"Anak itu kehilangan dua buah gigi, bagaimana kau bisa menjelaskan semua ini? Kenapa kau seperti ini Koa?" Galina bertanya frustrasi. Belum setengah hari remaja itu bersekolah dan ia lagi-lagi membuat masalah. Galina harus meminta maaf berulang kali, membawa Ezky ke rumah sakit dan mendengar ceramah guru perihal Koa. Kepalanya terasa mau pecah. Tidak bisakah Koa bersikap seperti anak normal lain? Kenapa ia bisa melahirkan anak seperti ini? Koa memandangi jari kakinya penuh minat, mengabaikan presensi Galina di hadapannya. "Ayah akan sangat kecewa padamu." Galina memijit pelipisnya. "Apa Ibu percaya padaku?" Galina bersedekap. "Apa? Jelaskan pada ibu." "Bukan aku yang memulai." Koa mengangkat wajah. Pandangan mata tajam Koa beralih ke netra Galina. Wanita dewasa itu berdecih kesal. "Seluruh kelas melihatmu memukul Ezky duluan, bagaimana kau–" Ia kehilangan kata-kata. "Kenapa harus berbohong!" teriak Galina. Ia tak habis pikir, semua sudah jelas. Begitu banyak saksi dan Koa masih berbohong. Senyum Koa tertarik ke satu sisi. "Lihat! Ibu tak percaya 'kan? Sudah kubilang." "Tapi itu kenyataannya, sekali lagi kau memulai perkelahian sekolah akan mengeluarkanmu. Tidak bisakah kau ...." Galina mengerang kesal. "Bersikap normal?" Koa berdiri cepat. "Ada lagi?" tanyanya kurang ajar. "Koa! Ini menyangkut masa depanmu, apa kau mau dikeluarkan dari sekolah? Jika Ibu tidak menggunakan nama ayah sebagai penyumbang yayasan kau sudah dikeluarkan hari ini, kau bahkan tidak diskors!" "Terima kasih," sindir Koa. Menunduk main-main. Ia lalu melenggang pergi, mengorek telinga saat mendengar teriakan marah Galina. Koa bersenandung pelan. Menaiki anak tangga sambil menghitung jumlahnya. Ia masuk ke tempat teraman di rumah ini. Kamar mandi. Koa membuka salah satu laci di bagian bawah wastafel. Mengeluarkan pisau steak yang ia curi malam sebelumnya. Remaja kurus itu masuk ke dalam bathtub. Perlahan, ia melepaskan celana hingga tersisa boxer saja. Koa membuka keran. Membiarkan air dingin melingkupi tubuhnya. Tangan remaja itu mengiris paha bagian atas. Mulanya goresan kecil, pendek. Berlanjut irisan dalam. Koa mendesis sakit. Darah mengalir turun. Menciptakan ilusi kembang api di mata Koa. Setetes jatuh. Merekah di air. Indah. Setetes lagi. Ah, rasa sakit meringankan kekacauan di hatinya. Suara keras pintu kamar mandi menjeblak terbuka membuat fokus Koa teralihkan. Sial! Koa memaki dalam hati, ia lupa mengunci kamar mandi. Yumna berdiri di ambang pintu. Mata sipitnya terbelalak lebar. Ia berjalan cepat ke arah Koa, merebut pisau dari Koa dalam sekejap mata. "Tolong." Koa mencengkeram lengan baju Yumna saat gadis itu meraih celananya di lantai dan menekankannya pada luka terbuka. Mata Yumna berair, ia menilik wajah Koa lamat-lamat. "Tolong jangan beritahu siapa pun." Koa mencengkeram semakin erat. "Berjanjilah," pintanya memelas. Yumna mengangguk kaku. Masih menahan luka Koa, sebelah tangan gadis itu menarik kepala Koa ke arah tubuhnya sendiri. Ia memeluk Koa, tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya gemetar ketakutan. Mereka menangis. Keduanya. Mendapat pelukan hangat membuat Koa tak sanggup mengontrol emosi. Ia mencengkeram punggung Yumna. Melepas rasa sakit yang berusaha menenggelamkannya saat ini. *** Yumna menjaga janjinya. Tak ada insiden lain setelah ceramah panjang lebar dari Edwin di meja makan kala pagi menjelang. Berkali-kali pria dewasa itu mewanti-wanti Koa untuk menjauhi masalah. Koa mengangguk patuh, tetapi memberontak dalam benaknya. Lucu, mereka mengira dirinya apa, malaikat, saint? Sangat mudah mengingatkan seseorang. Namun kenyataannya, emosi merupakan bagian normal dari tindakan manusia. Remaja kurus itu menatap langit biru skeptis. Tahu dengan pasti Angkasa beserta gengnya tidak akan tinggal diam. Koa menarik napas dalam. Berjalan kaku sepanjang taman di mana kelompok itu telah menunggunya sejak pagi. "Lihat! Siapa yang datang sepagi ini?" Angkasa berkecak pinggang. Koa bisa melihat tongkat baseball yang pemuda itu sembunyikan di belakang celananya. Tony dan kedua temannya mengepung Koa, menyeret remaja itu menuju halaman belakang. Pohon-pohon besar menyembunyikan rencana kejahatan mereka. Angkasa menampar pipi Koa keras. "Bagaimana rasanya, Anak Pelakor? Sakit?" Sebuah tamparan lagi mendarat di sisi lain. "Kau akan menerima apa yang kau lakukan pada adikku." Angkasa mengangkat kaki dan menendang perut Koa. Remaja itu terhuyung jatuh, memeluk perutnya kesakitan. "Dia mematahkan gigi Ezky, patahkan juga miliknya." Tony tertawa sambil menahan lengan Koa. Koa memberontak sekuat tenaga melihat tangan lain mulai menekan sisi wajahnya ke tanah. Ia bernapas pendek-pendek, ketakutan. Angkasa mendengkus sambil tertawa senang. Pemuda sombong itu mengeluarkan tongkat baseball, membidik ke rahang Koa. Main-main ia mengayunkan beberapa kali untuk memastikan arah. "Lepaskan!" teriak Koa panik. Wajah-wajah kabur mengelilinginya. Tertawa, menekan wajah Koa semakin kuat. Ia bisa mencium bau tanah. Memuakkan. Koa meludah, menendang liar. "Satu ...." Angkasa mengetuk rahang Koa perlahan dengan ujung tongkat. "Dua ...." Yang lain ikut berhitung. Tangan-tangan lain mulai menahan pemberontakan kakinya. "Tiga!" Angkasa mengayunkan tongkat baseball-nya sekuat tenaga. Namun sialnya, sesuatu menghantam kepala pemuda itu sebelum tongkatnya menyentuh Koa. Arah pukulan Angkasa melenceng, ia malah melukai salah seorang temannya. "Siapa?" teriaknya marah. Mereka meneliti seisi halaman belakang. Tidak ada seorang pun berjalan melewati tempat ini. "Di atas!" seru sebuah suara. Mereka menatap ke atas. Sesosok gadis berambut pendek melompat turun dari pohon. "Inshira," desis para anggota geng. Terdengar takut. Mereka melepaskan genggaman pada Koa. "Si Gadis Gila," bisik yang lain tak percaya. "Kenapa kau di sini?" tanya Angkasa. Anehnya suara pemuda sombong itu terdengar kecil. Inshira memungut buku yang ia lempar ke kepala Angkasa. Mengacungkan benda berhalaman empat ratus lembar ke wajah mereka. "Kalian, menganggu waktu bacaku." Gadis galak itu menyipitkan mata besarnya, mengintip ke arah Koa yang masih bergelung di tanah. Remaja itu bangkit perlahan. Menyeka tanah dari wajahnya. "Apa yang kalian lakukan?" Gadis itu menarik keluar ponsel pintar dari saku celana besarnya. Angkasa dan gengnya berdecih, mengumpat pelan. Masih berdiam di tempat mereka berdiri, ragu-ragu. Apakah ingin melepas Koa begitu saja atau tidak. "Tunggu apa lagi?" Inshira bersiap melempar buku tebalnya. Otomatis para pemuda berandal itu bergerak mundur. Menunjuk wajah Inshira dengan isyarat mengancam, tetapi ketika gadis itu maju, mereka segera lari terbirit-birit. Koa tercengang, sungguh! Bagaimana gadis berbadan langsing ini bisa menakuti para pemuda berbadan besar itu. Rasa-rasanya sangat tak masuk akal. "Hei kau!" Koa mengedip lambat sebagai jawaban. Inshira berjongkok di hadapan Koa. Meludahkan permen karet ke tanah sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kau, Koa Tan! Apa kau ingin membalas mereka?" "Apa?" "Mereka." Inshira menunjuk punggung para pemuda berandal yang mulai tak terlihat. "Aku, akan membantumu." Mata besar itu menatap Koa dalam-dalam. Bibir gadis manis itu tertarik miring ke atas. Tersenyum sinting. "Membalas apa yang mereka lakukan padamu." Ia mengulurkan tangan. Koa menatap tangan gadis itu. "Aku ...."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (107)
GAMINGF14ONE
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
06/04/2022
0bagus bgt suka
14/05/2025
0Kerenn bgtt ceritanya
05/05/2025
0Lihat Semua