Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku Bab 59 Aku reflek menyentuh pelipis ini. Jika Panji sudah dibawa ke luar negeri. Itu artinya aku telah gagal menyingkap kebusukan yang selama ini mengancam keluarga Panji. "Kalau ada hal yang ingin disampaikan, bisa bilang ke saya Mbak." Ibu-ibu yang sepertinya asisten rumah tangga Panji itu membuatku lekas menatapnya. "Nggak ada, Bu. Terimakasih ya, saya permisi dulu." Aku berpamitan. Namun langkah ini terhenti saat terdengar ada deru mesin mobil yang melipir di depan rumah mewah Panji. Sesosok wanita muda ke luar dari sana. Mataku memincing, melihat lebih jelas siapa yang tengah berjalan. Gadis yang ada dalam rekaman video di HP-ku itu rupanya datang ke mari. Ada sedikit harapan tentang Panji yang smeoga belum jadi dibawa berobat ke luar negeri. Karena jika Panji beserta keluarganya sudah berangkat. Otomatis gadis itu pun juga akan ikut bukan? "Minggir lo!" Pundakku disenggol olehnya saat melintas. Kebetulan ART Panji masih belum masuk ke dalam rumah. Ia lekas tersenyum menyambut kedatangan gadis muka dua tersebut. "Eh Non Jessica," sapa ART itu ramah. "Bukain pintunya cepetan!" ketus gadis yang ternyata namanya Jessica itu dengan kasar mendorong pintu pagar dan melewati ART tanpa rasa sopan. Kini aku yang dilanda kebingungan. Mau ikut masuk takut dikira lancang. Tapi kalau nggak ikut masuk aku nggak bakalan tahu apa yang terjadi. Dan yang lebih penting lagi, pasti si Jessica juga tahu di mana sekarang Panji berada. Sebuah ide bagus melintas di kepala. Kenapa aku tidak membuntuti secara diam-diam saja dia. Dengan begitu aku tidak perlu susah payah untuk bertanya padanya. Toh mungkin bukan jawaban yang akan kudapat, melainkan sebuah nyinyiran kalau aku nanyanya sama gadis itu. Cepat aku membawa mobilku melaju. Lalu berhenti di tempat yang sekiranya nanti akan dilalui kalau Jessica keluar. Semoga saja dia akan segera melintas, agar aku tidak terlalu lama menunggu dengan sebal di sini. Lima belas menit berlalu, belum ada tanda-tanda kalau si Jessica akan menunjukkan batang hidungnya. Sial! Ke mana sih tuh anak?! Udah lama nungguin belum muncul juga. Emangnya, dia ngapain sih di rumahnya Panji. Bikin penasaran sama gedek aja! Kupukul stir yang tak berdosa. Ternyata, menunggu itu sangat membosankan. Kalau saja tidak ada kepentingan, ogah sekali aku menguntiti iblis betina itu. Jarum jam kecil yang ada di pergelangan tanganku terus bergerak. Hanya helaan napas yang berkali-kali menemani kegusaran ini. Yang dinanti tak kunjung menampakan diri. Entah mengapa bisa begini. Apa rencanaku ini gagal ya? Capek, hingga punggung kusandarkan di kursi mobil. Mataku langsung menajam. Kala mobil yang tadi ditumpangi Jessica melintas cepat. Ah, syukurlah. Usaha tidak ada yang mengkhianati hasil. Kini giliran aku yang menyalakan mesin mobil dan segera menginjak pedal gas untuk membuntuti Jessica. Sengaja kuambil jarak yang agak jauh. Takut ketahuan. Dengan begini aku bisa tahu ke mana pun perempuan itu pergi. Mobil itu melaju cukup kencang. Kadang menyesuaikan jalan kalau lagi antri di lampu merah juga berhenti. Aku ingat jalan yang tengah saat ini dilalui si Jessica. Jalan itu ialah arah ke rumah sakit yang aku dulu sempat dirawat di sana. Ya, itu rumah sakit punya keluarga Panji sendiri. Harapku semakin melambung tinggi. Semoga keyakinan ini akan membawaku bertemu dengan Panji. Jika Jessica akan ke rumah sakit itu, pasti Panji masih ada di sana. Dugaanku ternyata salah. Jalan yang harusnya lurus tapi malah mobil di depan sana belok ke kanan di pertigaan. Apa maksudnya? Bukankah arah rumah sakit itu lurus. Tapi kok mobil Jessica malah belok. Berkecamuk dibuatnya. Meski sudah berpikiran yang tidak-tidak. Aku tetap konsisten menjaga jarak untuk terus mengikuti mobil itu yang entah mau ke mana. Terus saja mesin ini berderu menemani debar di dada yang masih berdegup cepat karena pikiran tak karuan. Sejauh ini aku belum mendapatkan jawaban, ya karena memang mobil yang membawa Jessica belum berhenti di mana pun. Tak lama, mobil hitam itu melaju ke arah bandara. Jadi, mereka mungkin akan berangkat ke bandara sekarang? Atau … jangan-jangan Panji sudah lebih dulu berangkat dan Jessica hanya menyusul. Ya Allah, kenapa jadi begini rencanaku. Dalam mobil aku tak tenang. Banyak sekali monolog yang malah semakin berdesakan memenuhi rongga kepala. Banyak praduga yang belum tentu benar adanya. Tapi tetap saja, semua pikiran yang enggak-enggak itu terus merangsek sisi positif dari otakku. Mobil Jessica berhenti. Aku pun sama, juga memarkirkan mobilku namun sangat jauh dari mobil mereka. Jessica membantu mengeluarkan tiga koper besar dari dalam bagasi bersama seorang pria dewasa yang mungkin itu adalah supir. Pikirku. Saat mereka berdua menyeret koper itu semakin masuk ke area bandara. Aku mengekori pelan-pelan, tak lupa memakai masker untuk menyamar. Toh mengikuti peraturan pemerintah juga soal kesehatan. Diwajibkan pakai masker setiap keluar rumah. Harapku meningkat begitu saja. Kulihat dari kejauhan. Panji masih ada di sana, tepat di antara keluarganya. Ia dengan kepala yang masih diperban dan duduk di kursi roda hanya menatap kosong sekelilingnya. Wajahnya hanya kelihatan termenung sedih. Aku berlari cepat agar segera sampai dan menyusul Jessica yang sekarang sudah bergabung dengan keluarga Panji. Kutelisik lebih detail lagi. Wanita paruh baya yang biasanya menemani Jessica itu tidak ada di sana. Entah dia lagi nggak ikut atau memang sedang pergi ke mana pun aku tak perduli. Yang terpenting sekarang aku harus cepat-cepat menyibak hal yang semoga membuat namanya Panji tertampar bahkan tersungkur sadar oleh apa yang dipujanya itu salah. Gadis yang selalu dieluh-eluhkan nyatanya hanya jadi boomerang buat diri sendiri. Semakin dekat, langkahku agak menekan sedikit. Hanya ingin tahu, apa yang mereka bicarakan saat mereka tak menyadari bahwa aku ada di sekitarnya. "Tante … maaf ya lama banget kemas-kemas bajunya," ucap Jessica. Aku sengaja duduk di kursi besi yang tak jauh. "Iya, Sayang. Nggak pa-pa kok. Tante ngerti. Toh pesawatnya juga masih lama." Mamanya Panji tersenyum. Begitupun dengan Papanya. "Sayang, sabar ya, kita akan mendapatkan rumah sakit terbaik buat nyembuhin kaki kamu lagi. Pasti Panji akan segera bisa jalan lagi ya. 'kan anak Mama sebentar lagi mau menikah. Jadi, Panji harus semangat buat sembuh." Wanita itu berlutut di depan anak lelakinya yang hanya terdiam membisu. Tak ada respon sama sekali dari Panji. Dari sini aku dapat melihat, betapa sedihnya raut wajah Panji yang biasanya penuh keceriaan. Senyum hangat yang selalu tersungging di wajahnya kini hilang entah kemana. Aku tak tahan lagi. Ingin segera memanggil nama Panji di khalayak umum ini. "Panji!" Aku berdiri memanggil nama itu sekali, sambil membuka masker yang menutupi setengah wajahku. Panji mengedarkan pandangannya. Melihat ke sekeliling lalu tatapan itu membidik tepat ke arahku. "Vi-Vina …," lirihnya. Tangan ia angkat ke udara. Jemarinya bergerak kecil seperti hendak menyentuhku. "Ngapain kamu ada di sini?!" Mama Panji membentak. Aku membiarkan dia beteriak sesukanya. Langkah ini tetap terayun hingga kini aku berdiri tepat di depan Panji yang mendongak menatapku lekat. Meski aku hampir jatuh karena di dorong oleh mamanya Panji. Tapi aku berusaha untuk tetap diam. Dan fokus melihat keadaan lelaki yang memprihatinkan ini. "Ma! Cukup! Biarkan aku bicara sama Vina!" Panji membentak mamanya. Hingga tangan perempuan yang hampir menyentuh lenganku itu terhenti di awang-awang. "Vina, bolehkah aku menyentuhmu?" tanya Panji padaku. Matanya memerah, berkaca-kaca menahan genangan air di sana. Kudengar jelas kalau mamanya Panji dan Jessica saling mencibir keberadaanku. "Boleh," kataku memberinya izin. Panji menyentuh pelan pipiku dan menangkupnya dengan kedua telapak tangan. "Lihat aku," pintanya. Kubalas ia dengan tatapan yang penuh arti. Aku juga tak kuasa menahan linangan air mata ini agar tak jatuh di pipi. "Aku sudah cacat, Vin. Aku udah nggak bisa jalan lagi. Aku udah nggak bisa ngejar kamu lagi," ucap Panji lirih namun menekan. Dapat kulihat kalau dia sedang menahan sesuatu yang mungkin kini bergemuruh dalam dadanya. Aku merasakan, sentuhan tangan Panji yang masih berkacak di pipiku semakin lama semakin dingin. "Kamu pasti bisa jalan lagi, Pan. Kamu harus yakin itu! Masa depanmu masih panjang. Kamu masih punya banyak mimpi yang harus dikejar dan diwujudkan. Yakinlah, semua cobaan yang menimpamu ini ialah bentuk kepedulian Allah terhadapmu. Allah tidak akan menguji umatnya melebihi batas kemampuan. Jadi kamu nggak boleh nyerah ya." Aku berkata. Kugenggam tangan Panji dan menurunkan di atas lututnya. Tangan kami saling bertautan erat. Sela-sela jemari pun saling terisi satu sama lain. Tak ada sekat lagi yang memangkas jarak. "Tapi … masa depanku cuma kamu Vin. Dan mimpiku juga hanya kamu. Apa lagi yang harus aku perjuangkan untuk kesembuhan ini. Jika orang yang aku cintai saja tidak bisa menemani langkahku kedepannya." "Kau tahu kenapa aku ke sini?" Aku bertanya padanya. Panji menggeleng samar. "memangnya apa alasanmu? Dan … kenapa juga kamu bisa tahu kalau aku ada di bandara?" tambahnya dengan suara lemah. "Aku ke sini buat menunjukan kebaikan buat kamu Pan. Satu fakta di mana ada seseorang yang hanya ingin mengeruk harta keluargamu saja." Aku melirik ke arah Jessica. Panji menatapku penuh tanya. "Maksud kamu apa, Vina?" tegasnya tak mengerti. Aku merogoh ponselku di dalam tas. Lalu segera menunjukan video itu pada Panji. Tak lupa juga volume aku sudah stel tinggi. "Itu lihatlah, sebuah kebenaran yang mungkin kamu juga akan tercengang," ucapku pada Panji. Ia menerima ponsel yang kusodorkan dan memencet layar gawaiku. Setelahnya suara percakapan dan gambar yang menunjukkan kelakuan Jessica dan ibunya mulai berputar. Membuat mamanya Panji dan juga Jessica membelalakkan mata. "I-itu pasti salah paham. Jangan mau kalian dibohongi sama janda gatal ini!" Jessica menunjuk ke arahku. "Diam!" Panji menyentak. Kini, mamanya Panji menatap tajam pada Jessica yang berada di sampingnya. "Lihat, Ma!" titah Panji lalu menyerahkan ponselku kepada mamanya. Sang Mama pun menerima. Dengan wajah merah padam lekas ia mengarahkan layar HP-ku tepat di depan wajah Jessica. "Kamu lihat Jessica! Siapa yang ada dalam video ini?! Ini kamu sama mama kamu 'kan?! Jawab!" Mamanya Panji memekik, suaranya tertahan karena naik turun dadanya seperti menahan emosi. "Tan-Tante … a-aku bisa jelasin," ujar Jessica tergagap. Wajahnya langsung kebingungan dan serba salah. "Jelasin apa? Hah! Ternyata kamu mau nikah sama anak saya karena keluarga kamu bangkrut iya? Terus, seenaknya sendiri mulut tajam kamu menghina anak saya yang sekarang lagi terkena musibah! Tega kamu ya, Jessica! Selama ini saya sudah banyak membantu keluarga kamu, ternyata ini adalah rencana busuk kamu dan mamamu. Sekarang, jangan pernah lagi kamu berharap saya akan mau memaafkan!" Emosi mamanya Panji langsung meledak-ledak. Wajah sangarnya tentu kelihatan menyeramkan sekali. "Tante, saya cuma …." "Halah! Saya nggak mau dengar lagi kamu mau ngomong apa! Dasar perempuan ular! Bedebah kau Jessica! Pernikahan kamu dengan Panji akan saya batalkan sekarang juga. Jangan kamu dan mamamu berani-beraninya memunculkan wajah lagi di depan keluarga saya. Ingat itu!" Jessica berlutut di hadapan mamanya Panji. Habis gadis itu dimaki-maki oleh orang yang awalnya bersekutu dengannya. Rasain! Mungkin sakitnya melebihi aku ketika mamanya Panji juga saat itu memakiku. "Tante, saya benar-benar minta maaf. Saya bisa jelasin semuanya. Saya nggak ada maksud buat me--" "Me apa?!" Mamanya Panji memotong ucapan Jessica yang masih berlutut sambil tertunduk dalam. "mengeruk harta keluarga saya 'kan? Jangan mimpi kamu!" Jessica bungkam. Tak ada lagi kata yang dilontarkan gadis berpakaian minim tersebut. "Deni! Sekarang kamu pergi ke kantor. Urus semuanya! Bilang ke asisten saya untuk membatalkan semua hal yang menyangkut pernikahan Panji. Termasuk gedung, WO, catering, dan lain sebagainya. Oh nggak cuma itu, batalkan semua kerjasama dana yang akan disuntikkan untuk perusahaan anak ini." Gigi mamanya Panji berderit. Rahangnya mengeras seolah sangat kesal dengan yang ia katakan. Ia memerintahkan supir yang tadi membawa Jessica untuk pergi. "Iya, Bu." Supir itu lekas beringsut pergi. "Mau apa lagi kamu di sini? Dasar gadis nggak punya urat malu! Sudah jelas-jelas kalau kamu saya maki dan saya usir. Tapi masih aja ngesot di sini!" Mama Panji berkata dengan kedua tangannya berkacak di pinggang. "Oke! Aku pergi! Tapi ingat, suatu saat aku akan membalas semua hinaan Tante hari ini dan nggak akan pernah aku lupakan selama hidupku!" Jessica menggebu. Ia berdiri dan lantas pergi, sebelum ia melangkah jauh. Gadis itu sempat menoleh lalu menatapku penuh kilatan benci. Diam menjeda kami semua. Yang ada hanya tatapan sendu Panji padaku. Tak hentinya kami saling tatap. Meski hati ingin berkata, tapi aku lebih memilih diam semata. Masih canggung untuk bilang, kalau aku ingin bertanya bagaimana perasaannya saat ini. "Vina …," panggilnya pelan. "Ya," jawabku. Aku masih berlutut di depan pria yang duduk di kursi roda ini. "Kenapa kamu bisa punya video-nya Jessica?" tanyanya. "Biar aku jelaskan." Aku menarik napas. "waktu kamu kecelakaan malam itu. Aku sama papaku nggak sengaja lagi ada di lokasi sekitar kejadian. Lalu, aku dan Papa yang ikut membawamu ke rumah sakit. Terus, mamamu datang dan dia mengusirku juga Papaku." Aku mendongak melihat sekilas pada mamanya Panji yang langsung menoleh ke arah lain. Mungkin dia malu, karena memang benar yang kukatakan. Kalau dia yang mengusirku waktu itu. "Kamu sama Papa kamu kebetulan lewat atau gimana Vin?" tanya Panji lebih detail. "Aku sama Papa lagi makan sate di warung sekitar lokasi kecelakaan kamu, Pan. Terus aku syok saat tahu yang kecelakaan itu kamu. Eh, besoknya karena Papaku kebanyakan makan daging kambing, akhirnya darah tinggi Papa naik sampai pingsan dia. Dan Mama sama aku membawa Papa ke rumah sakit tempat kamu di rawat. Dari itu aku nggak sengaja menguping pembicaraan Jessica sama ibunya dan merekam semua itu sebagai bukti agar keluarga kamu tahu siapa Jessica yang sebenarnya," jelasku panjang lebar. Entah Panji akan mengerti atau tidak. Tapi yang aku omongankan ini semua jujur, tanpa ada tambahan sedikit pun. "Aku berterima kasih banyak sama kamu Vin. Kalau aja kamu nggak kasih tunjuk semua kebenaran ini. Pasti pernikahan aku sama Jessica akan tetap digelar. Lagian, aku juga terpaksa mau menikah sama dia, karena Mama mengancam kalau aku menolak Mama akan bunuh diri," terang Panji yang membuatku tahu, bahwa dia menghilang akhir-akhir ini karena tekanan dari keluarganya. Aku kira karena ia berkhianat padaku. Nyatanya aku salah. "Sudah jadi kewajiban setiap umat manusia Pan, untuk selalu menunjukkan jalan yang benar. Semua sudah tahu 'kan? Kalau yang terlalu diagung-agungkan itu tidak baik." Sebenarnya aku agak menyindir mamanya Panji. Itu orang masih saja membuang muka. Mungkin masih syok atas apa yang terjadi tadi. Papanya Panji juga hanya diam sembari menepuk-nepuk pundak istrinya. "Tapi … kamu lihat 'kan, sekarang keadaan aku gimana? Aku udah nggak bisa jalan lagi, Vin. Aku telah kehilangan semangat untuk hidup. Untuk apa aku hidup kalau tidak berguna. Sekarang aku hanya bisa jadi beban buat semuanya Vin." Panji terlihat frustrasi. "Heh, nggak boleh gitu. Kamu pasti bisa sembuh kok. Kalau kamu semangat dan bisa melewati semua cobaan ini. Pasti kamu akan bisa jalan lagi, Pan. Aku yakin itu, kamu juga harus yakin sama diri kamu sendiri ya." Aku menyemangati. "Aku ini lumpuh Vina! Bukan terkilir. Jadi kesempatan buat aku bisa jalan lagi itu hanya sedikit." Panji mendengkus. Wajahnya bergurat sedih. "Masih ada kesempatan 'kan?" Aku menaik turunkan alis. "kamu harus gunain kesempatan emas ini buat kamu sembuh. Percaya sama aku ya! Kamu pasti bisa berlari lagi!" Aku mengeja kata-kataku. Berharap bisa membuat sepercik semangat tumbuh dalam diri Panji. "Aku nggak tahu lagi, Vin." Panji menghela napas. Ia kelihatan pasrah akan keadaan. "Jangan gitu dong! Yakinlah, dengan pengobatan yang canggih di luar negeri. Kamu pasti bisa sembuh. Oke." Aku mengacungkan tangan dengan mengepal. Panji merogoh sesuatu dari saku piama putih yang ia kenakan. Ia memintaku untuk mengulurkan tangan. "Vina, aku titip cincin ini padamu ya. Kamu bisa menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari orang yang paling mencintai kamu di dunia ini. Sekarang aku tahu, puncak tertinggi dari mencintai ialah mengikhlaskan. Aku sadar dengan keadaanku yang sekarang sudah tak sempurna lagi. Pergilah Vin, carilah lelaki yang sepadan denganmu. Yang bisa membuat kamu bahagia." Cincin yang sempat kukembalikan itu kini Panji letakan di atas telapak tanganku. Aku bingung harus menjawab apa. Mana bisa aku mengganti posisi Panji di hati ini dengan orang lain. Tetapi, waktu tidak pernah tahu kapan kita akan menemukan orang yang nanti akan hadir mengisi kekosongan karena terlalu lama ditinggal. "Kamu jangan ngomong gitu. Sekarang kamu fokus sama kesembuhan kamu ya." Aku tersenyum. "Aku nggak tahu Vin, apa kita bisa ketemu lagi dengan keadaan yang masih sama seperti ini," ucapnya dalam. "Maksudnya gimana?" Aku tak paham. "Ah, sudahlah. Bukan apa-apa kok. Kamu jangan lupa jaga kesehatan ya," cecarnya. Perlahan tangan Panji naik menyentuh kepalaku. "Panji, sebentar lagi pesawat kita sudah mau berangkat." Papanya Panji memperingati. "Kamu berangkat ya, semoga cepat diberi kesembuhan." Aku berkata sambil berdiri. Senyum getir Panji perlihatkan padaku. Seolah kami sama-sama tak mau berpisah. "Vina … aku mencintaimu …," ucapnya sebelum kursi roda itu diputar. Aku hanya melambaikan tangan. Dengan perasaan berat melepas kepergian pria yang kini semakin lamat-lamat terlihat itu. Kini, kami benar-benar berpisah. Panji akan terbang ke Singapura dan aku juga akan ke London. Menjalani hari-hari kami masing-masing tanpa bertutur sapa lagi seperti sebelumnya. Mataku berkaca-kaca, menatap seonggok cincin berkilau yang Panji berikan padaku. Aku akan menjaganya, sebagaimana pesan yang ia katakan sebelum pergi. Bersambung Hanya beberapa episode lagi akan ending ya teman-teman. Di scene ini agak mengandung bawang. Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya semua. ❤️
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettttt
17/03/2025
0best books
01/10/2024
0menghibur
17/09/2024
0Lihat Semua