Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
105. Fitting Baju Pengantin Raja Yang Mewakili
Bab 105. Fitting Baju Pengantin, Deva Digantikan oleh Raja ====== “Selamat pagi!” Intan berhenti di meja resepsionis. “Pagi, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?” Sang Resepsionis menjawab ramah. “Saya Intan, mahasiswa magang di kantor ini. Rekomendasi dan Pak Raja, ruangan Pak Raja di mana, ya?” “Oh, Mbak mau gantiin Mbak Rini, ya? Sekretaris Pak Raja yang udha lama ngajuin resign?” “Masalah itu saya kurang tahu, Mbak. Saya hanay disuruh Pak Raja datang ke sini hari ini.” “Ya, silahkan naik lif saja ke lantai tiga, ya, Mbak!” “Baik, terima kasih banyak, Mbak!” “Sama-sama. Selamat bergabung!” Intan mengulas senyum, lalu berjalan menuju lif. Menekan tombol nomor tiga, perempuan itu masih sibuk dengan rencana dan cita-citanya. Ada rasa sakit yang tiada henti menusuk ulu hati, perih tak terperi. Bayangan Raja yang begitu dingin menatapnya sekilas saat di meja makan tadi, masih terbayang jelas. Dia yang sudah berdandan begitu sempurnanya, hanya untuk menunjukkan kecantikannya di depan pria itu. Hanya itu tujuannya. Agar Raja tak ragu memalingkan hatinya dari Alisya yang jelas-jelas tak mungkin lagi diraih oleh sang pria. Nyatanya, mata teduh pria itu tetap tertuju pada Alisya. Tak berkedip memandang setiap inci wajah mantan kakak iparnya itu. Tatapan takjub penuh kerinduan tetap saja terpancar dari sorot mata pria itu setiap menatap Alisya. Padahal jelas Alisya adalah calon istri saudara kandungnya. Kenapa? Tak bisakah Raja berpaling dari wajah Alisya? Kenapa tidak menatapku sekali saja, agar dia tahu betapa cantiknya aku pagi ini, untuknya. Ya, untuk Mas Raja. Saat Kak Alisya memancing agar pria itu melihat ke arahku, Mas Raja memang menoleh, menatapku, tetapi hanya sekilas. Kenapa? Tidakkah dia sadar aku begitu sempurna untuk tempat melabuhkan hatinya yang sedang tersesat? Kenapa dia tetap membiarkan hatinya terlunta-lunta setelah dia tak mampu menggapai hati Kak Alisya. Kenapa dia ettap memuja wanita itu, meski tak akn bisa memiliki? Kenapa dia tetap merindu janda itu, padahal ada aku di sini yang jelas masih perawan. Kenapa? Magnet apa yang dimiliki Kak Alisya, sehingga semua pria menyukainya? Apa istimewa Kak Alisya, sehingga para pria berlomba memetiknya. Mas Fajar …. Kenapa kau begitu bodoh telah melepas wanita sempurnamu itu? Kenapa kau begitu bodoh, Mas? Dulu, kau cepat-cepat menikahinya, karena kau bilang khawatir Kak Alisya diambil orang. Kak Alisya yang begitu polos mau dan percaya sepenuhnya akan cintamu. Tetapi, setelah berhasil mendapatkannya, kau menyakitinya tiada henti. Kau pikir dia yang telah kau miliki seutuhnya tak mungkin bisa berpaling lagi, begitu? LIhat, Mas! Karena ulahmu kini Kak Alisya menjadi penghalang bagiku. Dia tampil sebagai rivalku. Dia menjadi penghalangku meraih impianku. Mas Fajar, kau penyebabnya. Andai kau tetap menjadi suaminya, tak mungkin dia dipuja dan dirindukan oleh para pria di luar sana. Tapi, karena status janda yang disandangnya, mereka berlomba untuk menggapai hatinya. Semua, Mas! Semuanya! Aku diabaikan, aku tak berarti apa-apa. Aku tak dianggap sedikitpun juga. “Mbak! Lantai tiga! Gak jadi di sini?” Seorang pengguna lif mengagetkan Intan. Lamunan panjangnya terhenti seketika. “Oh, iya. Terima kasih!”
Gadis itu berjalan ke luar, menyapu seluruh ruangan dengan netra, menganggukkan kepala kepada setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Intan menayankan ruangan Raja Wibawa kepada salah satu karyawan, Intan langsung berjalan ke arah yang ditunjuk. “Hey! Intan, kan?” Rini menyambutnya. “Iya, kok, tahu? Mbak siapa?” “Kenalin saya Rini, sekretaris Pak Raja. Pak Raja nelpon saya, katanya kamu masuk mulai hari ini. Aku senang banget, artinya usulan resign aku akan di acc sebentar lagi.” “Oh, Mbak Rini mau resign?” “Iya, aku udah nikah, baru aja. Suamiku ngalarang aku kerja, udah lama, sih, aku ngajuin resign. Sebelum nikah juga, agar begitu mau nikah aku udah bebas. Tapi, gak diizinin sama Pak Raja kalau belum ada ganti aku. Untung suami aku pengertian, dan sabar menunggu.” “Oh, begitu. Baik banget suami Mbak.” “Hehehe …. Kita langsung aja, ya?” “Maksudnya? Kan pak Raja belum masuk kantor? Saya akan menunggunya masuk dulu, kan?” “Pesan beliau, Mbak langsung aku bimbing saja, gak usah nunggu dia!” “Oh, begitu. Ok. Tapi, jam sepuluh nanti aku izin keluar, ya! Ada yang penting, urusan kuliah, sih. Gak lama, paling sejam.” “Iya, kantor akan maklum, mahasiswa magang memang begitu. Sibuk di kampus juga, kan? Itu biasa.” “Makasih, Mbak Rini.” “Kita mulai, ya!” “Baik.” **** Mobil yang dikendalikan Raja menepi di halaman sebuah gedung bertingkat. Alisya belum pernah tahu tempat itu. Netranya menangkap tulisan elegan di wajah gedung megah itu. Nama seorang designer terkenal. Orang yang belum pernah bertemu dengannya, namun namanya tak asing di telinga. “Mas, ini gak salah?” Alisya mengernyit. “Salah kenapa?” Raja mematikan mesin mobil. “Itu?” tunjuk Alisya pada gedung. “Kenapa? Salahnya di mana? Kamu gak mau di sini? Dia itu langganan Mama. Mama rekomendasikan kita ke sini. Kamy enggak suka?” “Bukan begitu. Tapi, ini terlalu mewah, kan? Aku itu biasanya di pegang penjahit yang di kios-kios, gitu, Mas. Aku gak pede di pegang oleh seorang designer terkenal gitu, Mas.” “Sya! Gak apa-apa, lho! Pede aja, ya! Sama aja dengan penjahit di pinggir jalan itu, gak beda. Yang beda hanya iklannya. Satu iklannya di telivisi, media sosial, event-event dan sebagainya. Yang satu lagi, gak pake iklan. Padahal hasilnya mungkin sama saja!” “Ya, udah, aku jahit di kios langgananku aja. Murah lagi.” “Kamu bisa protes begini karena aku bukan Mas Deva, kan?” “Maksudnya?” “Coba kamu ke sininya dengan Mas Deva, pasti kamu tidak berani protes begini, kan? Kamu pasti nurut, gak bantah, enggeh, Mas! Gitu, kan?” Alisya tercekat. “Kamu pasti cinta banget sama Mas Deva, Sya.” Raja menatap tepat ke manik-manik mata Alisya. Alisya terdiam. “Aku bangga, akhirnya kakakku dicintai oleh seorang wanita yang begitu dicintainya juga. Kalian memang serasi. Aku sangat senang. Mengenai sifat otoriter Mas Deva, semoga kamu bisa menerimanya! Tak ada manusia yang sempurna, bukan? Anggap saja sifat angkuh dan otoriter Mas Deva sebagai kekurangannya! Kau yang harus bertindak menyempurnakannya.” “Mas Raja baik banget!” “Lho, kok malah memuji aku?” “Ya, aku salut banget dengan rasa persudaraan di antara kalian berdua. Jujur, sebenarnya yang berjiwa baik itu justru Mas Raja. Mas Raja juga begitu sempurna sebagai pria, sempurna sebgaai adik, sempurna sebagai saudara kandung.” “Lho, kok kamu jadi muji-muji aku seperti ini?” “Aku gak muji, ini memang kenyataan yang aku lihat pada diri Mas Raja. Mas Raja bisa mengalah pada Mas Deva. Bahkan berjuang demi hubungan kami. Itu saja sudah hebat banget.” ****** Bersambung, ya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua