Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku Bab 53 Di pinggir jalan, mata ini terkesiap melihat banner besar yang berdiri kokoh di sana. Foto prewedding Panji dan gadis rese itu tengah berpose mesra. Apa itu artinya mereka akan menikah? Jika iya, betapa jahatnya Panji. Mengapa ia bisa secepat ini melupakan kisah kita yang lama ada. Pradugaku tentangnya tak sesuai dengan realita. Kini, dia dan aku benar-benar telah usai. "Heh Vina, kenapa wajahnya ditekuk begitu?" Mama bertanya seraya mendaratkan tepukan di pundakku. Terperanjat diri ini dan segera membuyarkan lamunan. Karena ternyata mobil kami sudah tiba di restoran. "Eh, em, nggak pa-pa kok Ma," ujarku tergagap. Gundah gulana kembali menyapa setelah berminggu sirna karena aku sibuk pada pekerjaan. "Jangan terlalu sering ngelamun, Nak. Nggak baik. Hati-hati kesambet loh." Seperti biasa, Mama selalu membeo. "Apaan sih Ma, orang nggak kenapa-napa juga. Udah ah, ayo turun. Udah dibukain pintu sama William tuh," cetusku lalu ke luar. Mama menyusul dan kami berempat masuk ke dalam restoran beef steak. Sepanjang acara makan. Telingaku menangkap desas desus dari para pengunjung tentang pernikahan Panji. Wajar jika mereka membicarakan soal itu, karena keluarga Panji cukup terkenal di kota ini. Tak ada sepatah kata selama makan berlangsung. Aku yang biasa nyerocos ceria mendadak jadi pendiam. Hanya Nadif yang bisa mengembalikan keceriaanku lagi. Tapi sekarang Nadif sibuk mengurus bisnis juga suaminya. Jadi nggak enak kalau aku sering mengajaknya untuk ketemuan atau sekadar berlama-lama curhat lewa sambungant telepon. "Vin, kamu bayar gih," pinta Mama. Baru saja kuelapkan tissu di area bibir. Mama sudah memintaku untuk cepat-cepat bayar makanan. "Iya." Kuraih bil di atas meja dan segera ke kasir. Sekian total makanan yang kubayar. Kami semua lekas kembali ke kantor kecuali Mama. Mama entah mau pergi ke mana, katanya sih mau menemui teman lamanya. Biarlah, biarkan Mama menjelajah kota ini lagi. Setelah sekian lama menetap di Jogja. *** Berada satu ruangan bersama Papa jauh menyenangkan. Aku jadi banyak tahu hal baru mengenai bisnis. Aku ini baru pemula yang bermodalkan nekat, jelas pengalamanku tak sebagus Papa yang sudah memulai semua bisnis ini dari nol. "Vin," panggil Papa. Aku yang duduk di kursi kerjaku segera mendekat. "Iya Pa, kenapa?" "William itu kayaknya anak yang baik. Pekerja keras juga, apa kamu nggak punya rasa tertarik sedikit sama dia?" tanya Papa setengah berbisik. Ludahku langsung mendadak tertelan dengan sendirinya. Lah, bukankah tadi di mobil Papa yang melerai omongan Mama soal William. Sekarang kok malah Papa yang gantian membahas hal begini. "Apa Papa mau punya mantu yang tidak seiman?" tanyaku to the point. Bagiku ini jelaslah penting agar tidak pernah terjadi kesalahpahaman yang tidak diharapkan. "Maksud kamu gimana Vin?" Papa mengeryitkan dahi. Yang memang sudah bergaris karena usia. "William itu non muslim Pa, jadi tolong Papa stop bahas dia buat comblang-comblangin ke aku ya," ucapku tegas. Papa langsung tertunduk. "Oalah, maaf ya, Vin. Papa nggak tahu. Karena dulu pas Papa menyerahkan kedudukan ini ke Ari, William belum bekerja di sini. Jadi Papa nggak tahu kalau dia non muslim." Papa melepas kacamata beningnya dan diletakan di meja kerja. "Iya, Pa. Apa ada lagi yang perlu dibicarakan? Kalau enggak aku mau kembali kerja." Papa mengangkat satu tangan ke udara. Pertanda jika tak ada lagi yang ia bicarakan sama aku. Beberapa file dalam laptop kuperiksa. Jari ini sibuk bergerilya di atas keyboard benda digital itu. Sampai sore tiba, Papa memperingatkan kalau sudah waktunya pulang. "Vin, ayo pulang. Udah mau jam lima loh ini. Kamu mau sampai kapan di kantor ini?" ujar Papa. "Bentar Pa, masih ada yang harus Vina kerjakan." Aku tak beralih dari layar laptop. "Rajin banget kamu, Nak. Tapi ayo pulang dulu, nanti kamu kerjain di rumah aja. Emangnya kamu berani di sini malam-malam sendirian?" Aku bergidik ngeri membayangkan kalau di sini sendirian. Pasti banyak sosok tak kasat mata yang menemani lembur. Kuhela napas dan segera menutup laptopku. "Oke, ayo pulang." Aku bersiap. Dan Papa sudah berdiri menunggu sembari memasukan tangan ke saku celananya. Kugandeng tangan Papa melintasi lobi juga lift. Satpam yang berjaga di luar menunduk dengan senyuman. "Mau pulang ya Pak?" tanya Satpam berseragam hitam itu ramah. "Iya, saya duluan ya," sahut Papa. Aku juga ikut mengangguk samar. Semenjak Papa di sini, aku yang sudah lama tak menggunakan jasa supir. Sekarang jadi pakai karena permintaan Papa. Katanya dia malas kalau harus pergi ke mana-mana nyetir sendiri. Ponsel Papa berbunyi. Padahal mobil ini baru ke luar dari area parkiran. "Ya, halo, Ma. Ada apa?" tanya Papa dengan seseorang yang dipanggil Ma. Ah, pasti itu Mama, siapa lagi emangnya. "Papa ini udah pulang belum?" tanya Mama terdengar jelas olehku. Karena posisi duduk Papa yang ada tepat di sebelahku. "Ini baru aja ke luar dari parkiran kantor Ma, kenapa?" "Nanti Papa mampir ke toko kue ya, suruh si Vina buat beliin Mama cheese cake." "Terus beliin apa lagi Ma? Biar sekalian." "Udah itu aja, jangan sampai lupa ya, Pa." "Iya, Ma." Pap menutup telepon dari Mama. Sedetik kemudian, netra Papa beralih ke arahku. "Vin, mamamu minta dibeliin cheese cake katanya," ujar Papa yang aku sudah tahu. Ya kudengar sendiri dari percakapan mereka. "Iya, Pa." Singkatku. Jengah sekali menunggu lamanya lampu tiga warna yang menggantung di atas sana itu berubah menjadi hijau. Ditambah antrian kendaraan roda dua dan empat saling bertahan di posisinya masing-masing. Rentetan antrian yang perlahan bergerak itu terasa lama sekali. Sudah menjadi teman sejak lama, macetnya jalan ibu kota saat berangkat dan pulang kerja seakan terus melengkapi. Mentari yang tadi masih nampak. Kini tenggelam ditelan gulitanya malam di ujung khalayak senja. Sore yang begitu singkat sekarang berubah jadi malam yang kelabu. Hanya deru mesin kendaraan yang saling beradu meninggalkan jejak-jejak yang tak terukur. Debu jalan berlomba saling beterbangan mencari tempat di mana harus menetap. Asap knalpot yang semakin merangsek indera penciuman membuat sesak bagi mereka yang melupakan masker sebagai benda wajib disaat pandemi yang kini melanda negeri Pertiwi. Beberapa penjual makanan ringan yang sudah lansia masih berkeliaran menawarkan dagangan mereka. Menyapa satu persatu pengendara dalam kaca maupun hanya terhalang benda pelindung kepala. Sayangnya, kini giliran mobil ini yang melintasi lampu hijau itu. Tak ada waktu untuk membantu melariskan dagangan sang Kakek di pinggir sana. Mau bagaimana lagi, waktu belum mempertemukan rezeki dariku untuknya. Semoga besok kalau lewat lagi aku bisa merasakan dagangan yang ia papah dalam kayu yang terikat di pundak dan tengkuk lehernya. Bak seberat beban hidup yang harus disangga, diusia yang tak lagi muda, beliau masih berkecimpung di dunia yang suka dukanya hanya diri sendiri yang mengerti. Motif ekonomi acap kali jadi alasan mengapa harus memeras keringat dan membanting tulang untuk sesuap nasi di puncak harapan. Letih keringat mengalir bagai deraian asa dimana tak selamanya kalau menua itu bahagia. Semua yang kulihat hari ini, perlu jadi motivasi agar aku lebih banyak bersyukur lagi. Mobil ini di berhentikan supir di depan toko kue sesuai dengan yang Mama perintahkan. Sepasang kaki kuayunkan untuk masuk ke dalam toko dan membeli beberapa kue. Yang paling utama, pesanan Mama jangan sampai terlupa. Karena itu akan sangat bahaya, bisa ngomel tujuh hari tujuh malam dia kalau sampai kelupaan. Bahkan ingatan kesalahan dua puluh tahun lalu pun akan turut keluar dan terputar dengan apik yang memekak bagi telinga pendengarnya. Begitulah wanita, ingatannya sangat tajam. Setajam mulut tetangga. Ah, maaf tetangga, aku tidak bermaksud mengingat fakta. "Pesanan Mama kamu ada 'kan?" tanya Papa setelah aku masuk ke mobil dengan membawa dua kresek besar berisi kue berbagai rasa dan bentuk. "Ada kok Pa, untung aja cepet. Hampir habis tadi," tukasku berkata apa adanya. "Ah syukurlah, kalau sampai kehabisan bisa tamat riwayat kita berdua, Vin." Papa menghembuskan napas lega. Dada ia elus pelan. Sepertinya takut kalau dapat ceramah kalau sampai di rumah nanti. "Tenang Pa, aman kok." "Eh, Vin. Tadi pas kamu udah masuk ke dalam toko. Mamamu nelepon lagi. Katanya kita juga disuruh mampir beli sate di pinggir jalan. Mana dia bilang mau sate Madura lagi." Papa berkata, aku langsung menghela napas panjang. Astaga Mama! Ada aja yang dititipin. "Hah, sate Madura? Belinya di mana Pa? Aku belum pernah beli sate itu. Kalau sate ayam aku sering makan. Tapi kalau date Madura belum pernah beli atau makan sekali pun." "Saya tahu warung sate Madura, Non." Pak supir ikut menyahut. Sembari mengemudi ia sesekali menoleh ke belakang. Tepat ke aku dan Papa yang memang duduk di kursi belakang. "Ah, syukurlah kau Bapak tahu. Tapi sate itu di pinggir jalan 'kan jualannya. Enggak di restoran 'kan Pak? Soalnya Mama saya mintanya yang dijual di pinggir jalan." Beruntun aku bertanya. Semoga sesuai yang diharapkan. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengotak-atik HP untuk cari tahu di mana letak warung sate Madura itu. "Iya, Non. Jualan di pinggir jalan kok. Enak juga, soalnya saya pernah beli." Aku senang atas apa yang dikatakan Pak Supir. Kali ini, selamat lagi dari amukan Mama yang banyak mintanya. Tak apa, toh nanti kita juga akan tua, mana tahu kalau nanti gantian aku yang minta ini itu sama anakku kelak. Lampu kota sudah menyala semuanya, adzan magrib sudah berkumandang bahkan sudah ada yang selesai. Kami bertiga masih melakukan perjalanan ke arah sate yang entah di mana letaknya aku belum tahu. Sepertinya memanglah jauh, tapi oke aku sama Papa kuat kok. Asal dapat makanan yang Mama mau. Yang penting Mama senang dan bahagia. "Memang agak jauh Non tempatnya." Pak supir nyeletuk. Mungkin merasa tidak enak karena dari tadi belum sampai juga. "Ya, nggak apa apa kok, Pak. Santai aja ya, yang penting dapat satenya," ujarku. Setir bundar itu berputar. Menepi di pinggir jalan yang dari kejauhan sudah terlihat tulisan "warung makan sate Madura asli. Tanpa penyedap rasa tapi tetap lezat dan nikmat." Begitulah sekiranya isi dari banner yang ada di atas gerobak sate itu. Oh ada juga gambar lelaki pakai blangkon dan baju bergaris merah putih yang tengah memegang satu piring sate dan kumis tebalnya kelihatan nyentrik sekali. "Bapak mau ikutan turun nggak?" tanyaku pada Pak Supir. Lidahku suka lupa sama namanya. Makanya lebih sering dan fasih kalau aku memanggilnya Bapak. "Boleh, Non. Biar saya temenin Non Vina, takutnya banyak yang mengganggu ntar. Ya maklum aja sih, karena Non Vina mah cakep banget." Pak supir memuji. Aku tersenyum padanya. "Ya udah ayo Pak, biar Papa tunggu di mobil aja ya." Kulirik Papa yang malah ikutan turun dari mobil. "Nggak ah, Papa mau sekalian makan sate di sana. Udah lapar ini Papa, gara-gara mamamu minta dibeliin ini itu, kita jadi belum sampai rumah sampai sekarang." Papa bersungut. Dasi yang ada di bawah dagu ia longgarkan. "Oh, ya udah kita bertiga makan di sini aja. Tapi 'kan Papa nggak boleh makan yang banyak mengandung kolesterol." Aku menaik turunkan alis. "Halah gampang. Nanti kalau udah sampai rumah Papa bakal minum obat, oke. Jangan bilang mamamu ya, kalau Papa makan sate. Tadi siang aja di restoran beef steak Papa cuma dibolehin makan asparagus sama wortel doang. Apa-apaan tuh mamamu. Seenaknya sendiri!" Papa melenggang mendahului aku dan Pak Supir. Banyak antrian juga di warung ini. Membuatku, Papa dan Pak Supir mengantri cukup lama sampai pesanan kami datang. "Akhirnya bisa makan enak juga." Papa nyeletuk. Sendok sudah ia persiapkan saat sate yang masih mengepulkan asap itu tiba di depannya. "Mari makan, Pak." Ajakku pada Pak Supir yang namanya Pak Ujang. "Saya pindah ke tempat lain saja ya, Non." "Loh kenapa Pak?" Aku cengo, kenapa Pak Ujang mau pindah tempat. Padahal di sini makan sambil duduk lesehan sangat nikmat. "Saya sungkan kalau harus makan bareng semeja sama Non Vina dan Pak Hartono." Oh, jadi itu alasan Pak Ujang. Kirain apa, bikin aku berpikir aneh-aneh tadi. Piring itu hampir diangkat oleh Pak Ujang. "Eh Pak!" sergahku. "jangan pindah ke tempat lain Pak, di sini aja sama kita. Nggak pa-pa kok." "Tapi Non … saya ini hanya supir. Ya nggak pantas kalau makan bareng majikan." Pak Ujang kembali duduk. "Di mata Allah kita sama Pak. Udah jangan gitu ah, sekarang Pak Ujang makan yang kenyang. Kalau kurang pesan lagi, biar aku yang traktir." "Papa nggak ikutan ditraktir nih?" Mulut Papa yang sedang mengunyah sate bicara dengan susah payah. "Nggak. Khusus Papa bayar sendiri. Sama nanti punya Mama yang dibungkus juga Papa yang bayar ya." Tentu aku hanya bercanda. Mana mungkin aku beda-bedakan begini hanya masalah pembayaran. "Hih!" Papa menggigit sate dengan tusuknya itu dengan mata melotot padaku. Aku juga ikut merasakan betapa enaknya sate Madura ini. Pantas saja banyak yang beli, orang enak begini. Pasti nanti kalau Mama tahu rasanya juga palingan nyuruh beli lagi. Es teh manis datang saat sate ini tinggal setengah porsi. Ini kami yang terlalu cepat menyantapnya atau memang es itu yang terlambat datang. "Vina …," Papa memanggil namun berbisik. Kepala ia condongkan ke sampingku "Papa mau nambah gulai kambing boleh ya? Tapi jangan bilang-bilang ke Mama." Bisik Papa, membuatku hampir menyemburkan tawa. Mau kularang beliau, tapi tak tega karena Papa terus memasang ekspresi memelas. "Iya, tapi jangan banyak-banyak ya, ingat kolesterol Papa!" ucapku sontak membuat wajah papa berubah cerah. "Siap, Sayang. Hanya anak Papa yang paling mengerti." Papa berdiri dan mendekati penjual sate itu. Ternyata di sini ada banyak menu dari olahan daging kambing. Bukan hanya sate saja, melainkan ada gulai tongseng dan lain-lain lagi. "Pak Ujang kalau mau nambah boleh. Nambah aja ya, sana ikut Papa," ucapku pada Pak Supir yang barusan menyuapkan nasi. "Nggak usah Non makasih. Saya sudah kenyang." Pak Ujang menolak dengan halus. Sembari aku menghabiskan makanan. Aku juga menunggu kedatangan Papa yang membawa semangkuk gulai kambing yang aromanya tercium lezat sekali. Lidahku reflek mengecap tatkala kepulan asap enak itu menusuk hidung. "Pa … Vina mau juga dong gulainya, dikit aja." Aku merengek. "Dikit aja ya, perempuan nggak boleh makan banyak. Nanti gendut." Papa menyendokkan kuah gulai dan beberapa potongan daging itu ke piringku. "Iya, iya," sungutku memanyunkan bibir. Bikin nggak tahan aja ini gulai, rasanya sangat enak. Nggak ada bau apek sama sekali. Mungkin besok aku akan balik lagi ke sini untuk menjajal menu lainnya yang ada di warung sederhana ini. Papa masih asyik menghabiskan gulainya. Kupinta Pak Ujang untuk membayar semua makanan ini juga yang akan dibawa pulang. "Non Vina, ini kembaliannya." Dua lembar uang sepuluhan ribu Pak Ujang angsurkan padaku. "Buat Pak Ujang beli bensin nanti ya," tolakku. "Ini nggak pa-pa Non? Tapi saya udah ditraktir loh. Masa kembalian uangnya juga saya ambil." "Nggak pa-pa Pak, beneran saya ikhlas kok." Aku meyakinkan. "Terimakasih banyak Non. Semoga Allah yang membalas ya," ucap Pak Ujang lagi. "Amin Pak." Tak lama, Papa sudah menghabiskan gulai dalam mangkuk itu hingga bersih. "Papa … jangan lupa nanti minum obat ya, kalau bandel biar aku aduin ke Mama." Godaku. Papa mengedipkan sebelah mata. "siap Sayang." Brak! Bunyi yang cukup keras membuat kami dan pengunjung warung lain sama-sama kaget. "Eh ada apa itu?" "Kayaknya ada kecelakaan!" Bisik-bisik orang-orang ini kudengar jelas. Ada juga beberapa orang yang ke luar dari warung untuk melihat ke lokasi kejadian. "Pa, kayaknya ada kecelakaan. Ayo kita ikut lihat," cetusku. Papa dan Pak Ujang mengangguk. Banyak orang yang sudah berkerumun. Lokasi kecelakaan itu tak begitu jauh dari warung sate tadi. Pohon besar masih tetap kokoh meski ditabrak oleh mobil hitam legam itu. Aku, Papa dan Pak Ujang berlari menghambur untuk melihat lebih dekat di lokasi kejadian. Dadaku langsung berdebar kencang. Plat belakang di mobil itu aku kenal milik siapa. Itu mobil Panji. Semoga bukan dia yang kecelakaan. Bersambung Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya. Salam sayang ❤️ sehat selalu semuanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettttt
17/03/2025
0best books
01/10/2024
0menghibur
17/09/2024
0Lihat Semua