57

Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku
Bab 57
Siapa tahu video ini nanti akan berguna. Aku membatin.
"Heh, Vina! Kenapa kamu lama banget?!"
Aku telonjak kaget. Mama menepuk pundakku hingga HP yang hampir masuk ke dalam tas itu nyaris jatuh ke lantai.
Cepat kutarik Mama agak menjauh dari tempat aku menguping. Takut gadis setan dan mamanya itu melihat keberadaanku karena ulah Mama yang mengagetkan.
"Mama kenapa nganggetin aku sih?!" protesku sembari menautkan alis.
"Ya kamu sih, lama banget nebus obatnya. Papamu udah disuruh minum tuh obat sama Dokter Vina, eh kamu malah nggak balik-balik. Lagian ngapain juga kamu berdiri nggak jelas di sini?" Panjang kali lebar kali tinggi Mama mengomeliku. 
"Iya, iya, sekarang Mama balik temein Papa aku akan tebus obatnya sekarang." Kudorong pelan lengan Mama agar ia menjauh.
"Loh, kamu belum jadi tebus obatnya ternyata?!" Kedua netra Mama menedelik.
"Tadi aku ke toilet Ma, makanya lama. Udah sekarang Mama ke sana aja, aku akan tebus obatnya sekarang. Bye bye, Ma." Cepat aku ambil langkah seribu untuk melaju menghindari celotehan Mama yang tak pernah ada ujungnya.
Sekilas kulirik ke arah tempat dua wanita itu tadi membicarakan Panji. Rupanya mereka sudah tak ada di sana.
Ruangan tempat menebus obat akhirnya ketemu. Gegas kusodorkan kertas itu pada petugas yang tersekat oleh kaca di hadapan kami.
"Terimakasih," ucapku saat wanita yang ada di dalam apotik memberikan obat-obatan Papa.
Wanita itu mengangguk. Entah dengan senyuman atau tidak. Aku tidak tahu karena ia memakai masker.
Lorong yang berliku kembali aku lewati. 
Set!
Langkahku langsung terhenti saat ada yang menarik tanganku dengan paksa.
"Berhenti lo!" 
Aku menoleh ketika ada orang yang bersuara. Ah, rupanya setan betina ini yang menghadangku. Mau apa sih ini anak? Ganggu orang aja.
Eh tunggu! Jangan-jangan dia tahu lagi kalau aku tadi menguping pembicaraan dia sama ibunya.
"Lepasin gue! Jangan sentuh bisa gatal-gatal ntar gue!" Tangan yang masih dipegang olehnya kutarik cepat. 
"Nggak usah sok deh lo. Lo mau ngapain di rumah sakit ini? Mau jengukin Panji lo ya?!" 
Sumpah! Aku sangat benci melihat gaya bicara gadis ini. Bibirnya meleyat-meleyot seperti orang … ah aku malas menyebutnya.
"Ngapain gue jengukin calon suami elo. Gue ke sini karena Bokap gue juga lagi dirawat di rumah sakit ini." 
"Oh, Bokap elo yang semalam ikutan ke sini sama elo itu? Kok bisa tiba-tiba sakit ya? Perasaan semalam dia kelihatan sehat-sehat aja tuh." Dagunya agak dongakkan. 
"Kalau elu nggak percaya ya udah. Nggak ngaruh juga elu tahu apa pun tentang gue sama keluarga gue. Udah sana! Minggir!" Kusenggol lengan gadis ini dan melangkah lebar.
"Gue peringatan ya, elu udah janda! Jadi nggak usah sok kegatelan buat deketin Panji!" 
Langsung kuberhentikan kaki. Lama-lama omongan dia emang bikin sakit telinga ya.
Aku berbalik, lalu menunjuk tepat ke wajah gadis yang masih berdiri di tempatnya.
"Heh dengar ya! Gue tahu gue ini janda. Tapi gue sama elu tuh beda! Gue janda berkelas yang punya otak cerdas buat bangun bisnis sana sini. Sedangkan elu cuma benalu yang ingin numpang hidup kaya tanpa sengsara!" Puas aku bisa mengatai dia. Aku nggak bakalan begini kalau misalnya dia enggak mulai duluan.
Gadis yang sampai saat ini aku belum tahu namanya itu hanya berkedip beberapa kali. Tubuhnya mematung seperti batu. Andai saja dia batu berlian, pasti sudah kujual. Tapi sayang, dia hanya batu kerikil yang sok-sok'an berharga.
Teringat akan omelan Mama. Kubiarkan gadis itu masih di tempatnya. Tanpa sepatah kata aku pun pergi secepat mungkin berlari kecil untuk segera sampai ke ruangan Papa. Mau berlari cepat seperti lomba marathon jelas tidak mungkin. Karena sekarang lagi di rumah sakit. 
"Ini Ma, obatnya." Kuserahkan satu kresek obat pada Mama.
"Apa apotiknya pindah ke Mars? Kok lamanya sampai seabad."
Kugaruk kepala yang tak gatal. Obat sudah aku berikan. Tetapi tetap saja masih mendapatkan wejangan yang luar biasa membuat berdengung telinga.
"Udahlah, Ma. Jangan ngomel mulu ah, Mama kalau marah terus bisa darah tinggi kayak Papa loh." Papa yang sudah sadarkan diri lekas melerai omongan Mama.
"Halah, ngomong aja mau belain si Vina," sungut Mama sembari mengupas kulit obat dari bungkusnya.
"Ya enggak gitu, ini Papa tensinya kumat kayaknya emang karena sering pusing dan marah-marah di kantor." Papa beralibi. Takut kena marah Mama kalau ngomong jujur apa penyebab darah tingginya Papa naik drastis. Penyebabnya ialah sate dan gulai kambing.
"Ini minum obat dulu." Mama menyuapkan obat ke Papa. Meski Mama sering cerewet, tapi aslinya sangat perhatian banget. Makanya aku saking sayangnya, meski beliau bukan Ibu kandungku sendiri.
"Vina, kok kamu nggak ke kantor, Nak?" Papa bertanya padaku yang kini berdiri di sebelahnya.
"Nggak, Pa. Vina mau nemenin Papa."
"Loh, bukannya hari ini ada ketemu sama client ya?" 
"Udah dibatalin Pa sama client-nya. Katanya dia juga lagi ada acara mendadak. Tadi sih William bilangnya begitu. Tapi bagus deh, aku jadi bisa di sini nemenin Mama sama Papa." Jemariku menoel pipi Mama yang duduk sembari mengupas buah apel. 
Mama mendelik ke arahku. Sengaja kumanyunkan bibir untuk menggodanya. Biasa, aku memang suka usil sama Mama. 
"Oh gitu, terus urusan kantor gimana Vin. Kalau nggak ada kamu di sana?" Papa bertanya lagi. Nada suara normal, tidak lemas seperti orang sakit.
"Tenang Pa, semua ada William yang urus." Naik turun alisku menatap Papa yang duduk dengan bersandar di bantal yang ditumpuk tinggi.
"Ya, Vin. Papa percaya sama dia. Hebat sih si William, pikirannya begitu cerdas. Jarang-jarang loh ada orang kayak dia, strategi bisnisnya patut diacungi jempol. Andai aja ya, Papa punya mantu kayak dia. Pasti saat ini Papa udah santai menjalani masa-masa tua sama mamamu." 
"Ya elah, Pa. Jangan halu punya mantu William deh, dia anaknya tuh tertutup banget. Pendiam pula. Dekat sama cewek di kantor aja juga nggak pernah kayaknya. Dan lebih parahnya lagi, kita … nggak seiman Pa. Jadi, Papa stop buat berharap seperti tadi. Oke!" Aku agak kesal lama-lama. Bahas soal William cukup dikaitkan dengan pekerjaan saja. Kalau soal cinta, jangan! Ya karena … sudah tahu kesimpulannya. Aku dan William nggak akan pernah berjodoh.
"Ya elah, Vin. Gitu aja sensi. Papa cuma muji William doang. Nggak ada maksud apa-apa. Lagian, Papa juga tahu kali kalau kita sama dia beda." 
"Udah ngedumelnya, Pa! Sekarang Papa makan buah dulu. Biar sehat. Nanti kalau udah dibolehin pulang, Mama akan masakin Papa sayur setiap hari." Mama menyuapkan potongan apel yang barusan dikupas olehnya.
Entah dapat dari mana apel itu. Emang Mama beli ya?
"Ma, kok Mama dapat buah apel? Dari mana?" tanyaku. Ikut mencomot potongan apel yang masih dipegang Mama.
"Tadi Mama nyuruh Pak Ujang buat beli," jawab Mama. 
"Oh, gitu. Oya, Papa ini pulangnya kapan Ma? Kayaknya Papa nggak perlu dirawat deh. Orang udah kelihatan sehat gitu, iya 'kan Pa?" 
Papa mengangguk. Sedangkan Mama mau menjawab pertanyaanku.
"Nggak tahu tuh, coba nanti kamu tanya sama Dokter ya. Semoga boleh pulang hari ini. Mama udah gerah banget Vin di rumah sakit. Bau obat bikin Mama nggak tahan kalau harus berlama-lama." 
"Iya, Ma. Bentar Vina tanyain sekarang ya."
"Eh, ntar dulu!" Sergah Mama mengurungkan langkah ini.
"Kenapa Ma?" protesku seraya menyuapi potongan apel yang tinggal secuil.
"Masa kamu ke ruangan Dokter sambil makan. Nggak sedap dipandang mata Vin Vina! Ini habiskan dulu, nanti kalau masih kurang Mama kupasin lagi yang banyak. Makan jangan sambil jalan, nggak baik anak perempuan begitu." Mama memberiku potongan apel yang sudah dikupas bersih lagi. Tak lupa dengan bumbu omelan sebagai pelengkap pengganti sambal rujak. Ah, itu hanya kiasan. Kalau pun iya di sini ada rujak, aku lebih memilih memakan itu dari pada harus mengorbankan kuping yang memanas setiap kali dimarahin sama Mama.
"Iya, iya, bakal aku kunyah dan telan dulu apel ini sampai benar-benar habis. Setelah itu baru aku pergi ke ruangan Dokter," cibirku. 
Selesai memastikan sudah tak ada apel lagi yang ada di mulut ini. Aku hendak pergi ke tempat Dokter yang memeriksa Papa tadi.
"Vina!" panggil Mama saat aku sudah menyentuh gagang pintu dan mau membukanya.
"Apa lagi sih Ma?! Udah mau berangkat juga!" ketusku. 
"Jangan lama-lama lagi. Ingat itu!"  Mata elang Mama menukik tajam ke arahku. Dan aku membalasnya dengan memutar bola mata malas.
Capek ngeladenin Mama yang tiada habisnya ini itu. 
Baru saja aku ke luar dari kamar Papa. Aku berpapasan dengan keluarganya Panji juga sama gadis itu serta ibunya. Semua karena letak ruangan Panji dan Papa yang berdekatan.
"Eh, eh, eh, ngapain kamu ada di sini?" 
Benar saja, mamanya Panji langsung menegurku. Padahal aku sudah bersikap acuh tak acuh dan bodo amat sama keberadaan mereka.
"Papa saya juga lagi dirawat di sini. Emangnya kenapa? Nggak boleh kalau saya ada di sini?" tanyaku balik.
"Sudahlah, Ma! Ngapain sih kamu ribut sama dia. Lebih baik kita fokus sama kesembuhan Panji." Pria berkemeja pendek kotak-kotak itu memegang pundak mamanya Panji. Kutebak kalau dia itu papanya Panji.
"Tapi, Pa …."
"Sudahlah, kamu fokuskan pikiran kamu buat anak kita. Sekarang Panji mau dipindahkan ke ruangan lain. Terus kalau nanti masih ada yang kurang cocok, mendingan kita bawa Panji ke rumah sakit kita sendiri. Atau enggak kita bawa Panji berobat ke luar negeri yang fasilitasnya jauh lebih bagus dari di pada Indonesia." Lagi, lelaki itu menasehati sang istri yang suka ngeyel tersebut.
Kudengar Panji mau dipindahkan ke ruangan lain. Ini kesempatanku buat lihat keadaan dia meski hanya sebentar saja.
Pintu ruangan Panji terbuka lebar. Semua keluarganya mundur karena brankar yang membawa Panji hendak melintas.
"Panji …," lirihku memanggil namanya saat bangsalnya hampir lewat di depanku.
"Vi-Vina …." Panji juga memanggil namaku. Tangannya terulur ketika melewati aku yang masih terpaku di depan pintu.
Hanya sedetik jemari kami saling bersentuhan. Namun rasanya semakin lama semakin merambat ke ulu hati. Bak tersayat ribuan belati, melihat keadaan Panji saat ini begitu memperihatinkan.
"Berhenti! Saya mau ketemu Vina!" Teriakan Panji kudengar pilu. Meski ia sudah jauh, tapi para perawat yang mendorong brankar tempat ia berbaring enggan menghentikan roda bulatnya walau sebentar saja. Pun keluarga Panji yang melintasi aku semua melemparkan tatapan sinis.
Aku ingin mengejarnya. Tapi ….
Bersambung
Yuk baca cerita ku yang lainnya. Semoga menghibur ya buat semua yang sudah mampir ❤️

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru