logo text

Bab 15 Pengakuan

Rumah kontrakan ini minim fasilitas. Setidaknya aku punya tempat tinggal. Kuperhatikan satu ruangan ini. Hampa. Tak ada satu pun perabot di dalamnya. Hanya sebuah kasur usang yang bau penguk mengisi ruangan.
Liar, pikiranku gila sasar. Aku terbaring dengan lengan menopang kepala. Aroma pengap debu masih dapat kucium sama-samar, meski pikiran ini tak berdiam pada tempatnya. Tak pernah terpikirkan bahwa aku akan meninggalkan Binar dengan cara seperti ini. Pergi darinya dan bersikap seolah tak lagi menginginkannya. Aku tertawa kecil, menatapi langit-langit ruangan yang bisu dan menikmati luka pedih yang tak bisa kuumpamakan lagi.
Mama, papa ... mereka membuatku seakan nyaris terbunuh oleh ketidakwarasan jiwa. Demi Tuhan rasa sayang pada mereka tak pernah berujung, namun yang kudapat hanya luka dan duka. Dan Respati, Tubuh kotor beserta aroma bejat yang tertinggal membuatku benci sampai ingin memaki diri sendiri. Mengapa sentuhan itu terkunci di memori dan meninggalkan kepingan hati berserakan yang tak pernah mampu kubereskan?
Aku bangkit, sejenak seluruh kekecewaan menguar dalam diri, hanya menyisakan aku pada kelamnya hidup sebagai seonggok sampah. Tubuhku lemas, seolah tak memiliki daya untuk bangkit dan berdiri tegak.
Malam semakin larut, udara yang kuhirup terkontaminasi bayangan Binar. Dia milikku satu-satunya yang tersisa. Dan aku telah melepaskannya. Kini aku hanya menjadi gadis tolol lagi hina. Tersiksa oleh ketidakberdayaan.
Ia berdansa di ujung mata. Membelenggu rasa cinta yang tak pudar meskipun aku telah berupaya sekeras hati mendistorsi perasaan ini. Apakah sekarang aku menyamai mama dan papa? Mengelak pada rasa yang masih subur dan coba membunuhnya? Tidak! Aku tak pernah mencoba membuat rasa ini binasa.
Kuseret langkah menuju dinding yang sudah siap bertempur dan menantang. Jemariku mengepal erat dan kemarahan tak bertuan itu kualamatkan padanya.
Kuhantamkan satu kepal tinju pada dinding. Gemuruh di dadaku siap memuntahkan api amarah. Meledak. Menghancurkan.
"Kamu sampah, Tera!" Makianku terbit mengiringi setiap pukulan.
"Kamu bodoh!"
"Kamu ngga berguna!"
"Kamu pecundang!" Percikan darah tertinggal di dinding membentuk titik-titik kecil dari tinjuku.
"Lihat sekarang, kamu sendirian. Dan lihat betapa fakirnya kamu saat ini. Kenapa kamu harus hidup, Lentera!" Kalimat itu kuucapkan bersamaan dengan pukulan menggebu-gebu yang membuat kekuatan semakin memudar.
Linglung. Menatap kosong, melemah dalam keterpurukan. Sampai kapan aku seperti ini? Luka-luka di hati semakin lama kian membusuk. Dan mungkinkah masih mampu untuk pulih?
"Binar, aku kehilanganmu ...," lirihku dengan derai tangis dan peluh membanjir. Tubuhku tertunduk ke bawah dan berlutut pada dinding sembari menaruh kepala pada pelukan asing sebuah dinding. Robekan kulit pada jemariku menitikkan darah mendamaikan resah. Sejenak tentram tercapai. Saat rasa sakit pada jari-jemariku terpuaskan.
"Binar ... " erangku pilu.
🍃🍃🍃🍃🍃
Rasa sedih, tak dicintai, sendiri, tidak berharga, putus asa, terhina semuanya berputar seperti gasing di kepalaku sepanjang hari. Rasa sakit itu menghimpit sampai aku kesulitan bernapas. Aku lelah, aku hanya butuh sebuah tidur panjang dan tak ingin bangun lagi.
Jangan tanyakan seperti apa sakitnya. Menjadi jiwa waras yang dipaksa merasakan sakit di atas ambang batas yang harus kulampaui. Aku tak tahan lagi. Dan pemikiran bodoh itu menghampiri. Jika memang semesta tidak pernah memberikan ruang yang nyaman biarlah aku pergi, siapa tahu kematian mampu membuat mereka merasakan sedikit saja sakitnya kehilangan jika mereka masih peduli. Dan jika tidak, setidaknya derita ini selesai. Air mata ini berhenti.
Aku sudah tak peduli pada surga atau neraka. Tuhan tak memiliki belas kasihan padaku. Ada sesuatu dalam jiwa meronta kuat. Memacu gelombang amarah yang mengutuk. Kurasakan sukma ini berteriak seolah segalanya telah benar-benar dirudapaksa oleh takdir.
Membulatkan tekad, kuharap ini pagi yang terakhir. Dan hal yang ingin kulakukan saat ini  adalah melihat wajah Binar. Biar kusimpan dan kumimpikan dalam tidur panjang. Dan aku bisa melihatnya di sini, di SMA Bima Sakti meski hanya dari kejauhan dan terhalang pagar besi. Mengintipnya selama beberapa puluh menit dari luar pagar, bahkan aku telah memperhitungkan jam berapa waktu istirahat dan di mana ia terbiasa membunuh waktu saat jam pelajaran terjeda.
Memetik seutas senyum di bibir, sepercik air mata menitik getir. Jika besok aku tak lagi hadir, kuharap senyumnya adalah yang kulihat di titik akhir.
Binar, aku akan pergi jauh, kumohon jangan lupakan aku.
Matanya melayangkan pandang sekilas ke arahku. Sialan, dia mengetahui keberadaanku. Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, memanggil namaku dan sedapat mungkin langkah ini lekas menjauh. Menoleh tak tenang ke belakang. Tak melihatnya mengikuti. Artinya aku lolos dari kejarannya, atau mungkin saja ia tak mengejar.
Beberapa ratus meter dari sekolah telah terlewati, kakiku berderap gontai, berjalan pelan membelah lalu lalang kendaraan yang melintas. Jalanan tampak seperti padang rumput yang menghampar, sunyi dan diam. Suara klakson panjang membuyarkan padang rumputku, menyisakan kesadaran bahwa semua hanya ilusi. Aku menanti, di mana tubuhku terpental dan warna merah beserta aroma anyir mengakuisisi duniaku. Mati pada hantaman keras roda empat yang melintas dan melindas. Hingga secepat kilat sesosok bayangan membawa tubuh ini menepi dan terjatuh membentur trotoar.
Bangun dari tempat tersungkur, tatapan kosong dan pikiran tak menentu masih cukup menyesatkan. Guncangan kecil di bahuku mengumpulkan sedikit konsentrasi yang hilang.
Sialan! Aku masih hidup.
"Tera, kenapa kamu ngga jawab? Aku udah menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali, aku khawatir sama kamu," ucapnya. Aku tergagap, bingung. Butuh sedikit waktu untuk mencerna apa yang Binar ucapkan. Pikiranku terbelah tak tentu arah.
"Aku baik-baik aja, Nar. Ngga perlu mikirin aku."
"Apanya yang baik-baik aja? Jangan melucu, Lentera!" serunya kesal.
"Ra, apa yang terjadi?"
Aku membeku, lidahku kelu. Matanya menatapku lekat. Dan aku tak memiliki keberanian untuk membalas tatapannya.
"Aku menyerah atas semuanya, dan juga atas kita." Lidah ini meluncurkan kalimat itu tanpa kuperintah.
"Kenapa kamu memulai jika akhirnya kamu memilih untuk mematahkan kedua hati? Menyerah hanya untuk mereka yang kalah, Ra. Dan aku ngga bisa menerima kekalahan kamu."
"Maaf, Nar. Aku harus pergi."
"Aku anterin. Kamu tinggal di mana sekarang? Mama kamu bilang, kamu kabur. Mereka semua nyariin kamu."
"Aku bisa sendiri," jawabku cepat.
Aku segera membalik badan untuk pergi, sampai tangan Binar menggapai jemariku dan meremasnya.
Mengaduh. Luka di jari-jemari dihinggapi nyeri ketika remasan Binar berdiam di sana. Sejenak ia memperhatikan luka itu.
"Tangan kamu kenapa?"
"Jatuh kemarin," jawabku seperti melempar balam dengan tanah. Kena tak kena tak jadi soal. Ia mengamati kulit yang mengelupas dan mulai mengering pada kedua jemariku.
"Jatuh? sama seperti alasan waktu tangan kamu penuh goresan pas kabur dari rumah papa kamu? Pembohong yang amatir. Alibi murahan, Ra."
Ia membawaku pada pelukan erat. Satu hal yang tak sempat kuantisipasi. Tanpa meminta penjelasan seakan dia memahami seluruh lukaku.
"Jangan kaya gini lagi, kumohon." Rangkulannya tak mengendur. Terasa hangat dan menenangkan. Menguarkan aroma musk yang begitu kusukai.
"Lepasin, Nar. Aku baik-baik aja," ucapku coba mengelak. Air mataku sudah mengumpul membentuk kaca-kaca memenuhi pelupuk. Berusaha kutahan agar tak jatuh.
"Aku baik-baik aja, aku baik-baik aja." Aku merepetisi kalimat itu untuk meyakinkan Binar. Atau mungkin lebih tepatnya untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Lentera, aku mohon, berhenti nyakitin diri kamu seperti ini."
"Apa yang harus aku lakuin, Ra? Supaya kamu berhenti terus-terusan bertingkah seperti ini? Kita bisa lewatin semua sama-sama, kan?" Melepaskan pelukan. Tatapannya sarat permohonan. Telapak lembutnya menggenggam jariku dengan sayang.
"Binar, aku ngga suka kamu memohon."
"Dan aku harus suka liat luka-luka kamu kaya gini? Terus, apa yang kamu lakuin barusan? Menabrakkan diri ke mobil yang melintas terus ninggalin aku sendirian di sini? Gitu? Itu mau kamu, Ra?"
"Kamu pikir gampang ada di posisi kaya gini?!" sergahku sedikit gusar.
"Posisi siapa yang lebih sulit, Ra? Aku cuma anak haram hasil perselingkuhan. Papaku suka banget main tangan sama aku dan kakak. Aku dan kakak ngga pernah rukun, kesalahpahaman besar terjadi dan aku bertengkar hebat dengannya. Karena pertengkaran itu aku cacat dan keluargaku menganggapku sebagai aib. Itulah kenapa aku selalu nutupin gimana keluargaku. Aku benci jika harus memperlihatkan kelemahan depan kamu, Ra. Kamu pikir kamu aja yang rusak? Aku juga, Lentera."
"Aku ngga pantes buat kamu, Nar," lirihku.
"Kamu ngga boleh ninggalin aku. Kita adalah dua jiwa retak yang saling memperbaiki. Maka perbaiki sampai selesai. Ngga boleh ada patahanku atau patahan kamu."
Kalimat itu begitu sejuk untuk kudengar. Pun begitu dalam menikam.
"Masih adakah yang bisa diperbaiki dari seorang aku, Nar? Aku bukan milik kamu lagi."
Ia merengkuhku ke dalam peluknya sekali lagi.
"Aku ngga tau apa yang sedang kamu bicarakan. Yang aku tau, aku ngga akan menyerah atas kita sampai kapan pun. Sekalipun kamu menafikkan aku ribuan kali."
"Aku ... aku kotor, Nar. Aa---aku diperkosa," ujarku tercekat. Ucapan memilukan itu membuat nestapaku kian menari dan tertawa. Menerbitkan tangis tergugu yang tak mampu menyatukan sisa kepingan kehancuran. Aku benci mengapa aku harus hidup.
🍃🍃🍃🍃🍃

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07/2025

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru