logo text

Bab 19 Alasan untuk bertahan

Terkadang, melelahkan memendam seluruh perasaan sendiri. Namun, ada rasa lain yang lebih mengerikan. Yaitu ketidakpercayaan bahwa bercerita adalah pilihan terbaik. Mereka belum tentu mengerti.
Kulepaskan pelukan, kuremas jemarinya erat. "Semua akan baik-baik aja, 'kan?"
"Tentu aja, satu hal yang harus kamu lakukan, percayalah padaku." Ia mengusap pipiku sekejap, "Ra, janjikan sesuatu padaku," pintanya.
"Apa itu, Nar?"
"Janjikan dulu, maka aku janjikan ke kamu hal yang sama. Janji!" tuntutnya.
"Apa yang harus kujanjikan?" jawabku tak begitu saja mengiakan.
"Lentera!" serunya dengan tatapan menuntut.
"Iya, janji," jawabku tanpa pikir panjang. Aku memang tak pandai memberontak. Bagiku lebih baik mengiakan daripada harus menyulut pertikaian.
"Ngga ada lagi cutter, ngga ada lagi nyakitin diri sendiri, ngga ada kata menyerah, dan ngga akan ada kematian kecuali jalan Tuhan, janji!" tegasnya.
"Janji," ucapku skeptis. Apa aku bisa memenuhinya?
"Mau temenin aku kunjungin mama?"
Binar mengangguk setuju, lalu membawaku menuju ke tempat mama ditahan. Butuh waktu beberapa puluh menit naik kendaraan umum untuk sampai di kantor polisi.
Setelah segala peraturaan pendaftaran membesuk begitu rumit kulewati, akhirnya aku menemui mama yang  telah berseragam biru bertuliskan tahanan. Kutatap mama lekat, mata penuh kilat kerinduan dan kecemasan.
"Ma," panggilku sedu.
"Kamu baik-baik aja, 'kan, Ra?" tanyanya
"Gimana dengan Mama? Tentu aja aku ngga baik-baik aja melihat keadaan Mama seperti ini."
"Kamu sudah ke dokter?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Papa tadi sempat membesuk mama, dia bilang mau nemuin kamu tapi ngga tau kamu tinggal di mana. Temuin dia ya," pintanya.
"Aa---apa? Papa membesuk mama?" Aku mengerjap. Separuh logikaku seolah tak memercayainya. Papa masih peduli kepada mama?
"Kami akan berusaha untuk memperbaiki semuanya, memperbaiki kamu."
"Maksud Mama?"
"Lakukan konseling. Mama sudah pilihkan psikiater terbaik kenalan mama, juga udah bilang sama papa buat mengurus pembiayaannya. Kamu tinggal melakukan pengobatan, papa yang akan transfer biayanya. Namanya dr. Reyhan SpKJ. Kamu harus baik-baik aja, Tera." Mama menggenggam tanganku lembut.
"Apakah Mama pikir aku gila sampai aku butuh psikiater?" Aku menarik tanganku dari genggaman mama. Entahlah, hanya karena hal seringan itu saja rasanya aku sangat tersinggung.
"Maksud Mama bukan gitu, Ra. Aku setuju sama mama kamu," ucap Binar membuatku semakin kesal. Apa mereka pikir aku gila? Mataku mengarah kepada Binar penuh permusuhan. Secara tak langsung seolah mereka menganggapku gila.
Binar meremas jemariku. "Kamu yang bilang kamu mau pulih. Kamu ngga gila. Kamu hanya sedikit ngga baik-baik aja, kamu ngerti, 'kan?" bujuknya.
****
Cukup memalukan, pada akhirnya aku menyetujui rencana mereka. Tak pernah terpikir aku akan berurusan dengan seorang psikiater. Karena hatiku terus menyangkal dan berkata bahwa aku baik-baik saja sampai aku sadar bahwa ada yang salah denganku dan seluruh mimpi buruk sepanjang malam. Aku tak suka mimpi itu. Menemukan alasan bahwa aku harus sembuh, aku ingin sembuh. Letih dengan semua rasa sakit ini. Tersiksa dan terkurung. Hanya dengan keluar dari lingkaran ini aku akan terbebas. Aku ingin hidup dan ingin bahagia.
Aku meletakkan bokong di sebuah kursi khas rumah sakit di samping Binar. Gelombang otakku memerintah degup jantung berpacu cepat.
"Lentera Nayanika, delapan belas tahun. Kenapa ini? masih muda, dibawa santai aja, hidup memang keras, 'kan?!" Pernyataan itu yang kudengar pertama kali saat aku telah memasuki ruang pemeriksaan beberapa puluh menit usai terjebak antrean panjang.
"Pasien mengalami mimpi buruk berulang setiap malam pasca mengalami pelecehan, Dokter," ucap Binar menerangkan.
Binar mendampingiku dengan setia, menambahkan apa yang kukatakan sesuai keadaan, atau malah dia yang lebih intensif bertanya sesuai keingintahuan. Setelah semua hal kami kisahkan, dokter mendiagnosisku mengalami Post-Traumatic Stress Disorder sekaligus gangguan kecemasan.
"Jadi, apa yang mesti kami lakukan, Dok?" tanyaku menanggapi pernyataannya.
"Pengobatan mencakup psikoterapi dan mengonsumsi beberapa jenis obat untuk mengurangi kecemasan, dan ... " Ia menggantung kalimatnya sejenak, "aku harus menyampaikan, Lentera. Yang pertama aku ingin menegaskan bahwa yang bisa menyembuhkanmu adalah diri kamu sendiri. Seberapa niat dan usahamu untuk sembuh. Caranya mudah, berdamai dengan masa lalu, dengan kemarahan, lupakan kekecewaan dan hargai dirimu. Itu adalah kuncinya."
Rasa gugup dan ketegangan mencumbui pikiran, menghasilkan remasan jemari yang Binar berikan demi menenangkan. Sejenak ia membuka posisi tanganku, menggulung lengan bajuku sambil berucap. "Gimana dengan ini, Dokter?"
Pria berjas sneli itu meneliti sekilas, menangkap rasa cemas yang sedang berupaya kualihkan. Masih tergambar jelas sisa-sisa sayatan memenuhi lengan, juga lebam pada jemariku yang belum sepenuhnya memudar.
"Self harm?"
Binar mengangguk. "Ngga tau kapan dimulainya, Dokter. Tapi, yang jelas aku tau ini terjadi berulang-ulang." Ia menjelaskan dengan saksama.
"Sekarang yang jadi pertanyaan, sudahkah mencoba untuk saling bicara dengan hati kamu mengenai apa yang kamu inginkan, Lentera? Cari tau benang merah utama yang jadi penyebab kenapa kamu merasa sakit, akui kelemahan kamu dan jangan mendistorsinya." Dokter Rey menatapku dan Binar secara bergantian.
Aku merunduk. Rasanya hidupku dipenuhi oleh aib yang tak siap kubeberkan namun aku dipaksa menjelaskan apa yang kurasakan. Aku mendesah panjang. Dokter Rey tersenyum. "Kamu ngga perlu menceritakan apa yang ngga ingin kamu ceritakan. Yang ingin aku sampaikan adalah sebaiknya kamu saling bercerita dengan hati kamu tanpa penyangkalan. Tanpa penolakan. Maka seiring waktu semua akan teratasi dengan gampang. Mudah tidaknya pengobatan tergantung kamu, Lentera."
"Pemberian obat mungkin akan menolong. Tapi, pasien yang terlalu menggantungkan diri dengan obat-obatan tanpa usaha yang signifikan untuk keluar dari lingkaran depresi juga kurang memiliki impact yang baik. Jika kamu nggak berkeinginan sembuh, kamu hanya akan menjadi pasien yang mendewakan obat."
"Keinginanku untuk sembuh besar, Dokter.  Aku lelah dengan semua rasa sakit ini. Sembuhkan aku, Dokter," pintaku bersungguh-sungguh dengan mata berkaca-kaca penuh harapan.
"Mudah saja, kamu sadar bahwa ada yang ngga beres dengan diri kamu. Maka temukan alasan untuk sembuh," ujarnya.
"Diriku sendiri. Karena aku menyayangi diriku dan aku ingin bahagia."
"Alasan yang tepat, nanti akan aku resepkan beberapa antidepresan. Obat ini bekerja dengan cara menyeimbangkan kandungan senyawa kimia alami di dalam otak yang disebut neurotransmitter, sehingga bisa meredakan keluhan dan membantu memperbaiki suasana hati dan emosi. Tapi, ingat! Obat hanya membantu, kamu sendiri yang menyembuhkan."
Dokter menatapku sejenak, melirik lenganku sekilas seraya menulis resep obat dan berkata, "Cari kesenangan dan alihkan hasrat untuk menyakiti diri sendiri. Melakukan hobi baru, mungkin. Bisa melukis, menulis buku harian, meditasi, olah raga, apa pun yang bisa membuat fokusmu ngga berkutat pada rasa sakit. Atau jika sedang marah kamu bisa melampiaskannya dengan mencoret-coret kertas atau merobek-robeknya asal jangan sampai membakar rumah." Dokter Rey tertawa kecil, "butuh jokes untuk sedikit mengurangi ketegangan, bukan? Lihat, wajah kamu serius sekali," imbuhnya.
Aku tersenyum kecut, sialan, dia bahkan tampak seperti cenayang yang tahu apa yang sedang kupikirkan.
Sesi konsultasi telah usai hari ini, aku mulai bergerak menuju tempat lain setelahnya. Pemeriksaan kesehatan yang harus kulewati berikutnya adalah tes darah untuk mengetahui apakah aku terjangkit HIV atau tidak.
Serangkaian pemeriksaan itu terasa begitu melelahkan dan membuat aku tersadar betapa rusaknya aku. Dan siapa yang mampu memperbaiki kecuali diriku sendiri? Ya, Lenteraku akan kembali berbinar jika aku bersamanya, Binar. Alasan untuk bangkit dan bertahan.

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07/2025

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru