~Pagi Hari di Kantor~ “I don’t want this shit happen again someday. Jangan sampai saya menunggu terlalu lama. Kamu yang harus menunggu, bukan saya. Saya bos kamu. Kamu pekerja. Did you get it?” Seorang gadis mengomel panjang kepada supirnya yang ada di depan. “Ya Nona,” jawab supir yang sudah beruban itu dengan menundukkan kepala. “Menyusahkan saja. Jika tidak mampu lagi bekerja, silahkan berhenti. Masih banyak yang mau bekerja!” bentak gadis yang berpenampilan sangat cantik. Dia keluar dengan cepat dari sedan mewah miliknya dan membanting pintu dengan sangat keras. Di belakangnya terlihat seorang gadis yang memakai baju kantoran mengejarnya setelah keluar dari mobil yang sama. Mengikuti langkah kaki gadis tadi yang membanting pintu. Gadis yang menjabat sebagai asisten mengikuti dari belakang. “Cari kandidat baru untuk menggantikan supir yang sudah tua bangka itu, Siska. Sekali lagi orang tua itu membuat kesalahan, berhentikan dia!” omel gadis yang memakai barang mewah yang melekat di seluruh tubuhnya. Dari kaki hingga ujung kepala. Gadis berkulit putih dan memiliki wajah yang cantik berjalan dengan cepat diikuti oleh asistennya. Setiap orang yang berpas-pasan di hadapan atau di depannya, langsung menyingkir dan menghindar jauh dari jalan yang dilalui. Menuju pintu utama kantor yang berputar. Tidak memperdulikan semua orang yang menundukkan punggung mereka ketika melewatinya. Dia langsung menuju lift utama agar bisa menuju ruangannya dengan cepat. Sang asisten yaitu gadis berkaca mata terus mengikuti dan mengimbangi langkah kaki atasan dengan cepat. Ketika sudah memasuki lift -mereka hanya berdua di dalam lift- gadis bertubuh semampai itu berkata kepada asistennya yang telah menekan satu tombol dan berdiri di belakang. “Hari ini saya mau sarapan Toast Bread and Coffe Latte. Seperti biasa.” Gadis itu tak memandang ke arah asistennya yang berada di belakangnya. “Jangan salah Siska, jika salah lagi. Saya akan menyiramkan kopi itu ke wajah kamu.” Dia seakan berbicara dengan dinding lift yang sedang beroperasi menuju lantai atas. Tak ingin melihat wajah asistennya. Gadis berkaca mata yang bernama Siska dengan cepat mencatat pesanan untuk sarapan atasannya dan berkata, “Baik Nona.” Ting. Pintu lift terbuka. Gadis itu langsung mengambil arah ke kanan menuju ruangannya. Sedangkan asistennya menuju ke kiri langsung ke arah pantry, menyiapkan sarapan untuk atasannya. *** “Hari ini Non Fona ada meeting dengan client yang ingin memakai jasa desain baju kita. Pemilik dari Bridal salon ternama di Kuala Lumpur ini.” Gadis berkaca mata yang berdiri di samping atasannya menjelaskan dengan suara lembut. “Client kita akan segera datang, pukul 8.30 pagi ini Non,” lanjutnya. “Oke. After that, what is my schedule?” Gadis yang sedang duduk di kursi empuknya bertanya dengan wajah angkuh. Tak ada senyum yang menghiasi wajah. “Makan siang di rumah, Non. Karena Nyonya… Ibu Nona Fona sudah mengundang Nona Miranda dan Tuan Jovan untuk makan bersama di rumah,” jelas Siska kembali. “Ouh, Right. I will be there on time,” nyatanya. “Baik, kalau begitu saya akan menunggu client kita, pemilik Bridal Salon di lobi utama gedung Non. Permisi.” Siska menundukkan sedikit punggungnya dan berjalan ke pintu keluar. Gadis yang bernama Fona mengangguk dan melirik ke arah asistennya yang sedang berjalan membelakanginya. “Oh My God. Siskaaa…!” teriak gadis yang berparas cantik itu. Siska terkejut, langsung menoleh ke arah atasannya. “Ada apa, Nona?” “What are you wearing? Ini bukan kantor kemiliteran. Baju yang kamu pakai seperti pekerja di kemiliteran. Terlalu kaku.” Nyata Nona Fona dengan keras. Siska memandangi bajunya. Apakah ada yang salah? Dia memakai baju kantor yang menyatu antara baju dan bawahannya. Berwarna hitam dengan tali pinggang sebagai aksesoris berwarna coklat tersemat di pinggang. Pakaiannya ketat dan menunjukkan bentuk lekuk tubuh. Apa yang salah? Pikirnya. “Kamu ganti baju kamu sekarang sebelum ketemu dengan client saya. Pakai dress yang bagus. Saya tidak tahu bagaimana caranya, kamu harus ganti pakaian kamu secepatnya.” Nona Fona telah berdiri ketika melontarkan kalimat perintah itu. Siska mengangguk dengan cepat. Dia langsung keluar ruangan. Hal ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Sudah berapa kali terjadi dan Siska telah mempunyai baju cadangan di lokernya jika itu akan terjadi lagi. Dan akhirnya kembali terjadi. Nona Fona sering tidak suka dengan baju yang dipakainya. Karena itulah dia telah mensiasati dengan menyiapkan beberapa baju di lokernya. Gadis yang berwajah cantik dan berpenampilan menarik ketika orang memandangnya pertama sekali, akan hilang pendapat mereka mengenai kecantikan dan hal yang menarik dari dirinya karena karakter yang dimiliki. Kasar, angkuh, sombong dan suka merendahkan orang lain. *** “Syukur saja kamu tidak mengganggu my meeting with my client. Jika mereka terganggu karena pakaianmu yang tidak modis tadi, maka hidupmu akan hancur saya buat Siska.” Nona Fona membanting tas kecil di sofa ruang kerjanya. “Hati saya senang karena client itu memberikan project to me. Jika tidak, saya pasti memecat kamu,” lanjutnya lagi dengan omelan yang pedas kepada asistennya yang sudah berdiri di samping meja kerja. Fona menghempaskan pantatnya ke kursi empuk berwarna merah. “Kamu kenapa sih… apa enggak cukup gaji kamu yang perusahaan ini berikan agar bisa membeli baju yang bagus dan modis? Kita ini perusahaan desainer yang ternama. Masa’ pekerjanya memakai baju yang kolot.” Amarahnya kembali memuncak. Kedua matanya yang tajam semakin terlihat tajam dan melotot ke arah Siska. Asisten Fona yang sudah berdiri hampir di sampingnya, tertunduk kaku. Diam seribu bahasa, tak berani membantah. “Jawab Siska…! Apa tidak cukup gaji di perusahaan ini untuk membuat kamu membeli baju bagus dan bermerk?” tanyanya kembali dengan suara keras. “Eeeee… cukup Nona. Tapi…?” “Tapi apa?” Potong Mona denga cepat. Siska terdiam. Dia tak ingin berbicara lagi. Alasannya juga tidak akan membuatnya benar. Dia tahu sekali karakter atasannya seperti apa. Sudah tiga tahun dia bekerja dengan gadis yang pemarah ini. Ingin rasanya keluar dari pekerjaan ini tapi dia tak berani berjuang karena uang yang didapat di sini lumayan untuk keluarganya di kampung. “Look… look at you, right now. Kamu bisa terlihat lebih modis dengan baju ini,” ujar Fona. Dia menunjuk ke arah asistennya yang memakai midi dress korea. Baju yang bersambung antara bagian atas dan bawah, di tengahnya terlihat tali pinggang tersemat dengan rapi. Dress yang digunakan terlihat bermode trendi. Dress seperti baju handuk yang dimodifikasi untuk dibawa kerja. Bagian kiri membungkus tubuh langsung ke bagian kanan dan begitu juga bagian sebaliknya. Ditambah lagi dengan warna bahan kain yang keren, trend masa kini yaitu warna peach. Siska masih terdiam dan tertunduk. Dia menahan air mata yang akan keluar. Atasannya ini setiap hari menjadi cobaan hidupnya di dalam pekerjaan yang dilakoninya saat ini. Tapi dia berusaha sabar untuk menjalani pekerjaan yang ditekuninya sekarang. “Alright, kamu stay saja di kantor. Saya harus pulang karena berjanji makan siang dengan orang tua saya di rumah.” Fona bangkit dari duduknya. Lalu mengambil tas yang dilemparnya tadi. Berjalan menuju pintu keluar. Tapi… tiba-tiba berbalik dan berkata,”Siska, don’t make a mistake again. Remember that!” Siska menoleh ke arah gadis yang memanggilnya, gadis anak konglomerat yang memiliki banyak perusahaan dan salah satunya dipegang oleh Fona. Siska melihat kepergian dari atasannya yang cantik tapi seakan tak mempunyai hati. Angkuh, kasar, tak akan pernah menyadari betapa banyak orang-orang sekitar yang tersakiti oleh ucapannya. Akhirnya Siska terduduk di sofa dan mengeluarkan air mata yang ditahannya sedari tadi. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (49)
ManisIda
sungguh menyenangkan membaca nya , ada suka dan duka , di alur ceritanya sehingga ikut terbawa ke dalam cerita
sungguh menyenangkan membaca nya , ada suka dan duka , di alur ceritanya sehingga ikut terbawa ke dalam cerita
02/01/2022
0bagus
24/06/2025
0hebat
04/04/2025
0Lihat Semua