Beranda/Supranatural High School/
Bab 24 Penjajah
Cahaya rembulan yang purnama di atas langit kelam, seolah enggan mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam salah satu ruangan gedung tua itu. Suara beberapa ekor burung gagak yang terbang melintas di luar jendela berukuran besar itu, mendadak lenyap bak tersapu oleh embusan angin besar yang mendobrak kekokohan daun jendela tersebut.
"Hou je mond ...."
Mendadak suara lirih itu menyeruak masuk di telinga ketiga gadis yang saat ini hanya dapat berdiri saling berpelukan.
"D-dia ngomong apaan sih?" lirih Hira terbata dengan kedua bola matanya yang terkunci pada satu titik; sosok menyeramkan yang berada di hadapannya.
Rucita yang berusaha menggiring kedua juniornya untuk terus melangkah mundur menghindari tatapan penuh amarah dari hantu Noni Belanda; yang justru seolah hendak menerkam mereka bertiga, merespon dengan desisan kecil. Berharap dengan itu Hira dapat mengerti bahwa saat ini bukan waktunya mereka untuk angkat bicara, apalagi bertindak gegabah.
Namun bukannya mematuhi, Hira justru semakin dibuat ketakutan manakala hantu Noni Belanda itu justru semakin mendekatkan wajahnya pada Hira. Cemas hal itu akan membuat teman satu kamarnya kembali kerasukan seperti tempo hari, Helga buru-buru menggeser tubuh Hira untuk bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Apa yang kamu mau?" tanya Helga dengan nekadnya pada sosok yang memiliki luka parah di sebelah wajah cantiknya itu.
"Zwijg ... wees niet luidruchtig!" Sosok itu berteriak lalu menghilang seketika dari pandangan Helga CS lantas muncul kembali di depan sebuah lemari kayu tua yang berada dekat dengan jendela dalam ruangan tersebut.
Sepasang alis Helga juga Hira saling bertaut. Tak mengerti apa yang hantu itu katakan, mereka berdua lantas menatap ke arah Rucita yang justru terus terfokus memerhatikan salah satu sosok makhluk halus penunggu Lawang Sewu tersebut.
"Hij komt ... hij gaat ons vermoorden!"
Lagi. Hantu Noni Belanda itu berbicara dengan bahasa yang tidak Helga atau Hira mengerti. Namun dari intonasi suaranya yang bergetar, siapapun pasti akan tahu bahwa sosok itu tengah ketakutan.
"Kak! Dia ngomong apa sih?" tukas Hira dengan mengguncang-guncangkan lengan Rucita.
"Dia datang, dia akan membunuh kita." timpal Rucita membuat Helga dan Hira saling beradu pandang. Belum juga rasa penasaran mereka surut akan semua perkataan hantu itu. Suara derap langkah seseorang dari luar kamar sudah lebih dulu membuat degup jantung mereka bertiga kembali tak menentu.
Melihat hantu Noni Belanda itu membuka lemari di belakangnya tanpa menyentuhnya. Rucita langsung buru-buru meminta pada kedua juniornya tersebut untuk mengikutinya.
"Sepertinya dia baik. Ada baiknya kita ikuti saja kemauannya. Ayo, dia nyuruh kita untuk bersembunyi dalam lemari itu." ajak Rucita menarik jemari Helga yang satu tangannya lagi dirangkul erat oleh Hira.
"Iya, tapi kenapa kita harus sembunyi dalem lemari, Kak?"
"Ssuuttt ... udah, jangan banyak tanya. Ikutin aja kalo kamu pengen selamet." titah Rucita membungkam bibir Hira.
Dengan langkah ragu, ketiga siswi SHS itu melangkah maju, memasuki lemari besar nan kosong itu dengan hati yang waswas. Belum juga sempat mengetahui kenapa mereka harus menuruti perintah hantu itu. Sosok Noni Belanda tersebut sudah lebih dulu menutup rapat lemari tua itu.
BRAKK!
Sosok makhluk halus lain muncul dari balik daun pintu yang ia dobrak paksa. Dengan berpakaian ala Tentara Jepang, makhluk astral itu begitu beringas mendatangi sosok Noni Belanda yang tampak ketakutan melihatnya.
Tanpa basa-basi, sosok itu mencengkram kuat rambut Noni Belanda, menjambak lalu menyeretnya keluar. Dan ketika sosok Noni Belanda itu berusaha melawan. Sebuah suara tembakan terdengar nyalang memekakan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya. Rucita, Helga dan Hira yang masih dalam persembunyian, tersentak kaget mendengar suara nyaring itu. Penasaran atas apa yang sedang terjadi di luar sana, Rucita memberanikan diri untuk membuka lemari tempat mereka bersembunyi. Mengintip dari celah pintu lemari yang dibukanya sedikit itu dengan perasaan kacau.
Cairan merah mengalir banyak mengotori lantai dalam ruangan itu, segaris dengan sosok Noni Belanda yang diseret secara paksa oleh Tentara Jepang pergi dengan perut Noni Belanda itu yang bersimbah darah.
"Dia ... beneran baik loh, dia nyelametin kita dari kejamnya Prajurit Jepang itu." gumam Rucita sembari memerhatikan pintu ruangan tersebut dengan tatapan kosong.
"Noni Belanda itu mau dibawa kemana, Kak? Kita tolongin dia juga yuk? Kasian dia!" ajak Hira yang merasa iba pada sosok astral yang menyelamatkannya tadi. Belum sempat Rucita memutuskan untuk memperbolehkannya atau tidak, Hira sudah lebih dulu menghambur keluar. Mengejar kemana sosok Tentara Jepang itu membawa Noni Belanda pergi.
"Hira!!! Tungggu!!!" pekik Rucita dan Helga seraya berlari mengejar Hira.
©Rainsy™
Niat Dylan, Arthur dan Aiden yang semula hendak kembali ke lantai satu setelah mendengar teriakan Hira terurungkan. Ketika suara rintih kesakitan mendadak terdengar dari dalam sebuah ruangan tertutup yang sempat mereka lewati.
Awalnya mereka coba untuk mengabaikannya, mengingat banyak sekali makhluk astral penunggu gedung tua tersebut. Mungkin suara rintihan yang saat ini berganti dengan lenguhan kencang itu berasal dari salah satu makhluk yang coba mengusili mereka. Namun ketika lenguhan itu berganti lagi dengan teriakan meminta tolong, langkah kaki ketiga siswa SHS itu seolah membeku.
"Tolooonnggg!!! Siapa saja, tolong aku!!" pekik suara misterius itu lagi, membuat Dylan, Arthur dan Aiden sertamerta memutar tubuh mereka menghadap pintu berwarna coklat yang menjadi sumber dari suara itu berasal.
"Dari sini 'kan suaranya?" tanya Aiden memastikan, dan dibalas anggukan kepala dari kedua juniornya. Tangan kanan Aiden terangkat ke atas lalu bergerak menyentuh knop pintu berbentuk bulat di hadapannya. Dibukanya perlahan daun pintu tersebut. Namun baru sebelah matanya saja yang mampu mengintip suasana dalam ruangan itu, Aiden sudah buru-buru menutup pintunya kembali.
BRAKK!!
Dentuman keras terdengar lantang akibat Aiden yang menutup pintu tersebut dengan tergesa-gesa. Membuat Arthur dan Dylan melonjak kaget.
"K-kak, Ada apa di dalem, Kak? Kenapa muka Kak Aiden sampai pucat gitu?" tanya Arthur yang menangkap gelagat tak enak dari ekspesi seniornya itu.
Aiden yang masih memunggungi daun pintu tersebut meneguk salivanya sulit. "Lari. Ayo kita lari dari sini!!!" ujarnya yang langsung mengambil langkah seribu dari tempat itu.
Heran dengan sikap Aiden yang mendadak menjadi penakut seperti itu, Dylan dan Arthur pun mengikuti jejak seniornya. Setelah lebih dulu mereka dikejutkan dengan munculnya sosok Samurai Jepang yang membawa sebuah katana berlumuran darah di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya, memegang seonggok kepala manusia yang terputus. Meninggalkan tubuhnya yang tak beradaya dalam ruang pancung dengan banyak ceceran darah.
"Huuaaaaa!!!! Kak Aiden!!!! Tungguin kitaaaa!!!!!" Mereka lari pontang panting menghindar dari sosok hantu Samurai yang justru mengekor di belakang mereka.
Tak jauh berbeda dengan teman-temannya yang lain. Baron, Ernest juga Raga yang tengah beusaha tetap berkonsentrasi mencari bendera yang disembunyikan oleh guru mereka tersebut, terusik oleh suasana ruang bawah tanah yang begitu lembab.
"Kak, kenapa sih kita harus masuk ke sini? Nyari bendera 'kan gak mesti nyamperin tempat suram kayak gini." gumam Ernest ngedumel seraya mengarahkan senternya ke atas dan ke kiri. "Udah mah gelap, tembok penuh lumut, jalanannya juga becek ...."
"Ditambah gak ada ojek juga, kan?" sela Baron melempar lawakannya. "Dasar fans fanatik Laura Khill, lu! Hahahha!" goda pemuda bertubuh bongsor itu yang langsung dihadiahi pukulan ringan di bagian belakang kepalanya oleh Raga.
"Dasar Duo Curut! Kalian bisa gak sih serius dikit?! Ini bukan saatnya bercanda! Karena kita gak tau sosok macem apa yang tinggal di tempat beginian dan kekuatannya pun sebesar apa? Gimana kalo kita kena sial gara2 lawakan garing kalian?" omel Raga membuat Baron mendengus sebal.
"Ngomel sih ngomel, tapi gak usah pake nabok kepala gue juga kali. Sakit tau ...." gerutu Baron seraya mengelus-elus bagian belakang kepalanya.
"Masih untung yang mukul kepala lo itu gue. Kalo yang mukul kepala lo itu si Genderuwo, bisa benjol tujuh tingkat tuh kepala lo! Mau lo ditimpuk sama makhluk astral yang sama-sama punya badan bongsor kayak lo?" timpal Raga geram. Baron menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Membungkam mulutnya yang sudah sembarangan mengeluarkan lawakan garingnya dengan bibir yang ia kulum.
Sinar senter yang Ernest arahkan seraya menyusuri lorong ruang bawah tanah tersebut menyiratkan betapa mencekamnya ruangan yang dulunya digunakan untuk memenjarakan kaum pribumi tersebut. Semakin dalam mereka menyusuri lorong panjang itu, semakin sulit juga sinar rembulan di luar sana membantu tuk menerangi langkah mereka.
CLAK!
Satu tetes cairan jatuh tepat di bahu kiri Ernest. Membuat si empunya bahu, begidik akibat hawa dingin yang muncul ketika cairan itu menyentuh kulit putihnya.
CLAK!
Awalnya pemuda Tionghoa itu tak begitu memedulikan air yang menetes di bahunya tersebut. Namun saat cairan itu terus menerus menjatuhi bahunya, pemuda bermata sipit itu pun lantas menggosok-gosok bahunya yang basah. "Cairan apaan sih ini? Di luar lagi ujan ya? Atau atapnya bocor apa gimana sih?" selorohnya. Sesaat sebelum Ernest membuka telapak tangannya yang ia gunakan untuk menggosok bahunya tadi, ternyata penuh cairan berwarna hijau. "Kok ijo sih?" tukasnya yang lantas mengarahkan senter yang dipegangnya ke arah atas.
"Gggrrrr ....."
Sebuah geraman bergema seiring dengan sinar senter Ernest yang mengarah tepat pada mata merah dari sosok besar berwarna hijau yang merangkak bak seekor laba-laba pada langit-langit lorong, seolah tengah mengawasi aktivitas Ernest dan kedua temannya yang lain. Satu tangan Ernest yang menggenggam senter bergetar hebat.
"O-om G-gun, da-dari kapan aada ddi-situ?!!" lirih Ernest dengan nada suara yang serat akan ketakutan. Dan ketika makhluk besar berwarna hijau itu menyahuti dengan erangan yang menulikan telinga. Ernest lekas melompat lari. Meninggalkan kedua temannya di belakang berikut senter yang justru ia jatuhkan di lantai.
"Heh, Sipit!!! Jangan kabur lo! Tunggu gue!!!" Baron ikut berlari terbirit-birit kala sosok itu menunjukan gigi taringnya yang runcing dan penuh akan lendir hijau.
"Beuuuh ... gini nih, alasan kenapa gue ogah ngasuh tuh Duo Curut. Gak setia banget sih jadi temen." oceh Raga berkecak pinggang, "Om, misi ya? Jangan ganggu kita dulu, soalnya kita lagi ada tugas. Kita pamit dulu ya? Daaaah!" imbuh Raga berpamitan, setelah sebelumnya memungut senter lalu ikut menyusul para juniornya.
Suara gemuruh halilintar menggelegar di luar gedung Lawang Sewu. Suasana langit malam kian menghitam. Angin yang semakin dingin berembus seolah menandakan bahwa hujan akan segera tiba. Kecipak suara air yang menggenangi lantai lorong bawah tanah menjadi irama memburu bagi Baron yang masih terus berlari menghindari sosok yang mungkin saja bisa menyelakai dirinya. Saat kilatan cahaya halilintar menyala terang; yang tampak dari jendela kecil persegi panjang ruang bawah tanah itu menampakan siluet sosok yang tengah berjongkok di salah satu sudut sebuah ruang sempit. Baron lekas menghampirinya dengan berjalan jongkok.
Pemuda dengan model rambut mohawk itu mengatur napasnya yang masih tersengal. Setelah ia dapat menghela napas lega, barulah Baron membuka obrolannya. "Heh, Sipit! Tega banget sih lo ninggalin gue kayak tadi. Kalo nanti gue diculik sama itu makhluk lumut gimana? Lo mau ngomong apa sama Ortu gue? Kan sebelum berangkat ke sini, ortu gue nyuruh kita supaya bareng-bareng terus. Gak setia kawan banget sih lu!" umpat Baron menumpahkan kekesalannya.
Pemuda yang sempat dijukuli sebagai preman sekolah itu terus saja mengoceh panjang lebar menceramahi sahabat karibnya itu, bahkan sampai membawa dalil dan nilai-nilai pancasila. Namun saat menyadari bahwa teman yang diajaknya mengobrol tidak memberikan respon apapun, Baron mulai menangkap ada sesuatu yang janggal.
"Nest, lo bukan Ernest lagi ya? Kayak yang waktu di hutan itu?" Meski takut, Baron mengerahkan semua keberaniannya untuk menanyakan hal itu. Sebelum di detik berikutnya, Baron menggerakan kepalanya untuk menoleh ke samping. Dan benar saja, sosok yang ia kira adalah Ernest rupanya merupakan penjelmaan dari sosok lain. Wajah sosok yang menemani Baron berjongkok itu babak belur. Penuh luka lebam di mana-mana. Sudut bibirnya berdarah dengan pakaian yang ia kenakan sudah compang camping tak keruan. "Huwaaaa ... tuh, kan bener. Lo bukan temen gua!!" seru Baron meringis menahan tangis.
"Mase, tolong bebaskan aku toh, Mas. Aku ndak salah apa-apa tapi yo di penjara ning kene?! Mase! Tolong aku." pinta sosok bertubuh kurus itu dengan menepuk bahu Baron pelan.
"Djiaaah ... pake megang gue lagi. Singkirin tangan lo yang udah banyak belatungnya itu! Gue bukan polisi ya! Jadi gue gak bisa bebasin lo. Kalo lo pengen keluar dari sini. Sewa Pengacara dulu aja gih sono!" tukas Baron hendak kabur. Namun niatnya itu tertahan kala sesuatu menjegal kakinya untuk berlari.
"Mas! Kami mohon, bebasin kami, di sini dingin, Mas. Kami bisa mati kedinginan di sini ...." pinta sosok-sosok lain yang entah sejak kapan rupanya juga telah berada di belakang tempat Baron berjongkok tadi.
"Huwaaa!!!! Gue gak mau!!! Gue gak bisa bebasin kalian!! Lepasin kaki gue!! TOLOOONGG!!!!"
Baron meronta-ronta. Berharap kakinya dapat terlepas dari jeratan tangan-tangan hantu pribumi yang ditahan dalam penjara jongkok tersebut. Namun apalah daya, tangan yang berusaha menyeret Baron agar ikut masuk ke balik jeruji besi itu terlalu banyak. Dan di saat Baron mulai kehabisan tenaga, sepasang tangan lain tiba-tiba saja merangkul lengannya.
"Bertahan, Bar! Kita ada di sini bantuin lo!" ucap Ernest yang entah muncul dari mana. Disusul kedatangan Raga yang segera merapalkan sebuah mantra lalu berusaha melepaskan kaki Baron dari jeratan tangan-tangan sosok astral penunggu penjara jongkok tersebut.
BRUAKK!!!
Tubuh Baron akhirnya dapat terbebas. Namun nahas bagi Ernest yang semula menarik tubuh bongsor Baron sekuat tenaga, karena ia sampai terpental membentur dinding batu di belakangnya, hingga membuat sebuah benda dengan bentuk seperti obor juga ikut jatuh menimpa kepala Ernest.
"Aaaw ... kira-kira dong, Bar. Badan segede gaban ngedorong gue sekeras itu. Sakit tau badan gue." tegur Ernest meringis kesakitan.
"Ya maap. Lagian itu juga salah Kak Raga yang ngelepasin kaki gue gak pake aba-aba dulu sih." timpal Baron tak mau disalahkan.
Raga menghela napas kasar lalu memutar sepasang bola matanya jengah. "Banyak ngeluh nih kalian pada! Masih syukur gue mau bantuin." omelnya dengan mata yang ia picingkan tajam. "Nest, benda apa tuh di samping lo?" sambungnya menunjuk ke arah Ernest yang masih sibuk mengusap punggungnya.
Ernest mengubah posisinya yang semula jatuh terduduk menjadi setengah berdiri, untuk melongok benda yang sempat didudukinya tadi. Seketika ekspresi sumringah tercetak jelas di wajah pemuda Tionghoa itu. Seraya mengambil benda tersebut ia bersorak, "Wohoo!! Astaga, iini 'kan ... Ini 'kan ... Akhirnya kita nemuin benderanya!!!!!" Ernest melompat girang disusul dengan Baron yang juga ikut bersorak senang karena akhirnya tour mereka dalam Museum seram itu dapat disudahi.
"Ggrrrr ....!!!!"
Suara geraman yang kembali menggema dalam lorong bawah tanah itu menyusutkan uforia yang tengah Baron dan Ernest lakukan. Tak ingin kemunculan sosok-sosok astral kembali mengganggunya, mereka bertiga bergegas lari menaiki tangga untuk keluar dari lorong tersebut.
Rintik-rintik gerimis yang berjatuhan dari atap Bumi, menyambut kemunculan Raga, Ernest dan Baron yang akhirnya sampai di pelataran gedung Lawang Sewu tersebut. Makhluk besar berwarna hijau berikut hantu para tahanan pribumi yang semula mengikuti mereka, mendadak tak bisa berkutik. Mereka terjebak dan tertahan oleh sebuah pagar ghaib berwarna terang yang tiba-tiba saja muncul di depan jalan masuk menuju lorong bawah tanah tadi. Begitupun dengan Aiden, Dylan dan Arthur yang baru saja menuruni anak tangga terakhir. Mereka terheran-heran kala menyadari bahwa sebuah pagar yang terbuat dari sinar kuning emas itu, telah menahan langkah sang Samurai untuk menangkap mereka di lantai atas.
"Samurai itu kenapa, Kak? Kok berhenti ngejar kita sih?" tanya Arthur penasaran. Aiden yang masih berusaha mengontrol degup jantungnya menjawab, bahwa mungkin guru-guru merekalah yang menahan makhluk itu agar tidak menyerang anak didiknya lagi dengan membuat pagar ghaib seperti itu.
Perkataan Aiden dibenarkan oleh Raga yang dapat tersenyum bangga memamerkan sebuah bendera yang ada di tangan Ernest dan Baron. Melihat temannya berhasil menemukan bendera yang mereka cari, Dylan dan Arthur bersorak girang. Mereka memuji keberanian Ernest dan Baron yang telah berhasil mengantarkan kelompok mereka menjadi pemenang dalam lomba tersebut. Di tengah kebahagiaan mereka merayakan kemenangan, Rucita yang datang dengan peluh bercampur air Langit yang telah membasahi bagian atas tubuhnya itu membuat ke-enam teman prianya jadi terheran-heran.
"Tolong bantu gue, Hira dan Helga dalam bahaya. Sosok Noni Belanda itu dijeblosin ke dalam sumur sama hantu Prajurit Jepang. Dan ... dan Hira malah berusaha buat nolongin Noni Belanda itu dengan masuk ke dalam sumur. Sekarang, Helga lagi berusaha narik Hira ke atas dengan tali. Tapi ... tapi hantu Prajurit Jepang itu malah nyerang Helga!" tutur Rucita membuat teman-temannya yang lain mendelik syok mendengar kronologi itu.
"Di mana sumurnya?" tanya Aiden geram.
"Iitu ... di sana! Prajurit Jepang itu cukup kuat. Gue aja sampe kualahan ngelawannya."
©Rainsy™
Untuk yang kesekian kalinya, sosok Tentara Jepang itu berusaha menyerang Helga dengan sebuah pisau belati yang ia hunuskan ke arah gadis introvet itu. Dengan kedua tangan yang masih begitu keras berusaha menarik tali yang menjadi satu-satunya alat untuk menolong Hira, Helga berusaha menghindar. Namun hal itu justru membuat pegangan tangannya melemah, sehingga Hira yang hendak mencapai bibir sumur tersebut kembali merosot ke bawah. Beruntung salah satu tangan gadis imut itu bisa menggapai dan kembali meraih tali tersebut, sehingga Hira selamat dan tidak terjatuh ke dasar sumur.
"Kak Helga! Jangan lepasin talinya! Aku takuutt ...!!!" pinta Hira yang begidik ngeri melihat jarak antara dirinya dan dasar sumur yang penuh raungan makhluk astral itu masih sangatlah jauh.
Sebuah goresan luka dari pisau belati yang Tentara Jepang itu ayunkan, merusak kemulusan wajah innocent Helga yang masih bertahan menolong Hira. Seiring dengan cairan merah yang merembas keluar dari luka itu, tatapan Helga yang semula serat akan kekhawatiran tersebut berubah menjadi nyalang. Sebelah matanya yang semula berwarna coklat terang, mendadak berganti warna menjadi hitam pekat. Disusul dengan akar-akar hitam yang mulai menjalar dari lehernya menuju ke arah wajah.
"Beraninya kau menyerangku!!!"
Hanya dengan satu teriakan saja, sosok Tentara Jepang itu sudah jatuh tersungkur ke tanah oleh dorongan angin besar yang datang dari teriakan Helga. Melihat mimik muka Helga yang penuh amarah itu menatapnya dengan mata yang mendelik, sosok Tentara Jepang yang semula tangguh dan sulit untuk dikalahkan itu menjadi gemetar ketakutan.
Tanpa menyentuhnya, tubuh makhluk astral itu sudah terangkat tinggi ke udara dengan pisau belati yang semula di genggamnya tadi mendadak bergerak sendiri dan menuju tepat ke arah bola mata kanan sosok Tentara Jepang tersebut.
Jarak sepersekian detik pisau tersebut akan berhasil menancap dalam pada mata sosok Tentara Jepang itu, tiba-tiba saja angin besar yang semula menggerakkan pisau dan mengangkat tubuh makhluk astral itu menghilang. Disusul dengan menyusutnya akar-akar hitam dari wajah Helga. Merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh lengan kirinya, Helga menoleh ke samping.
"Devian ...." Helga berucap lirih seraya menatap lekat sosok yang dikenalnya itu tengah memamerkan senyum manis sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Mari, kita bantu Hira keluar dari sumur ini terlebih dulu." ajak Devian membantu Helga menarik tali yang menjadi penopang hidup Hira, tanpa berniat melepaskan tangan Helga yang berada di bawah genggaman tangan Devian pada tali tersebut. Seiring dengan tubuh Hira yang perlahan terangkat ke atas, pupil mata kiri Helga yang semula menjadi hitam pekat telah kembali normal.
Penjajah bukan hanya segerombol orang yang mengusik bahkan merebut tanah air kita saja. Yang merebut dan merenggut hak kita sebagai manusia untuk bebas juga bisa disebut sebagai penjajah. Ketahuilah, di masa peperangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dulu, bukan hanya kaum pribumi saja yang ditindas dan menjadi korban. Karena bahkan, sang penjajah pun merasakan betapa sakit dan pedihnya dijajah.
Bersambung Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (83)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
semakin baca kebawa saya semakin suka dengan jalan ceritanya. cerita yang bagus.
02/02/2022
0Bagusss bangett pliss
02/06/2025
0bagusss banget kasa
09/05/2025
0Lihat Semua