logo text

Bab 10 Rasa Sakit Yang Membuatnya Tetap Hidup

Ketika Koa kehilangan kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap orang lain, remaja itu menjadi semakin tertutup. Takut jika mereka akan menertawakan tingkahnya, atau membicarakannya di belakang, apalagi meragukan alasannya.
Lalu, ia memilih untuk bungkam. Tidak ada yang mengerti bagaimana rasa sakit yang Koa tanggung. Hari demi hari bagai hidup di neraka. Bernaung dalam mimpi buruk tiada akhir.
Angkasa dan gengnya menyebarkan foto Koa saat babak belur ke seisi sekolah. Foto memalukan itu terpajang di mading, di kelas, di setiap loker siswa. Mereka mengisi rumor dengan cerita hoaks. Menambah bumbu kepahitan ke dalam silsilah Koa.
Koa bersikukuh melepas setiap foto yang terpajang. Sementara Angkasa dan gengnya tertawa pongah.
"Kenapa kalian melakukan semua ini?" tanya Koa putus asa. Melempar sobekan foto ke wajah Angkasa.
Dia tak mengerti, kenapa manusia bisa bertindak sekeji itu. Bukan jawaban yang Koa dapatkan pada akhirnya. Lagi-lagi ia menjadi bulan-bulanan kawanan berandal itu.
Bukannya tidak ada saksi yang melihat perbuatan bejat Angkasa, tetapi mereka memilih tutup mata. Tak ingin terlibat masalah dan mengembangkan ketidakadilan menjadi sebuah kebiasaan.
Koa mengerang sakit di bawah langkah-langkah ketidakpedulian. Ia bergelung dalam cibiran bahwa ia pantas mendapatkan semua ini.
Tak seorang pun berdiri di sisinya.
Tak seorang pun membelanya.
Ketika wajah sang remaja lebam, seisi rumah memilih mengabaikannya, mungkin sekadar bertanya kenapa hal itu bisa terjadi? Seperti basa-basi saat menawarkan makanan, dan Koa akan menjawab ia terjatuh, terpeleset, atau terantuk.
Mereka akan mengangguk setuju, mempercayai kebohongannya selama tidak ada panggilan dari sekolah lagi. Tidak apa-apa selama Koa tidak mempermalukan keluarga ini.
Perlahan, jiwa muda polos itu padam, terganti fantasi liar kegelapan berbalur maut. Semua dimulai dari kata 'jika'.
Jika dia mati adakah yang bersedih?
Jika dia membunuh para berandal itu apa mereka akan mengerti dan masih menerimanya sebagai bagian dari keluarga?
Jika ia memberitahu perasaannya apakah mereka akan menertawakannya?
Rasa sakit yang ditahan menumpuk cepat sampai Koa tak sanggup lagi, ia harus mencari pengalihan. Menenggelamkan diri dalam bathtub kini tak memberi efek tentram.
Diam-diam sang remaja membeli silet. Mulanya hanya goresan kecil di lengan. Efek nyeri memberi Koa ketenangan. Rasa sakit mengalihkan kekacauan dalam benaknya. Setidaknya, ia merasa waras dalam kesakitan.
Namun, semakin hari perundungan yang Koa terima semakin parah. Siswa lain menjauhi Koa, kerja kelompok selalu ditinggal sendirian.
Mereka terang-terangan membicarakannya dalam setiap kesempatan.
Koa bahkan tak punya tempat untuk mengeringkan air mata. Rumah, sekolah, keduanya sama saja. Tekanan demi tekanan membuat Koa melukai diri lebih berani.
Ia menggenggam silet, merasa kebas seharian. Seakan tak terkoneksi dengan dunia nyata. Pandangannya hampa. Hanya tangan yang bergerak spontan. Mengiris luka baru di lengannya. Koa menutup mata. Merasa bisa bernapas lagi bersama rasa sakit ini.
Darah merembes perlahan, mengalir bersama air ke lubang pembuangan di bathtub. Membentuk jalur anak sungai. Rasa pusing mulai mengambil alih, penglihatan Koa kini menjadi ganda.
Semua akan baik-baik saja, ini tidak seberapa. Kau hidup, itu yang terpenting.
Kalimat penghiburan itu berkumandang. Menyedihkan menyemangati diri sendiri. Koa tertawa terbahak-bahak. Sangat menyedihkan. Betapa lucu hidupnya.
***
Suara teriakan keras menyadarkan Koa. Ia membuka mata, gamang. Langkah kaki berderap pergi sesaat kemudian. Pusing masih menggelayuti kepala Koa. Tangannya terasa kaku dan keriput akibat terlalu lama berinteraksi dengan air. Ia meraih keran, mematikan air yang sudah meluap keluar dari bathtub.
Penjuru kamar mandi banjir oleh air berwarna merah muda. Koa menopang tangan, berusaha untuk bangkit. Ia terjatuh, kakinya terasa kebas.
Derap langkah mulai terdengar lagi memasuki kamarnya. Berisik. Koa menengadah. Mendapati wajah-wajah yang ia kenali menatap Koa dengan mata terbeliak.
Galina menjerit sambil menangis. Wajah putranya seputih kertas, darah masih mengucur perlahan dari luka terbuka di lengannya. Sebuah silet mengambang di antara genangan air di lantai.
Koa tak mengerti mengapa mereka tampak ketakutan. Ia lelah, Koa kembali menutup mata. Bersandar pada bathtub dan mulai terlelap.
Samar-samar Koa mendengar Galina berteriak menyuruh pelayan memanggil dokter. Tubuhnya terasa diangkat oleh tangan-tangan kasar. Mereka meletakkannya di tempat lembut dan berbau harum.
Kesadarannya timbul dan tenggelam. Ia merasakan sentuhan lembut merawat lukanya. Detik berikutnya, Koa mendengar suara berisik bersama tangisan. Lalu, kepalanya dibelai, tangan remaja kurus itu digenggam. Koa merasa hangat.
Dalam alam bawah sadarnya sebuah pemikiran terbentuk, haruskah aku bertindak begini agar kalian peduli?
Koa tak tahu berapa lama dia tertidur. Ia kembali tersadar oleh suara pertengkaran.
"Jika anak-anakmu tak memperlakukan Koa seperti ini, dia tidak akan mencoba bunuh diri!" Air mata Galina mengalir deras.
Bunuh diri? Koa memilih menutup kembali kelopak matanya.
"Bagaimana aku bisa tahu anak-anak akan bereaksi seperti itu terhadap Koa? Bukankah kamu lihat sendiri, Yumna dan Winola tampak menyesal." Edwin berusaha memeluk tubuh Galina, tetapi ditepis oleh istrinya.
"Sudah terlambat, lihat keadaan Koa sekarang!"
Koa tahu mereka mencintainya, tetapi mereka tak berusaha memahami Koa. Ia tidak pernah berniat bunuh diri. Tak selintas pun dari benaknya. Mereka selalu beransumsi melalui netra. Tak melihat apa yang tersembunyi.
"Besok, kita bawa Koa ke psikolog terbaik. Dia akan baik-baik saja, tenangkan dirimu." Kali ini Galina jatuh ke pelukan Edwin bersama tangis keras.
Air mata Koa mengalir turun tanpa mereka sadari. Koa menggenggam erat seprai. Ia hanya butuh penerimaan dan kasih sayang, tidakkah mereka menyadari hal itu? Mereka juga ambil andil dalam masalah ini.
Dunia Koa terdistorsi, sesuatu menekan dadanya kuat. Ia tersedak tangis, tak sanggup menahan kemarahan dan kekecewaan.
Galina dan Edwin menghampiri Koa, berusaha memeluk remaja itu. Koa memberontak sekuat tenaga, menangis keras, berteriak hingga suaranya parau. Ia tak mengerti kenapa bisa begini.
Rasa sakit itu bagai api yang bergejolak dalam tubuhnya. Memaksanya memuntahkan segala kemarahan. Jika ia tak melakukannya, Koa merasa tubuhnya akan terbakar. Ia akan meledak.
Galina berteriak histeris memanggil bala bantuan. Mereka mengikatnya ke tempat tidur. Menatapnya dengan mata penuh ketakutan. Saat dia memberontak, mereka mundur ketakutan.
Koa tahu dia telah rusak. Sesuatu dalam dirinya hancur, lepas sekeping demi sekeping. Meninggalkan rangka tak berguna, hanya itu yang tersisa.
Ya, dia tahu mungkin dia sudah gila, seperti yang mereka dengungkan saat ini.
Dokter akhirnya tiba, tergesa pria paruh baya itu meraih lengan Koa. Mengusap kapas dan mulai menyuntikkan obat penenang.
Koa menarik napas dalam, wajah-wajah mereka mulai buram. Ia benci, sangat membenci mimik kasihan yang mereka tampilkan.
Koa tahu, besok ... neraka jenis baru akan dimulai.

Komentar Buku (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru