27

GUNDIK SUAMIKU 
PART 27
Aku menuliskan nama lengkap beserta alamat rumah mama mantan mertuaku. 
"Tunggu ya, tulisan ini nanti akan di print untuk membuat surat penangkapan kepada pihak tersangka." kata pak Polisi menyerahkan secarik kertas yang kutulis pada anggota lainnya. 
"Apa Marisa juga terlibat dengan kejahatan yang kalian perbuat?" tanyaku pada kedua orang tak tahu diri itu. 
"Tidak, Nyonya!" Mbok Darmi menjawab lantang. 
"Beneran nggak ikut? Mendingan jawab jujur aja deh, daripada makin berat hukumannya," tandasku agar mbok Darmi mengatakan yang sejujurnya. Aku pun yakin, kalau Marisa juga terlibat. Dia kan, paling benci sama aku. Ditambah lagi, cincin yang ia harapkan jadi uang. Malah tak laku dijual. Terus, pak Slamet kan pamannya dia, pasti semua ada kaitannyalah dengan Marisa. 
"Sumpah, Nya. Marisa nggak tahu menahu soal rencana ini." Baru kali ini kulihat wajah mbok Darmi ketakutan juga terlihat serius.  Tetap saja aku masih tidak percaya dengan perkataannya. Sudah cukup aku dibohongi dan dikhianati olehnya. Sekarang jangan harap aku akan memberikan kepercayaan lagi walaupun hanya sebesar biji kemangi. 
"Kamu kan pamannya, Marisa. Katakan yang sejujurnya, apakah keponakanmu itu ikut campur masalah ini?" Kali ini aku bertanya pada pria paruh baya berwajah bengkak itu. 
"Sumpah, Nya. Marisa tidak ikut, hanya saya dan Darmi yang melakukannya, dan itu atas perintah Bu Mely. Lagipula, beberapa hari ini saya tidak pernah melihat Marisa lagi," jelas pak Slamet. Aku juga masih belum percaya, kalau tidak pihak kepolisian sendiri yang mengusut semua sampai tuntas. 
"Bu, sudah saatnya kedua pelaku ini kami amankan. Ibu silakan pulang dulu nggak pa-pa, nanti kalau ada sesuatu saya beritahu anda. Dan soal Bu Mely, biar pihak kepolisian yang mengurusnya ya, silakan tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi." Polisi dengan gambar dua bintang di kerah bajunya itu memberitahu. 
Dengan berat hati aku mengiyakan dan meninggalkan nomor teleponku pada mereka. Ponselku yang dicuri pak Slamet pun sudah dikembalikan. 
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih." Selesai bersalaman. Kutinggalkan ruang introgasi ini bersama Panji. 
"Nyonya …." Tangis mbok Darmi pecah ketika aku baru melangkah. "jangan penjarakan saya. Tolong ampuni saya Nyonya." tiba-tiba ia berlutut dan meringkuk sembari memeluk kakiku. 
"Lepaskan! Tanganmu terlalu kotor untung menyentuhku!" Kuayunkan kaki menghentak. Agar mbok Darmi melepaskan tangannya yang masih lengket memegang betisku.
Akhirnya, usaha yang ia lakukan sia-sia, kedua tangan itu perlahan melemah dan terlepas. Ia terduduk di lantai dengan air mata yang membanjiri wajahnya. 
Biarkan aku jadi orang pembenci hari ini. Karena lukaku terlalu sakit, hingga aku sulit memaafkan apa lagi membebaskan mereka begitu saja. 
Sebegitu menganganyakah luka pada hatiku? Jawabannya iya, secara fisik aku juga terluka akibat kecelakaan yang membuat aku keguguran. Namun, batin dan perasaan ini yang paling sakit sekali. Pengkhianatan mbok Darmi selalu terngiang kala otakku mengingat bahwa dia yang membuat banku kempes. Rasanya, hatiku sudah tak bisa melunak lagi untuk memaafkan kesalahannya. 
"Nyonya …," lirihnya lagi memanggilku dengan suara nyaris habis. Entah apa yang terjadi seterusnya, yang kudengar sebelum ke luar. Mereka di bawa masuk ke dalam sel sama petugas. 
Air mataku tumpah ruah ketika tiba di mobil.
"Menangislah, Vin. Luapkan semua yang mengendap dihatimu. Jangan biarkan dendam membuat hatimu jadi menghitam, aku paham dengan apa yang kamu rasa. Tapi … sebelumnya aku meminta maaf. Bukannya aku menyinggung atau menyalahkan kamu. Tapi tindakan kamu yang kasar pada Mbok Darmi itu salah," kata Panji panjang lebar. Di kalimat terakhir yang ia ucapkan aku tak mengerti.
"Maksudmu apa? Aku berlaku kasar apa pada wanita jahat itu?" Kutatap ia tajam. 
Panji mengemudi sambil sesekali melirik ke arahku.
"Kamu nggak sadar? Tadi kamu meghentakan kaki sampai dia terlempar loh Vina!" 
"Apa? Jadi cuma gara-gara itu kamu marahin aku? Kamu mikir dong, membuat dia terlempar itu nggak akan pernah cukup buat dia menebus kesalahannya." Kulemparkan pandangan ke arah kaca yang menerawang di sepanjang jalan. 
Apa benar kakiku tadi membuat mbok Darmi terlempar? Rasanya tidak. Tapi, kenapa Panji mengatakan itu? Apa memang aku melakukannya secara tidak sengaja karena aku tadi sangat emosi.
Ah, entahlah. Persetan dengan wanita iblis itu. Hanya kebencian yang muncul ketika mengingat namanya. 
"Aku akan mengantarmu pulang, agar kamu bisa istirahat." Lelaki di sampingku nyeletuk.
"Nggak! Anterin aku ke rumahnya Marisa." 
"Ngapain ke rumah wanita itu? Kamu tuh harus istirahat Vina. Kamu lagi dalam masa pemulihan. Jangan ngelayap nggak jelas kamu!" Panji meninggikan suara. Lama-lama, dia cerewet juga kayak wanita. 
"Aku ada sesuatu sama dia," cetusku acuh tak acuh. Karena aku ingat, bahwa aku akan mengambil alih anak asuh yang dirawat oleh Marisa. Beberapa hari lalu, ia sudah setuju anak yatim piatu yang ada di rumahnya akan ganti aku yang merawat mereka. Ya, dikarenakan kondisi ekonomi Marisa yang memburuk. Makanya dia mau menyerahkan anak-anak itu padaku. 
"Ayolah, Vina. Aku mohon, kamu turuti kata-kataku kali ini aja. Kamu harus istirahat." Lagi, ia ngedumel dan aku tidak menggubrisnya. 
"Udahlah, anterin aja aku ke sana. Kalau kamu nggak mau, turunin aku biar aku naik taksi aja. Jangan lupa taro mobilku di garasi ya," cecarku membuat ia menghela napas. 
"Iya, Vina. Fine!" sentaknya kesal. 
Setengah jam lebih dari kantor polisi. Tepat di perempatan jalan mobil kami berhenti karena lampu merah. 
"Rumah Marisa di mana?" 
"Kamu nggak tahu di mana rumah dia? Bukannya dia mantan istri kamu ya?" Aku agak heran. Masa mantan suami nggak tahu rumah mantan istrinya. Yang benar saja. 
"Nggak Vin, dulu aku sama dia nikah bukan di kota ini. Dan juga, kenal dia juga bukan di sini," jelasnya biasa saja. 
"Oh, perempatan ini lurus ke depan. Nanti ada papan asrama Haji belok kiri." Jariku menunjukan arah jalan yang nanti akan ditempuh. 
"Oke." Kembali ia melajukan mobilnya bersaing dengan kendaraan roda dua maupun roda empat lainnya. 
Kondisi jalan semakin macet karena jam segini banyak yang pulang kerja. 
Mentari pun sudah berada di ufuk barat. Sinar jingga di khalayak semesta menambah keindahan sore hari ini. Awan yang bersih tanpa mendung membuat cuaca cerah. Tapi, tidak dengan hatiku. Hatiku tetap mendung dan kelabu.
Sengaja kubuka kaca samping mobil. Agar aku dapat merasakan hembusan angin yang bercampur bau nalpot kendaraan menerpa tangan yang kulolongkan di jendela.
"Tutup kacanya! Banyak polusi, nggak sehat," tegur Panji. Karena malas berdebat. Aku kembali menutup kaca itu. 
Setelah melewati kelokan. Aku dan Panji sampai di rumah Marisa yang memanglah sederhana. 
Mata ini terbelalak melihat anak-anak itu berada di halaman rumah dengan barang-barang di sekitar mereka. Dan anehnya lagi, anak-anak itu terlihat menangis. 
Ada apa ini?
Bersambung

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru