Aku Menyerah Bab 40 Hari ini rencananya adalah mengantarkan mbak Mirna pulang ke rumah Mertuanya. Setelah semua sudah siap, kami pun berangkat menuju rumah Mertua mbak Mirna. Ibu kubonceng sedangkan mbak Mirna membawa motor sendiri. Kami berkendara bersisian di sepanjang jalan yang sepi, usai keluar gang, masuk jalan utama baru mbak Mirna mengikutiku dari belakang. Kemarin, aku mengutarakan maksudku ingin mengantar mbak Mirna pulang ke rumah Mertuanya, langsung disambut ibu dengan senyum cerah. Bukan karena ingin mengusirnya, tapi biar lebih harmonis rumah tangganya. Nggak baik sudah berkeluarga tapi hidup terpisah, ya kalau suami sedang merantau karena pekerjaan sih nggak ada masalah. Tetapi, alangkah baiknya istri tetap di rumah dengan anak. Bang Hadi, suami mbak Mirna pun juga sudah punya rumah di sana, dekat rumah ibunya. Katanya rumah tersebut merupakan warisan dari nenek ya bang Hadi yang dari ibunya, bang Hadi adalah anak satu-satunya, begitupun juga dengan ibunya, pun anak semata wayang dari neneknya. Kepada siapa lagi warisan rumah tersebut kalau bukan ke bang Hadi yang merupakan cucu tunggal. Selama perjalanan pikiranku tidak keruan, entah apa yang akan terjadi tapi aku merasa tidak tenang. Semoga ini tidak ada hubungannya dengan mbak Mirna dan tujuan kami ke sana. Kami sudah keluar dari jalan utama dan masuk ke gang yang mengarah ke tempat tujuan. Jalan yang mengarah ke rumah bang Hadi, memang agak jauh masuk ke pedesaan, suasananya sejuk dan rindang. Banyak pepohonan di kanan kiri jalan. Jalan setapak yang kami lewati juga masih bebatuan belum di aspal, pun kanan kiri jalan masih dikelilingi pagar yang berupa tanaman merambat. Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata. Aku pun mau kalau disuruh pindah ke sini, batinku. Akhirnya, rumah bang Hadi dan rumah ibunya sudah terlihat. Kami belok memasuki pekarangan rumahnya yang begitu luas, bak lapangan golf rumputnya yang hijau tumbuh seperti rumput Jepang merambat sejauh sampai teras depan rumahnya. Saat sampai di teras rumah Mertua mbak Mirna, tanganku yang hendak mengetuk pintu tiba-tiba kaget mendengar suara tawa Tata yang sedang lari-larian keluar dari pintu rumah bang Hadi. Tak lama kemudian dibelakangnya menyusul seorang wanita seumuranku mengejar Tata yang masih berlarian. Wanita itu terlihat tidak sekuat larinya Tata, karena perutnya membawa beban. Ya, wanita itu sedang hamil tua. "Tata!" Panggil mbak Mirna sambil tangannya melambai menyuruh Tata datang. Wajah kaget Tata tak bisa disembunyikan, perlahan mulai mendekat dengan wajah ragu dan takut. "Mama! Mama kok bisa ada di sini, Mama sudah bebas ya? Mama mau jemput aku, ya?" tanya Tata beruntun, tapi kenapa Tata bisa tahu kalau Mbak Mirna pernah di bui. Masih kecil begini siapa yang tega memberitahu hal memalukan seperti ini. "Tata kok ngomongnya Mama sudah bebas, memang Mama ada di mana sebelumnya?" tanya mbak Mirna jongkok sambil memegang lengan Tata yang masih berdiri di teras. "Aku yang bilang, Mbak. Maaf Tata setiap hari tanya terus, saya sampai bingung menjelaskannya. Setelah saya kasih tahu yang sebenarnya baru berhenti menanyakannya." jawab wanita hamil itu yang ikut menghampiri kami. Kalau dilihat sepertinya wanita ini sudah begitu dekat dengan Tata, nyatanya setelah wanita ini mendekat Tata langsung menghambur memeluk kakinya. "Ranti! Kamu nggak berhak ngomong begitu sama anakku, dia itu masih kecil. Ya jelaslah dia langsung berhenti tanya, apa kamu nggak mikir kalau nanti kena mentalnya dan jadi bahan olokan teman-temannya. Kamu itu cuma dibayar buat ngasuh Tata, jadi jangan sembarangan kalau ngomong. Sini, Nak sama Mama," ajak mbak Mirna menarik Tata dari pelukan wanita yang bernama Ranti tadi. Wajah Ranti tersenyum kecut sambil membuang muka menanggapi ocehan mbak Mirna. Apa benar ini pengasuhnya? Kok nggak sopan gitu. "Sudah yuk, kita ketuk dulu pintunya." ujarku mencairkan suasana yang hampir memanas. Tok ... Tok ... "Ibu sama bapak lagi di kebun, paling bentar lagi juga pulang. Kalau mau, tunggu saja di dalam, ayok Ta, kita bikin minum buat tamu kita," ajak Ranti menoleh ke Tata yang dijawab dengan anggukan senyum manis. Mbak Mirna hanya mampu melihat tingkah polah anaknya sambil melongo. "Ma, aku buatkan minum dulu ya. Mama masuk dulu, duduk sama Nenek dan Om Yanto." seru Tata riang. Kemudian berlari menyusul Ranti yang sudah masuk ke dalam. "Mbak, tuh lihat sendiri. Baru beberapa minggu kamu tinggal Tata sudah lengket sama orang lain, gimana kalau sampai bertahun-tahun. Makanya, jangan terlalu lepas tanggung jawab sama anak, jadi gitu tuh hasilnya. Mbak sendiri yang susah, kan?" ucapku mengingatkannya biar lain kali mikir dulu, sebelum nitip anak ke orang lain terlalu lama tanpa pengawasan. "Sudah, diam kamu nggak usah ikut campur urusan Mbak. Kayak kamu sudah pernah punya anak saja, pakai nasehatin segala!" sungut mbak Mirna, tapi terlihat dari gestur tubuhnya mulai tak tenang. Mungkin sama denganku, merasakan ada sesuatu yang telah terjadi di sini. Sebentar kemudian, Ranti keluar membawa nampan berisi tiga gelas minuman. Tata yang mengintil dibelakang ikut membawa setoples jajan sambil bersenandung riang. Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka. "Silahkan, Bu. Mas, Mbak diminum airnya, sebentar lagi bapak juga pulang. Ini sudah waktunya, biasanya mereka pulang pada jam-jam segini." Ranti berkata sambil menatap jam yang bertengger di dinding ruangan. Kemudian menarik Tata, duduk kepangkuannya. Tata hanya tersenyum manis, sesekali melihat ibunya yang hanya bengong menatap tak percaya pada buah hatinya. Kami mengobrol sedikit berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan. Selang beberapa menit terdengar suara dari arah luar. "Assalamualaikum, eh .... " "Waalaikumsalam," sahut kami serempak. Ada bapak dan ibunya bang Hadi, ekspresinya pertama kali melihat kami seperti orang kaget dan panik. Tetapi, sesaat kemudian mereka menghela napas perlahan. "Assalamualaikum," ucapan salam dari seseorang yang baru masuk ke dalam. "Wa-alai-kum-salam," sahut kami lagi, tapi dengan terbata-bata. Benarkah yang kami lihat itu? Ada sosok yang tidak asing ikut masuk ke dalam dengan wajah sama seperti orang tuanya tadi. Kaget dan kebingungan, mungkin memang ada sesuatu yang mereka sembunyikan. "Bang? Pulang kok nggak bilang-bilang, kapan pulangnya, Bang?" cerca mbak Mirna yang bergegas beranjak berdiri menghampiri suaminya. Suaminya bukannya senang malah terlihat kikuk dan serba salah. Biarpun tak menampik pelukan mbak Mirna, tetapi dari gerak tubuhnya bang Hadi tak menampakkan ekspresi apapun. "Ehm, masuk dulu Mas, mandi duluan sana, nanti biar gantian sama Bapak dan Ibu," tutur Ranti selayaknya seorang istri bukan pengasuh. Kulihat mata mbak Mirna membulat sempurna, kaget dengan penuturan Ranti. "Punya hak apa kamu, menyuruh-nyuruh suami orang seperti itu!" Tegur mbak Mirna tak terima. Emosinya memang tidak terkendali dari dulu, selalu ceplas-ceplos kalau menghadapi setiap masalah. "Sudah, jangan diteruskan. Mir, biar Hadi membersihkan diri dulu, kamu tunggu sebentar ya, ayo Ran, masuk ke dalam." ujar bapak Mertua mbak Mirna dengan santun, tetapi kenapa malah yang diajak masuk pengasuhnya. Dengan wajah merengut kayak anak kecil, si Ranti ikut masuk ke dalam. Beserta bang Hadi dan bapaknya. Tinggal ibunya yang masih duduk bersama kami. "Silahkan, Bu Ratih diminum dulu airnya. Sudah lama menunggunya, Bu? Maaf, kami ini petani kalau jam-jam segini baru pulang dari kebun. Oh ya, Mir gimana kabarmu?" Sepertinya ibu bang Hadi hendak menanyakan perihal kebebasan menantunya, takut tersinggung jadi diurungkan. "Aku baik, Bu. Maaf baru bisa ke sini menjenguk," ucap mbak Mirna datar tapi matanya masih melirik terus ke dalam rumah. "Iya, nggak apa-apa, yang penting kamu sehat. Mm, maaf kalau Ibu lancang, kapan kamu bebas, Mir?" Ibu Mertua pun akhirnya menanyakannya juga. "Sudah beberapa hari yang lalu, Bu. Orang kita memang nggak bersalah kok, Bu. Jadi ya dibebaskan." seloroh mbak Mirna berbohong. "Owh, lha kok nggak langsung kasih kabar kemarin?" tanya ibu Mertuanya dengan kening melipat. "Ehm, itu Bu. Aku pikir mumpung Tata di sini ayem nggak pernah rewel, ya sudah sekalian aku fokus mencari pekerjaan, Bu." lirih mbak Mirna seperti ngomong sendiri. Ditatapnya sang Mertua dengan wajah nyengir, kalau sudah begini saja baru merasa salah. Kemarin-kemarin pengennya benar sendiri. Pun dengan ibu Mertuanya melihat mbak Mirna hanya tersenyum tipis. "Maaf, jadi nunggu lama Bu Ratih dan Nak Yanto. Silahkan, diminum airnya, memang begini keadaanya tinggal di desa, Bu. Serba apa adanya." sambut yang punya rumah yang sudah selesai mandi dan ikut duduk bersama kami. Diikuti bang Hadi dan Ranti. "Nggak apa-apa, Pak. Mungkin waktunya yang kurang tepat kami bertamunya. Omong-omong, Tata mana, Pak?" tanyaku heran, kok Tata nggak diajak keluar, kan ada ibunya berkunjung. "Tata sedang istirahat, Yan. Biasa anak kecil jam segini sudah tidur duluan." jawab bang Hadi kemudian duduk di dekat bapaknya yang menghadap ke kami. "Aku baru datang kok sudah ditinggal tidur, Bang. Aku pengen nyusul Tata, Bang. Temenin masuk yuk," ajak mbak Mirna menggeret lengan suaminya. Terlihat bang Hadi panik dan kebingungan, lebih heran lagi wajah si Ranti langsung mendelik seperti tak terima. Aku dan ibu saling berpandangan, wajah ibu lebih terlihat sendu dari pada aku yang menganga terus dari tadi melihat kelakuan ganjil mereka. "Biarkan Tata tidur dulu, Mir. Kasihan ... " Mbak Mirna hanya mencebik masam mendengar penuturan suaminya, tak urung mbak Mirna pun kembali duduk tapi dengan menggeser paksa Ranti yang sedang duduk di sisi bang Hadi. Ranti seolah tak terima diperlakukan kasar oleh mbak Mirna, pun mendorongnya hingga hampir tersungkur menabrak meja di depannya. "Heh, apa-apaan kamu, mau bikin aku celaka, ha?" serang mbak Mirna sambil menunjuk muka Ranti yang tak menggubris sedikitpun dengan kemarahan kakakku ini. "Sudah, sudah ayo silakan duduk lagi," ujar yang punya rumah merasa tak enak hati ada keributan. "Nak Ranti, kenapa Mirna nggak boleh duduk di dekat suaminya, ada hubungan apa Nak Ranti sama Hadi?" Tiba-tiba ibu ikut menyela, memberi pertanyaan menohok sambil menatap Ranti tajam. "Aku, kan ... " jawaban yang hendak diucapkan Ranti langsung disambut gelengan oleh ibu Mertua mbak Mirna. Ranti pun berhenti sambil memanyunkan mulutnya. "Maaf, kalau boleh tahu ada kepentingan apa ya, Nak Yanto dan ibu besan repot-repot datang kemari?" tanya ibu bang Hadi sopan. "Begini, Bu. Maksud kedatangan kami ini ingin mengantarkan Mbak Mirna ke sini biar bisa berkumpul dengan Tata, kasihan masih kecil kalau sampai hidup terpisah. Dan ternyata malah ada suaminya, jadi kebetulan sekali, biar sekalian mereka bisa tinggal di sini hidup bersama berkumpul kembali." ucapku dengan wibawa, tapi sepertinya tanggapan mereka tidak terlalu antusias begitu. "Nggak, nggak boleh! Mbak Mirna nggak boleh tinggal di sini!" desis Ranti tajam sambil menatap bang Hadi seolah minta pertolongan. "Punya hak apa kamu melarangku tinggal di sini, dari tadi kamu tuh ya, selalu cari gara-gara sama aku. Punya masalah apa aku sama kamu, ha?" teriak mbak Mirna mulai tak terkendali. "Aku juga punya hak di sini, sebagai istrinya Mas Hadi aku nggak mau hidup berdampingan sama kamu di sini!" raung Ranti mulai naik emosinya. "A-apa??? Istri Bang Hadi?!" teriak mbak Mirna nggak percaya, kaget bercampur marah. Kemarahan yang ditahan dari tadi, mulai keluar diiringi desisan geram emosi mbak Mirna yang mulai naik. Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita sangat bagus
29/08/2025
0good
04/06/2025
0mantap
16/10/2024
0Lihat Semua