Dua minggu berikutnya Emery tak melihat tanda-tanda Archer, pria itu bagaikan ditelan bumi. Hilang tak tersisa, membuat Emery yang sekarang duduk di kursi roda sambil melihat taman rumah hanya melamun. Lagipula jika dia ada Emery akan marah besar, lebih baik tak melihatnya sekalian. Saat sedang menikmati pemandangan Bunga yang bermekaran, seorang pelayan dirumah itu berjalan mendekatinya. "Nona, sarapannya sudah siap." Emery menoleh sedikit. "Bawa aku masuk!" Wanita itu pun berjalan lebih dekat lalu mendorong benda yang bisa berputar itu, membawa Emery masuk kedalam untuk sarapan pagi. Kala hampir sampai dapur, tiba-tiba Emery merasa mual dengan aroma masakan yang entah apa. Wanita itu menutup hidungnya, lalu memukul tangan pelayan yang mendorong dengan tergesa-gesa. "Bawa aku pergi dari sini!" "Tapi nona sarapan anda?" "Aku mual," ucapnya yang detik berikutnya menunjukkan aksi mualnya yang sontak pelayan itu buru-buru membawanya menuju kamar mandi. Emery berusaha memuntahkan isi perutnya namun yang terjadi hanya cairan bening yang keluar dan itu sama sekali tidak membantu dirinya. "Nona, anda tidak apa-apa? Perlu saya panggil dokter?" tanyanya yang panik sekaligus takut, kalau Tuannya tau maka tamat lah mereka semua. Bisa-bisa mereka di tuduh meracuni isterinya ini. Karena tak menjawab dan masih muntah membuat dia buru-buru pergi untuk menelpon dokter, ia juga harus berpikir dua kali untuk menelpon Archer atau tidak? Pria itu sekarang sedang sibuk di luar kota, mengurusi pekerjaan sambil menjauhi Emery terlebih dahulu, karena Archer yakin Emery masih marah dengannya. Kesalahannya memang fatal, tapi dia tak perduli bahkan merasa tindakannya itu benar, memang memang pantas mati karena telah membuat hatinya gundah. Ia takut gadis kecil itu akan membujuk Emery untuk kembali lalu Damien, pria yang sekarang mungkin sudah menjadi santapan cacing tanah itu akan mengajak rujuk lagi karena bagaimanapun Damien masih mencintainya. "Hallo dokter, bisa kerumah Tuan Archer sekarang?" . . Kriet! Pintu terbuka menampakkan Archer yang berjalan dengan Angga dibelakangnya, mendengar kalau Emery mual dan muntah, membuat dia menghentikan seluruh aktivitasnya dan pulang. Jam menujung pukul 9 malam, tapi itu tak mengurungkan niatnya untuk berjalan menuju kamar mereka. Pintu kamar terbuka memperlihatkan semua orang yang menunduk terkecuali Emery, yang membuang muka dan tak berniat melihatnya. "Ada apa ini? Emery sakit apa?" tanyanya pada seorang pria paruh baya yang memakai jas putih dengan alat memeriksa detak jantung pada lehernya. Namun bukan reaksi pria itu bukan takut, melainkan berjalan kearah dengan wajah bergembira. "Selamat Tuan, isteri anda hamil." Wajah Archer yang semulanya khawatir mendadak heran. "Hamil?" "Benar Tuan, perkiraan kehamilan saya tidak tau pasti yang jelas, istri anda tengah mengandung." Matanya menyipit pada isterinya, tak ada tanda-tanda kebahagiaan dalam raut wajah khawatir membuat semua orang yang ada di sana heran. Archer melangkah maju menuju isterinya yang kini berbaring, tak sedikitpun menoleh kearahnya. "Hamil anak siapa kamu?" Pertanyaan itu sontak membuat semua melihatnya terkecuali Angga, sedangkan wanita yang kini tak memiliki kaki itu menatap pria yang menjadi suaminya itu. Pandangan matanya tak percaya dengan apa yang pria sialan ini katakan. "Archer, kamu lupa siapa yang berhubungan denganku selama ini?" "Emery, kamu sepertinya masih lupa kalau aku itu---tidak bisa punya anak." Sekarang terjawab sudah pertanyaan Emery, karena ia heran mengapa selama itu ia berhubungan dengan Archer, tak ada satupun tanda kalau dia hamil, bahkan memakai pengaman atau obat kontrasepsi saja ia tak pernah. "Lalu? Dengan itu kamu bisa menuduhku selingkuh lalu aku memilih anak dengan pria itu? Apa kamu sudah gila Archer?" tanya Emery, yang tak terima kalau ia hamil dengan orang lain. "Itu anak Damien bukan?" tanya Archer lagi, yang membuat Emery tersenyum tak habis pikir. "Archer, bahkan kuburannya masih basah dan kamu malah menuduh orang yang sudah mati?" Dokter pun mencoba melerai keduanya, karena bagaimanapun di sini adalah beberapa orang yang mendengarkan perselisihan mereka. "Tuan, mungkin saja ini keajaiban tuhan, ini adalah kesempatan anda untuk mempunyai anak." "Diam! Tidak ada yang meminta kamu bicara!" Perintah Archer yang membuat dokter itu pun mundur karena takut dengan wajah marah milik Archer. "Gugurkan saja anak ini, Dokter! Percuma saja mau di bujuk seperti apa pun kalau kupingnya tuli dan otaknya dangkal tidak ada gunanya, biarkan saja dia sendirian hingga tua!" Angga mendekati Archer. "Tuan, jika menggugurkan kandungan memiliki rasa sakit yang teramat sangat, saya takut jika digugurkan bisa jadi nona Emery mengalami pendarahan lalu yang parahnya, meninggal." Archer diam sambil mengepalkan tangannya. "Lalu apa rencanamu?" "Sebaiknya kita periksa, jika memang berumur 3 bulan maka kita lakukan tes DNA supaya tau anak siapa yang dikandung Nona, jika itu bukan anak anda maka kita pikirkan lain bagaimana cara melenyapkan anak itu." Pria itu menatap Emery yang kini membuang muka kembali, walau suara itu berbisik namun mereka dekat dengan Emery membuat wanita tau apa yang mereka bicarakan. "Besok kita periksakan kandunganmu, jika itu bukan anakku, maka aku akan lenyapkan dia." "Untuk apa menunggu? Sekarang saja? Bukankah kamu itu mandul? Mana mungkin memiliki anak?" tanya Emery yang sudah muak dengan Archer. "Cukup Emery! Aku lelah," ucap Archer yang pergi dari sana meninggalkan Emery yang mengusap air matanya, karena sedih dengan sikap Archer yang acuh tak acuh padanya. Dokter juga ikut pergi meninggalkan Emery dengan beberapa pelayan yang menghampirinya. "Nona, Jangan sedih!" "Pergilah ke kamar kalian dan tinggal aku!" ujar Emery yang membuat beberapa pelayan itu menatap satu sama lain, lalu berdiri menunduk hormat, kemudian pergi dari sana, menyisakan seorang Emery yang dengan tangan yang di infus karena tak nafsu makan. . . Beberapa bulan berikutnya, Archer menatap serius surat tes DNA yang mereka ambil dua Minggu sebelumnya. Hasil lap menunjukkan positif pada DNA bayi dengannya. Matanya menatap Emery dengan wajah curiga. "Kamu yang mengubahnya kan?" Matanya menatap tak percaya pada Archer. "Mengubah? Apa yang di ubah? Kamu buta dengan pergerakanku yang terbatas?" "Emery aku takut kalau anak itu, anak Demian yang ingin kamu pertahankan karena dia sudah mati," ucap jujur Archer yang membuat Emery marah. "Archer, kapan kamu berpikir panjang? Jika kamu tidak mau dengan anakmu itu ya sudah kita gugurkan saja, toh yang rugi kamu karena tak memiliki anak selamanya karena ini." Beberapa melihat sekilas pertengkaran mereka, lalu kembali keaktifan masing-masing karena menurut mereka itu masalah pribadi. "Jika anak itu tidak mirip denganku, maka aku akan membunuhnya saat lahir." Emery mengangguk dengan senyuman getir. "Aku tidak percaya ada seorang ayah yang begitu kejam pada anaknya sendiri." "Emery! Bahkan aku saja tidak tau siapa ayahku," ucap Archer yang yang membuat Emery terdiam sambil menatapnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusss bengetttt
30/05/2025
0bgus bgt
06/03/2025
0Bagus
26/11/2024
0Lihat Semua