GUNDIK SUAMIKU Part 15 Berhari-hari dibuat penasaran. Akhirnya manusia misterius ini kudapatkan. Jangan harap bisa lolos lagi dari tanganku. "Sini kamu!" Kutarik tangannya menjauh dari mesin ATM. "kamu sebenarnya siapa sih? Kenapa selalu mengikuti aku?!" tegasku masih dengan tangan yang mencengkramnya kuat. "Aku ...." "Mbak, Vina! Kamu kok sama mantan suami aku?" Cepat aku menoleh, ternyata Marisa sudah berada di sini. Ia melangkah semakin mendekat. Tadi Marisa bilang, laki-laki ini mantan suaminya? "Maksud kamu apa? Kenapa kamu menyebut dia mantan suami kamu?!" Telunjukku menunjuk wajah pria di depanku. Namun pandangan mataku mengarah pada Marisa. "Iya, Mbak. Dia mantan suamiku dulu," Pengakuan Marisa terdengar yakin. Aku beralih menatap lelaki yang disebut Marisa sebagai mantan suaminya. "Apa benar kamu mantan suami Marisa?" tegasku menekan. "Iya," jawabnya singkat. Yang membingungkan adalah ... kenapa lelaki ini bekerja sebagai satpam di rumah sakit yang berbeda. Dan Marisa bilang, kalau mantan suaminya itu orang berada, mana mungkin dia bekerja jadi satpam. Lagi pula, kenapa dia selalu menguntiti setiap kegiatanku, dia juga pernah menyelamatkan aku ketika Mas Ari hendak membuka Maskerku waktu itu. "Kamu masih hutang penjelasan sama aku." tekanku setengah berbisik. Aku mundur dan berbalik lalu masuk ruang ATM untuk mengambil uang. Pasti si Marisa ke sini karena aku kelamaan ngambil uang buat ngelunasin tagihan tadi. Dikiranya pasti aku kabur karena tak kunjung datang. "Marisa! Nih uangnya." Kuangsurkan lembaran uang sesuai dengan jumlah kekurangan tadi. Ia menerima uang itu cepat dan bergegas pergi tanpa sepatah kata apa pun. Ia juga tak bertutur sapa dengan mantan suaminya. Terlihat punggung Marisa yang semakin jauh. Kuperhatikan pria di dekatku. Ia menatap lamat mantan istrinya tak berkedip hingga bayangan wanita itu pun perlahan menghilang di terhalang tembok. "Tolong jelaskan semua ke aku!" tukasku dengan nada tinggi. "Oke aku jelasin, tapi nggak di sini." Lelaki berkulit putih ini menarikku perlahan. "ikut aku!" ajaknya. "Lepasin tangan aku!" Kutarik tanganku yang digenggamnya erat. Pria itu tak menggubris perkataanku. Bahkan ia membawaku menuju taman samping rumah sakit ini. "Duduk!" pintanya saat kami tiba di taman yang sudah tersedia tempat duduk. Terpaksa aku mengikuti permintaannya untuk duduk di bangku besi yang terasa dingin karena angin malam. Ia pun lantas turut duduk di sampingku, sembari meletakan siku tangannya di atas lutut dengan punggung setengah membungkuk. "Maumu apa sebenarnya? Katakan!" "Vina ... sebelumnya aku minta maaf, karena sudah ikut campur masalahmu dengan Ari. Perlu kau tahu, aku hanya ingin membantumu. Itu saja, tidak lebih." jelasnya dengan punggung perlahan menegak. Wajahnya ia dongakan juga dengan sorot mata mengarah ke atas sana. Tepatnya menatap langit yang bertabur kerlip bintang. "Aku masih tidak mengerti dengan penjelasaanmu. Kenapa kau meyelamatkan aku ketika di rumah sakit saat Mas Ari mendesakku membuka masker? Terus ... kau ingat tidak? Saat kita bertemu di restoran beef steak?" "Iya, Vin. Kamu masih ingat sama aku? Aku ... Panji. Teman masa kecilmu dulu," Pria yang mengaku namanya Panji itu mengambil sesuatu dari saku kemejanya. Ia mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya dengan korek api. "Panji ...?" ucapku penuh tanya. Karena memang aku tidak kenal dengan lelaki ini. Ia mulai menyesap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. Sektika itu pula perutku terasa mual. Kubekam mulut ini menggunakan kedua tangan. Tak tahan dengan bau asap rokok yang membumbung dan diterpa desiran angin. "Huek!" "Kamu kenapa, Vin?" tanyanya panik. Ia membuang puntung rokok dan menginjaknya sekali. "Aku nggak tahan sama bau rokokmu." lirihku menahan perut yang terasa diaduk. Kepala ini pun langsung mendadak berdenyut dan semua terasa gelap. * "Aku di mana?" Ruangan bercat putih dengan gorden biru muda mendominasi tempat yang asing. Ini bukan kamarku, lantas aku di mana? "Vina, kamu sudah sadar?" Pria yang tadi berada di taman denganku bertanya khawatir. Dengan tangan yang menempel di pelipis. Tak hentinya aku memencet kepalaku yang masih sangat pusing. Kutata posisi duduk, kaki kujuntaikan ke lantai. Mataku memindai sekeliling, satu Dokter wanita berkaca mata tengah menatapku lekat. Dari tadi belum ada yang menjawab pertanyaanku. Kuperkirkan aku tengah berada di ruang periksa. "Vin, aku bantu kamu berdiri ya," Kutepis tangan Panji dan memilih turun dari brankar sendiri. "Saya sakit apa, Dok?" tanyaku lirih. Dokter itu memapahku untuk duduk di kursi. "Selamat, Bu. Anda positif hamil." Dadaku terasa berhenti berdetak. Tenggorokan ini pun mendadak tercekat. Bingung harus mengekspresikan kehamilan ini seperti apa. Antara sedih dan bahagia. Bahagia karena inilah saat-saat yang kunanti sepanjang hidupku. Sedihnya karena kehadirannya disaat aku dan Mas Ari akan berpisah. "Ini hasilnya." Dokter berpakaian putih ini menyerahkan amplop bertuliskan nama rumah sakit ini padaku. Jemariku yang bergetar menerimanya ragu. "Pak Panji, dan Bu Vina, Kalau begitu saya permisi dulu. Dijaga ya kandungannya, karena diusia trimester pertama rawan sekali keguguran." jelasnya lalu ke luar dari ruangan. Lututku rasanya lemas dan tak mampu menopang bobot tubuhku. Hampir saja aku terhuyung jatuh menabrak meja. "Vina ... kamu hamil." Sayup-sayup suara panji mengusik indra pendengaranku. Tak kuindahkan perkataannya. Aku ingat, bahwa Mama dan Pak Slamet akan datang ke rumah sakit ini. Jangan sampai aku kehilangan kesempatan emas ini untuk membuat mereka mati kutu. Kupaksa kaki ini melangkah untuk mencari ruangan tempat Mas Ari dirawat. "Vin, kamu masih lemah. Jangan dipaksa jalan sendiri." teriakan Panji menggema di sepanjang lobi. Semua ini gara-gara asap rokoknya dia, aku jadi pingsan dan berada dalam situasi ini. Benar-benar menyebalkan. Derap langkahnya mengikutiku yang sebentar lagi akan tiba di kamar Mas Ari. Tak membuang waktu lagi. Kuputar knop pintu kamar Mas Ari dan melihat para pengkhianat itu sedang berada di sana. "Vi-Vina ...." Mama terperangah menatapku yang tengah berada di ambang pintu. Pak Slamet membulatkan matanya, sedangkan Marisa hanya tertunduk lesu. "Bagus ya, kerja sama kalian sungguh luar biasa." Aku berusaha tegar dengan melangkah santai menuju mereka berempat. "Vin ... ini nggak seperti yang kamu lihat. Marisa cuma ...." "Cuma apa, Ma?! Udahlah nggak usah ngelak lagi, aku sudah tahu semuanya. Kalau Mas Ari sudah menikah dengan Marisa. Dan sekarang, Mama harus tahu, kalau semua harta sudah atas namaku. Jadi, jangan harap Mama bisa mendapatkan secuil harta sedikit pun. Ingat, Mas Ari menikah denganku hanya modal baju saja, Ma. Semua ini dari orang tuaku. Bukan milik Mas Ari." Tanpa air mata, aku sanggup mengutarakan semua yang sudah penuh di hati. Biar mertuaku ini sadar diri. "Itu surat apa, Vin?" Mata Mama mendelik pada surat yang kubawa di tanganku. "Bukan urusanmu!" sanggahku ketus. "Ma, apakah Mama sudah tahu kalau Mas Ari sekarang buta?" tambahku tersenyum sinis. "Buta? Maksud kamu apa, Vina?" Mama menggeleng pelan, ia menatap sekeliling bergantian. Oh, mungkin Marisa belum memberitahu soal kebutaan Mas Ari pada Mama. "Tanya saja sama menantumu itu, Ma." Tawaku semakin menyeringai. "Vina, jangan tinggalin aku, Vin. Aku nggak mau hidup miskin." ringis Mas Ari memohon padaku. Lelaki yang sebentar lagi akan jadi mantan suami itu tak hentinya meraung. "Sini suratnya!" Tak kusangka, Mama seberani itu merebut amplop dari tanganku. Ia tak dapat kuhentikan, dan akhirnya, Mama membaca isi surat tersebut dengan mata melotot. "Vina, kamu hamil? Bagaimana bisa? Bukannya Dokter sudah memvonis kamu mandul saat dulu kamu kecelakaan. Surat ini pasti salah." Berulang kali Mama menggelengkan kepalanya. "Kamu hamil anak aku, Vin? Jadi, aku mohon kita jangan berpisah." sela Mas Ari mengeraskan suaranya. "Ingat, Mas. Islam memperbolehkan wanita hamil bercerai, yang tidak diperbolehkan Islam adalah ... lelaki menyakiti hati wanita. Jadi, jangan harap aku akan membatalkan rencanaku untuk berpisah denganmu. Camkan itu, Mas. Mulai detik ini, pintu rumahku tidak akan terbuka lagi untuk kalian semua." Meski sakit hati ini belum padam. Aku memilih untuk pulang ke rumah. Kurasa semua sudah selesai di sini. Tentang kehamilanku, akan kupikirkan lagi langkah selanjutnya. "Vina! Tunggu, Vin!" Mas Ari memekik, meraung memanggil namaku yang sudah berajak menjauh. Brugh! Lemas terasa tubuhku bak di hantam benda berat di tengkuk kepala. Bersambung.... Terimakasih sudah mampir.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettttt
17/03/2025
0best books
01/10/2024
0menghibur
17/09/2024
0Lihat Semua