Aku Menyerah Bab 26 Astaghfirullah, kuucap berkali-kali agar tak terpancing emosi terus. Geram aku setiap bertemu dengan keluarga mantan. Selalu bikin kesel hati. Apa mereka punya jimat untuk membuatku selalu naik pitam. Atau aku yang masih baperan, tak bisa mengontrol emosi sendiri. "Kenapa, Yan. Pulang-pulang kok cemberut gitu, gimana rumahnya?" tanya ibu sesampai di rumah. "Rumahnya hampir selesai, Bu. Asli bagus banget, besok kita lihat bareng ya?" ucapku datar. Sejujurnya lagi malas ngomong, tapi tidak mungkin juga aku mengkacangin ibuku sendiri. "Bagus kok cemberut gitu, ada apa?" Ibu ini kalau nggak berhasil mengorek dariku nggak akan dikasih kendor. "Waktu cek rumah tadi ketemu mantan, Bu. Bikin kesel hati terus. Entah kenapa aku nggak bisa menjaga emosiku saat bertemu mereka?" sungutku masih kesel. "Ngomong apa mereka?" cerca ibu penasaran, terdengar ikut emosi. "Biasalah, nyinyirin terus itulah kebiasaan mereka. Kata mas Yanto mau minta hak bersama, Bu. Baik usaha salonku maupun rumah itu," jelasku sambil menunggu cemas reaksi ibu. "Kok Yanto bisa tahu tentang rumahmu?" cerca ibu lagi. Nggak sengaja tadi, Bu pas lagi lihat rumahnya ketemu mas Yanto, tiba-tiba ada pegawai yang dari pemasarannya juga kesitu. Terus dia nanyain gimana, cocok apa nggak? Jadinya mas Yanto tahu deh ... !" "Nggak usah khawatir gitu, soal usahamu itu kan emang kamu belinya sebagian setelah ditalak, begitupun rumah itu. Mana ada harta bersama, kalau nggak punya malu biarkan saja kalau mereka mau urus!" terang ibu, tumben nggak naik darah. Yah ibu benar aku memang belinya setelah ditalak, bahkan saat ketok palu putusan sidang pun, belum kelar semua proses jual beliku. Jadi, kuanggap belum sah deal jual beliku. ***** Semakin hari semakin ramai usahaku, aku benar-benar bersyukur. Memang, di salon aku mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, bahkan pegawai pun aku benar-benar teliti saat meng-interview mereka. Jangan sampai ada karyawanku yang kurang adab atau berperilaku tidak sopan. Semuanya ku-handle sendiri, karena aku ingin sukses dengan cara elegan. Rumah pun sudah jadi, hampir sempurna. Tinggal mengisi barang-barang perabotannya. Aku ingin men-design interiornya sendiri nanti biar nggak terlalu memakan banyak biaya. Aku duduk di kursi kerjaku sambil senyum sendiri, mengingat hubunganku dengan Bayu pun semakin intens. Memang, masih belum ada kata cinta diantara kami, tetapi aku rasa kami sama-sama tidak memungkiri rasa itu. Saat enak-enaknya melamun, suara berisik dari luar ruanganku terdengar memekakkan telinga. Sepertinya dari arah pintu masuk, sebaiknya kulihat dulu. "Nah, ini dia orangnya yang sudah merampas hak anakku!" Tunjuk mantan Mertua yang tiba-tiba saja menghadang saat aku keluar untuk melihat ada apa? "Ngapain Ibu ke sini! Ada urusan apa lagi ini!! Sepertinya Ibu salah alamat, aku bukan lagi menantumu, Bu!!" cetusku mulai was-was. "Nggak usah sok belagu kamu, Yana!! Sini bagian penghasilan salon ini, itu punya anakku!!!" Astaghfirullah, sekali parasit selamanya belum tentu bisa berubah. Bahkan, sudah pernah tersandung batu hasil taburnya sendiri pun masih belum sadar dan mengkoreksi dirinya sendiri. "Ibu punya bukti usaha ini ada uang anakmu? Katakan sekarang, Bu aku ingin bukti itu!!" sanggahku mulai emosi. "Halah, banyak alasan kamu!! Mana ada bukti kalau anakku ngasih duit bulanan ke kamu terus di catat buat bukti. Kalau tahu begini, sudah pasti dulu di catatlah!!" cerocos mantan Mertua nggak mau kalah. "Berarti tahu sendiri, kan Bu. Nggak ada buktinya? Seingatku gaji mas Yanto dulu diberikan kepadaku hanya setengahnya saja, setengahnya buat Ibu, kan? Berarti Ibu juga ikut makan hakku dong? Atau malah aku cuma sisa seperempatnya, benar kan, Bu? Itu pun hanya cukup untuk bayar listrik dan sisanya buat beli beras nggak cukup! Untuk belanja hariannya aku yang menutupi, berarti Ibu juga makan dong dari uangku dulu??!" cecarku tanpa tedeng aling-aling karena aku sudah mulai terpancing dari amarah mantan mertua. Beberapa tamu pun mulai kasak-kusuk dan menatap ibu gemas. Ibu mulai mengkerut cemas takut diserbu cacian mungkin. "Itu kan memang kewajiban anakku sebagai anak laki-laki harus mengurus Ibunya. Lagian, kamu kan cuma orang lain yang kebetulan jadi istrinya, selain nurut suami harus nurut lah sama Ibunya juga!" tuntutnya nggak mau kalah dan disalahkan. "Selama menjadi menantumu aku selalu menurut bahkan terkadang melebihi batas pun aku masih nurut. Gaji mas Yanto pun aku mau berbagi, bahkan gajiku pun Ibu ikut memakannya juga. Kekerasan demi kekerasan pun aku masih diam lho, Bu. Tak pernah melawan Ibu. Selama jadi menantumu apa aku pernah dianggap layak? Nggak? Ibu hanya menganggapku babu gratisan, bodohnya lagi gajiku pun banyak yang terpakai untuk kebutuhan kalian! Kalau tahu begini, mungkin benar kata Ibu tadi seharusnya aku mencatatnya dari dulu semua pengeluaran yang sudah kubuang untuk rumah tangga sialan, biar nggak dianggap makan hak orang lain. Dan satu hal lagi biar nggak lupa Bu, bagaimana kalau Ibu pulang sekarang dan mulai mencatat segala pengeluaran yang terpakai untuk menantu barumu dan gaji mas Yanto yang sudah diberikan kepada istri barunya itu. Apa jangan-jangan Ibu masih juga yang menghabiskan gaji mas Yanto dan meminta ke menantu barumu juga. Wah kasihan benar Bu yang menjadi menantumu!!" Ibu semakin menggeram kesal mendengar penuturanku. "Huu .... " Bahkan para tamu yang masih melakukan perawatan pun ikut menyaksikan dan bersorak mencibirnya. Nyali ibu mulai mengkerut setelah melihat tatapan dari para tamu yang mulai menyorakinya dan mulai mundur dari tempat berdirinya. "Cih menantuku yang sekarang jauh lebih kaya dari pada kamu dan lebih baik dalam memperlakukan aku, dan satu hal lagi dia tidak mandul seperti kamu ha ha!!!" "Yakin lebih kaya dari aku, Bu? Yakin itu anaknya mas Yanto juga? Kan Ibu tahu sendiri dulu hasil dari pemeriksaan kesuburan aku dan mas Yanto. Kesuburanku tidak ada masalah sama sekali, sedang mas Yanto bukannya nggak subur, malah PH mas Yanto melebihi batas standarnya. Nyatanya itu yang menjadi penyebab, kan?" selorohku sambil tersenyum menyindir. Ibu semakin gelagapan, raut mukanya merah padam menahan kemarahan yang nggak bisa diluapkan mungkin. Mulutnya ngedumel nggak jelas. Akhirnya ibu berbalik dan berlalu dengan langkah kasar tanpa sepatah katapun. Saat ibu menarik handle pintu keluar, dengan tatapan yang sangat tajam penuh kebencian ibu melototiku kemudian membanting pintu dengan keras. Dadaku kembang kempis, bergetar hebat menahan perih. Haruskah seperti ini terus? Kukira dengan menyerah dan keluar dari kehidupan mereka akan membuat hidupku lebih tenang. Nyatanya justru nggak ada bedanya, semakin ke sini kehidupanku merasa semakin terusik. Entah sampai kapan ini akan berakhir? Apa aku harus pindah kota dulu baru mereka berhenti mengusik? Bagaimana dengan usahaku? Rumah baruku? Haruskah kukorbankan semua demi ketenangan batinku? Tidak? Jika aku pergi berarti bagi mereka akulah yang salah dan mereka akan tetap mengusikku terus. ***** Kuhubungi Pengacara yang kemarin membantu mengurus perceraianku, aku ceritakan semua perihal harta yang akan digugat oleh mantan suami tentang harta bersama. Pengacaraku pun siap dan bersedia membantu andai mereka benar-benar menggugatnya kelak. Usai berkonsultasi, hati terasa lega sekarang. Kutunaikan kewajibanku di tiga rakaat di rumah, kupanjatkan segala puji syukur atas nikmat dan kesehatan. Tak lupa aku memohon untuk diberi kekuatan dan kemudahan dalam menghadapi segala kesusahan. Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita sangat bagus
29/08/2025
0good
04/06/2025
0mantap
16/10/2024
0Lihat Semua