58

Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku
Bab 58
"Berhenti! Saya mau ketemu Vina!" Teriakan Panji kudengar pilu. Meski ia sudah jauh, tapi para perawat yang mendorong brankar tempat ia berbaring enggan menghentikan roda bulatnya walau sebentar saja. Pun keluarga Panji yang melintasi aku semua melemparkan tatapan sinis.
Aku ingin mengejarnya. Tapi ….
Tapi itu jelas tak mungkin. Biarlah, toh masalahku dengan Panji telah selesai. Dia akan menikah dengan wanita pilihan ibunya. Namun jika ingat niatan busuk gadis itu mau nikah sama Panji, ada sesuatu yang mendorongku untuk ingin mencegahnya. 
Lalu, apa yang akan aku lakukan? Jika aku mencegahnya pun akan sia-sia. Mamanya Panji terlalu benci terhadapku, sehingga tidak akan pernah ada celah walau sedikit untuk aku menunjukkan semua kebenaran yang ada.
Aku baru teringat, kalau aku punya rekaman video yang bisa jadi bukti valid untuk membuka mata mamanya Panji lebar-lebar. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk kutunjukan tabiat buruk gadis itu. Biarlah nanti waktu yang akan menyesuaikan, semoga masih ada kesempatan sebelum aku berangkat ke luar negeri untuk mereka tahu kalau gadis yang selalu dibanggakan itu beserta keluarganya telah bermuka dua.
Setelah mereka semua sudah tak kelihatan lagi. Kini baru aku melangkah untuk ke ruangan Dokter. Seperti tujuan awal niatku ke sana adalah ingin menanyakan soal Papa.
Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu dua kali. Sambil berkata, "permisi, Dok." 
"Masuk!" Sang empu menyahut dari balik pintu.
Aku menunduk sesaat. Untuk memberi salam pada Dokter yang aku lupa siapa namanya tersebut.
"Silakan duduk, Bu," pinta Dokter itu.
Sesuai permintaan beliau. Aku duduk di depannya, berseberangan dengan meja persegi yang dipenuhi dengan beberapa kertas.
"Dok, papa saya hari ini sudah boleh pulang 'kan? Soalnya saya lihat kondisinya sudah membaik," ujarku. Berharap Papa sudah bisa diajak pulang. Karena Papa dan Mama sudah sangat tidak kerasan kalau berlama-lama di rumah sakit.
"Nanti saya cek lagi ya, Bu. Kalau tidak ada gejala lain pada pasien. Mungkin nanti akan diperbolehkan pulang," tukas Bu Dokter berkacamata itu ramah sekali. Tutur katanya sangatlah lembut, beda sekali dengan Mama yang kadang suka absurd seperti kaleng rombeng.
"Iya, Bu Dokter. Bisa minta tolong diperiksa sekarang nggak? Soalnya Papa saya sudah merengek minta pulang." Aku meringis. Semoga saja Dokter ini mau lekas memeriksa Papa.
"Bisa, tapi tunggu sebentar ya, saya cuci tangan dulu." Bu Dokter melihat sekilas pada jam dinding bulat. Emang sih, sekarang sudah hampir jam 12 siang. Apa itu waktu istirahat buat para petugas rumah sakit juga. Jadi nggak enak kalau maksa beliau buat cepat-cepat ke ruangan Papa.
"Bu Dokter!" sergahku. Ia yang mau berdiri segera duduk kembali. "kalau Bu Dokter mau istirahat, istirahat aja dulu. Nanti setelah selesai baru periksa Papa saya nggak pa-pa," tuturku kemudian. 
"Nggak pa-pa kok Bu, saya akan periksa sekarang. Tunggu sebentar ya." Bu Dokter malah ngeloyor ke arah wastafel. Seperti yang dibilang tadi, ia mau cuci tangan.
Aku menunggunya, setelah beliau kembali. Kami berdua sama-sama ke ruangan Papa.
Mama yang tadi duduk segera mundur. Membiarkan Bu Dokter memeriksa tensi darah Papa dan yang lainnya.
"Ya, Bapak sudah boleh pulang sekarang. Jangan lupa jaga kesehatan ya, Pa. Hindari makanan yang berminyak, jangan lupa untuk selalu mengkonsumsi banyak vitamin serta makan sayur-sayuran," pungkas Bu Dokter.
Aku dan Mama kompak saling menatap. Akhirnya, Papa boleh pulang dan nggak perlu rawat inap di sini.
"Kalau begitu saya permisi ya," pamit Bu Dokter.
"Makasih banyak ya, Dok." Mama berucap.
"Akhirnya, Papa boleh pulang juga. Udah gerah banget lama-lama di rumah sakit. Enakan di rumah, mau berbaring sambil nonton film luar negeri juga bebas." Papa nyeletuk. Wajahnya jelas senang, begitupun denganku.
"Ma, Mama beresin semuanya ya, jangan lupa obatnya dibawa. Aku mau bayar tagihan rumah sakit dulu." 
"Kita keluarnya barengan aja, Vin. Nanti Mama tunggu di mobil sama Ujang." 
"Oke, Ma. Ya udah ayo." Aku membantu Papa untuk turun dari bangsal.
Mama memasukan obat-obatan Papa ke dalam tasku.
Kini, Papa berjalan dengan posisi diapit dua bidadarinya. Seperti mengulang masa lampau silam, namun dulu aku yang ada di tengah, tapi sekarang malah Papa yang ada di tengah-tengahku dan Mama.
"Vin, Mama duluan ya, kita tunggu di depan," kata Mama saat kami tiba di depan ruang pembayaran.
"Oke, Ma. Hati-hati ya," kataku.
Mama mengangguk dan lekas membawa Papa ke luar dari rumah sakit ini.
Selepas membayar. Kususul Mama yang sudah masuk ke dalam mobil, menunggu tepat di depan area rumah sakit.
Tak sengaja, pas aku ke luar. Di sebelah sana pun berbarengan dengan keluarganya Panji.
Aku hanya melihat pergerakan mereka, sepertinya Panji tak melihat aku yang berdiri di dekat pintu kaca.
Sedetik kemudian, mobil keluarga Panji melesak semakin jauh. Begitupun mobil yang aku tumpangi bersama dengan keluargaku.
Kami tak searah, rombongan keluarga Panji berbelok kanan ketika sampai di perempatan. Sedangkan aku tetap lurus.
Hanya tatapan kosong yang ada di kedua mata ini. Kadang merasa miris dengan musibah yang menimpa Panji, aku tahu saat ini jelas dia merasa hancur dan kecewa. Tetapi, takdir Tuhan selalu tertuju pada umatnya. Tak sekalipun takdir itu meleset lalu berpindah pada orang lain.
Sepulang dari rumah sakit. Aku hanya termenung di kamar sembari menatap layar laptop yang menyala. Ingin tak acuh saja soal masalah Panji, tapi mengapa ada sesuatu yang terus mendorongku untuk ikut campur.
Arrgh! Napas gusar kuhembuskan berkali-kali. Otak ini rasanya buntu sekali. Mau bersikap bodo amat tentang mereka yang selalu menatapku sinis, tapi hati nurani ini ingin sekali menunjukkan kebenaran. Kutahu, tak seharusnya aku ikut campur. Tapi, ini demi kemanusiaan, meski aku sudah tak menjalin hubungan lagi dengan lelaki yang pernah mengisi hati ini, Panji. Mau bagaimanapun, semua harus ditegakkan, aku harus bisa menunjukan wajah asli gadis serta keluarganya kalau mereka hanya ingin memanfaatkan harta Panji saja.
Bukankah menunda kebaikan itu tidak bagus. Jika aku terus berdiam diri dan tak segera mengambil langkah cepat. Aku bisa terlambat.  Semua akan jatuh ke lubang yang sama.
Ayo Vina! Ambil jalan tepat yang bisa menyelamatkan semua. Tak apa jika mereka harus menganggapmu ikut campur dan terlalu mengambil andil soal masalah yang tak seharusnya aku ada di antaranya. Tapi, kembali lagi ini demi kebaikan!
Aku menutup laptopku. Gegas kuraih tas yang berada di nakas samping ranjang. 
Ponsel yang berisi video yang akan menjadi bukti itu sudah kumasukan ke dalam tas. Langkah selanjutnya adalah menuju rumah Panji, aku tahu alamatnya meski belum pernah ke sana.
"Heh Vina! Kamu mau kemana?" 
Aku yang baru turun dari undakan anak tangga terakhir langsung ditegur Mama.
"Mau pergi Ma, dadah …!" Aku melambaikan tangan. 
"Mau ke mana heh?!" Mama berteriak.
"Ada urusan, Ma!" Aku pun menyahut dengan memekik. Karena aku sudah hampir ke luar dari rumah.
Pak Ujang tersenyum saat melihatku yang melintas di depannya.
"Non Vina mau ke mana?" tanya Pak Ujang.
"Mau pergi, Pak."
"Nggak mau saya anterin?" 
"Nggak usah, Pak. Saya bawa mobil sendiri aja. Pak Ujang di rumah aja ya, siapa tahu nanti Mama butuh," cecarku sebelum masuk ke dalam mobil.
Rumah Panji memang cukup jauh. Sekitar satu jam lebih dikit dari rumahku. 
Kupersiapkan mental juga diri untuk turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang rumah Panji yang berdiri mewah. 
Rumah bernuansa putih gold itu terlihat berlantai tiga, dengan pilar besar yang kokoh nan megah. Memang kuakui, secara keseluruhan, desain dan luas rumah Panji masih lebih bagus dari rumahku. Ah, harta cuma titipan, kapan pun Tuhan bisa mengambilnya walau hanya dengan sekejap mata. Aku tidak terlalu heran dengan rumah mewah, karena bagiku membangun yayasan amal itu lebih penting.
Satu kali jemariku memencet bel yang berada di samping kanan pagar.
Belum ada jawaban. Jadi aku memencetnya lagi untuk yang kedua kali.
Seorang Ibu-ibu datang. Namun ia tak langsung membukakan pintu pagar untukku.
Kami berdiri saling berhadapan. Namun tersekat oleh julangan besi bermotif bunga itu.
"Maaf, Mbak cari siapa ya?" tanyanya.
"Maaf Bu, apakah benar ini rumahnya Panji?" Aku bertanya balik. Meski sudah yakin benar kalau ini rumah Panji. Aku hanya memastikan, takut juga kalau salah alamat sepeti lagu.
"Iya, benar. Mbak ini siapa ya? Ada perlu apa menjari majikan saya?" 
"Saya ada kepentingan yang harus dibicarakan dengan Panji, Bu. Apakah dia sekarang lagi ada di rumah?" tanyaku sopan.
"Maaf, Mbak. Den Panjinya lagi nggak ada di rumah. Dia mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Kalau nggak salah kemarin malam. Duh saya lupa-lupa ingat." Wanita berdaster biru itu terlihat mengingat-ingat sesuatu.
Aku berdecak. Panji kok nggak ada di rumah ya, atau jangan-jangan dia udah pergi berobat ke luar negeri. Soalnya aku pernah dengar kalau keluarganya akan membawa Panji ke rumah sakit luar negeri.
"Ibu tahu nggak, sekarang Panji lagi ada di mana?" 
"Saya kurang tahu, Mbak. Dari semalam majikan saya belum ada yang pulang. Tapi ada supir yang bilang kalau Den Panji akan dibawa ke luar negeri. Ya, nggak tahu sih gimana benarnya, coba Mbak telepon majikan saya saja ya, Mbak."
Aku reflek menyentuh pelipis ini. 
Jika Panji sudah dibawa ke luar negeri. Itu artinya aku telah gagal menyingkap kebusukan yang selama ini mengancam keluarga Panji.
Bersambung
Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak ya kak. Ditunggu kritik dan sarannya yang membangun ya. Biar makin semangat buat nulis dan bisa memperbaiki tulisanku ke depannya. Terima kasih sudah mau mempir membaca cerita recehan ini. Maaf kalau masih banyak typo dan kacau. Karena aku penulis pemula yang masih harus banyak belajar lagi. Salam sayang ❤️

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru