GUNDIK SUAMIKU Part 11 "Sini kamu ikut aku!" Kutarik tangan wanita yang kutebak dia adalah Marisa. "Ampun, Mbak!" ringisnya memelas. Lengan tangannya kucengkram erat menuju toilet yang berada di dekat ruang periksa. "Buka maskermu! Aku yakin kau Marisa! Dasar pelakor!" kataku meledak-ledak. Aku amat geram dengannya. Karena dia Mas Ari jadi sering berbohong padaku, karena dia juga, rumah tanggaku jadi hancur. Meski aku yang akan menggugat cerai Mas Ari. Namun, jika semua masalah tak bersumber dari dia. Rumah tanggaku pasti akan baik-baik saja. "Aku yakin kau Marisa! Dasar wanita murahan! Untuk apa kau berhijab segala! Wanita iblis, wanita tak punya hati!" Sekali tarikan napas. Kuceloskan semua umpatan yang selama ini mengendap di hati. Biar saja, aku berperilaku begini. Toh semua ini gara-gara dia. "Stop, Mbak! Jangan hina pakaianku! Aku bukan pelakor, Mbak. Aku ini istri Mas Ari." sanggahnya tak terima. Wanita ini masih enggan membuka masker yang menutupi separuh wajahnya. "Oh, kalau kamu tidak mau dihina, ya jangan merusak rumah tangga orang dong!" Kedua tanganku berkacak di pinggang. Ingin rasanya aku mendaratkan tamparan keras di pipinya. Jengkel dengan sanggahannya yang selalu membela diri. "Mbak tahu? Apa alasanku berjilbab?" Netranya berkaca, kenapa jadi dia yang sedih? Harusnya kan aku, karena menjadi korban atas sekandalnya dengan suamiku. "Lepas jilbabmu, kau tak pantas mengenakannya. Dan perlu kau tahu, kau hanya menikah siri 'kan dengan Mas Ari. Aku yang lebih berhak atasnya." Kutatap ia tajam. Namun ia enggan membalas tatapanku. Dagunya hanya tertunduk, dengan titikan air mata yang membasahi jilbab khimar yang ia kenakan. "Stop, Mbak! Jangan rendahkan aku! Ini semua bukan hanya salahku, namun juga salah Mas Ari. Semua ini takdir, Mbak. Kami saling mencintai." Kalimat yang ia katakan semakin membakar emosiku. Tidak tahu diri sekali dia, sebagai sesama perempuan masih bisa mengatakan hal itu. Luar biasa sekali binalnya. "Hebat kamu ya," Tanpa aba-aba, kutarik jilbabnya hingga terlepas dan melemparnya jauh. "Aaaa! Jangan, Mbak!" pekiknya menangis tergugu. Kedua bola mataku melotot tak percaya. Kepala Marisa nyaris botak. Bahkan di sana, hanya ada beberapa helai rambut yang terlihat kusam. Masker yang menutupi area hidungnya pun ikut terlempar bersama jilbab tadi. "Ka-kamu ...." ucapku terbata. Napas pajang berhembus seketika. Aku terperanjat dengan apa yang kulihat sekarang, kenapa kepala Marisa seperti itu? "Kau sudah puas, Mbak? Lakukan apa lagi sesukamu, aku terima semuanya. Aku sadar, aku hanya wanita jahat yang merusak kebahagiaan rumah tangga orang. Perlu kau ketahui apa alasanku, Mbak. Aku hanya ingin bahagia disisa umurku." jelasnya sembari menangis tersedu-sedu. Kuremas telapak tanganku kuat-kuat. Aku merasa bersalah telah bertindak anarkis terhadapnya. Menyudutkan semua masalah seolah ulahnya. Padahal, bila pihak lelaki tak menanggapi, semua pasti tak akan terjadi. "Ma-Marisa aku ...." Ah, untuk mengucap kata maaf pun lidahku terasa kelu. Egoku terlalu tinggi untuk mengutarakan sebuah permintaan maaf. Marisa berlalu dan memungut jilbab yang tadi terlempar ke lantai. "Marisa, tunggu! Kita selesaikan semuanya sekarang. Jangan menghindar lagi." Tangan Marisa hendak menggapai handle pintu toilet. Seusai mendengar penuturanku. Ia tertegun sesaat. Lalu berbalik ke arahku. "Apa yang perlu diselesaikan, Mbak? Belum cukup kah? Mbak menggancurkan martabatku?" Wajah kuyunya menatap lemah. "Apa kau tahu? Sekarang Mas Ari sedang dirawat di rumah sakit ini." "Ma-Mas Ari kena--" "Dia kecelakaan." Kupotong ucapan Marisa. Kedua socanya lantas terbelalak kaget. Beberapa saat. Marisa masih terperangah, sesekali ia menggeleng sambil menutup mulutnya menggunakan tangan. "Pakai jilbabmu, dan ikut aku." Marisa bergegas memakai jilbabnya kembali. Namun masker yang tadi dikenakannya tak ia pakai, entah apa alasannya. Mungkin dia ingin Mas Ari melihatnya jika sudah tersadar nanti. * Sudah hampir satu jam aku dan Marisa menunggu di luar. Kami duduk pun tak saling bersisian. Bak anak kecil yang saling bermarahan. "Apa di sini ada yang bernama Marisa?" Suara yang barusan muncul seusai pintu terbuka, lantas membuat aku dan Marisa berdiri menghampiri sang Dokter. "Dok, gimana keadaan suami saya?" tanyaku cemas. Sejenak, kuabaikan pertanyaan Dokter sebelumnya. "Pasien sedang kritis, dia memanggil nama Marisa. Kalau anda Marisa, lebih baik langsung masuk saja. Oya, nanti setelah menjenguk pasien, tolong temui saya di ruangan saya. Ada hal yang perlu saya sampaikan." pungkas Dokter bernama Mario itu lantas berlalu pergi. Cepat aku masuk ke dalam ruangan, diikuti Marisa juga. "Mas, bangun, Mas. Aku di sini," kataku pada Mas Ari. Lelaki yang sudah membersamai selama empat tahun itu masih tergelak lemah dengan beberapa selang saling bertaut di sela tangannya. Dan juga, perban berwarna putih berdecak merah membelit bagian mata Mas Ari. "Marisa ... Marisa ...." lirih Mas Ari menyebut nama wanita di belakangku. Hatiku berdenyut nyeri, mendengarnya mengucap nama wanita lain yang sudah jelas bukan istrinya. Ah aku lupa, sekarang 'kan bukan aku sendiri istri Mas Ari. Melainkan Marisa juga. Marisa tertuduk lesu. Ia terpaku menatap kosong dengan wajah sedih yang tak kalah sedihnya denganku. "Marisa ...." panggilku seraya mendongakan wajah. Kode agar ia mendekat berlaih ke posisiku, dan aku bergeser agak menjauh dari wajah Mas Ari. Ia menggeleng lemah. Mungkin ragu akan pintaku. Aku tahu, sekarang yang terpenting bukanlah ego, melainkan sebuah keikhlasan. Bilamana aku sudah tidak dianggap dan dibutuhkan lagi, lebih baik aku yang pergi. Kuanggukan kepala yakin. Agar ia tahu aku tidak main-main. Sekejap kemudian, Marisa pun maju berada di samping kepala Mas Ari. Kedua tangan kurusnya perlahan menyentuh lembut punggung tangan Mas Ari yang tertancap jarum infus. "Mas ... aku di sini ...." urai Marisa sesekali menyeka air matanya Mas Ari masih mengerjap rapat. Bibirnya kadang berdesis seperti menahan sesuatu. Apa aku tak sakit hati melihatnya? Pertanyaan itu membidik tajam ulung hatiku sendiri. Jawabannya adalah ... iya. Aku cemburu dengan Marisa, apa spesialnya dia? Hingga hati Mas Ari luluh begini. Lagipun, ada banyak pertanyaan lagi mengenai wanita itu. Bukan hanya soal kisah cintanya bersama suamiku. Melainkan, perihal ia datang ke rumah sakit ini. Juga karena kepalanya yang nyaris gundul. Apa Marisa menyembunyikan sesuatu? Kurasa iya, karena tadi ia sempat bilang bahwa, ingin bahagia disisa umurnya. Entah apa maksudnya. Yang kutafsirkan, Marisa sangat mencintai Mas Ari, terlihat dari pancar matanya. Tak ingin rasa ini makin berkobar. Lebih baik aku pergi menemui Dokter. "Marisa, aku boleh minta tolong?" Cepat Marisa melepaskan tangan Mas Ari. Dan meletakannya kembali di tepi bangsal. Ia menatapku canggung. "Minta tolong apa, Mbak?" "Tolong jaga Mas Ari ya, aku akan menemui Dokter." "Iya, Mbak." Kuayunkan langkah menuju pintu. Air mata ini perlahan berjatuhan seiring mengalunnya derap langkah yang makin menjauh dari ruangan Mas Ari. Berat sekali meninggalkan dua sejoli di dalam sana. Napasku terasa tersenggal, sebelum memasuki ruang Dokter. Kuseka pipi ini secepatnya. "Permisi," ucapku sambil mengetuk pintu. "Masuk! Aku masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan Dokter yang tadi merawat Mas Ari. "Dengan Ibu Marisa?" tanyanya. "Bukan. Saya Elvina." "Anda siapanya, pasien?" "Saya istrinya." Dokter berkumis itu mengeryitkan dahi. "begini ya, Bu. Pasien mengalami kerusakan pada kedua matanya. Kemungkinan pasien akan mengalami buta permanen." Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettttt
17/03/2025
0best books
01/10/2024
0menghibur
17/09/2024
0Lihat Semua