logo text

Bab 13 Yang Terbaik Untuknya

Aku tersadar dalam keadaan kacau, tubuhku telah terbaring di tempat tidur dengan luka terbalut perban di lengan. Mama dan Respati menemani. Aku bangkit dan memundurkan tubuh ke belakang, rasa takut menyusup di hati kala melihat Respati. Hatiku yang hancur memerintahkan kedua mata membanjir lagi.
"Pergi," erangku lirih. Segala rasa sakit terasa mengutuk jiwa. Napas tersengal, terkepung rasa sesak yang tak sudah. Hatiku membara, masih mengepulkan uap panas sebuah kemurkaan.
"Kok bisa, sih, pake acara jatuh segala? Makanya lain kali hati-hati."
"Ma, suruh orang ini keluar dari kamar Tera sekarang," ucapku gusar.
"Loh, kenapa? Om yang nolongin kamu waktu jatuh tadi. Harusnya ngga perlu ada rak cermin di kamar mandi, mama nyesel. Jadinya kamu kepeleset dan menabrak kaca, kan."
"Tera mohon, suruh dia pergi." Aku terduduk seraya memeluk lutut erat-erat.
"Ra," panggilnya seraya mencoba mendekat padaku.
"JANGAN SENTUH TERA DAN PERGI!" Aku berteriak histeris, kedua tanganku kini menutup telinga dan aku menangis sejadinya. Mama memelukku erat. Sebuah pelukan sia-sia yang diberikan setelah jiwa yang retak ini hancur. Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk membuat semuanya baik-baik saja?
****
Selama tiga hari terakhir tak masuk sekolah karena diri kacau ini. Melirik ponsel sekilas, selama itu pula aku mengabaikan pesan Binar, juga tak menjawab teleponnya. Apa kabarnya, apa dia baik-baik saja?
Tentu saja. Bahkan dia pasti jauh lebih baik tanpaku. Aku sudah tak punya alasan lagi untuk mematutkan diri berada di sampingnya. Aku hanya sampah.
Jemariku bergetar, bergerak pada layar ponsel. Skeptis. Namun aku membulatkan tekad untuk menghubunginya.
"Kamu kemana aja, Ra? Ngga ngejawab telfonku, ngga bales chatku. Aku khawatir banget sama kamu."
Kalimat itu yang pertama kudengar dari sambungan telepon. Suara berat, lembut, penuh kasih sayang. Aku seperti tak sanggup mendengar suaranya lebih lama.
"Jangan ngarep lagi, Nar. Semua bakalan sia-sia," ucapku.
"Maksud kamu?"
"Kita putus." Sembilu mencakar hatiku, meninggalkan jejak paruh luka yang tak akan hilang oleh waktu.
"Jadi, karena ini kamu menghindar tiga hari belakangan? berjam-jam aku nunggu kamu di taman sore itu tapi kamu ngga dateng. Aku datengin rumah kamu, mama kamu bilang kamu ngga bisa diganggu. Kalo kamu bosan sama aku, kenapa kamu ngga terus terang aja, Ra?"
"Aku menunggu waktu yang tepat, Nar. Hari ini adalah jawabannya. Aku bosen sama kamu."
"Kita ketemu, bicarakan semuanya. Aku cuma mau dengar langsung dari mulut kamu. Bukan lewat telepon dan bersikap seolah ngga peduli ama yang aku rasain kaya gini. Plis, ini bukan kamu, Ra. Kamu ngga kaya gini."
"Aku ngga mau buang-buang waktu buat meladeni kamu. Kita selesai, suka ngga suka, mau ngga mau. Jelas, kan?" ucapku seraya mati-matian menahan isak.
"Aku sayang sama kamu, bukankah kita udah janji buat ngga saling ninggalin?" 
"Janji adalah kalimat manis yang kupinjam untuk menetralkan hari kita yang pahit. Sekarang aku tau kamu ngga butuh janji itu lagi." Aku menggigit bibir bawah erat-erat. Khawatir sesenggukan yang kutahan membocorkan rahasia. Aku tak ingin Binar tahu aku sedang menangis.
"Kamu ngga akan lepasin aku gitu aja, Ra. Aku tau kamu."
"Bahkan aku lega pada akhirnya bisa merelakan kamu. Ini yang terbaik buat kamu. Lupakan aku, anggap kita ngga pernah saling kenal,"
"Sampai segitunya ya, Ra? Perempuan. Mereka makhluk aneh, kamu yang minta aku janji ngga ninggalin kamu, tapi nyatanya malah kamu yang ninggalin aku. Aku kecewa sama kamu."
"Ngga perlu merasa kecewa atas apa pun, Nar. Bukankah ngga semua perasaan harus berbalas?" kataku tandas.
Suara Binar berdecih kecil, "dan aku harus memakan mentah semua penafikan kamu, Ra?"
"Jangan memaksakan kehendak, Binar. Mencintai yang ngga ingin dicintai adalah pekerjaan sia-sia."
"Makasih ya, Ra. Dulu buatku kehancuran adalah jalinan keluarga yang hanya sebuah formalitas semata. Belum sempet aku bagi ke kamu tentang itu. Tapi, mungkin aja kamu ngga lagi peduli. Selamat ya, kamu udah berhasil memodifikasi kehancuranku dalam bentuk jurang patah hati. Makasih untuk lukanya. Kuharap kamu bahagia."
Suara itu menghilang bersamaan dengan tombol akhiri yang kutekan. Gemuruh di dadaku memburaikan tangis. Lagi, sesak ini menyeruak.
Mataku mengawang, menyebarkan penglihatan pada kaca jendela dan menatap angkasa yang entah batasnya.
Sejenak satu-persatu benang merah keterpurukanku melintas. Respati, Betapa dia laki-laki yang begitu baik awalnya. Sampai selain ayah sambung, aku juga bisa menganggapnya sebagai seorang teman.
Ingatanku tertinggal pada hari-hari lalu. Di mana saat Respati dengan begitu baik mengajakku membuat kue bersama untuk membunuh jenuh, menyusun puzzle besar bersama, menuang air mineral digelasku, bahkan beberapa kali membantuku mengerjakan tugas, mengajakku menanam Aglaonema di pekarangan. Juga perhatian-perhatian kecil yang tak mungkin bisa kusebut satu per satu.
Sulit bagiku menjalin hubungan pertemanan. Tak percaya diri selalu menjadi alasan. Aku tak memiliki siapa-siapa selain Binar. Namun, Respati yang pandai berbicara mengajarkan aku bagaimana cara bersikap agar tak terjebak perasaan canggung. Walaupun kadang aku masih tampak sebagai gadis dingin dan kaku.
Kukira setelah kehadirannya aku sanggup merasakan sensasi 'keluarga utuh' seperti yang lain, meski dia bukan ayah kandungku. Dan aku dengan begitu polos menelan bulat-bulat kebaikannya tanpa membiarkan logikaku bekerja. Bodohnya aku. Kupikir dia tulus, ternyata dia modus.
Aku tak tahan lagi. Tinggal serumah dengannya membuatku tak bisa move on dari penyesalan mengapa aku memercayainya. Dan aku selalu ingat bagaimana dia menghancurkan kepercayaanku.
Membuang lamunan, kakiku berayun. Menuju celengan tembikar berbentuk ayam jago yang padanyalah uang saku dari mama bermuara selama ini. Kupecahkan, mengambil isinya dan aku akan pergi dari rumah ini. Sudah kuantisipasi dari jauh hari kemungkinan meninggalkan rumah ini.
Kukemasi beberapa potong pakaian ke dalam ransel beserta sisa harapan yang terlipat rapi. Aku butuh ketenangan. Secarik kertas kusiapkan, menulis kalimat sekadarnya untuk mengungkapkan sayangku pada mama.
Mama ...
Maafin Lentera, jika terlalu banyak menyusahkanmu. Hari ini adalah hari terakhir Tera merepotkan mama. Semoga. Tera pergi, bukan karena benci Mama. Sama seperti papa. Mama adalah milik Tera yang paling berharga. Namun saat kalian memutuskan untuk ngga lagi saling peduli satu sama lain, saat itu pula rusaklah aku. Ngga ada yang bisa kita perbaiki, Ma. Tera hanya ingin sendiri. Aku sudah ngga lagi punya harapan untuk bahagia. Yang terpenting, Mama harus selalu bahagia, ada aku atau ngga. Mama jangan sedih. Aku baik-baik aja. Tera masih ada, ngga ninggalin mama seperti Kak Althair, tapi, jiwa yang hancur ngga bisa kembali utuh. Jaga diri baik-baik. Tera sayang Mama.
                                             Dengan banyak cinta
                                                   Lentera
Menuruni undakan tangga. Sejenak  tanpa sengaja aku berpapasan dengan Respati.
"Mau ke mana, Ra?" ucapan itu menghentikan langkahku sejenak. Membalik badan. Kutatap mata Respati dengan gurat penuh luka.
"Jangan ikut campur! Siapa Anda? Oh, saya lupa kalo Anda adalah definisi dari setan sesungguhnya," ucapku sarkastik dengan bahasa formal dan kilat kemarahan tertahan dalam dada.
"Kita pergi sama-sama, Ra. Kita bangun semuanya dari awal. Biar aku selesaiin yang seharusnya ngga pernah ada lebih dulu. Bodo amat dengan karier, aku udah ngga ingin memikirkannya lagi."
"PERSETAN!" teriakku.
"Tera, dengarin penjelasanku, hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan karierku. Kumohon! Mengertilah, aku membangunnya dari nol dan hanya ini yang bisa menyelamatkannya dari ego mama kamu, Ra ... Tera, tunggu!"
Melangkah pergi, membawa jiwa lapuk dan sisa semangat yang kadang menjerumuskanku pada kecemasan tak berarti. Aku sudah pasrah jika keputusasaan ini adalah pilihan final. Barangkali kematian akan membuatku merasa sedikit lebih berharga. Karena aku sadar, aku tak memiliki apa-apa, pun tak lagi memiliki siapa-siapa.
🍃🍃🍃

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07/2025

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru