49

Cincin Berlian Palsu Gundik Suamiku
Bab 49
Gegas kuikuti dia. Yang ternyata menuju ke toilet.
Kurasa ini waktu yang tepat. Akan aku kembalikan cincin ini dan mengatakan … kita nggak akan pernah ketemu lagi.
"Panji!" Aku memanggil dengan menarik tangannya.
Ia pun menoleh.
Wajahnya terlihat terperangah melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
"Vina, kok kamu ada sini?" tanyanya, dengan mata agak membeliak.
Cincin yang ada di jari manis ku segera kuberikan tepat di atas telapak tangan Panji.
"Ini, cincin yang kamu kasih aku kembalikan. Dan jangan pernah temui aku lagi! Berbahagialah, kamu pantas bersanding dengan wanita yang setara dengan keluargamu." Setelah mengucapkan kalimat berat itu. Aku berbalik badan dan berlari kecil meninggalkan Panji yang memekik memanggil namaku.
"Vina!" Panggilnya nyaring. Dapat kudengar bahwa Panji mengejarku.
Aku bungkam. Pura-pura terlihat biasa saja karena malu dilihat banyak pengunjung restoran.
Panji berhasil mengejarku sampai di parkiran depan hampir dekat dengan jalan. 
"Vina, ini maksudnya apa? Kenapa kamu tiba-tiba marah begini. Dan kenapa juga kamu kembalikan cincin ini? Apa salahku?" Beruntun Panji menggelontorkan pertanyaan yang bukankah dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Jika kamu mau tahu alasanku. Tanya saja sama wanita yang sudah melahirkanmu ke dunia itu! Satu lagi, hubungan kita stop sampai di sini. Aku nggak mau lagi ketemu kamu, Pan. Aku nggak pantes buat kamu! Karena aku nggak selevel dengan keluarga kamu!" Aku mengatakannya dengan emosi yang berdentang di dada. Darah ini serasa mendidih bila ingat ucapan mamanya Panji yang keterlaluan. 
"Mama sudah apain kamu? Kenapa kamu jadi begini? Hah!" Panji memegang kedua bahuku. Menatapku yang sudah susah payah menahan air mata dan enggan membalas tatapan mata itu.
"Coba kamu ingat sendiri, Pan. Sekarang aku tahu, kenapa alasan kamu nggak bisa nemenin aku pergi sama Nadif. Ternyata kamu lagi ada acara makan-makan sama keluarga kamu 'kan? Oh, enggak cuma itu, mungkin keluarga kamu akan membahas perjodohan dengan gadis yang cantik tadi itu." Cukup sesak menahan sebah di dada. Lebih baik jika semua uneg-uneg ini ke luar dan agar Panji paham mengapa kita harus berakhir di sini.
"Oke aku minta maaf karena aku nggak bisa nemenin kamu pergi. Tapi aku ke sini sama keluargaku juga keluarganya Karin, itu hanya makan-makan biasa." 
Sekarang aku tahu nama gadis bergaya high class tersebut. Namanya cantik, sesuai dengan orangnya.
"Nggak ada yang perlu diperpanjang lagi, Pan. Sekarang, kamu pergi masuk dan temuin keluargamu. Aku pergi." 
Kebetulan ada angkot yang lewat. Dengan terpaksa aku meninggalkan Panji yang masih memanggil dan berdiri di pinggir jalan.
Dari kaca angkot yang agak buram. Masih dapat kulihat Panji di sana. Lelaki berkemeja biru tosca itu berkali-kali mengusap wajah juga menyugar rambutnya.
Jika ini jalan yang terbaik. Aku siap jika harus kehilangan ia untuk yang kedua kalinya. Sepertinya, dunia ini tak akan pernah merestui kami. Meski dipertemukan kembali setelah bagai kelam yang dulu menerjang, nyatanya kami tak akan pernah bisa bersama.
Aku menyerah Tuhan! Aku hanya ingin tenang menjalani kehidupan sehari-hari seperti orang-orang normal pada umumnya. Tak haruskah selalu kurasakan sakit hati melulu saat merajut asmara. Batinku terus menjerit, meronta, meski bibir ini diam. 
"Mbak tadi di panggil-panggil sama suaminya tuh." 
Aku menoleh pada Ibu-ibu yang duduk di sebelahku dalam angkot.
"Oh itu, dia bukan suami saya, Bu," jawabku lantas membuang wajah ke sembarang arah.
Malas sekali bila harus membahas masalah ini.
"Oh bukan suaminya ya, tapi kok kayaknya dia begitu peduli sama mbaknya?" Ibu-ibu berjilbab pink ini terus nyerocos. Bahkan membuat kupingku terasa panas. Segitunya dia ngurusin masalah orang.
"Pak, berhenti!" Aku menepuk pundak supir untuk minta diberhentikan di pinggir jalan. Malas sekali kalau harus berdampingan dengan orang yang terus bertanya tanpa ia tahu bagaimana keadaan hatiku yang sebenarnya.
"Ditanya gitu aja marah!" Padahal, aku sudah ke luar dari angkot. Tapi perempuan itu masih saja nyinyir dan malah mendelik menatapku.
Aku tak menghiraukan dia. Bodo amat, yang penting aku sudah ke luar dari angkutan umum ini.
Angkot itu melaju melintasku yang masih berdiri di trotoar. 
Cuaca hari ini tiba-tiba berubah. Pas berangkat tadi panas dan sekarang malah mendung.
Langkah gontai ini masih menyusuri trotoar dengan pelan. Aku masih enggan mengambil ponsel untuk memesan taksi online. Biarlah kalau hujan turun akan membasahi diri ini, pun berharap bisa membasuh semua letih juga luka yang sudah terlalu lama mengendap di dalam sana. Menyamarkan air mata yang berderai dibersamai luruhan air hujan agar tak kentara.
Aku mendongak ke atas, melihat langit yang semakin kelabu. Menyaksikan kemelut awan di awang-awang yang mulai membentuk rintik dan turun ke bumi.
Desiran angin tak luput menerpa wajah dan memainkan rambutku yang tergerai bebas. Rintik kecil hujan dari cakrawala menyentuh kulitku, memberi sensasi nyaman ketika semua rasa gundah dalam dada menyatu dengan alam yang seolah sekarang merasakan apa yang kurasakan.
Untung saja tas yang kubawa terbuat dari kulit. Aku tidak perlu buru-buru berteduh untuk mengamankan dan dompet serta ponsel di dalamnya. 
Aku jadi bebas menangis di bawah hujan yang semakin berderai rapat. Menitihkan air mata bersama guyuran rinai yang membuat tenang.
Sudah lama sekali aku tidak bermain hujan. Saat-saat seperti ini mengingatkanku pada masa lalu.
Saat aku sedang bermain hujan kala itu, aku pernah terpeleset hingga jatuh dan membuat lututku terluka. 
Jelas luka gores di lutut itu membuatku menangis. Namun apa yang terjadi? Ada seorang lelaki cinta pertama anak perempuannya menyembuhkan luka itu dan berkata … "biar Papa obati semua lukamu, Nak. Jangan terjatuh lagi ya, Papa nggak mau melihat anak Papa yang cantik ini menangis. Jadi perempuan itu juga harus kuat, agar nanti tidak selalu bergantung pada laki-laki." selalu terngiang kata-kata Papa pada gadis kecilnya. 
Jika aku bisa memilih. Lebih baik aku ingin menjadi Vina kecil saja, meski aku jatuh, hanya lutut saja yang terluka. Bukan hati. 
Lama-lama aku melangkah, aku singgah di taman kecil yang terdapat di dekat perempatan jalan raya. 
Aku duduk di kursi besi. Masih dengan posisi yang sama, yaitu menangis. Selemah itukah aku? Jawabannya iya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku merasa gagal dan tidak bisa mengabulkan permintaan Papa untuk menjadi anak yang tegar dan kuat.
Entah berapa lama aku di taman ini. Namun hujan dengan tenang masih mengguyur dan membuat basah semua bajuku. Saat kulihat orang-orang lain tergopoh untuk mencari tempat berteduh, itu tidak berlaku padaku. Justru aku semakin senang jika hujan kian membulir deras.
Andai saja ini tempat yang sepi. Sudah kupastikan aku akan berteriak sekeras-kerasnya. Meluapkan semua emosi yang ada. Tapi jika aku memaksa berteriak di sini, mungkin orang-orang yang lewat akan menganggapku wanita gila.
Telapak tangan kuangsurkan ke udara. Merasakan air dingin itu tercetak di sana. Lalu menggenggamnya erat dan air hujan itu jatuh bersama kawan-kawannya yang lain. Membasahi rumput hijau yang kini semua sudah basah dan terlihat segar.
Kurasa hujan tiba-tiba berhenti. Lekas kuedarkan pandangan ke sekeliling dan mendongak ke atas.
Ada payung yang ternyata membuatku teduh. Entah siapa orang yang sudah memayungiku.
"Kenapa hujan-hujanan? Nanti kamu sakit loh." Pria yang sedang berdiri di belakangku sembari menggenggam gagang payung itu bertanya.
Ah, ternyata Mas Ari yang memayungiku. Kenapa dia bisa tahu aku di sini?
"Kok kamu bisa ada di ini Mas?" Aku bertanya balik.
"Aku tadi kebetulan lagi pulang kerja, eh nggak sengaja lihat kamu duduk sendirian di taman ini. Kenapa kamu hujan-hujanan begini? Ada masalah apa, Vin?" Ia mengulang pertanyaannya yang belum kujawab.
"Nggak pa-pa, Mas. Aku hanya rindu hujan-hujanan," sesingkat itu jawabanku. Padahal, dalam hati ruwetnya bukan main.
"Oh, ya udah, kamu pulang gih. Udah sore. Bawa aja ini payungnya," pintanya. Mas Ari mundur dan meminta tanganku beralih memegang gagang payung itu.
"Nggak usah, Mas. Nanti malah kamu kehujanan kalau pulang." Aku menolak.
"Nggak pa-pa, Vin. Udah biasa kehujanan kok. Yang aku khawatirkan malah kamu Vin, aku takut kamu sakit." 
"Nggak, Mas. Aku pulang dalam keadaan begini saja. Lagian semua bajuku juga udah basah." Aku berjalan menjauhi Mas Ari yang masih berdiri di belakang kursi taman.
Tak ada lagi kudengar ia bertanya atau memanggil. Kurasa, sudah tak perlu juga aku terlalu dekat-dekat dengannya. Meski ia kini berubah baik, tapi itu sama sekali tidak akan merubah keputusanku untuk tetap menutup pintu hati untuknya.
Tanpa aku perlu repot-repot memesan taksi via online. Ada mobil berwarna biru tosca yang melintas mencari penumpang.
Gegas aku naik mobil itu dan mengatakan tujuanku. Yaitu ingin pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah. Hujan masih belum mau reda. Cepat kubersihkan diri dengan mandi pakai air hangat. 
Sembari mengusap rambut dengan handuk di depan meja rias. Aku membuka ponsel untuk memblokir nomor Panji. Mulai sekarang sudah kuputuskan untuk menjauhinya, begitupun dia, aku memintanya untuk tidak pernah menemuiku lagi.
Kuabaikan beberapa panggilan masuk juga pesan yang ada di aplikasi hijau darinya. Semua riwayat tentangnya sudah kuhapus tanpa sedikit pun tersisa.
Tok! Tok!
Kuletakan gawai kembali di meja saat ada yang mengetuk pintu kamar dari luar.
"Masuk!" titahku. Dapat kutebak kalau yang mengetuk pintu yaitu Siti. Tadi aku meminta ia untuk membuat teh.
Siti masuk sembari membawa nampan berisi segelas teh.
"Ini Nya, tehnya. Mau ditaruh di mana?" tanyanya seraya berjalan mendekat.
"Taruh di meja situ aja ya, Mbak." Aku menunjuk meja persegi yang ada di depan televisi.
"Iya, Nya. Oya, Nyonya mau apa lagi? Biar Siti bikinkan." 
"Nggak ada, Mbak. Makasih ya," ucapku tersenyum pada ART yang kupanggil Mbak tersebut.
Siti mengangguk angguk samar dan beringsut pergi menuju pintu.
"Jangan lupa tutup rapat pintunya ya, Mbak. Biar nggak ada nyamuk yang masuk," kataku sebelum Siti menghilang di balik pintu.
"Iya, Nya."
***
Meski sudah malam ba'da isya. Aku terus memperhatikan jendela yang kacanya berembun. Hujan masih belum mau beranjak pergi mengguyur perumahan ini. Untungnya sekarang kompleks perumahan ini sudah tidak pernah banjir seperti dulu. Kalau dulu hujan setengah hari saja sudah pasti airnya naik hingga ke teras dan bahkan masuk ke dalam rumah.
Kusesapi teh yang mulai dingin karena lama tapi belum habis juga. Menghirup udara malam yang terasa dingin menusuk hidung. Kusendapkan satu tangan di bawah dada sembari mengecap teh yang perlahan mulai kuteguk hingga tandas.
Mulai besok, aku sudah harus kembali melakukan aktivitas seperti semula. Yaitu kembali duduk di kursi kantor untuk bergelut dengan waktu juga tenaga dan olah pikiran yang biasa ada dalam persaingan bisnis.
Tadi aku dapat email dari orang kepercayaanku di kantor. Kalau sekarang ada perusahaan yang mulai mengancam pasar dari perusahaanku. Persaingan di bidang properti semakin ketat sekarang, karena kini banyak berdiri perusahaan baru yang menawarkan harga lebih murah dengan kualitas yang cukup bagus. 
Ini mengharuskanku untuk putar otak agar semua kerjasama dengan pihak terdahulu tetap terjalin dengan baik. Mau bagaimanapun, semua masalah harus segera diatasi, agar semua tetap berjalan dan tidak tersendat karena keraguan investor yang sempat hampir hengkang dari kerjasama ini.
Dering ponselku memecah keheningan malam yang sunyi di ruangan ini.
Hanya berjalan beberapa meter dari jendela. Ponsel yang memperlihatkan panggilan masuk itu terus menyala.
Asisten kantor bernama William itu terpampang di sana. 
Kutekan tombol hijau dan menempelkan benda gepeng ini ke daun telingaku.
"Ya, halo Wil, ada apa?" sapaku.
"Bu Vina, besok ada rapat. Ibu bisa hadir 'kan? Soalnya penting, ada tender proyek besar yang harus kita menangkan," kata William di seberang sana.
"Iya, besok saya akan datang. Kamu siapkan jadwalnya saja ya, kita ketemu di kantor," ucapku.
"Saya sudah ada beberapa desain untuk tender proyek itu, Bu. Tapi ya … balik lagi ke awal, pihak yang mau bekerjasama itu mau enggaknya ditentukan besok. Soalnya, setahu saya, ada beberapa perusahaan yang sudah menawarkan harga lebih rendah dari perusahaan kita. Soal kualitas, saya yakin kalau perusahaan kita jauh lebih unggul." 
"Percaya diri itu bagus, Will. Tapi juga harus ingat batas. Saingan kita bukan perusahaan kecil, mereka bahkan berani menawarkan spek yang bagus. Itu yang saya tangkap dari pesaing sewaktu kita memenangkan tender beberapa bulan yang lalu." 
"Iya, Bu Vina. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud besar kepala dan terlalu percaya diri."
"Sudah, nggak pa-pa kok. Yang penting, kita harus kerjasama dengan baik agar besok tender itu kita yang menangkan. Oke. Saya percayakan itu ke kamu Will." 
"Iya, Bu. Siap. Maaf sudah mengganggu malam-malam begini. Selamat beristirahat, Bu Bos," tukas William terdengar riang.
"Iya, selamat malam juga. Jangan lupa istirahat kamu Will. Oya, minum vitamin juga biar tetap bisa jaga kesehatan. Sekarang masa pancaroba, kadang hujan kadang panas. Dan itu bisa membuat kita rentan terserang sakit." 
"Siap, Bu. Bu Vina juga ya." 
Kuakhiri panggilan ini. William memang asisten yang bisa diandalkan. Kulihat pekerjaannya selalu bagus, dia juga rajin dan ulet sekali. Aku janji, kalau tender besok perusahaanku yang menang. Aku akan mentraktir semua karyawan terutama William yang telah bekerja keras.
Kurebahkan tubuh di kasur. Malam ini aku harus tidur lebih awal. Mengingat besok aktivitas dan kesibukan kembali kujalani.
"Nya! Nyonya!" Suara pintu diketuk juga pekikan membuatku kembali bangkit.
"Ya ada apa, Mbak?"
Setelah membuka pintu. Siti sudah berdiri di depanku dengan wajah dan perangainya yang seperti kebingungan.
"Itu … di luar ada teman Nyonya yang nungguin," kata Siti dengan napas Tek beraturan.
"Siapa? Panji?" tekanku. Pasalnya, tadi aku sempat memberitahu Siti kalau ada Panji ke sini jangan diperbolehkan masuk. 
"Iya, Nya. Dia nekat nerobos masuk. Padahal sudah saya bilang kalau Nyonya Vina sedang nggak bisa diganggu," terang Siti merasa tak enak.
"Iya nggak pa-pa. Sekarang dia lagi ada di mana?" 
"Saya suruh dia nunggu di teras Nya, tadinya mau masuk tapi saya cegah dan saya bilang takut dimarahin Nyonya."
"Em, kamu istirahat aja ya, Mbak. Biar saya yang tangani."
Aku dan Siti menuruni undakan anak tangga beriringan. Tapi Siti pergi ke arah belakang dan aku berjalan ke teras untuk menemui Panji.
"Ngapain kamu ke sini?" Aku bertanya, dengan kedua tangan berkacak di dada sembari bersandar di pintu.
"Vina, kenapa kamu blokir nomorku?" Panji berdiri di depanku.
"Itu hak aku dong. Mau blokir nomor kamu kek. Mau hapus nomor kamu kek. Itu urusanku, Pan! Aku udah bilang 'kan ke kamu. Jangan pernah temuin aku lagi. Kamu ngerti nggak sih?!" Aku bertanya dengan nada tinggi.
"Sekarang aku tahu alasan kamu begini ke aku Vin. Semua gara-gara Mama aku 'kan?" Ia pun tak mau kalah dan menambah volume suaranya.
"Kalau kamu sudah tahu. Kenapa harus nanya ke aku lagi? Hah! Sudah cukup Pan, kita nggak akan pernah bisa bersatu. Ingatlah, wanita yang paling berarti dalam hidup ini hanyalah seorang Ibu. Jika kau menentang kemauan mamamu, itu sama saja kau menolak surgamu bukan?!" 
"Tapi nggak gini juga Vina! Semua bisa dibicarakan baik-baik. Kamu jangan pernah berpikir kalau aku akan mau melakukan perintah Mama aku. Yang aku mau cuma kamu Vina! Bukan orang lain!" 
Kami berdua saling beradu pandang dengan emosi masing-masing.
"Itu yang kamu mau, Pan. Bukan yang Mama kamu mau! Kita itu beda, kamu konglomerat dan aku hanya serpihan beling yang tak akan pernah terlihat berharga di mata Mama kamu! Sampai sini paham 'kan?! Sekarang kamu pulang! Dan jangan pernah injakan kaki di sini lagi!" 
Aku mendorong dada Panji agar ia segera enyah dari hadapanku. 
Bukannya lekas ia menjauh. Satu tarikan darinya sukses membuat tubuhku berada di dalam dekapannya.
"Lepaskan!" Aku berontak. Kupukul-pukul dada bidang itu berulang kali.
"Pukul aku Vin! Pukul! Bahkan jika kau mau membunuhku sekarang. Aku siap! Lakukanlah asal itu bisa menebus rasa kecewamu padaku." Tanganku melemah mendengar ia mengucapkan kalimat seberani itu.
Tak ada pertikaian lagi di antara kami. Diam menjeda, hanya ada helaan napas yang keluar masuk dari paru-paru kami masing-masing. 
"Akan kupatahkan sekat yang berusaha memisahkan kita. Percayalah, sekat itu akan melunak dengan kesabaran dan ketulusan. Aku mencintaimu Vina …." Degub jantungnya terus berpacu bersama kata yang terlontar indah. Membuat sesak ini kembali mendera karena ingat, sekat itu ialah surga yang ada di telapak kaki ibunya. Bagaimana jika surga bisa ia patahkan? Kurasa … hal itu hanya bisa menimbulkan luka di mana-mana.
"Bagus! Teruslah berpelukan! Karena itu pelukan yang terakhir untuk kalian!" 
Suara tepukan tangan membuat kami menarik diri masing-masing. 
Aku dan Panji melihat ke arah suara itu. Mata kami sama-sama membeliak. Di sana ada wanita dan dua orang berbadan gempal tengah berdiri di belakangnya sambil memasang wajah sangar.
Bersambung

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru