logo text

Bab 66 Berita Gembira

Khairi yang bertubuh idealis dan tinggi, berjalan dengan gagah ke arah restoran di hotel bintang lima. Setelan jas hitam yang dipakai sangat membuat tubuhnya terlihat begitu menawan. Punggungnya yang bidang membuat wanita-wanita elit yang berada di restoran itu melirik dan terpana dengan lelaki berwajah manis itu.
Lelaki itu telah berjanji untuk bertemu dengan Tuan Rizaldi di suatu tempat, asal jangan di kantor. Malam ini, baru setengah jam landing dari perjalanan Medan – Kuala Lumpur, dia langsung menjumpai Tuan Rizaldi. Walaupun dia mengendarai helicopter yang notabene langsung jemput di lokasi, tapi dia merasa tak sabar untuk bertemu dengan Tuan Rizaldi, segera.
Tuan Rizaldi menyanggupi hal itu, padahal sudah jam 23.00 waktu Kuala Lumpur, karena Khairi mengatakan berita yang akan disampaikan sangatlah penting.
Khairi mencari keberadaan Tuannya di dalam restoran itu. Mencari dengan kedua mata yang tajam. Akhirnya Khairi menemukan Tuan Rizaldi duduk di sudut ruangan. Meja yang disediakan hanya khusus untuk dua. Meja itu sedikit tertutup dari pandangan orang lain.
Khairi berjalan menuju Tuan Rizaldi. Senyum manis telah ditebar dari kejauhan sampai lelaki itu mendekati kursi yang diduduki oleh pria tua.
“Selamat malam, Tuan. Sehat ya, Tuan?” sapa Khairi kepada Tuan Rizaldi.
Pria tua itu tersenyum kepada Kepala Divisi Keamanan di perusahaannya. “Alhamdulillah Khairi. Silahkan duduk.” Tuan Rizaldi tak bangkit dari duduk ketika mempersilahkan Khairi, “Kamu harus mempunyai berita yang sangat bagus, karena sudah menyebabkan orang setua seperti saye ini keluar di malam hari.” Tuan Rizaldi menatap dan tersenyum kepada Khairi.
Khairi hanya tersenyum manis, kemudian duduk di kursi, bersebrangan dengan Tuan Rizaldi. Lelaki ini memang memiliki senyum yang sangat manis. Semua orang akan terpana dengan senyumannya.
“Apa yang ingin kamu ceritakan ke saye,” tanya Tuan Rizaldi tak sabar.
“Maaf, saye boleh minum Tuan?” Khairi meminta dengan sopan.
“Ah… ternyata awak tu kehausan. Silahkan… silahkan.” Tuan Rizaldi meladeni keinginan dari lelaki di hadapannya.
Khairi mengambil botol yang sudah disediakan, lalu menuangkan minuman ke gelas yang mempunyai kaki tunggal untuk menyanggah gelas itu. Meletakkan botol berisi air putih ke tempat semula setelah mengisi setengah air ke dalam gelas. Lelaki itu mendekatkan gelas ke bibir dan minum beberapa teguk. Gerakannya begitu teratur dan sopan dan… jantan.
“Bagaimana? Awak tu tak haus lagi kan?” tanya Tuan Rizaldi dengan rasa tak sabar yang berkecamuk di hati.
Khairi tertawa. Kemudian dia mengambil handphone. Membuka satu aplikasi foto. Membuka satu foto dan menunjukkan foto di handphone kepada Tuan Rizaldi. Handphone diletakkan di atas meja agar Tuannya melihat lebih jelas. “Tuan masih mengenali pemuda yang di sebelah saye, tak?”
Tuan Rizaldi dengan cepat mengeluarkan kacamata di saku jas. Terpaksa harus dilakukan karena matanya sudah tak jelas lagi jika melihat benda terlalu dekat dengan dirinya.
Tuan Rizaldi mengamati dua orang yang ada di foto. Dua lelaki yang memakai baju serba hitam. Di sebelah kanan itu adalah foto Khairi. Terlihat sangat jelas. Tentu saja pria tua itu sangat mengenali. Tapi yang di sebelah kiri, pria tua itu harus memperhatikan agak lama karena laki-laki itu memakai topi. Topi berwarna hitam itu sedikit menutupi wajah bagian atas.
“Bagaimana, Tuan?” pancing Khairi sambil mengulas senyum kecil.
Tiba-tiba Tuan Rizaldi terkesiap. “Ya Allah… apakah… apakah… ini mungkin.”
Khairi hanya diam melihat pria tua di hadapannya berbicara dengan tergagap.
“Raka! Apakah ini Raka?!” Tuan Rizaldi melototkan kedua mata kepada Khairi.
Khairi dengan pelan mengangguk. Senyum tetap terulas di bibir.
“Ya Allah… Ya Tuhan yang Maha Kuasa. Benarkah ini Raka, Khairi?” Kedua mata pria tua itu berkaca-kaca.
“Benar Tuan. Beberapa jam yang lalu saya telah bertemu Raka. Dan ini buktinya.” Khairi menjawab dengan sopan. Dia bisa merasakan kebahagiaan dari pria tua itu.
Ketika akan berpisah, Khairi sengaja mengambil foto dirinya dan Raka untuk ditunjuk kepada ayah Tuan Mudanya. Raka berpesan kembali hanya ditunjukkan kepada ayahnya saja, tidak ke orang lain.
“Ya Allah… Ya Allah… Alhamdulillah,” lirih pria tua itu pelan. Dia memegang handphone dengan tangan gemetar. Akhirnya air mata menetes di pipi. Dia terus memandangi handphone yang dipegang.
Khairi membiarkan momen yang penuh haru itu.
“Ternyata benar feeling saye. Sebagai seorang ayah, saye tau, anak saye masih hidup.” Tuan Rizaldi menangis dan mengeluarkan suara parau. Air mata dibiarkan membasahi pipi.
Khairi hanya menatap pria tua itu dengan wajah sendu.
“Bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Raka?” tanya Tuan Rizaldi. Dia mengelap air mata yang jatuh dan berusaha menetralkan emosi.
Lelaki berwajah manis mulai bercerita kepada Tuan Rizaldi tentang apa yang terjadi. Hal yang terjadi karena takdir Allah. Dari awal ketika bawahannya mengirimkan kertas kuning. Kemudian menelpon nomor yang tertera di kertas kuning sampai akhirnya cerita bertemu dengan Raka di Tanjung Leidong. Tentu saja Khairi bercerita secara detail mengenai tragedi malam di kapal pesiar yang dialami Raka beberapa tahun lalu.
“Ya Allah… Raka,” lirih Tuan Rizaldi ketika mendengar semua cerita dari Khairi secara detail.
“Pesan Tuan Muda, dia ingin hal ini dirahasiakan. Alasan pertama karena dia menyuruh saya untuk menyelidiki tentang kejadian yang menimpa dirinya di kapal pesiar. Karena itulah dia tak mengizinkan siapapun tahu mengenai kondisinya saat ini. Dan alasan kedua, dia akan kembali dengan mengejutkan semua orang pada saat yang tepat” Khairi berkata dengan nada yang lugas. “Dan saya memohon izin kepada Tuan untuk menugaskan saya sesuai perintah Tuan Muda. Apakah Tuan mengizinkan?” tanya Khairi dengan Bahasa yang tegas.
“Tentu saja saye mengizinkan,” jawab Tuan Rizaldi bernada geram.
“Yang ketiga, Tuan Muda belum mau kembali dalam waktu dekat ini, Tuan.” Khairi berujar.
“Why?”
“Kata Tuan Muda, ada beberapa hal yang harus diselesaikan di Tanjung Leidong. Dia akan kembali, tapi tidak secepat mungkin.”
Tuan Rizaldi terdiam sejenak. Melihat handphone yang masih berada di tangan. “Oke. Sebelum Raka kembali, kamu harus cepat mengungkap kasus yang menimpa Raka. Siapa dalang dari semua ini. Saya tugaskan kamu untuk menyelidiki kasus Raka”
“Siap, Tuan.”
“Apakah Raka baik-baik saja di sana, Khairi?” tanya Tuan Rizaldi dengan wajah sendu.
“Tuan Muda baik, Tuan. Seperti yang saya ceritakan tadi, Tuan Muda merasa tenang dan aman tinggal di Tanjung Leidong. Katanya, dia banyak mendapatkan pelajaran hidup selama dua tahun setengah terdampar di negri orang.”
“Ya Allah, Engkau Maha Baik. Telah Engkau selamatkan anakku satu-satunya.,” lirih Tuan Rizaldi. Perlahan diletakkan handphone di atas meja.
Khairi kembali terdiam ketika melihat pria tua yang sudah puluhan tahun, dirinya mengabdi kepadanya. Memang benar, Allah Maha Baik. Begitu juga dengan dirinya yang mendapat kehidupan lebih baik ketika diambil oleh istri pria tua ini. Ibu Kandung Raka sudah menjadi seperti kakak kandungnya dan Tuan Rizaldi juga memperlakukan dengan baik ketika Khairi masuk ke keluarga mereka.
***
 
 

Komentar Buku (49)

  • avatar
    ManisIda

    sungguh menyenangkan membaca nya , ada suka dan duka , di alur ceritanya sehingga ikut terbawa ke dalam cerita

    02/01/2022

      0
  • avatar
    karismaaprasasti

    bagus

    24/06/2025

      0
  • avatar
    NazirahIffah

    hebat

    04/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru