35

GUNDIK SUAMIKU
Part 35
"Kenapa ngerem mendadak, Pan?" tanya Bu Marni. Kami semua tentu kaget atas kejadian tadi.
"Em, nggak pa-pa, Bu. Hanya saja, mungkin Vina udah nggak mau lagi rujuk sama nih orang." Panji kembali melakukan mobilnya.
"Ya, kalau gitu semua terserah Vina saja." Bu Marni menoleh ke arahku.
Sungguh, sampai sekarang aku belum bisa menerima kenyataan. Bahwa dialah Ibu kandungku yang sebenarnya. Bagiku, Ibu kandungku ya hanya Mama Sari seorang.
*
Sepulang dari Jogja. Langsung kurebahkan tubuh di atas ranjang. Rasa lelah juga sedih makin menyeruak kala teringat kejadian di Jogja tadi pagi.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam pun aku masih belum bisa beranjak bangkit dari pembaringan. 
Sekarang, pasti Mama sudah membenciku. Pikirku tak tenang, hingga terpaksa membuat kaki ini melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga pikiran yang mengendap di kepala.
*
Tetesan air yang meluncur dari rambut kini beralih ke handuk yang bertengger di kepalaku. Selepas mandi, aku mematut diri di cermin. Membingkai wajah yang masih sendu dengan mata sembab yang kadang masih berembun.
Dering ponsel memecahkan rutukanku dalam hati.
Gawai tersebut sekarang berpindah ke samping Indra pendengarku.
"Halo," sapaku ketika tombol hijau sudah kugeser.
"Turun sekarang, aku sudah ada di depan rumah kamu," kata lelaki yang memintaku dengan suara lembutnya.
Kuhela napas. Setelah mengiyakan, aku segera turun ke lantai bawah untuk membuka pintu pagar.
Senyum manis menyambut. Buket bunga mawar merah semerbak meramabat ke ujung hidung. 
Panji datang bersama Nadif malam ini. Mereka membawa sesuatu di tangan mereka masing-masing.
"Aaaah, Vina. Kok mukanya masih sedih gitu. Semangat dong," seloroh Nadih lalu merangkul pundakku.
"Tumben kalian ke sini bareng? Janjian ya?" kelakarku berhias senyum di ujung kalimat.
"Eh jangan salah paham. Kami cuma nggak sengaja barengan kok. Tadi aja ketemunya di depan gerbang," jawab Nadif. Sahabatku ini apa pun kondisinya selalu ceria.
"Iya, iya, ayo masuk." 
Mereka berdua dan aku masuk ke rumah. 
"Vin, bunga buat kamu." Panji menyerahkan buket bunga itu padaku. 
"Makasih ya," kataku sembari menyambut bunga tersebut.
"Vina, aku mau minta maaf." Panji berkata. Ia menatapku dalam.
"Maaf soal apa?"
"Em, kamu ingat nggak, pas kejadian Pak Slamet mukul kamu di rumah sakit? Waktu itu, aku mau penjarain dia. Tapi … dia memohon dan memelas atas dasar kapok dan merasa bersalah. Aku jadi mengurungkan niatku buat penjarain dia. Apalagi, dia kan pamannya Marisa. Otomatis dia kenal dekat juga sama aku dulu. Eh, malah dia berulah lagi dan bikin kamu kecelakaan. Aku benar-benar minta maaf Vin, aku lalai. Semua salahku." Bibir Panji bergetar mengatakan.
Aku menghela napas. Harus menyikapi seperti apa lagi. Karena jujur, saat ini aku sudah lelah untuk membahas perihal pria jahat itu.
"Iya, lupakan saja." Aku berkata dengan suara pelan.
"Aku benar-benar minta maaf, Vin," ucapnya lagi semakin terlihat memohon.
"Iya, aku maafin," balasku sekenanya.
"Vina, aku sudah tahu semuanya. Kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini. Percayalah, ada hikmah di balik setiap cobaan. Apalagi, cobaan yang menimpa kamu hampir bertepatan dengan bulan suci ramadhan. Aku yakin, semua pasti merubah kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Nadifa mengelus pundakku. 
Dia … satu-satunya sahabat yang lebih dari saudara. Aku mencerna dengan baik wejangan dari Nadif, semua perkataannya benar. Ini cobaan dari Allah agar aku senantiasa lebih bersabar lagi. 
"Iya, Dif. Nanti kita ngabuburit di mana ya enaknya? Bentar lagi bulan puasa nih," kataku mengalihkan alur pembicaraan. Agar semua tak terasa canggung karena tadi sempat membahas soal Pak Slamet.
"Ya elah, kita kan kerja Vin. Mana sempat ngabuburit. Lagian, aku kan punya toko. Mana bisa ditinggal-tinggal." Nadif ngegas, suara cemprengnya memenuhi ruangan.
"Kamu kan ada karyawan, Dif. Masa nggak bisa ke luar jalan-jalan?"
"Bisa kok, tapi sekarang ya?"
Aku mengerutkan kening. Ngapain ngelayap sekarang. Aku aku inginkan itu ngabuburit nanti pas puasa.
"Iya, Vin. Sekarang kamu siap-siap ya, kita jalan-jalan." Panji menyahut obrolanku dengan Nadif.
Wanita di sampingku terus mengangguk. Memberi isyarat agar lekas aku iyakan ajakan pria di seberang sana.
Kupikir, saat ini aku juga butuh menghirup udara segar. Melepaskan segala penat di kepala.
"Oke siap, aku ganti baju sama ambil tas dulu ya?" Aku bangkit, lalu melenggang ke kamar.
*
"Kita mau jalan ke mall 'kan?" tanyaku di tengah perjalanan.
"Enggak, siapa bilang mau ke mall. Orang kita mau ke pantai kok." Nadif yang duduk berisisian denganku lekas menjawab.
"Bagus deh kalau ke pantai, aku pengen ngerasain diterpa angin," ujarku lantas mengerjapkan mata sejenak. Membayangkan desiran angin yang menyejukkan. 
Menit berlalu. Mobil Panji terparkir dan aku segera berlari ke luar untuk menuju pesisir.
Sambutan sepoi angin berdesir membuat rambutku melambai-lambai.
"Gimana? Suka?" 
Aku menoleh. Ketika suara berat seorang pria terdengar mendekat.
"Iya, suka banget," jawabku. Panji tersenyum. Kedua tangan ia masukan ke saku celananya.
Kuedarkan pandangan ke sekitar. Si Nadif entah ngacir ke mana. Hanya Panji saja yang menyusulku.
"Eh, Nadif ke mana ya? Apa dia nggak ikutan turun?" tanyaku.
"Ikut kok. Dia lagi beli sesuatu."
"Oh …." Hanya itu tanggapanku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu menghembuskan ke udara. Rileks sekali rasanya, mendadak semua beban di kepala turut melayang terbawa semilirnya angin.
"Vina, sampai sekarang kamu belum mengenali siapa aku ya?" 
Lelaki pemilik manik mata hitam pekat itu menatapku dalam. Hingga kedua pasang netra kami saling bertemu.
"Maksudnya apa ya? Lagian, kamu menurutku juga aneh kamu tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Kita kenal belum lama, dan kamu juga mantan suaminya Marisa. Iya 'kan? Semua jawabanku benar sekali bukan?" 
"Iya itu benar, tapi … ada satu hal yang ingin aku katakan, Vin. Aku Ahmad."
Aku langsung terpaku. Nama itu mengingatkanku pada seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Kamu ingat Ahmad yang dulu fobia sama kucing 'kan? Dulu dia tinggal di Jogja." Bibir ranum itu terus berbicara. Tatapannya membidikku tajam, hingga aku sendiri tak dapat memalingkan wajah walau sebentar.
"Iya, dia masih tersimpan dalam ingatan ini. Meski seberapa keras usahaku melupakannya," ulasku. Tak kuasa bila luka lama kembali terbuka. Aku segera merunduk, merasakan air mata yang mulai meniti.
Pikirku, kenapa Panji bisa tahu tentang Ahmad. Panji pun bilang kalau dia adalah Ahmad. Tetapi, wajahnya berbeda sekali. Mungkin, nama mereka yang tak sengaja mirip.
Anak rambutku yang terombang ambing oleh angin. Terasa di selipkan di antara celah daun telinga. 
Aku mendongak, melihat siapa yang sudah berani menyentuh wajah juga suraiku.
"Vina, apa kamu belum menyadarinya? Aku Ahmad, yang dulu kecelakaan dan sempat hilang. Sekarang, aku hidup buat ketemu lagi sama kamu Vina!" Suara Panji bersaing dengan angin. Ia berteriak lantang. Dan meraihku dalam dekapan.
Aku masih tidak percaya kalau dia Ahmad. Pasalnya, dulu Ahmad kecelakaan dan dinyatakan meninggal setelah jasadnya ditemukan. Tapi, kenapa dengan gamblang Panji mengakui dirinya sebagai pria masalaluku tersebut.
"Lepaskan! Kamu bukan Ahmad! Dia sudah meninggal! Wajahmu dan dia tak sama!" Aku memekik. Mendorong jauh tangannya Panji.
"Tuhan masih berbaik hati padaku, Vin. Aku kecelakaan, dan wajahku rusak. Akhirnya aku operasi, Vin. Ingatanku hilang, semua tentang kita aku nggak mengingatnya. Dan … terjadilah pernikahan antara aku dan Marisa, semua itu karena aku nggak ingat kamu. Percayalah padaku Vina. Sekarang, aku ada buat kamu." 
Mata Panji memerah, setetes cairan bening membasahi pipinya. Wajah itu … terlihat tidak berbohong.
"Kamu lihat ini!" Ia menunjukan sesuatu padaku. Foto kenanganku dan Ahmad, yang Panji ambil dari sakunya.
"Ka-kamu masih hidup?" Perasaan campur aduk mendera. Antara senang dan entah, aku segera memeluk Panji sambil tergugu.
"Akhirnya … kutemukanmu Vina …," bisikan lirih disertai rengkuhan erat membuatku tak kuasa menahan haru.
Bersambung

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru