BAB 22

Angkasa terkekeh dengan  tindakannya, ia kira Amara tidak mau makan dengannya.  
”Untung saya tadi tidak pesan seafood semua.” Angkasa membuka bungkusan yang berbeda dari yang lain.  
”Rencana saya kasih ke Riksa, adik saya. Tapi sepertinya kamu saja deh yang makan.”  
Amara menggeleng. ”Untuk adik Bapak saja.”  
”Tak apa. Nanti saya bisa beli lagi. kalau kamu mau tambah nasi juga tidak apa-apa. Jangan terlalu sungkan.” Angkasa menyodorkan bungkusan nasi putih.  
Mereka berdua yang duduk berselonjor di karpet bulu dengan makanan di atas meja. Meskipun ada rasa canggung yang masih menyelimuti Amara tapi ia mencoba menghempaskannya. Untuk kali ini biarkan mereka berdua dekat.  
”Rumah kamu daerah kebun jeruk ya, Lan?” Sambil mengupas kepiting dengan sangat sabar Angkasa bertanya.  
”Iya, Pak.”  
”Kebetulan saya lewat sana, nanti kita pulang bareng saja ya.” Amara tidak percaya, kenapa Angkasa setiap detiknya berubah sifat. Tadi siang pria itu terlihat otoriter, sore tadi arogan, dan sekarang pemaksa.  
”Eh… tidak usah, Pak.”  
”Saya yang bertanggung jawab atas kamu karena pulang malam. Mungkin nanti takutnya kamu kena marah ayahmu, dan saya bisa menjelaskan.” Jika keluarganya dalam keadaan baik mungkin Amara akan tersentuh dan menyambut baik iktikad dari Angkasa. Tapi untuk sekarang ia benar-benar harus memikirkan ulang.  
Ayah saya tidak akan pernah marah karena dia sudah benar-benar melepaskan saya. Ia berkata dalam hati.  
Amara menghentikan sejenak makannya, kenapa Angkasa selalu menyinggung soal keluarga dan pacar ia merasa tak nyaman sebenarnya.  
”Ibu saya tidak akan pernah marah, Pak.” Senyum terpaksa yang Amara berikan membuat Angkasa mengernyit.  
”Ayah kamu sudah tidak ada?” tanya pelan Angkasa merasa tak enak.  
”Masih, Pak.”  
Lega, itu yang dirasakan Angkasa. Ia kira, ia sudah berkata yang tidak pantas dan mengakibatkan kekecewaan pada perempuan ini.   
”Kamu punya adik?”  
Amara mengangguk.  
”Lania, maaf sebelumnya karena saya sudah terlalu ikut campur urusan pribadimu. Saya hanya ingin bertanya, pria yang kemarin itu benar kakakmu?” Dengan perlahan ia mengorek informasi data pribadi Amara.  
”Iya, Pak. Dia kakak kandung saya.”  
”Tapi bagaimana bisa dia berbuat sekeras itu pada adiknya sendiri?” tanya Angkasa menggebu, ia paling tidak suka ada tindak kekerasan yang dilakukan pria terhadap wanita. Dan kemarin menurutnya adalah masuk ke tindak kriminal.  
Dia bahkan bisa melakukan hal kejam yang lebih dari itu. Amara berteriak dalam hati.  
”Dia hanya tidak mau adiknya kenapa-kenapa, Pak.” Bohong Amara sambil memainkan nasi di hadapannya.  
”Dengan bersikap seperti itu?”  
”Semua mempunyai sikap masing-masing, begitupun Pak Langit yang menjaga keutuhan keluarga. Bapak tidak ingin keluarga Bapak hancur ‘kan? Bersikap posesif itu yang menjadi pilihan kak Guntur.”  Padahal sampai sekarang ia tak tahu alasan Guntur jauh-jauh datang ke hotel untuk menemuinya. Yang ia tahu, Guntur berkata jika ia tidak boleh ada di sana lagi.  
Angkasa terdiam. Kenapa perkataan Amara seperti sebuah belati yang tepat menusuk jantungnya. Apakah ia terlalu terang-terangan  untuk mendekati Amara.  
”Ya karena itu saya sangat cinta keluarga saya. Saya tak ingin ada seseorang pun yang mengusiknya bahkan bisa memisahkan hubungan sah yang selama ini dijaga.”  
Amara tersenyum dalam diam. Pria ini mempunyai tekad yang kuat. Tapi tekad itu membuat Amara sedikit paham apa maksud dari kalimat tersirat itu.  
”Bapak orang yang terlihat sangat menyayangi keluarga.” Amara menyudahi makannya dan membereskan sisa-sisa makanannya.  
”Pak Langit,” panggil Amara yang melihat atasannya ternyata juga sudah selesai.  
”Saya benar-benar minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan, apalagi itu mungkin sudah mengganggu Bapak. Tapi saya tidak bermaksud untuk melakukan hal semacam itu.” Amara menatap wajah Angkasa dengan sendu.  Ia sudah berpikir tadi,  benar kata Angkasa ia sudah keterlaluan mungkin kalian menganggap Amara sebagai perempuan yang labil. Tapi ya begitulah kenyataannya.  
Angkasa tersenyum tulus untuk kali ini. Permintaan maaf yang sebenarnya tak perlu di lakukan oleh Amara. Ia hanya ingin dekat dengan perempuan itu dengan cara membuatnya jengkel.  
”Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Saya tidak mau melihat kamu menangis untuk kedua kalinya. Memang kamu tidak lelah menangis terus menerus?”  
Amara melongo, bagaimana bisa pria ini tahu jika ia menangis apakah karena mata sembapnya?  
Angkasa menepuk pahanya dan berdiri sambil membuang semua bungkusan sampah di tempat yang sudah disediakan.  
”Ayo pulang.” 
Amara mengikuti dan membereskan semua tasnya. ”Tapi, berkas tadi belum saya selesaikan, Pak,” adunya.  
”Sudah biarkan saja, besok Sasha yang tinggal melanjutkan.” Mengambil tas kerjanya dan berniat pergi dari ruangan. 
”Bapak duluan saja, saya bisa pulang dengan ojek online.”  Amara menolak niatan baik dari atasannya.  
Dan hal itu membuat Angkasa mengerutkan kening. ”Kenapa?”  
”Saya Tidak mau merepotkan, saya yakin Bapak pasti lelah. Maka dari itu Bapak lebih baik langsung pulang dan istirahat.”  
Jika dari dulu Angkasa adalah pria yang tak suka ada bantahan sekarang pun masih sama. Amara harus menuruti inginnya.  
”Saya tahu kamu masih kurang sehat. Muka kamu saja pucat seperti itu. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu siapa yang bertanggung jawab? Setidaknya  kamu terima itikad baik dari saya. Bagaimana?”  
Akhirnya dengan sangat terpaksa ia mengangguk.  
 
* 
Hampir dua puluh menit keheningan menemani mereka. Hanya suara radio dan suara klakson yang saling bersahut-sahutan di luaran sana yang menemani mereka berdua. Tak ada obrolan lagi yang terucap. 
Angkasa yang lebih fokus mengendarai dan Amara yang memperhatikan aktivitas semua orang lewat jendela.  
Suara ponsel yang berbunyi menyadarkan mereka semua. Amara melihat pria di sampingnya segera menekan tombol hijau.  
”Assalamualaikum, ya, Ma?”  
”Iya, ini Kasa lagi di jalan. Macet. Sebentar lagi sampai.”  
Angkasa melirik Amara, membuat perempuan itu gugup karena ketahuan menguping pembicaraan.  
”Iya, Ma. Assalamualaikum.”  
”Rumah kamu sebelah mana?”  
Amara tergagap. ”Eh, di depan situ saja Pak.” Ia menunjuk rumah bercat putih yang sudah terkelupas.  
Dengan memutar kemudinya, Angkasa berhenti di rumah yang katanya milik perempuan itu. Melihat sekeliling yang ternyata sepi padahal perumahan ini dekat dengan jalan besar.  
”Memang kalau malam sepi begini, ya?” tanya Angkasa sambil keluar dari mobil.  
”Iya, Pak. Karena udah di atas jam sembilan. Tapi daerah sini sih aman.” Amara menjelaskan.  
Angkasa melihat sepintas rumah Amara. Rumah yang terlihat tua namun asri karena ada banyak tanaman yang terawat juga pohon mangga di sudut pagar.  
”Mar, kamu sudah pulang?” teriak seseorang yang baru saja membuka pintu.  
Amara mendengus. Kenapa kakaknya muncul di waktu yang tidak tepat sih.  
”Kamu diantar sama siapa?” Guntur mendekat, memperhatikan Angkasa dari atas ke bawah. ”Oh saya inget, kamu cowok yang ada di hotel itu kan?”  
Dengan sigap Amara berada di depan Angkasa untuk segera menjauhkan dari amukan Guntur hal yang membuat kakaknya seketika mendengus dan tertawa.  
”Kamu ada hubungan apa sama adek saya?!” tanya Guntur.  
”Beliau atasan aku, Kak.” Bukan Angkasa yang menjawab melainkan Amara.  
”Tidak ada atasan yang mengantarkan bawahannya gini. Apalagi sikap kamu yang protektif itu.”  
”Dia hanya atasan aku,” jelas Amara lagi. Tanpa sadar tangannya menggenggam erat tangan Angkasa membuat pria itu semakin terdiam dan menelaah apa yang akan terjadi selanjutnya.  
”Sudah Kak Guntur mending masuk nanti kita ngomong di dalam saja.”  
Guntur tak mendengarkan perkataan adiknya, ia masih menatap lekat pria yang memakai setelan kemeja dan berusaha mendekatinya. Sikap Guntur mendorong Amara agar tidak menghalangi langkahnya dan memberikan tinjunya yang kuat pada Angkasa.  
”Itu pembalasan saya karena kamu sudah ikut campur urusan keluarga kami bahkan kamu sudah bikin muka saya memar!” teriak Guntur sambil mengusap tangannya ke baju.  
”Kak, apa-apaan sih. Pergi dari sini!” Amara mendorong kasar badan Guntur, walaupun kalah tenaga tapi mampu membuat Guntur melangkah menjauhi Angkasa.  
”Eh, jadi cewek jangan bodoh-bodoh amat, Mar. Kakak kasih tahu sama kamu ya, orang kaya seperti mereka ini cuma mau memanfaatkan kemiskinan kita doang. Mereka mendekati kita kalau ada maunya, dan kamu bodoh banget kalau sampaisampe terjebak dengan mulut manis macam mereka itu!” Ocehan Guntur membuat Amara tak terima. Ia menampar pipi Guntur agar segera berhenti.  
”Kak kalau ngomong jangan asal!”  
Tapi memang sikap Guntur yang temperamental, ia kembali menampar sang adik hingga membuat terjerembab.  
Angkasa yang melihat itu langsung membantu Amara untuk berdiri. Ia tak menyangka Amara mempunyai keluarga yang sebegini kejamnya. Bagaimana tumbuh kembang keluarga yang lain jika kakak dari perempuan itu saja sengaja bahkan sering melakukan kekerasan fisik.  
”Saya bisa mengadukan Anda ke pihak berwajib dengan tuntutan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan. Apakah Anda sanggup untuk tidur di lantai dingin penjara?” kata Angkasa akhirnya. Ia sudah geram dengan perilaku pria brutal di hadapannya ini. Jika saja bukan bernotabene sebagai kakak dari Amara Lania, Angkasa tak segan-segan menjebloskan Guntur ke dalam penjara.  
Guntur tertawa sampai mengeluarkan air matanya. ”Kan benar apa aku bilang, Mar. Orang kaya hanya mengandalkan uang dalam segala hal. Semua orang kaya memang benar-benar sialan. Semua sama saja, brengsek!”  
Amara hanya meringis mendengar teriakan kakaknya yang berjalan semakin lama semakin menjauh. Ia menatap wajah Angkasa yang bibirnya memar, tambah menjadi terasa tak enak yang Amara hadapi.  
”Saya minta maaf atas kelakuan kakak saya tadi, Pak.” Amara menatap sudut bibir itu. ”Ayo masuk, saya obati dulu.”  
Angkasa yang menggerak-gerakkan bibirnya seketika merasakan nyeri padahal sedari tadi ia tak merasakannya tapi kenapa sekarang malah tiba-tiba.  
”Saya obati di rumah saja,” tolak Angkasa.  
Amara langsung menggeleng dan menyeret Angkasa ke dalam rumahnya dengan bertujuan untuk segera mengobati. Ia takut akan terjadi infeksi atau hal buruk lainnya.  Belum sampai pintu mereka berjalan ada seorang bocah lelaki yang memanggil-manggil nama Amara dari dalam rumah.  
”Kak Mara.” Bocah yang berumur sepuluh tahun itu membuat Angkasa menoleh.  
”Eh, kamu belum tidur?” tanya Amara sambil mengusap muka bocah itu yang terlihat mengantuk. ”Atau malah bangun?” 
”Tadi aku dengar suara kak Guntur, tapi kok sekarang tidak ada?” tanyanya sambil menengok ke belakang punggung Amara. 
”Mungkin perasaan Cakra aja kali.”  
Perkataan itu membuat Angkasa kembali menatap Amara, pasti ada yang tidak benar di sini. Tapi ia tak mau keluar dari batas sebagai orang luar di sini.  
”Ayo Pak masuk.” Amara mempersilakan Angkasa untuk masuk. Satu yang Amara lihat dari rumah perempuan ini, sejuk.  
”Kak Mara kenapa pulangnya malam lagi? Kata kakak kemarin mau pulang sore,” kata Cakra yang ikut terduduk di  kursi.  
”Iya tadi ada kerjaan yang harus Kakak selesaikan. Oh, iya kenalin ini bos Kakak, Pak Langit eh Pak Angkasa.”  
”Langit aja tidak apa-apa,” koreksi Angkasa saat sedang asyik-asyiknya mendengar interaksi kedua manusia yang memiliki umur jauh berbeda.  
Cakra menyalami Angkasa tanda hormat kepada yang lebih tua. ”Aku Cakra om, Cakrawala.”  
Deg! Sepertinya ia tak asing dengan nama itu.  
”Om,” panggil Cakra yang sebenarnya sedari tadi memperhatikan dengan saksama wajah Angkasa. ”Om yang pernah kasih aku makan pas di taman itu kan?”  
Kasih makan? Yang mana?  
”Om lupa ya? Yang sekitar dua bulan lalu di taman kota,” kata Cakra menggebu-gebu.  
Bocah itu yakin, ia tak mungkin salah. Sebab ia ingat betul dalam otaknya Sedangkan Angkasa, ia masih berpikir bocah mana yang ia temui saat itu.  
Cakra … Cakra … Cakrawala.  
”Oh saya ingat, yang perut kamu bunyi itu, ya.”  
Mendengar hal itu Cakra hanya menunjukkan giginya yang putih dan merona. Kenapa bagian itu yang diingat om-om ganteng ini, kesalnya.  
”Kamu adiknya Lania?”  
Cakra mengangguk.  
”Kebetulan sekali, ya.” Angkasa mengelus puncak kepala Cakra.  
Amara yang baru saya dari dapur sedikit tertegun dengan penglihatannya, bagaimana bisa adiknya terlihat dekat dengan seseorang yang baru saja dikenal.  
”Maaf ya Pak adik saya memang banyak bicara.” Sambil memberikan teh hangat pada pria itu.  
”Adik kamu lucu,” jawab Angkasa sembari menggeleng.   
Amara tersenyum canggung saat mata itu menatap dalam dirinya. Ia kembali fokus pada obat yang sudah di tangan; antiseptik juga kapas. Setelah membubuhkan cairan ke kapas, Amara memberikannya pada Angkasa. Tapi semua aktivitas itu semuanya terhenti saat Cakra berceloteh.  
”Om ini pacar Kak Mara, ya?” 

Komentar Buku (128)

  • avatar
    ibrahimmaulana

    ceritanya mengandung bawang banget 😭 tp aq suka ,bagus, perjalanan cinta lania dan angkasa ❤️ ditunggu karya selanjutny ya thor💪💃💃

    28/01/2022

      5
  • avatar
    MelaniZein

    ceritanya bagus banget.. alur nya mudah di pahami.. semangat ya buat author.. semoga sehat selalu.. 😊

    16/01/2022

      5
  • avatar
    JulianusJulianus

    Bagus sekali🤩🤩

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru