GUNDIK SUAMIKU Part 7 "Sini ikut saya! Dasar penyusup!" Tarikan keras di lengan kananku membuatku terhenyak kaget. Sekilas, ekor mataku melihat ke arah ruangan tempat Mas Ari hendak melangsungkan acara ijab kabul. Mereka semua yang ada di dalam melihat ke arah sini. Beruntung, dua orang satpam tadi langsung menyeretku menjauh dari depan pintu tempat aku menguping. Sengaja aku menurut saja, kala dua satpam berseragam lengkap ini membawaku entah ke mana. Ya, karena untuk menghindari Mas Ari melihat apa yang sedang terjadi di luar. Mungkin aku gagal untuk menggagalkan pernikahan Mas Ari, tapi biarlah. Setidaknya aku tidak tertangkap basah oleh mereka. "Ikut saya ke kantor!" Salah satu satpam mengomel sembari memeganggi tanganku. "Nggak usah narik-narik! Saya bisa jalan sendiri." ketusku tak terima. Lagian, kenapa mereka bisa tahu kalau aku sedang menguping di situ? Batinku heran. Ah, iya. Mungkin ada rekaman CCTV. Jadi, mereka bisa tahu kalau tingkahku terlihat mencurigakan. Sial, benar-benar sial nasibku hari ini. Sepanjang perjalanan. Tak merenggang sedikitpun kedua tangan kekar satpam ini berkacak di lenganku. Mereka mungkin berpikir aku akan melarikan diri. Tapi, tidak akan pernah aku berbuat hal seperti itu. Pasti semua bisa diselesaikan dengan baik, dan mudah. Tanpa aku harus menjadi bulan-bulanan hotel prodeo terlebih dulu. Karena pasti bukti di CCTV mengarah padaku, meskipun aku tidak berbuat kriminal. Tetapi, tindakanku tadi seoalah bagai penyusup. Semua pasang mata yang berlalu lalang di sepanjang lorong. Tak hentinya mereka memandang heran ke arahku. Seolah mengintimidasi. Sesekali mereka berbisik dengan raut wajah mencemooh. Aku maklum, begitulah manusia, apa yang mereka lihat. Belum tentu benar adanya. Seperti keadaanku sekang. Mereka yang melihat, mungkin mengira aku adalah penjahat. Tapi, itu semua tidak benar. Aku hanya mencari tahu kebenaran soal Mas Ari, Pak Slamet dan Marisa. Eh, aku malah tertangkap. Apes. Akhirnya, setelah melintasi pasang mata yang menyorot tajam tadi. Aku dibawa dua satpam ini ke suatu ruangan. "Duduk!" titah salah satu dari mereka. Gegas kudaratkan bokong di kursi dengan perasaan campur aduk. Antara takut ketahuan oleh Mas Ari atau aku akan mendapat masalah lainnya lagi. Dua orang satpam yang menyeretku tadi berdiri di belakangku. Sedangkan satu satpam lagi duduk di depanku. Kutafsirkan yang duduk di depanku terperantarai meja, adalah kepala satpam di sini. Pikirku. "Saya telah memantau Anda dari rekaman CCTV di depan ruang Melati nomor 13." kata kepala satpam dari balik masker scuba berwarna hitam yang ia kenakan. Kedua manik matanya membidikku tajam. Seolah aku tersangka yang hendak dieksekusi. Dari sorot matanya, ia terlihat garang dan sadis. Mendadak kutelan saliva yang mengganjal di tenggorokan dengan susah payah. Aku terdiam. Sesekali menarik napas pelan untuk mengusir rasa canggungku. "Jawab! Anda sedang apa berada di ruang Melati tadi? Jawab jujur!" tekannya, sambil menata kedua sudut lengan tangan di atas meja. "Saya nggak berbuat apa-apa, saya hanya sedang mencari suami saya," kataku datar. Kubalas tatapannya lamat. Aku tidak takut akan hal apa pun, apa lagi soal kebenaran. "Bohong! Jelas-jelas rekaman CCTV ini menggambarkan adegan di mana Anda sedang menggendap-endap dengan gerak-gerik mencurigakan." selorohnya setengah membentak. Lalu, jemari tangannya mengulur ke benda elektronik di depannya. "Lihat!" titahnya padaku. Agar aku melihat layar monitor yang sedang menunjukan gambar di mana aku tengah berada di sekitar ruang inap ibunya Marisa. Kuhela napas panjang. Lalu menghunuskan ke udara. Mensejajarkan posisi duduk, kemudian beralih menatap kepala satpam itu dalam. "Iya, benar. Itu saya, saya sedang menguping pembicaraan suami saya, karena di dalam ruangan itu, suami saya akan melangsungkan acara ijab kabul, oleh karena itu saya hendak menggagalkan acara pernikahannya tadi. Bayangkan, jika seorang suami menikah diam-diam tanpa seizin istri, atau tanpa menceraikan istri sah terlebih dulu, apa itu tidak menyakitkan?" jelasku panjang lebar. Tak terasa, setitik air bening mencelos dari sudut mataku. Lelaki di depanku tertegun sejenak. Setelahnya ia menyandarkan punggung di kursi. "Kalian ke luarlah dulu," pintanya pada dua satpam yang tadi berdiri di belakangku. "Siap, Ndan!" sahut mereka berdua serentak. Lalu mereka beringsut ke luar dari ruangan tanpa menutup pintu terlebih dulu. "Anda tidak sedang menjual air mata 'kan? Agar lolos dari masalah ini?" tiba-tiba pria di depanku mengatakan hal itu. Suaranya terdengar meragugkan penjelasan yang aku berikan. Aku yang tadi tertunduk lantas mendongak dan menyeka pelupuk mata yang masih basah. Dia ini menjengkelkan, bukankah sudah kujelaskan dengan jujur, bahwa aku hanya ingin menggagalkan acara pernikahan suamiku. Tapi, tuduhan satpam ini sungguh membuatku muntap. "Hah! Tuduhan macam apa ini? Anda bilang saya menjual air mata?" aku tersenyum miring di balik masker. "Memang benar 'kan? Dugaan saya, bahwa Anda itu penyusup, dan bersiaplah untuk dibawa ke kantor polisi." tukasnya sengit. "Nggak! Saya nggak mau dibawa ke kantor polisi! Karena saya tidak salah akan hal ini. Kan sudah saya katakan dengan jujur, bahwa saya hanya ingin menggagalkan pernikahan suami saya. Sebenarnya Anda ini bisa mencerna omongan saya apa tidak sih?!" pekikku tak terima. Jelas saja aku tak terima dengan tuduhan yang ia lontarkan. Karena memang aku tidak melakukan kesalahan yang merugikan rumah sakit ini. Derit langkah sepatu berdecit di lantai. Suara langkah itu semakin mendekat ke arah ruangan ini. "Permisi ...." suara lelaki yang tak asing di telinga. "Masuk!" pinta kepala satpam pada pria yang tengah melongokan kepalanya di daun pintu. Tulangku langsung mendadak lunglai. Kala pria itu masuk dan berdiri di sampingku. "Ada keperluan apa, Pak? Anda ke sini?" tanya satpam pada lelaki yang menjadi biang atas kelakuanku selama ini. Siapa lagi kalau bukan Mas Ari. Bisa-bisanya dia ke ruangan ini untuk mencari tahu. Bisa-bisa aku ketahuan kalau dia ikut megintimidasi. "Saya hanya ingin memastikan, atas kegaduhan di depan ruang Melati tadi." jelas Mas Ari menatapku intens. Bibirku yang bergetar di balik masker. Kugigit kuat-kuat, dengan rasa was-was yang tak terdiskripsikan lagi. "Silakan duduk dulu, Pak." Satpam menunjuk kursi kosong di sebelahku. Agak jauh letaknya, sekitar satu meter. Padahal ada bangku yang kosong tepat di samping kiriku. "Pak, masalah ini biar pihak rumah sakit yang selesaikan. Bapak silakan tunggu di luar saja, biar saya yang menyelesaikan semuanya." tukas satpam ini cepat. Seolah menutupi sesuatu tentangku. "Ya nggak bisa gitu dong! Saya hanya ingin tahu, siapa wanita yang sudah berani-beraninya menguntiti kegiatan saya." Mas Ari berdiri dan berkata dengan nada suara meninggi. "buka maskermu!" jemari telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. Duh, gawat! Gimana kalau Mas Ari nekat ingin membuka maskerku? Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettttt
17/03/2025
0best books
01/10/2024
0menghibur
17/09/2024
0Lihat Semua