Bab 10 Topeng

Beberapa bulan berlalu. Setelah pernikahan mama dan Respati---dengan alasan aku tak boleh tinggal sendiri, akhirnya Respati yang mengalah dan bersedia untuk tinggal bersama kami.
Pernikahan itu menghebohkan publik karena dirasa cukup kontroversial. Hal tersebut mendorong Respati melakukan konferensi pers di channel youtubenya dan berhasil menjadi trending kala itu.
Ia mengklarifikasi mengenai rumor yang berkembang bahwa mama sudah hamil lebih dulu olehnya. Kenyataannya memang mama tak hamil, dan kupikir Respati memiliki fans fanatik yang agak gila. Karena alasan itu pula, Respati tak pernah memperlihatkan seperti apa wajah mama pada media.
Meski dengan perkenalan yang kurang baik, ternyata Respati tak seburuk persangkaanku selama ini. Ia ramah. Itu yang kurasakan. Sampai hari itu tiba, di mana kepercayaanku mengenai Respati Adiwijaya terpatahkan hanya dengan sekali entakan saja.
Akibat guru harus mengikuti rapat sekolah, para siswa dipulangkan pagi. Mama masih berada di kantor, sementara Respati sedang bersantai di rumah setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa stafnya.
Bi Siti masih ke pasar dan belum pulang. Atau mungkin sedang berduaan dengan Pak Nanang si hansip kompleks. Memungkinkan aku hanya berdua saja bersama Respati.
Tenggorokanku tercekik rasa haus. Derap langkahku perlahan mengayun menuju lemari pendingin yang terletak di dapur. Meneguk air yang telah dituang ke dalam gelas hingga tandas. Lega sudah dahagaku.
Tanpa kusadari sosok itu memerhatikanku. Tubuhnya hanya terbungkus kaus tanpa lengan dan celana pendek.
Tak heran Respati begitu digandrungi oleh fans wanita. Dia memang rupawan. Melihat Respati selalu membuatku mengingat Binar. Entahlah, kurasa, mereka sedikit mirip. Atau mungkin hanya perasaanku saja.
Seiring waktu, kami semakin dekat. Kupikir ia bisa menjadi sososk pengganti seperti papa. Awalnya sih iya.
"Kamu udah pulang, Ra?" ujarnya sembari menggantikan posisiku mengambil air di kulkas. Sementara aku mengelap tangan yang basah setelah mencuci tangan di wastafel.
Tak ada rasa canggung setelah beberapa bulan kami tinggal serumah. Setidaknya Respati jauh lebih baik dari istri papa. Awalnya. Garisbawahi, awalnya saja.
Aku tak punya teman, dan entah mengapa, semenjak Respati tinggal di rumah ini aku merasa seperti memiliki teman. Dia pernah kukenal sebagai laki-laki yang baik, sebelum ia membuka topeng di hadapanku.
"Iya, Om. Om sendiri kok udah pulang?" jawabku basa-basi.
Aku memilih memanggilnya Om ketimbang papa. Karena dia lebih pantas jadi kakak daripada papaku. Lagipula, dia juga tak pernah mempermasalahkannya.
"Iya, tadi ada urusan sebentar, habis ada pertemuan sama manager publikasi dan tim editor." Ia meletakkan air mineral kembali ke tempatnya. Memelesatkan pandangan ke arahku setajam anak panah dan memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Om, jangan liatin Tera kaya gitu, rasanya aneh," ucapku to the point.
"Apa yang aneh. Aku cuma sekedar mengagumi kecantikan kamu. Ngga ada yang salah kan? Lagian, sebagai laki-laki normal, kupikir cuma orang bodoh yang ngga ingin liatin kamu," ujarnya dengan menanggalkan panggilan 'Om' dan memilih beraku-kamu.
"Tapi, kita ayah dan anak. Sebaiknya Om bisa menempatkan diri, demi ngejaga perasaan mama."
"Gimana sekolah kamu?" Ia mengalihkan topik perbincangan.
"Seperti biasa, nothing special, Om." Aku mengedikkan bahu.
"Tera ke kamar dulu, Om," kataku sembari Menarik langkah lebar. Perlahan meninggalkan dapur. Baru beberapa tapak yang kueja, jemari itu menggapai lenganku.
"Tetap di sini, Lentera," pintanya.
Aku membalik badan, tremor merambati tubuhku. Membiarkan mata kami saling beradu, lalu tiba-tiba keadaan menjadi canggung.
"Aku butuh teman ngobrol. Bisa kita duduk di ruang tengah sebentar?"
Aku mengangguk, bergerak menuju ruang tengah sementara ia mengikuti.
"Mau ngobrolin apa, Om?" tanyaku setelah mendaratkan bokong di sofa. Ia mengambil tempat tepat di sampingku.
"Aku pingin cerita ama kamu."
"Cerita aja, Om. Tera pasti dengerin."
"Om capek hari ini," ucapnya sambil menguap.
"Ini masih pagi dan Om udah menguap," gadis itu tersenyum kecil.
"Kamu beda sekarang, Ra."
"Beda gimana, Om?"
"Makin cantik kalo tersenyum."
"Mama juga cantik, Om. Makanya Om menikahinya," cicitku sambil tersenyum menampakkan barisan gigi.
"Besok kita bikin kue lagi, yuk, Ra?"
Aku menyipitkan mata sepersekian detik. Dua hari yang lalu kami membuat kue dan menjadikan dapur layaknya kapal pecah dan lagi-lagi Respati mengajakku membuat roti kembali? Kurasa akan ada insiden perang tepung lagi!
"Ra, boleh cerita?" ucapnya ragu-ragu.
"Kan barusan Om udah cerita kalo capek. Makanya istirahat, Om." ucapnya.
"Bukan tentang itu. Tapi tentang mama kamu dan Om." Respati menampakkan ekspresi sangat serius.
"Maksudnya?"
"Om harap kamu nggak salah paham sama aku dan mama kamu." Respati meneguk ludah, aku bisa menyaksikan jakunnya yang naik turun.
"Eh, maaf ... sebentar, Om." Suara dering telepon membuatku meninggalkan Respati yang duduk santai di sebuah sofa besar.
"Iya, sayang. Masa sih kangen? kan tadi ketemu? ucapnya pada sambungan teleponnya.
"Iyah, sampai besok, Binarku."
Aku kembali duduk di samping Respati, menanyakan apa yang ingin ia ceritakan beberapa menit yang lalu. Akan tetapi dia memilih bungkam kemudian meninggalkanku. Aku jadi bertanya-tanya ada apa.
"Ada yang salah, Om?"
"Siapa Binar?" tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Pacar Lentera, Om."
Aku bisa melihat raut wajah yang berbeda dari Respati, ia tampak tak senang. Rahangnya mengeras dan tampak olehku urat-urat di lehernya yang menonjol keluar.
Tiba-tiba saja Ia melenggang dan meninggalkanku. Bahkan ia menanggalkan rona ramah di wajah tampannya seketika.
"Om," panggilku
Ia berhenti sejenak, menoleh tetapi melewatkan panggilanku begitu saja dan kembali menghela langkah.
"Om, katanya mau cerita?"
Respati yang tampak sanget kesal, ia tak menyahut dan memilih menaiki undakan tangga dengan tergesa-gesa. Entakan kakinya terdengar cepat seiring helaan langkah.
Aku hanya mematung, menyaksikan punggungnya mulai menjauh, lalu hilang ditelan jarak.
Respati marah padaku hari itu, dan aku bahkan tak tahu apa yang menyebabkan dia marah. Padahal aku tidak merasa membuat kesalahan apa pun.
Mengedikkan bahu, aku menggeleng tipis. Apa Respati juga akan berubah seperti ayah tiri yang sering kubayangkan selama ini? Jahat, bengis, tak berperasaan?

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07/2025

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru