Davin mengerutkan kening seraya menatap Abhi dengan sorot mata tajam penuh amarah. “Apa maksud kamu?” “Ayla—istriku ... dia sedang hamil. Anakku ... calon anak kami berdua,” jelas Abhi sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apa? Nggak ... itu nggak mungkin,” elak Davin seraya menggelengkan kepala. “Ayla sudah berjanji padaku, dia nggak mau punya anak dari kamu!” Abhi hanya bisa tertawa pelan mendengar pengelakan dari Davin. “Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas saat ini Ayla sedang mengandung buah cinta kami. Jadi kamu, harus menerima kenyataan yang mungkin ini terdengar menyakitkan untukmu.” Davin terdiam, lidahnya terasa kelu karena baru saja mengetahui kenyataan menyakitkan untuknya. Ia terus berpikir bagaimana pun caranya agar Ayla mau bertemu dengannya dan menanyakan langsung pada kekasih hati yang sangat dicintainya itu. Lelaki itu pun akhirnya memilih pergi dari kantor Abhi dan bergegas menuju rumah Ayla untuk meminta penjelasan. ** Sesampainya Davin di depan rumah Ayla, seperti biasa akan ada penjaga yang menghadangnya agar tidak bisa masuk ke dalam begitu saja. Berbagai permohonan telah Davin lontarkan, namun sang penjaga tetap menolaknya dan mengusirnya agar segera pergi dari rumah itu. Ayla yang sedang menghirup udara segar di taman rumahnya, sedikit terganggu dengan suara ribut dari arah pintu gerbang masuk. Wanita itu pun perlahan bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri sumber suara itu. “Davin,” ucap Ayla saat melihat Davin yang sedang dihadang oleh dua penjaga rumahnya. “Ayla ... Ayla tolong beri aku waktu untuk berbicara sebentar. Aku mohon ... ada hal penting yang harus kita bicarakan,” pinta Davin dengan sorot mata memohon. Ayla menggeleng pelan, wanita itu memasang ekspresi wajah datarnya. “Nggak bisa Davin, tolong kamu pergi saja dari sini.” “Ayla ... kumohon, sebentar saja,” pinta Davin memelas. Ayla menarik napas dan mengembuskannya perlahan lalu mengangguk. “Baiklah, hanya sebentar. Setelah itu kamu harus pergi dari sini,” sahutnya seraya memberi perintah pada kedua penjaganya agar membiarkan Davin untuk masuk. Setelah diperbolehkan masuk, Ayla berjalan lebih dahulu diikuti dengan Davin di belakangnya. Wanita itu membawa Davin untuk berbicara di taman, tempatnya semula duduk bersantai. ** Sementara itu di kantor Pratama Sejahtera, Abhi terlihat mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Usai rapat tadi pagi, ia kedatangan tamu yang sama sekali tak pernah ia harapkan kehadirannya. “Mengapa aku menjadi gelisah seperti ini, apa dia akan nekat menemui Ayla di rumah?” gumam Abhi sambil menggigit bibir bawahnya, pria itu tampak berpikir sejenak kemudian segera menghubungi asistennya karena ia ingin segera pulang dan memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Belum sempat ia menghubungi sang asisten, ponselnya berdering terlebih dahulu menampilkan panggilan dari papanya. Tak butuh waktu lama, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu pun segera menjawab panggilan telepon dari papanya. Ternyata pak Joni—papa Abhi, memberi kabar pada anaknya bahwa beliau ingin mengundang anak beserta menantu dan kedua orang tua Ayla makan malam di rumah keluarga Pratama untuk merayakan kehamilan Ayla—menantu satu-satunya kesayangan keluarga Pratama. Awalnya Abhi ingin menolak karena keadaan Ayla yang masih lemah, namun setelah sang papa membujuknya akhirnya ia pun tak tega dan menerima tawaran tersebut. Dengan syarat ia harus memastikan kondisi sang istri telah baik-baik saja terlebih dahulu. Selepas panggilan ditutup, Abhi pun bergegas pergi dari kantor setelah menyerahkan tugas pada sang asisten di ruangannya. Sedari tadi hatinya merasa tak tenang, ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Mobil pun ia lajukan dengan kecepatan tinggi berharap ingin segera sampai di rumah dan bertemu sang istri. ** Ayla berdiri membelakangi Davin seraya melipat tangan di kedua dadanya, sementara Davin masih belum membuka suara karena terlalu sibuk memperhatikan perubahan sang kekasih yang kini tengah berbadan dua. Merasa Davin tak juga membuka pembicaraan, Ayla pun menoleh ke belakang memastikan bahwa pria itu masih berdiri di sana. “Katanya ingin bicara, kenapa malah diam saja?” tegur Ayla membuyarkan lamunan Davin tentang dirinya. “Hmm, iya ... maaf,” balas Davin seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Langsung saja, sebenarnya mau kamu ke sini ingin bicara apa?” tanya Ayla tanpa basa basi. “Ayla ... aku kemari karena ingin memperjelas status hubungan kita,” sahut Davin sambil meraih jemari Ayla, menatap wajah wanita itu yang seakan tak ada cinta lagi tersisa untuknya. Merasa tak nyaman, Ayla segera menarik tangannya yang dipegang oleh Davin. “Memperjelas apa lagi? Bukankah sudah aku katakan berkali-kali, kita sudah putus dan tentu saja nggak ada hubungan apa pun lagi di antara kita.” “Semudah itu kamu melupakan cinta kita, lalu berpaling pada lelaki yang dulu bahkan sangat kamu benci?” tanya Davin dengan sorot mata memelas. Ayla menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan mantan kekasihnya itu. “Perasaan bisa berubah, begitu pun hubunganku dengan mas Abhi. Ditambah, sebentar lagi kami akan segera memiliki keturunan. Jadi nggak ada alasan bagiku untuk nggak mencintanya, bukan?” Davin tersenyum masam mendengar jawaban Ayla yang seakan ragu dengan cintanya pada sang suami. “Jadi kamu terpaksa mencintai dia hanya karena calon anak kalian, kan? Menurutku itu bukan cinta, Honey.” Suara mesin mobil Abhi menghentikan pembicaraan Ayla dan Davin, mereka menoleh bersamaan dengan turunnya Abhi dari mobil sedan mewah miliknya. “Mas Abhi sudah pulang, sebaiknya kamu segera pergi. Aku nggak mau sampai terjadi keributan lagi nantinya,” usir Ayla sambil mengalihkan pandangannya dari Davin. “Aku nggak akan pergi sebelum kamu mengakui yang sebenarnya bahwa yang kamu cintai itu hanya aku, bukan Abhi.” Abhi berdeham sambil melangkah menuju tempat sang istri yang sedang berbicara dengan mantan kekasihnya. “Ternyata kamu punya keberanian yang cukup besar juga ya sampai datang kemari,” ucap Abhi sambil merangkul Ayla dan tersenyum tipis menatap Davin yang sangat cemburu pada mereka. “Tentu saja ... kenapa nggak? Asal kamu tahu saja, istri yang katanya sangat mencintaimu ini ternyata nggak benar-benar secinta itu dengan kamu,” balas Davin seraya bersedekap dan tersenyum mengejek pada Abhi yang kini menatapnya dengan penuh tanya. “Maksud kamu apa?” tanya Abhi tak terima dengan pernyataan Davin barusan. Matanya melirik pada sang istri yang hanya bisa menunduk. Davin hanya menjawabnya dengan senyuman sinis lalu beranjak pergi setelah berhasil membuat keributan kecil antara suami istri itu. “Hey, tunggu! Kita belum selesai bicara!” cegah Abhi yang hanya dijawab lambaian tangan oleh Davin, pria itu pun melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan perumahan mewah itu. “Sudahlah Mas, biarkan saja dia pergi.” Ayla menahan lengan suaminya yang hendak menyusul Davin. Abhi pun menghela napas kasar dan menuruti perkataan sang istri untuk tak mengejar Davin, kemudian mereka pun masuk bersama ke dalam rumah dan tak ingin membahas lagi kejadian tadi. **
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus sekali
27/07
0cerita yang sangat bagus
05/11
0oke sangat baik
29/10
0Lihat Semua