logo text

Bab 16. Dihantam

GUNDIK SUAMIKU 
Part 16
Bugh! 
Lemas terasa tubuhku bak di hantam benda berat di tengkuk kepala. 
*
Aku terbangun, dengan pandangan mata yang masih meremang. Pusing yang ada di kepala pun tak kunjung reda. 
"Vin, kamu sudah bangun ...." Panji tengah duduk di sebelah bangsal tempatku berbaring. Apa yang terjadi padaku? Kurasa tadi aku sedang berada di kamar Mas Ari. 
"Aw!" Hampir saja aku tergelincir jatuh karena hendak duduk. 
Secepat kilat Panji menangkap tubuhku yang tadi terhuyung.
"Kamu istirahat dulu, jangan banyak gerak." Ia sibuk menata bantal dan selimut yang kupakai. 
"Sebenarnya ada apa? Bukannya aku tadi di kamar Mas Ari? Tadi aku ngerasa kayak ada yang memukulku dari belakang." lirihku mencoba mengingat-ingat kejadian tadi. 
"Iya, Vin. Untung saja aku tadi tidak ikut kamu masuk ke ruang inapnya Ari. Karena setelah kamu ke luar, lelaki agak tua itu mukul kamu dari belakang." 
"Maksud kamu ... Pak Slamet?!" Kelopak mataku reflek terbeliak mengatakan kalimat itu. 
"Iya, dia pamannya Marisa." 
"Terus, kamu biarin dia lolos gitu aja setelah mencelakaiku?" Sedikit kuangkat kepala meski berat. 
Panji segera menenangkanku dan menekan pundakku agar kembali berbaring.
"Dia sudah diamankan di kantor polisi, kan ada rekaman CCTV yang menguatkan bukti untuk dia masuk penjara." 
Napas gusar acap kali mengembang di rongga dadaku. Tak menyangka jika Pak Slamet akan sekeji itu, nekat sekali dia hendak membuatku celaka. Meski dia manusia, tapi bila gelap mata dan hati tak peduli dosa atau apa pun, semua dilakukan.
"Oh ... makasih ya, kamu sudah nolongin aku." 
Panji mengangguk pelan. "kamu istirahat ya, biar besok bisa pulang." pintanya menyunggingkan seulas senyum. 
"Vin! Vina!" Baru saja bibir Panji mengatup. Seseorang berteriak memanggil namaku berkali-kali. Ia berjalan dengan langkah yang lebar sembari menenteng tas. 
"Mau apa ke sini?" Sinisku saat ia tiba tepat di dekatku. Panji mundur beberapa langkah. Membiarkan Mama mendekat. 
"Vina, Mama mohon jangan pisah sama Ari! Apa lagi kamu sekarang sedang hamil." ucap Mama lantas menarik tanganku yang kuletakan di atas perut. 
"Apa sih, Ma! Lepasin aku!" Kutarik tanganku kasar, muak sekali menatap wajahnya yang tak menampakan gurat sesal sedikit pun. 
"Vin, Mama mohon, Nak. Jangan pisah dengan Ari, bagaimana nasib bayimu nanti kalau lahir tanpa seorang ayah." urai Mama memelas, kedua netra belonya berkaca-kaca. Jelas ini adalah sebuah tipuan. Aku yakin Mama hanya ingin kembali menikmati hartaku saja. Mana bisa dia hidup sengsara seperti dulu. 
"Aku bisa, menghidupi anak ini sendiri."
"Oh, Mama tahu, palingan itu bukan anaknya Ari. Tapi anak hasil selingkuhan kamu sama lelaki ini 'kan?!" Telunjuk Mama mengarah tepat ke wajah Panji. 
"Mama jangan asal nuduh ya, anak Mama tuh yang tukang selingkuh." selorohku mengeratkan rahang. Aku amat geram dengan tuduhan orang tua satu ini. Bisa-bisanya dia menuduhku seperti itu. 
"Halah, ngaku aja kamu, Vin. Hebat ya, padahal dulu kamu divonis nggak bisa punya keturunan loh sama Dokter. Tapi sekarang kamu kok hamil, sungguh luar biasa ya," sinis Mama mencemoohku. 
"Iya, Ma. Alhamdulillah ya, Tuhan kasi aku keturunan. Jadi lebih baik Mama pergi dari ruangan ini sekarang!" Kuarahkan telunjuk ke pintu yang setengah terbuka. 
"Dasar mantu kurang ajar, nggak ada sopan-sopannya sama orang tua." Mata Mama mendelik tajam. "inikah, lelaki idamanmu? Jauh banget sama Ari. Bagaikan langit dan bumi." 
Bukannya ia cepat pergi, malah mengolok-olok Panji. Membanding-bandingkan dengan anak lelakinya yang egois itu.
"Ma ... dia emang beda ya, sama Mas Ari?" tanyaku memulas senyum manis. "dia itu mantan suaminya Marisa. Jadi, selera Marisa dulu seperti ini ya, Ma. Oh ya Ma, lebih baik Mama beli kaca dulu buat ngaca. Apa yang Mama lihat baik belum tentu baik pula dari sudut pandang orang lain. Makannya jangan terlalu tinggi hati. Jika dia memang jadi seleraku, memangnya kenapa, Ma? Ada yang salah? Aku bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Mas Ari. Lihat saja nanti!" 
Meski aku sedang berbaring dengan dada bergemuruh. Aku tetap berusaha tegar dan terlihat baik-baik saja di depan Mama. Agar ia semakin terlihat sifat buruknya. 
"Mama mau pergi sendiri, atau mau aku panggilkan satpam?" tanyaku memastikan. Jika Mama berlama-lama di sini, itu membuatku semakin muak. 
Tanpa kata, mama beringsut pergi dan menutup pintu kasar.
"Argh!" teriakku kesal. Meski aku telah membantah segala ucapan Mama tadi. Kadang perkataan wanita itu mengusik kepalaku. 
"Kamu kenapa, Vin?" tanya Panji panik. 
Aku menggeleng. "Panji, tolong tinggalkan ruangan ini. Aku ingin istirahat."
"Iya, Vin. Selamat malam." tukasnya sebelum melenggang ke luar.
Tengkuk kepalaku bagian belakang masih terasa sakit hingga akhirnya kedua mata ini terpejam rapat karena lelah.
*
Rasa hangat menyilaukan netraku. Hingga akhirnya terpaksa kubuka. Ah, ternyata sudah pagi rupanya. 
"Selamat pagi, sudah bangun?" Baru saja mataku menerawang ke arah gorden. Panji sudah menyambutku dengan sumringah. 
"Sejak kapan kamu di sini?" Aku pun duduk dengan kaki menyilang.
"Dari tadi, kamu sarapan dulu ya, setelah itu aku antar kamu pulang." 
Krasak-krusuk suara kresek yang dibuka Panji menguarkan aroma yang membuat perut keroncongan. 
"Kamu bawa makanan apa?" tanyaku celingukan, ingin tahu makanan apa yang beraroma seenak ini. 
"Bubur ayam." singkapnya lantas menyerahkan styrofoam padaku. 
"Makasih." Segera kubuka makanan tersebut dan menyuapkannya ke dalam mulut. 
Satu kata. Enak sekali, jadi teringat masa kecil dulu, bubur ayam ini rasanya sangat persis dengan yang sering kumakan dulu sewaktu tinggal di Yogya. 
"Gimana Vin, enak?" 
Baru tersadar setelah bubur ayam ini nyaris habis. Panji tersenyum geli menatapku. 
"Enak, kamu beli di mana? Rasanya persis sekali sama yang dulu aku makan di Jogja." 
"Oh, aku beli di suatu tempat. Nanti aku kasih tahu kamu." jawabnya apa adanya. "udah belum makannya?"
"Udah kok. Makasih ya."
Panji mengambil wadah styrofoam dalam tanganku, dan menggantinya dengan segelas air. 
"Panji, aku mau bicara sama kamu." Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba Marisa nyelonong masuk tanpa permisi terlebih dulu. Wanita itu menarik lengan mantan suaminya yang tengah duduk di kursi dan lantas hendak membawanya ke luar dari ruangan. 
Bersambung....
Cerita ini murni fiksi ya, bukan fanfiction apa lagi true story. Jika ada kesamaan waktu, tempat, mau pun kejadian. Itu semua hanya kebetulan semata. Lagian, mana ada sih di dunia nyata laki-laki yang kayak Ari? Ya, mungkin ada kali, dikalangan orang kaya yang kasih cincin berlian buat selingkuhannya. 😂 Kalau dalam dunia nyata terlebih lagi buat orang yang tinggal di pedesaan kayak saya. Boro-boro pegang berlian, biasanya pegang batu kerikil.😂

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Fit Tri

    bagus bangettttt

    17/03/2025

      0
  • avatar
    OfficialEykin

    best books

    01/10/2024

      0
  • avatar
    HaryatiNadi

    menghibur

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru