Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
113. Ardho Sadar Itu Bukan Alisya
Bab 113. Ardho Sadar Dinda Bukan Alisya ========= Pria itu berdiri membeku di ambang pintu. “Alisya …!” panggilnya begitu sendu. Dinda mengulas senyum. Sudut bibir ditarik pelan, pelan sekali. Ardho terpana. Dinda mendekati pria yang masih membeku itu. Mata sayu Ardho masih tak berkedip. Wanita bergaun sof pink melangkah kian dekat. “Mas! Aku pulang, aku kangen banget. Kamu apa kabar?” Dinda berucap lirih. “Aku-aku baik, Alisya …!” “Alisya?” Dinda ikut menyebut nama itu. “Ops! Sory, Dinda. Dinda, kapan kamu datang?” gugup Ardho terbata-bata. Pria itu Melepas kaca mata yang bertengger di wajah, lalu berulangkali mengucek mata lelahnya, seolah-olah ada benda yang menempel di sana yang membuat dia salah lihat saja. “Baru saja, Mas. Aku kangen kamu. Dua minggu aku dan putri kita di rumah Mama. Sekalipun kamu tidak datang buat jenguk.” “Iya, maaf, aku sibuk banget.” “Masuk, yuk, Mas!” Dinda meraih tas kerja Ardho, lalu mengandeng pria itu masuk. Bagai kerbau yang dicucuk hidung, pria itu menurut saja. Tak biasanya dia seperti ini. Dulu, setiap Dinda mendekatinya saat pulang kerja, dia tak pernah menghiraukan. Tangan istrinya dia tepis dengan sopan, lalu melangakh sendiri masuk ke dalam, tanpa senyum, tanpa basa basi. Dinda hanya mengelus dada. Berpikir kalau suaminya mungkin sedang stress dengan kasus-kasus yang di tanganinya. Sekarang, Dinda baru tahu yang sebenarnya. “Mas Ardho mandi dulu, ya! Aku sudah siapin baju bersihnya!” Dinda melepas dasi dan kemeja Ardho. Sesekali tangan wanita itu tak sengaja menyentuh kulit leher pria itu. Timbulkan debaran yang tak dipahami oleh Ardho. Hari ini kenapa semua terasa berbeda. Belum pernah Dinda membukakan dasi pun kemejanya. Itu karena dia tak pernah mengizinkan juga tak pernah memberinya kesempatan. Ternyata diperlakukan seperti ini sangat nyaman. Begitu lembutnya tangan wanita ini, saat menyentuh kulit lehernya. Alisya, wanita impiannya kini begitu bebas menyentuhnya. Ini bukan bayangan. Ini nyata. Bahkan Ardho bisa merasakan embusan napas wanita itu, menerpa lembut kulit wajah dan lehernya, Begitu hangat, teramat wangi. Ciptakan debaran yang kian mendera di dada, timbulkan ingin yang liar, ya, liar. Hasrat ini sudah sangat lama terpendam, hasrat yang kian membakar, hasrat yang selama ini hanya dipendam, sesekali disalurkan dengan mencumbu bayangan. Bayangan Alisya, di raga istrinya. Tetapi, hari ini semua sudah nyata. Ini bukan bayangan. Alisya benar-benar ada di depan matanya. Tak perlu ditahan, tak perlu dipendam. Akan segera kutuntaskan. Pikiran itu berkecamuk di benaknya. “Alisya!” gumamnya kemudian seraya merengkuh erat tubuh Dinda. “Aku sangat merindukanmu!” bisiknya mulai menyentuh daun telinga wanita itu dengan bibirnya. “Alisya?” Dinda mengulang menyebut nama itu, sembari mendorong pelan tubuh suaminya menjauh. “Oh, maaf, Dinda!” Ardho tersadar. Wajahnya merah padam menahan gejolak yang terpaksa tertahan. “Mandilah, Mas! Biar segar! Kamu sepertinya capek banget, ya? Dari tadi ngigau terus! Kenapa? Perkara yang kamu tangani kali ini berat banget, ya? Sepertinya klient kamu terlalu menuntut. Oh, iya, Alisya itu klient kamu atau rival kamu, Mas?” Dinda berucap dengan nada tenang, begitu lembut. Nadanya dia atur sedemikian rupa, persis seperti cara bicara Alisya. Tenang, tak ada gejolak, namun begitu menggetarkan. Ardho menatap wajah istrinya. Pikirannya kembali mengembara. Kenapa Dinda begitu berubah. Kenapa dia begitu mirip dengan Alisya? Kenapa semua yang ada pada dirinya sekarang persis seperti Alisya? “Ya, sudah kalau tidak mau jawab. Sekarang mandi, ya!” Dinda tersenyum lembut. Ardho menurut. * Dinda melangkah ke ruang makan. Membuka lemari makanan di sudut ruangan, mengeluarkan berbagai wadah berisi makanan yang masih hangat. Semua makanan yang dia beli dengan system pesan lewat aplikasi itu dia tata di atas meja. Tak lupa sebuah lilin besar di dalam tatakan di letakkan di tengah meja. “Sempurna. Makan malam yang sangat romantis,” ucapnya pelan. Ardho berjalan menghampiri, rambutnya masih basah. Pria itu mengenakan pakaian tidur yang dipilihkan oleh Dinda tadi. Aroma maskulin menguar dari tubuhnya. Tak biasanya dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya bila di rumah. Entah mengaap dia melakukannya kali ini. “Hey, kita makan, ya!” ajak Dinda tersenyum hangat. “Kamu yang masak ini?” “Tidak, aku kan baru datang. Aku pesan, tapi enak kok! Yuk!” Dinda menyeretkan sebuah kursi, untuk di duduki oleh suaminya. Ardho menurut. Menerima piring yang disodorkan istrinya. Dia juga tak menolak saat Dinda mengisi piringnya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pelan lelaki itu menikmati makanannya. “Eh, maaf!” Dinda menyeka sudut bibir Ardho dengan jarinya. “Kenapa?” Ardho menangkap tangan perempuan itu. “Ada lumeran saos,” jawab Dinda pelan. “Terima kasih atas semua perhatian kamu, Dinda!” “Sudah kewajiban aku sebagai istri melayani dan memperhatikan kamu, kan, Mas?” “Hem.” “Makan lagi, ya! Habiskan makanannya!” Ardho melepas pegangannya. Makan malam itu berlalu dalam diam. Ardho tiada henti menatap wajah istrinya sambil menelan makanan. Mencoba mencari perubahan yang terjadi ini. Mencoba mengembalikan kewarasannya. Ya, Ardho merasa dirinya tak waras lagi saat ini. Bagaimana bisa dia melihat Dinda berubah menjadi Alisya. Bagaimana bisa Alisya ada di depannya saat ini. Sesaat kemudin dia tersadar. Wanita itu bukan Alisya. Dia adalah Dinda, wanita yang tidak pernah dianggapnya ada. Tetapi kenapa sekarang dia ada, begitu nyata menyerupai Alisya? “Mas, aku cuci dulu piringnya, ya!” Dinda membuyarkan lamunanya. “Hem!” Ardho bangkit, langsung berjalan menuju kamar utama. Membaringkan diri di sana, mencoba mengembalikan kesadarannya. “Itu bukan Alisya! Dia bukan Alisya! Kenapa dia pulang lagi ke rumah ini! Padahal aku sudah semakin dekat dengan Alisya! Semakin dekat. Tinggal menunggu hari yang tepat, Deva akan aku singkirkan. Alisya akan menangis meraung mencariku. Memintaku menyelidiki kasus kematian calon pengantinnya. Aku akan peluk dia secara nyata, bukan hanya bayangannya. Kurebahkan tubuh indahnya di dadaku, kukecup lembut wangi rambutnya, keningnya, lalu kujanjikan bahwa aku pasti akan mengungkap siapa pelakunya. Alisyaku akan mengucap terima kasih, matanya mengerjap, lalu kukecup pelan, begitu lembut. Saat kutunjukkan bukti rekaman bahwa Intan pernah hendak melenyapkan Deva, maka Alisya akan mengangapku sebagai pahlawannya. Alisyaku akan bertekuk lutut padaku. Aku yang selalu menyelesaikan semua kasusnya. Aku yang selalu ada setiap dia membutuhkannya. Wanita itu akan menjadi milikku selamanya. Selamanya. “Mas, udah mau tidur?” Dinda menghampirinya. “Hem. Aku capek.” Ardho yang merasa terganggu karena hayalannya terputus, langsung membalikkan badan. Kini dia menghadap ke arah dinding. Dinda tetap bersabar. Menyalakan ponsel miliknya, memesan sebuah taksi melalui aplikasi. Dinda akan pulang ke rumah mamanya sesaat lagi. Pesanan terkirim. Kini wanita itu menekan perekam suara, meletakkannya di atas nakas. lalu merebahkan diri di samping suaminya. Menatapi punggung lelaki itu penuh kebencian. ****** Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua