logo text

Bab 12 MENGHARAP KESABARAN

~ Meski kita belum saling mencintai, Mas tetap ingin berusaha membahagiakan kamu ~
Abhimana Pratama
**
Selesai sarapan bersama, Abhi membantu Ayla untuk mencuci piring. Awalnya Ayla menolak namun Abhi langsung mengerjakannya sendiri, meski tidak bisa memasak namun pria itu telah terbiasa membantu mamanya di dapur.
“Kamu ... terbiasa memasak sendiri ya?” tanya Abhi di sela-sela kegiatan mencuci piringnya.
Ayla mengangguk seraya mengelap piring yang telah Abhi cuci dengan kain bersih, lalu menatanya di rak piring.
“Kalau butuh asisten rumah tangga untuk memasak, kamu bilang saja nggak papa nanti Mas carikan. Asisten yang biasanya hanya membantu membersihkan rumah saja, karena kan Mas belum tinggal di sini sebelumnya.”
“Nggak usah Mas, nggak perlu. Kalau untuk urusan memasak, aku usahakan bisa mengerjakannya sendiri. Tapi ... kalau beres-beres rumah sebesar ini, sepertinya aku memerlukan bantuan,” ucap Ayla sambil mengedarkan pandangannya.
Piring telah dicuci bersih, Abhi mematikan kran air setelah membersihkan tangannya dari sabun yang menempel. “Ya Sayang, kamu tenang saja ya. Besok bik Indah akan kembali bekerja, Mas memang sengaja memberinya cuti supaya ... kita bisa memiliki waktu berdua lebih lama,” katanya seraya tersenyum menatap Ayla yang mengerutkan dahinya.
“Hmm ... Mas kapan kembali bekerja di kantor?” tanya Ayla mengalihkan pembicaraan.
“Satu minggu lagi, Mas mau mengajak kamu bulan madu dulu. Kamu mau ke mana?”
Kini mereka berjalan bersisian keluar dari dapur menuju ruang keluarga. Ayla dan Abhi duduk berdampingan di atas sofa putih dengan bangku yang panjang.
“Bulan madu? Aku nggak kepikiran Mas.”
“Sayang ....” Abhi meraih tangan Ayla lalu digenggamnya, menatap dengan lembut wanita di hadapannya. “Meski kita belum saling mencintai, Mas tetap ingin berusaha membahagiakan kamu. Anggap saja ini sebuah liburan bersama, kamu mau ya?”
Ayla tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan kemudian. Abhi tersenyum, lalu mencium tangan Ayla.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Abhi sambil tersenyum tulus.
Flashback Off...
**
Masa lalu yang begitu indah untuk selalu dikenang kembali, membuat Abhi tersenyum sendiri mengingat bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan sang istri hingga saat ini. Meski cinta belum tumbuh di hati Ayla, namun dengan penuh keyakinan Abhi tak pernah putus asa untuk selalu membuat istrinya itu agar bisa mencintai dirinya.
Abhi melirik jam di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 10.00 malam namun belum ada tanda-tanda kepulangan Ayla. Merasa khawatir, pria itu pun beranjak dari duduknya hendak mengambil kunci mobil untuk mencari Ayla. Tepat saat itu pula, Ayla masuk ke dalam rumah dengan santainya tanpa menyapa Abhi yang sejak tadi menunggunya dengan cemas.
“Kenapa tidak salam saat masuk ke dalam rumah? Dari mana saja jam segini baru pulang? Kenapa nggak minta izin sama mas?” cecar Abhi seraya berjalan menghampiri Ayla dengan tangan yang bersedekap di depan dada.
“Maaf lupa, Assalamualaikum ... biasalah Mas, habis kumpul sama teman-teman,” sahut Ayla dengan menunduk, wanita itu enggan menatap suaminya yang kini tengah memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik.
“Waalaikumsalam ... terus kenapa nggak jawab telepon mas?” tanya Abhi kemudian, pria itu masih setia memperhatikan sang istri yang tak juga mau menatap dirinya.
Merasa jengah karena terus diinterogasi, Ayla mendongak menatap suaminya itu dengan malas. “Sudahlah Mas, besok saja kalau mau tanya-tanya. Aku sudah sangat lelah, jadi tolong biarkan aku beristirahat,” pintanya dengan memelas.
Abhi menghela napas dalam, lalu mengangguk pelan. “Ya sudah istirahatlah, kamu sudah makan?”
Ayla mengangguk, mengucapkan terima kasih lalu melenggang pergi meninggalkan Abhi sendirian kembali di ruang tamu rumah mereka yang sunyi.
“Ya Allah, berilah aku kesabaran untuk menghadapi istriku itu,” gumam Abhi setelah Ayla naik ke kamar mereka yang terletak di lantai atas.
**
Keesokan paginya, seperti biasa Ayla sudah memasak untuk sang suami. Tak lupa wanita itu juga menyiapkan bekal untuk makan siang suaminya, karena sejak menikah Abhi tidak mau makan jika bukan masakan sang istri dan itu termasuk dalam salah satu perjanjian tambahan yang telah mereka buat sebelumnya.
Sarapan sudah tertata rapi di meja, makan siang pun sudah Ayla masukkan ke dalam kotak bekal berwarna biru yang dibelinya khusus untuk sang suami. Ayla melirik jam yang tergantung di dinding dapur, sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi namun suaminya itu belum juga turun ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Akhirnya, Ayla memutuskan untuk naik ke kamar mereka yang terletak di lantai dua. Belum sempat wanita itu mengetuk, pintu telah terbuka lebih dulu lalu muncullah Abhi dengan wajah yang sedikit pucat.
“Mas sakit?” tanya Ayla langsung, namun Abhi hanya melirik sekilas pada istrinya itu dan menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“Wajahnya pucat begitu, apa mau aku panggilkan dokter?” tawar Ayla tak menyerah.
“Nggak perlu,” sahut Abhi datar, lalu turun terlebih dulu tanpa mengajak sang istri.
Ayla merasa bingung dengan perubahan sikap Abhi, namun wanita itu memilih tak ambil pusing kemudian ia pun menyusul sang suami turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.
Sesampainya di bawah, Abhi langsung mengambil kotak makan siangnya tanpa menyentuh sarapan yang telah disiapkan oleh Ayla.
“Nggak sarapan dulu, Mas?” tanya Ayla masih berusaha bersikap baik pada suaminya.
Lagi-lagi Abhi hanya menggeleng lalu pria itu segera pamit berangkat ke kantor tanpa memakan sarapan buatan Ayla, membuat rasa kecewa menghampiri hati wanita itu.
“Beginikah rasanya kecewa? Ah ... kenapa aku jadi sensitif begini, sudahlah nggak penting juga.”
Ayla mencoba menepis perasaan yang tengah menghinggapi hatinya saat ini, Abhi yang selama ini selalu bersikap manis padanya tiba-tiba berubah seolah tak memedulikannya lagi. Wanita itu pun mencoba mengalihkan pikirannya, lalu menghabiskan sendiri sarapan yang telah dibuat olehnya.
Selesai sarapan, Ayla beranjak dari duduknya untuk membersihkan meja makan. Namun saat baru saja berdiri, tiba-tiba ia merasa mual dan ingin memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Hoeeek! Hoeeeek!
Ayla memuntahkan makanannya, wanita itu mengelap mulutnya setelah merasa isi perutnya telah terkuras hingga membuatnya sedikit pusing dan merasa lemas.
“Apa yang terjadi padaku, mengapa aku merasa seperti ... nggak ... nggak mungkin.”
Ayla memegang perutnya yang masih datar, mencoba mengingat kapan waktu terakhir ia mendapatkan tamu bulanan. Tiba-tiba kepalanya terasa berat saat menyadari bahwa sudah dua bulan ini dirinya tidak datang bulan, wanita itu pun terduduk lemas di lantai kamar mandi sambil terisak dan memegangi perutnya.
“Ini nggak mungkin, aku harus segera memastikan bahwa aku nggak sedang hamil,” gumam Ayla sambil mengusap dengan kasar air mata yang menggenang di pipinya.
**

Komentar Buku (186)

  • avatar
    Ating Gumelar123

    sangat bagus sekali

    27/07

      0
  • avatar
    Rizky sri Wahyuni

    cerita yang sangat bagus

    05/11

      0
  • avatar
    WijayaAji

    oke sangat baik

    29/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru