Beranda/Cinta yang Sempurna/
Bab 16 Kenyataan Pahit
Jawabanku membuat Binar seketika melepas pelukan. Ia mengguncang bahuku lagi, sebuah remasan lemah membuatku tahu, ada kemarahan besar yang sedang mengumpul di sklera kemerahan pada kedua netranya.
"Siapa yang ngelakuin itu, Ra?"
Diam.
"Siapa yang lakuin itu?" Ia mengguncang bahuku lebih keras. "JAWAB, LENTERA!" Suara sumbang Binar membuatku sedikit takut. Aku tak pernah melihat kemarahan di dirinya selama ini. Tidak sama sekali.
"Binar, aku takut," ucapku lemah.
Ia menghela napas panjang. Tampak seperti sedang mengendalikan luapan emosi.
"Maaf, terlalu keras. Aku cuma mau tau, siapa yang udah ngelakuin hal keji kaya gitu sama kamu? Aku mohon, kasih tau aku. Kamu percaya, 'kan, sama aku?"
"Ayah tiriku," jawabku. Sesuatu yang berat terasa menggondok di tenggorokanku.
Ia mengepalkan jemari erat. Rahangnya mengeras dan matanya memejam. Tanpa menoleh ia meninggalkanku sendiri dengan langkah cepat.
"Nar, kamu mau ke mana?"
"Bikin perhitungan sama binatang itu!" jawabnya mantap.
🍃🍃🍃
Aku mengekorinya sampai kediaman mama. Seragam putih abu-abunya masih melekat sempurna. Ia berteriak di depan gerbang. Sampai Bi Siti membuka pintu dan tanpa kata ia merangsek masuk.
"BRENGSEK KELUAR KAMU!" Suara keras mengiringi langkah, kala Bi Siti membawanya memasuki pintu utama, dan aku tetap mengekor di belakangnya sembari merapalkan doa, berharap semua akan baik-baik saja. Menggayuti jemarinya sembari berusaha mencegah kekacauan namun dia mengabaikanku.
Respati sedang menatap layar laptop di ruang tamu. Menoleh ke arah Binar kemudian bangkit. Tatapannya mengandung unsur perseteruan. Tajam dan berkilat.
"Wow, tamu sialan datang!" cemoohnya seraya mencebik.
"Bang ... " Kudengar panggilan lirih Binar, tampak kekecewaan tergambar begitu jelas di wajahnya. Tanganku memberangus tangis yang sudah siap meledak. 'Bang' panggilan itu meremas jantungku seakan membuatnya berhenti berdenyut. Respati dan Binar, mungkinkah mereka adalah ... saudara?
"Aku ngga nyangka itu kamu, Bang. Kamu ayah tiri Tera? Kenapa kita ngga pernah ketemu?"
Mulutku merekat rapat. Pikiran karut-marut. Artinya laki-laki yang pernah hampir kutabrak, ketika melarikan diri dari kediaman papa waktu itu, dia benar-benar Respati? Ya, sepertinya tak salah lagi.
"Kenapa, Nar? Kamu terkejut dan terluka karena harus tau aku papa tiri pacar kamu? Aku sengaja ngga ngasih tau kamu, suprise, Brother!"
"Dan kamu sebrengsek ini?" Mata Binar menyembul seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Aku ngga nyangka kamu tega lakuin itu, Bang. Kalo kamu tega ama aku, aku bisa ngerti. Tapi, harusnya Abang punya hati buat ngga bersikap kejam sama perempuan yang ngga berdaya."
"Persetan, Nar. Aku juga ngga pernah nyangka. Kamu yang gua anggap lugu bisa nyakitin mama sampe mama harus koma dua minggu. Perempuan yang sakit dan ngga berdaya, kamu celakain dengan cara binatang. Aku ngga pernah lupa, Berengsek!" Respati terkekeh pedih.
"Aku udah jelasin berkali-kali. Itu cuma salah paham. Aku ga pernah nyakitin mama kamu. Dia jatoh sampe kepalanya ngebentur meja. Aku cuma nengokin dan berusaha nolongin saat itu. Tapi, kamu ngga pernah percaya ama aku, Bang."
"Bacot!" Respati mengepalkan jemari dan mendaratkan pukulan keras pada perut Binar. Aku memundurkan diri beberapa langkah ke belakang, terbata pada langkah kecil penuh kecemasan.
"Mulut anak pelac*r emang beda, ya?! Lembut tapi busuk!" umpatnya.
"Kita udah membahasnya malam itu biar kita ngga perlu saling ketemu dan saling bicara lagi. Abang setuju. Dan aku minta kamu janji buat lupain dendam itu, juga jangan lagi saling nyakitin. Kita udah sepakat buat bersikap seolah-olah kita ngga kenal. Tapi ... apa, Bang?"
"APA YANG KAMU LAKUIN SEKARANG, BANG?!" imbuhnya dengan nada meninggi beberapa oktaf.
"Aku ngga ngerasa mengiyakan janji itu, Udik!"
"Kamu bikin aku berasumsi bahwa kamu setuju. Kenapa, Bang?"
"Kamu tau jawabannya. Karena aku benci sama kamu! Karena keberadaan kamu udah hancurin aku! Kenapa aku sampai hati nodai Tera? Karena kamu selalu ngambil apa yang aku inginkan, dan cara kamu memperlakukan mamaku, ngga akan pernah termaafkan seumur hidupku." Respati mendorong kecil dada Binar dengan telunjuknya. Tatapan keduanya sama-sama menggambarkan rasa benci yang dalam.
Ruangan ini terasa berputar menyempit di kepalaku, menjadi sebuah labirin yang membuatku sendirian dalam suram. Sebuah sengatan kecil menyatukan kesadaran. Menabrak dinding dan rasa sakit membangunkan refleks tubuh.
"Aku sayang sama Tera. Tapi, gara-gara kamu, dia nolak aku. Jadi satu hal, kalau dia ngga bisa jadi milik aku, kamu juga ngga. Atau seenggaknya kamu harus terima kalau dia udah jadi bekasanku!" Respati terkekeh jemawa, "lagian, kamu butuh tau kaya apa rasanya kehilangan, Nar. Kamu cuma kehilangan satu hal kecil dalam hidup. Sementara kamu udah bikin aku kehilangan Segalanya."
Remuk redam. Kalimat itu terasa panas dan aku seakan terpanggang. Air mataku berleleran. Respati benar, aku memang sudah seperti layaknya barang bekas. Diri kotor ini tak pantas atas sebuah pembelaan.
"BUKAN KARENA AKU. Harusnya mikir, introspeksi. Kalo hidup lo hancur, itu karena diri lo sendiri. Tanpa ada gua sekalipun, ngga bakal ada cewek yang sudi ama lo! Lo ngga akan mengidap penyakit kotor itu tanpa sebab, Berengsek! Apa lo puas setelah mentransfer penyakit terkutuk lo di tubuh Tera?" Binar mencengkeram kaus kakaknya. Menindih tubuhnya dan mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Respati.
Aku membeku, penyakit terkutuk? Mentransfer kepadaku? Apa yang mereka bicarakan? Kepalaku mencoba mencerna perkataan mereka. Namun tak menemukan secuil pun jawaban.
"Kamu bahkan udah nikahin mamanya. Dan kamu belum puas?" Binar mengangkat tubuh Respati lalu mengentaknya dengan dorongan kuat.
"It's all just drama, My Brother! Jesi dan Beno, secara ngga sengaja mereka berdua masih saling peduli. Egois menjadi halangan terbesar dengan berlomba menunjukkan mana yang lebih bahagia. Jesi minta aku menikah dengannya demi membalas sakit hatinya kepada Maya dan Beno. Dan dia bersedia lindungin karierku dari kehancuran. Menyimpan rahasia yang dia juga udah tau," jawabnya.
Rahasia. Aku mendengarkan dengan perasaan tak karuan. Lagi-lagi perkataan mereka tak kumengerti. Terlalu banyak enigma di sana-sini.
"Kamu udah bikin aku cacat dan diasingkan keluarga, dianggap aib. Kamu udah hancurin aku dan kamu masih belum puas juga? Dan sekarang kamu juga hancurin orang yang aku sayang? BERENGSEK!" Suara bariton Binar terdengar parau. Tetes air mata sejenak luruh di wajahnya. Ia menangis. Untuk pertama kalinya Binar menjatuhkan air mata di hadapanku. Dan aku menjadi salah satu garis besar inti kesedihannya.
Binar, maafkan aku.
Laki-laki itu masih memukuli wajah kakaknya sampai percikan tercecer di lantai berwarna putih
Sakit, sampai tak ada kata-kata lagi yang mampu mengilustrasikan pedihnya hati ini. Hanya air mata yang bisa berbicara perihal rasa. Mulutku bisu tak bersuara. Kenyataan bahwa Binar dan Respati bersaudara telah mengacaukan duniaku.
"Pukul aku, pukul! Kenyataannya memang gitu. Pas aku hidup susah dan dipaksa kehilangan nyokap, aku janji ama diriku sendiri, bahwa kamu juga bakal ngerasain penderitaan yang aku dan nyokap rasain selama bertahun-tahun. Kalo kamu ga pernah dateng dan nyelakain mama, pasti mama masih ada dan ngga akan ninggalin aku." Posisi berubah. Kini Respati yang menindih tubuh Binar lalu melayangkan pukulan membabi buta.
Menjeda pukulannya sejenak, Respati meremas kerah seragam Binar yang kini telah penuh bercak darah.
"Kamu tau, aku datengin bokap waktu itu, aku mohon biar dia mau ngasih pertolongan dan ngebantu biaya operasi mama. Tapi, papa kamu yang berengsek itu nolak ngasih bantuan. Malah dia bersenang-senang di atas penderitaan kami. Salah kalo aku nuntut balas?"
Aku bergerak maju, tak akan kubiarkan Respati menyakiti Binar lebih dari itu. mencoba melerai, menangis dan menarik tubuh Respati dari belakang sambil berteriak. Suaraku nyaris habis. Seseorang, tolong!
Respati mengempas tubuhku hingga aku terpelanting ke belakang. Kakiku lemas seperti tak bertulang. Gravitasi menarik begitu kuat sampai aku kesulitan untuk kembali bangkit. Entah kapan tiba, fokusku tak bisa berada pada satu titik saja. Kulihat mama telah berdiri dan berteriak di depan pintu utama.
"BERHENTI!" teriak mama tak terkendali. Mama juga mencoba menghentikan pukulan Respati. Akan tertapi satu tangan kekar pria itu dapat menghempaskan mama dalam satu entakan saja.
"JANGAN IKUT CAMPUR, JES!"
"Bales, pukul aku, Nar. Pukul! Kamu bukan pecundang kaya papa kamu, 'kan? Asal kamu tau, satu hal yang aku pengen banget kamu tau," Respati menjeda kalimatnya sejenak. "Cewek kamu rasanya luar biasa, dan aku sangat menikmatinya." Respati tersenyum miring. Kupikir wajahku merah menahan malu serta gusar atas apa yang barusan Respati katakan.
"MAMA ... JANGAN ....!" pekikku saat mama setengah berlari menuju Respati.
Sekonyong-konyong Mama meraih sebuah guci dan memukulkannya di kepala laki-laki itu. Gema suara nyaring pecahan keramik memenuhi ruangan. Darah berleleran dan tubuh Respati seketika jatuh tersungkur.
"PANGGIL AMBULANCE, CEPAT!" Aku berteriak, memundurkan diri dan kacau balau.
Mama membekap mulutnya dengan kedua tangan. Air mata membanjir dan tubuhnya membeku saat tahu Respati tak lagi bernyawa. Dan mama adalah eksekutornya. Hal yang tak pernah terlintas dalam benakku bahkan hanya dalam mimpi buruk sekalipun.
"Mama," erangku pilu. Hatiku kacau dengan duri-duri yang terasa menikam menghancurkan. Menghampiriku, memeluk erat, menciumi dahiku berulang-ulang dengan tetes demi tetes air mata yang mengalir di wajahnya.
"Maafin mama, Sayang. Maafin mama. Maaf atas semua kesalahan mama," ucapnya mengulang-ulang kalimatnya. Kubenamkan wajah pada pelukan hangat itu.
"Mama akan menyerahkan diri setelah ini. Jaga diri baik-baik, Nak. Ngga akan cukup sejuta maaf yang mama ucapkan, kata maaf yang ngga akan memperbaiki apa pun. Tapi, mama janji, akan menyayangi kamu dan meninggikan kamu di atas ego dan harga diri. Mama menyesal."
Masih menciumiku dan mengusap kedua pipiku dengan lemah lembut. Penuh kasih sayang. Hal yang tak pernah kudapatkan selama ini.
Kulihat Binar berdiri di sana. Menatap momen aku dan mama saling mengungkapkan sayang di tengah kehancuran. Mata mama beralih dan menatap Binar penuh permohonan, "Nak Binar, bawa Tera ke rumah sakit untuk tes HIV secepatnya, bisa? Tante minta tolong," pintanya dengan tatapan memelas.
Binar mengangguk. Apa lagi ini? Menatap mama dan Binar secara bergantian. Tes HIV? Apa maksudnya?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (45)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
18/01/2022
2alur cerita yang sangat menarikkk
06/07/2025
0baguss kakk
14/06/2025
0Lihat Semua