersenyum balik dan melambai padanya. Penghinaan itu tak pernah dia lupakan sekali pun. "Tekan kemarahanmu, ingat! Pembalasan paling baik adalah membuat mereka yang memandang rendah dirimu akhirnya berbalik kagum padamu." Berkali-kali Inshira memantapkan hati Koa agar tak tenggelam dalam kemarahan. Koa mengumpulkan orang-orang yang kini berdiri di sisinya. Tak ada yang instan. Mula-mula mereka masih membiarkan tingkah Angkasa dan gengnya. Lama-kelamaan, keramahan dan kebaikan Koa membuat sebagian murid tak enak hati dan mulai ambil andil membelanya. Oh, well ... Angkasa tidak semudah itu mengalah. Ia mulai memfitnah Koa macam-macam. Namun, seperti yang Inshira ajarkan, cara terbaik adalah memenangkan hati para guru. Sikap Koa berubah drastis, pintar, ambisius dan produktif. Dengan beberapa backingan dari teman. Malah akhirnya semua omong kosong Angkasa berbalik padanya. Angkasa mengira CCTV masih bisa dirusak, tetapi diam-diam Inshira dan Koa sudah memasang kamera mini di tempat lain. Alhasil, semua tindakan tercela Angkasa terbongkar sudah. Ia mendapat ganjaran setimpal. Tak seorang pun kini percaya padanya. Mudahkan menjalani semua ini? Apakah Koa berubah 180° hanya dalam waktu beberapa bulan? Tidak teman, berulang kali ketidakpercayaan diri datang menghantam bagai badai. Bahkan di antara keramaian, Koa masih merasa sendirian. Ia selalu menelepon Inshira kala rasa sakit tak tertahankan. Suara gadis itu, keceriaannya menular pada Koa. Sejujurnya dinding tinggi yang Koa bangun belum runtuh, ia belum bisa terbuka kepada siapa pun kecuali di masa konseling. Dukungan Inshira dan kelembutan dr. Tanoto membuat Koa nyaman. "Kau sudah makan?" Pertanyaan basa-basi yang selalu Koa lemparkan saat menelepon Inshira. Remaja itu mendengar tawa halus di seberang sana. "Memangnya kamu ortuku, nanyain udah makan belum, lain kali sekalian nanyain udah mandi belum, udah cebok belum?" ejeknya. Koa ikut tertawa. Rupanya boleh upgrade, tetapi ia masih Koa yang sama. Koa yang canggung. "Kau sudah bilang sama ibumu untuk mendapatkan tutor baru? Kevin sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Kanada." Koa mendengar Inshira mendesah lelah. "Si Timun Laut guru yang sangat baik, sayang sekali." "Sudah. Ibu bilang oke. Hari ini, sepulang sekolah ayah mengajakku ke perusahaan. Aku ...." Koa menatap langit malam penuh kerinduan. Ia ingin membaui wangi parfum Inshira saat ini. "Kau ... tidak ingin mengambil alih perusahaan? Kenapa ga jujur aja? Ingat Koa, semua orang bukan cenayang, mereka tidak bisa membaca isi hati kita. Jika tidak suka, bilang. Jika mau, juga bilang. Memang tidak ada yang mudah. Kau bisa mendapat penolakan atau penerimaan, tapi kalau menumpuk sesuatu di dalam hatimu sendiri. Lama-kelamaan kau akan menjadi Koala Gila." Ia kembali tertawa renyah. Lucu, tak sedikit pun Koa tersinggung dengan kalimat gadis ini. "He em, akan kubilang. Shira, boleh aku tanya satu hal?" Kedekatan Koa dan Inshira menjadi momok tersendiri, Koa sadar setiap dia berjalan bersama gadis ini, orang-orang yang mereka temui berusaha menghindar. Pagi ini, seorang gadis mendekati Koa dan berbisik padanya. Beberapa teman si gadis menyemangati dia di dekat pintu keluar. "Koa, apa hubunganmu dengan Inshira, senior tingkat kita itu?" Mata Koa berlabuh di label nama gadis itu. Meidy Lim. "Teman," jawab Koa. "Syukurlah. Kukira kalian pacaran." Koa mengernyit bingung. "Kenapa memangnya?" Gadis itu berbisik ke telinga Koa, tepat saat bel masuk kembali berdentang. "Dia, berusaha membunuh seseorang dulu. Inshira si Gadis Gila." "Hei, tanya apa?" Lamunan Koa buyar seketika. "Kenapa ... mereka menjulukimu si Gadis Gila?" Keheningan menguasai saluran telepon. "Shira?" "Kau mendengar gosip tentangku, bukan? Apa yang mereka bilang?" Koa menangkap suara gadis itu bergetar. Koa tak enak hati menyampaikan kalimat yang menurutnya kasar, tetapi rasa penasaran menggelayuti hatinya. Gadis ceria ini, bagaimana bisa melakukan tindak percobaan pembunuhan? "Mereka bilang, kau mencoba membunuh seseorang." Keheningan berikutnya membuat perasaan Koa digelayuti keresahan. "Aku percaya padamu." Kalimat itu keluar secara spontan. Koa mendengar suara tercekat, antara isakan atau tawa sedih. "Nanti. Ketika kau membuka hatimu padaku, aku akan membuka hatiku padamu." Koa menggigit bibir ragu. Perasaan ingin membuka diri seketika menguak. "Aku ... takut." Ia memulai. Begitu sulit, tapi setelah kata pertama terlontar Koa tak tahu bagaimana, ia bagai keran bocor. Semua kelesah ditumpah-ruahkan begitu saja. Dinding yang ia bangun runtuh perlahan. Setiap ketakutan, kemarahan, dan kekecewaan yang membuatnya melukai diri terungkap. Inshira mendengarkan semua tanpa menginterupsi Koa. Remaja itu ingat bagaimana air mata luruh, rasa sakit perlahan ditarik dari tubuhnya. Layaknya sebuah lumbung yang kepenuhan. Sesak. Ketika seseorang mengorek untuk melihat apa isinya dan membuat lubang. Itu sakit. Namun, sewaktu isinya keluar perlahan dari lubang itu. Kelegaan menguasai hati Koa. Memberi ruang untuk bernapas lapang. "Aku rusak," ucap Koa sesenggukan. Ia menangis layaknya anak kecil. Memalukan, tapi ia tak peduli untuk saat ini. "Ya, kau rusak. Tidak! Bukan hanya kau. Aku juga rusak. Kita rusak, tapi ... ketika kita pulih. Kita jauh lebih kuat dari mereka di luar sana. Mereka yang membuat kita jatuh. Berapa kali pun dibanting, kita bangkit lagi. Lagi, dan lagi. Sakit. Aku tahu, sangat sakit. Kau tahu Koa. Kau berhasil melewati semua itu. Kau berhasil. Betapa bangganya aku padamu." Kalimat Inshira membuat Koa menangis semakin keras. Seseorang mengakui keberadaannya, bangga padanya, dan percaya pada kemampuannya. Itu sudah cukup. Koa merasa terharu. "Menangislah sepuasnya, tetapi besok kau harus berjanjin untuk tersenyum." Koa mengangguk, membekap mulutnya keras. "Besok, aku akan memberitahumu sebuah cerita di balik julukan si Gadis Gila. Temui aku di taman belakang. Ayah mengetuk pintuku sekarang, bye. Sampai besok." "Oke. Sampai besok." Sambungan diputuskan. Koa berjalan ke tempat tidur. Ia memejamkan mata dan tersenyum dalam tidurnya. Besok, ia akan tahu semua kebenaran tentang gadis manis itu. Inshira Ng. Seseorang yang membuat hati Koa bergetar hangat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (107)
GAMINGF14ONE
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
06/04/2022
0bagus bgt suka
14/05/2025
0Kerenn bgtt ceritanya
05/05/2025
0Lihat Semua