Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
50. Mangsa Baru Desy
Bab 50. Mangsa Baru Desy =========== “Maaf, Tante! Jangan hentikan aku! Jangan halangi lagi langkahku! Aku mau pergi!” “Ada apa? Fajar juga menjerit-jerit di kamarnya, ada apa sebenarnya ini! Jelaskan pada Tante!” “Tanya sendiri pada anak kesayangan Tante itu! Yang jelas, aku sudah jenuh! Aku sudah bosan dibentak, dihina, di caci dan dimaki. Cukup sudah! Cukup sudah, Tante! Aku gak tahan lagi! Aku sudah jenuh! Aku sudah tak tahan lagi. Aku menyerah!” “Desy! Kamu …. Kamu mau meninggalkan Tante dan Fajar juga seperti Alisya dan Intan meninggalkan kami, Nak? Kau juga sama seperti mereka?” “Maaf, Tante. Aku sudah tak sanggup. Aku sudah terlalu sabar selama ini. Mas Fajar bukannya sadar, tetapi malah semakin kelewatan. Dia semakin menginjak-injak harga diriku, menghinaku seolah aku lebih busuk dari sampah! Maaf, Tante, aku pergi!” Desy melepas pegangan tangan Rahmi di lengannya, lalu berjalan menuju teras, sambil menyeret koper miliknya. “Desy! Jangan pergi! Kalau kau pergi, Tante bagaimana? Kau tahu, kan, Fajar itu seperti apa, dia tak akan peduli pada Tante, Nak! Tolong jangan pergi, Des!” Wanita itu menghiba. Alisya terus berjalan, membuka pagar teras, tanpa menoleh lagi, dia berjalan menyusuri jalanan gang. Tekatnya sudah bulat. Sakit yang di toreh Fajar di hatinya, sudah terlalu dalam. Goresan itu kian hari kian meradang, dengan cacian dan hinaan yang terlontar dari mulut sang selingkuhan. Beginikah akhirnya? Awalnya begitu indah, Fajar memuja dan begitu memanja. Namun, ternyata dirinya hanyalah sebagai sampingan saja, sebagai hiburan semata. Cinta yang sesungguhnya, ternyata hanya milik istri pertama. Desy tercampak sebegitu hinanya. Setelah tubuh ternoda tak bersisa. Sakit di hatinya ciptakan dendam yang membara. Dendam yang menghentak, menuntut untuk dituntaskan dengan segera. Pembalasan akan dimulai. Pembalasan bukan hanya untuk Fajar, tetapi juga untuk Alisya! Wanita yang menempati relung hati Fajar dan membuat dirinya tak punya tempat meski hanya di sudutnya. Desy akan segera memulainya. Rahmi berjalan gontai menuju kamar sang putra. Menatap nanar lelaki yang telah dilahirkannya tiga puluh tahun silam dengan taruhan nyawa. Kini terkapar tak berdaya, sesali diri dan segala yang telah dilewatinya. Harapannya untuk melihat sang putra hidup bahagai dengan Desy, wanita pilihannya, hancur sudah. Segala cara dia lakukan untuk menghancurkan rumah tangga anaknya. Agar Fajar bisa menerima Desy pilihannya. Kebencian pada Alisya telah di tanamkan di hati Fajar, berharap sang putra bisa melepasnya. Namun kenyataan yang terjadi setelahnya, Fajar begitu menderita setelah kepergian Alisya. KIni, Desy pun berbuat yang sama. Wanita itu memilih pergi dengan membawa dendamnya. Berakhirkah sudah? Cukupkah sampai di sini saja? Tidak. Ini bukan akhir. Tetapi, ini justru baru awalnya. Awal dari buah perbuatan Fajar dan dirinya. Derita yang sesungguhnya kini membayang di depan mata. * “Masuk!” Raja menjawab ketukan halus di pintu, tanpa mendongah. Matanya menekuni layar laptop di hadapan. Pintu pelan terbuka. Dua orang wanita berjalan anggun menghampiri meja kerja sang wakil diektur II. “Maaf, Pak. Ini Mbak Desy sudah datang. Katanya Bapak sudah acc dia bekerja di sini untuk mengantikan posisi saya!” lapor sang sekretaris sopan. Raja mendongah. Menatap takjub seorang wanita cantik, muda dan teramat seksi, yang berdiri sambil tersenyum di depannya. Senyum wanita ini terlalu menggoda. Raja terkesima sesaat lamanya. “Maaf, Pak! Mulai besok, saya sudah bisa resign, kan?” Sang sekretaris bertanya. Raja masih terpana. “Maaf, Pak Raja!” “Oh, iya. Kamu bilang apa, tadi?” Raja tersadar. “Saya bilang, karena Mbak Desy sudah datang maka sayaa sudah bisa resign mulai besok. Boleh, kan, Pak?” “Oh, iya. Tapi, sebentar. Mbak sepupunya Fajar?” Desy mengangguk, senyum masih melekat di bibir sensualnya. “Tapi, maaf. Terakhir aku lihat foto kamu banyak ya, di efbi Fajar, mesra gitu. Sepupu, kok, mesra banget, ya? Klaian pacaran?” ”Bukanlah! Bapak ada ada aja, deh. Mas Fajar itu sudah sudha menikah. Besok malah mau bercerai.” “Apa?” “Iya, Pak. Mas Fajar itu sudah menikah, Alisya istrinya. Kerja di sini, juga, kan?” “Aap?” Raja tersentak berkali-kal. Ungkapan gadis cantik di depannya ini membuatnya sesak napas tiba-tiba. “Minum dulu, Pak! Bapak kaget banget sepertinya?” Tanpa canggung Desy menyerahkan gelas bertutup yang memang sudah tersedia di meja Raja. “Terima kasih!” Raja menerimanya, tetapi tersentak kaget lagi, karena tak sengaja menyentuh tangan Desy yang memegang gelas. Keduannya saling tatap. Rini, sang sekretaris lama, kebingungan. Tingkah ganjen Desy benar-benar membuatnya malu. “Eh, maaf!” Desy pura-pura menarik tangannya dari dari pegangan Raja. “Oh, iya, saya yang minta maaf!” Desy tersipu. Pura-pura tersipu lebih tepatnya. Raja adalah sasaran pertamanya. Langkah pertama untuk menghancurkan sakit hatinya pada Fajar , Alisya dan seluruh keluarganya. Perempuan ini sengaja mencari tempat menancapkan kaki tempat berpijak lebih dahulu, setelah tajinya kuat, baru pembalasan akan dimulai satu persatu, begitu rencananya. “Jadi, Alisya itu istri Fajar?” Raja kembali ke topik awal. “Lho, Bapak tidak tahu?” Desy balik bertanya. “Saya tahu dia sedang bermasalah dengan suaminya, tetapi gak tahu kalau suaminya itu adalah Fajar teman saya. Pernah saya bertanya. Karena saya ingat, saya pernah melihat dia dulu jaman kami masih kuliah. Tapi, Alisya mengelak. Fajar juga pernah bertemu Alisya di sini , di hari pertama Alisya bekerja. Tetapi, mereka berdua seolah-olah tidak saling kenal.” “Iya, jelaslah, Pak. Namanya juga lagi berantem.” “Ok, saya telpon Fajar dulu, ya?” “Buat apa. Pak?” Desy panik. “Lho, kamu datang ke sini atas rekomendasi dari dia, kan? Saya harus memastikan, dong!” “Mas Fajar sedang berduka, Pak. Sebaiknya jangan ganggu, deh! Alisya menggugat cerai dia! Besok sidang perdana! Pasti Mas Fajar merasa tergangu kalau Bapak telpon!” “Begitu, ya? Tapi kok bisa, ya. Fajar dan Alisya bercerai. Fajar dari dulu itu, orang baik, lho! Alisya juga sangat baik. Kok, bisa mereka bercerai? Alisya pernah menyinggung sedikit, sih, katanya gak masalah kalau hanya karena suaminya gak kerja. Masalahnya adalah, suaminya selingkuh! Kok, bisa ya, Fajar selingkuh? Padahal Alisya itu wanita yang sangat sempurna, lho!” Desy mencibir secara samar, Raja tak menyadarinya. Jelas Desy tak suka sang Bos memuji Alisya. Perempuan yang sangat dibencinya. ******
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua