56

Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku
Bab 56
Tiba-tiba Papa teseok saat hendak naik ke mobil. Sedetik kemudian, Papa pingsan. Dengan posisi tangan memegang kepala.
"Papa!" Aku panik. Pak Ujang segera meraih badan Papa yang sebelumnya kutahan agar tak jatuh ke bawah.
Mama yang baru saja ke luar dari pintu pun berlari mendekati kami. 
"Vina, papamu kenapa?" tanya Mama juga sama paniknya.
"Nggak tahu Ma, tadi Papa tiba-tiba pingsan," jawabku.
"Pak Ujang, ayo bantu masukin Bapak ke dalam mobil. Kita bawa ke rumah sakit." Mama berkata. Aku setuju kalau Papa dibawa ke rumah sakit.
Kami bertiga mengangkat tubuh Papa dengan hati-hati. 
"Pak Ujang, bawa Bapak ke rumah sakit Medika Farma ya, di situ pelayanannya bagus." Mama menyuruh Pak Ujang untuk membawa kami ke rumah sakit yang aku sendiri tak tahu di mana itu. Agak asing di telinga, tapi memang aku tidak begitu paham dengan nama-nama rumah sakit di daerah sini.
"Iya, Bu. Kebetulan saya juga tahu jalan terdekat ke rumah sakit itu." Pak Ujang yang duduk di depan menjawab.
Berulangkali aku dan Mama mencoba membangunkan Papa. Namun nihil, Papa tak merespon sama sekali. Hanya deru napas Papa yang naik turun tak beraturan. Menambah kecemasanku dan Mama. 
Sebenarnya dari tadi pagi aku sudah merasa janggal dengan wajah Papa yang kelihatan kuyu. Biasanya Papa selalu terlihat segar meski sudah banyak umur. Tapi pagi ini, ia beberapa kali memegangi area kepalanya. Apa jangan-jangan darah tinggi Papa kumat ya, gara-gara kebanyakan makan sate. Bisa jadi Papa juga bandel nggak minum obat padahal semalam sudah aku ingatkan sebelum ia masuk ke kamar.
Degh!
Jantungku tersentak saat tahu rumah sakit yang terhampar di depan sana. Rumah sakit yang menjadi tujuan Mama itu ternyata tempat semalam Panji dirawat di sini. 
Aku kira tempatnya jauh banget dari rumah. Ternyata enggak, karena kata Pak Ujang beliau lewat jalan pintas yang cukup dekat.
Aku ke luar lebih dulu. Memanggil suster untuk membawa brankar. 
Setelah Papa di pindahkan ke brankar. Dua suster itu lekas membawa Papa ke ruangan yang teryata bersebelahan dengan kamar Panji semalam.
Entah apa jadinya nanti kalau aku ketemu lagi sama mamanya Panji. Tak akan pernah bosan wanita itu melontarkan caci maki terhadapku. Tapi, lama-lama telingaku sudah kebal mendengarnya. Kuanggap radio rusak yang tidak berfaedah sama sekali. Terkadang, menjadi tuli itu memang perlu. Agar apa yang kita inginkan tetap berjalan meski mereka menghina. Toh selama ini aku hidup di bumi tidak pernah meminta makan atau menyusahkan mereka-mereka yang suka menghinaku. Jadi, tetaplah fokus menjalani kehidupan sendiri.
Sementara Dokter memeriksa Papa. Aku dan Mama menunggu di luar ruangan. Kulihat ke arah kamar Panji, pintunya tertutup rapat. Tak ada keluarga yang menunggu di luar. Mungkin mereka lagi ada di dalam, termasuk Emak-emak rempong itu. Pikirku. Orang yang kusebut Emak rempong adalah mamanya Panji. Julukan itu sangat cocok sekali dengannya yang suka nyinyir tapi nggak pernah tahu kebenarannya seperti apa.
Ponselku yang berada di dalam tas berbunyi. Gegas kuberdiri dan agak menjauh dari Mama untuk mengangkat telepon dari nomor bernama William tersebut.
"Iya halo Will, ada apa?" tanyaku.
"Bu Vina, Anda sama Pak Hartono kok belum sampai di kantor ya, nanti ada client yang mau ketemu loh," ujar William. Seketika aku langsung teringat. Kalau Papa mau ketemu sama client. Ya Allah, saking pusing dan khawatirnya sama keadaan Papa aku jadi lupa kalau ada agenda penting hari ini.
"William, Papa masuk rumah sakit. Dia nggak bisa ketemu sama client. Jadi, biar nanti aku yang ke kantor buat gantiin Papa ya," tukasku. Mau bagaimana pun, urusan client itu tidak bisa ditunda.
"Baik, Bu. Saya tunggu di kantor ya, semoga Pak Hartono segera diberi kesembuhan."
Kumatikan telepon dari William. Lekas kudekati Mama untuk meminta izin mau pergi ke kantor.
"Ma, hari ini ada client yang mau ketemu. Doakan semua lancar ya, maafin Vina nggak bisa nemenin Mama di rumah sakit. Nanti kalau sudah selesai Vina akan segera balik ke sini kok. Semoga Papa baik-baik saja ya, Ma," pamitku. Kuraih punggung tangan Mama dan menciumnya takzim.
Drrtt!
Belum juga selesai kucium tangan Mama. Gawaiku kembali berbunyi lagi. 
Lagi, yang menelepon juga William.
"Halo, Will. Ada apa lagi? Ini saya sudah mau berangkat," kataku saat setelah menekan tombol hijau.
"Bu, maaf sebelumnya. Pihak client barusan menelepon saya, katanya batal ketemuan. Karena beliau lagi ada acara mendadak. Mungkin kalau sudah senggang akan dikabari." Aku bernapas lega, kabar dari William cukup baik. Ada bagusnya tuh client membatalkan pertemuan. Aku jadi bisa di sini nemenin Mama. Untuk urusan kantor biar dipegang sama William.
"Alhamdulillah Will kalau itu client nggak jadi ketemu. Kamu tolong handle urusan kantor ya, saya mau jagain Papa dulu. Nanti kalau ada apa-apa telepon aja, oke." 
"Iya, Bu Vina. Siap. Kalau begitu saya akhiri telepon ini ya, masih ada banyak hal yang harus saya kerjakan." 
"Oke." 
Panggilan terputus. Mungkin aku dan William berbarengan mengakhiri panggilan ini.
"Kenapa Vin? Ada apa lagi?" tanya Mama. 
"Alhamdulillah client-nya batalin janji Ma, nggak jadi ketemuan hari ini katanya," jawabku.
"Oalah, terus kamu nggak ke kantor ini?" 
"Nggak Ma, aku mau ikut nunggin Papa. Pengen tahu gimana keadaannya." 
"Iya, Nak. Semoga papamu sehat selalu ya."
"Amin."
Pintu ruangan Papa terbuka. Kompak aku dan Mama segera mengambur menyapa Dokter wanita itu.
"Dok, suami saya nggak kenapa-napa 'kan?" Baru saja Dokter berhijab itu menutup pintu. Ia sudah dihantam pertanyaan oleh Mama dengan suara yang bernada tak sabaran.
"Pasien tadi pingsan karena tensi darahnya terlalu tinggi Bu, bahkan sudah mencapai 200 tensinya. Kalau terjatuh bisa berpotensi stroke. Untung saja beliau masih aman. Tolong diingatkan pada pasien ya, Bu. Suruh hindari makanan yang banyak mengandung kolesterol tinggi. Seperti daging kambing dan lainnya. Perbanyak makan sayur dan buah-buahan. Jangan terlalu kecapean juga. Untuk obatnya, bisa ditebus di apotik ya, Bu. Ini resepnya." Dokter itu menyerahkan selembar kertas kecil. Gegas kuraih kertas itu yang bertuliskan resep obat Papa. 
Tuhkan, yang aku kira itu benar. Papa semalam kebanyakan makan daging kambing. Pasti dia lupa nggak minum obat. Kelewatan sekali Papa ini, untung saja tidak sampai kena stroke. Alhamdulillah ya Allah, semoga Papa sehat selalu.
"Iya, Dok. Terimakasih banyak ya," ucap Mama menanggapi.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya, Bu. Mari." Dokter ramah tamah itu berlalu.
"Ma, aku tebus obat ini dulu ya, sekarang Mama masuk gih. Lihat Papa udah sadar apa belum," titahku.
"Iya, Vin. Sama Mama mau nanya ke papamu, kok bisa dia darah tingginya kumat. Perasaan kemarin dia cuma makan sayuran deh pas di restoran. Fix! Papamu berhutang banyak penjelasan sama Mama!" 
"Eh, Ma …." Aku mendengus. Belum juga kuselesaikan kata-kataku. Mama sudah ngeloyor masuk. Aku takut kalau Mama bakalan mengintimidasi Papa dengan banyak pertanyaan yang jelas nanti akan membuat Papa kelimpungan juga tersudut.
Dahlah, mendingan aku tebus obat ini agar nanti bisa segera diminum oleh Papa.
Aku agak kurang paham dengan ruangan-ruangan di rumah sakit ini. Kedua netraku sibuk menelisik di sepanjang lorong yang kanan kirinya terdapat banyak sekali kamar berjajar. Tapi sejauh ini belum ada ruangan yang bertuliskan tempat penebusan obat atau apotik. 
"Sus, tempat buat nebus resep obat di mana ya? Dari tadi saya udah muter-muter nggak ketemu," tanyaku pada suster yang kebetulan melintas.
"Di sebelah sana, Mbak." Suster menunjuk lorong ke arah Selatan. "nanti Mbak jalan lurus aja, terus di sebelanya ada ruang laboratorium." Dengan jelas dan ramah suster ini memberitahu secara detail. 
Ya, semua yang bekerja di rumah sakit ini memang banyak yang ramah dan baik. Pantas saja Mama meminta Papa untuk dibawa ke sini tadi.
"Oh … makasih banyak ya Sus."
"Sama-sama, Mbak." Suster itu pergi. 
Sebelum aku mencari keberadaan apotik. Aku mampir dulu ke toilet untuk buang air kecil.
"Ma, sekarang Panji udah lumpuh. Dia udah nggak bisa jalan lagi, Ma. Aku nggak mau nikah sama pria cacat kayak dia!" 
Lamat-lamat terdengar suara orang yang tengah bercakap-cakapan. Dan itu menyebut nama Panji. Setelah aku ke luar dari toilet, pelan-pelan kucari asal suara itu yang ternyata berasal dari dua wanita di sudut sana.
Dua wanita itu salah satunya calon istri Panji. Tapi yang satunya bukanlah mamanya Panji. Entah siapa, aku belum pernah lihat sebelumnya.
Kupasang telinga ini baik-baik. Dan menguping di tepi tembok sambil menyiapkan kamera HP untuk merekam percakapan mereka berdua.
"Sayang, kalau kamu batalin pernikahan ini terus gimana sama nasib keluarga kita? Perusahaan kita itu udah mau bangkrut Sayang. Butuh banyak suntikkan dana, dan itu hanya bisa kita dapatkan dari keluarganya Panji. Kamu nggak ingat, bulan lalu perusahaan kita gagal menangin proyek itu. Terus, siapa lagi yang mau invest dan bantu keuangan kita kalau bukan keluarganya Panji. Tolong pikirin nasib keluarga kita ya Sayang ya," ucap wanita paruh baya tersebut pada calon istrinya Panji. 
Astaga, ternyata mereka anak sama Ibu yang hanya ingin memanfaatkan keluarganya Panji. 
"Tapi, Ma … aku malau kalau harus punya suami lumpuh. Terus, dia nggak akan pernah berguna buat aku, Ma! Cuma jadi beban aja ntar kalau aku jadi nikah sama dia!" Sang anak bersungut. Tangan ia sendekapkan di dada. Sekarang aku tahu, dia mau nikah sama Panji hanya karena harta. Yang lebih menyedihkan lagi, gadis rese itu mengolok Panji yang kini tak berdaya di belakang. Padahal kemarin-kemarin, mamanya Panji begitu mengagung-agungkan calon menantunya. Eh, nggak tahunya gadis yang selalu dipuja-puja itu tak lebih dari seekor ular betina bermuka dua.
Bagus, teruslah bicara. Agar durasi rekaman video ini berlangsung lama. 
"Nikah saja sama dia, Sayang. Nanti kalau sudah beberapa bulan kamu ceraikan dia. Yang terpenting kita keruk dulu harta mamanya Panji yang sok belagu itu!" Senyum miring tersungging di wajah keduanya. Seperti tengah bahagia menyusun rencana yang akan mereka lakukan.
"Ide bagus itu, Ma. Lagian, aku juga nggak akan pernah mau dia menyentuhku walau seujung kuku pun. Hih! Najis Ma!" Gadis itu setuju dengan ide sang Mama.
Kurasa sudah cukup durasi untuk menyudahi rekaman video ini. Di sisi lain karena aku juga takut ketahuan. Jadi, aku memilih mengakhiri rekaman ini dan akan memasukan ponselku ke dalam tas. 
Siapa tahu video ini nanti akan berguna. Aku membatin.
"Heh, Vina! Kenapa kamu lama banget?!"
Aku telonjak kaget. Mama menepuk pundakku hingga HP yang hampir masuk ke dalam tas itu nyaris jatuh ke lantai.
Bersambung

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru