Erga menunjukkan sebuah foto dari ponselnya kepada Silva. Di foto tersebut ada gambar Rico dan seorang wanita sedang duduk di kursi taman area rumah sakit. "Dapat foto itu dari mana elo?" desak Silva bertanya kepada Erga. "Tadi itu gue nerima telepon, terus gue ngobrol sampai dekat taman. Gue nggak sengaja lihat Rico duduk berduaan. Makanya gue fotoin, siapa tahu elo kenal sama nih cewek. Apa saudara dia atau siapa gitu?" terang Erga memberitahu Silva. "Gue nggak kenal, gue juga nggak tahu dia siapa ...." Kemudian, Malika mengajak Shereen untuk ke luar sebentar. Shereen pun mengiyakan ajakan Malika. "Sil, gue sama Shereen ke luar dulu, ya, sebentar. Elo sama Erga dulu nggak apa-apa,1qq 'kan?" izin Malika sambil menarik tangan Shereen dan berlalu begitu saja meninggalkan Silva dan Erga berdua di dalam kamar. Malika mengajak Shereen ke taman dan duduk tepat di seberang kursi taman yang sedang Rico duduki. Hanya saja Rico membelakangi Malika dan Shereen. "Elo kenapa ngajak gue ke sini?" tanya Shereen saat menduduki kursi taman. "Nggak apa-apa, gue pusing lama-lama di dalam ruang rawat inap. Nggak apa-apa, 'kan di sini dulu bentaran. Mau balik juga nggak enak sama Silva, baru juga bentaran kita jenguk dia," ungkap Malika. "Kali ini elo berutang budi sama gue, Ga," gumam Malika dalam hati. "Tapi nggak enak tahu masa Silva sama Erga berduaan di kamar rawat inap. Mana sebelumnya Vera juga pergi lagi," ucap Shereen khawatir. Jadi, setelah Erga kembali. Vera sempat menelepon seseorang. Entah dia menelopon siapa. sepertinya penting, soalnya sampai minta izin keluar kamar rawat inap segala. Lima menit setelah Vera keluar, Malika mengajak Shereen untuk keluar juga. Di kamar rawat inap, tinggallah Silva dan Erga berdua. Silva sangat canggung dengan keberadaan mantan kekasihnya itu. Erga pun demikian walau ini adalah bagian dari rencananya agar dapat berduaan dengan Silva. "Sil ...," sapa Erga ragu-ragu. "Ehmm, kenapa?" sahut Silva agak ketus. "Jawabnya biasa aja kali, nggak usah jutek gitu. Kan kita udah lama nggak pernah ngobrol berduaan kayak gini. Gue kangen masa-masa dulu bisa ngobrol berduaan sama elo. Elo emang nggak kangen sama gue?" tutur Erga memegang jemari Silva dengan lembut. Silva dengan segera menepis tangan Erga yang memegang jemarinya. "Ngomong apaan sih elo? Nggak usah ngaco, gue ini udah mau tunangan. Malah harusnya udah sah bertunangan. Kalau gue nggak jatuh pingsan waktu di acara pertunangan gue." "Jujur aja Sil, gue masih berharap sama elo. Gue sebenarnya menyesal telah mengakhiri hubungan kita waktu itu. Gue ... gue masih sayang dan cinta sama elo, Sil," ungkap Erga lagi-lagi mencoba memegang jemari Silva yang masih begitu lemah. "Cukup ya! Waktu itu elo udah bikin gue sakit hati. Terus dengan mudah dan gampangnya elo kembali lagi setelah gue udah punya yang lain, bahkan gue dengan cowok gue hampir sah bertunangan. Sebentar lagi gue akan menikah dengan cowok gue. Gue mohon, elo jangan pernah ganggu kehidupan gue lagi! Gue masih sakit hati sama elo, Ga," terang Silva yang mulai terisak. "Gue minta maaf, Sil. Gue akan melakukan apa aja demi elo. Gue janji akan berubah dan nggak akan menyakiti elo lagi, please!" pinta Erga memohon dengan sungguh-sungguh. "Kenapa elo nggak menjalin hubungan aja dengan Malika, bukannya elo udah akrab lagi sama dia, ya?" "Gue cuma sayang sama elo, Sil. Dulu gue emang ada rasa sama dia. Tapi itu dulu, rasa sayang gue ke elo justru lebih besar daripada ke Malika." Saat Erga dengan usahanya, terus memohon kepada Silva untuk kembali menjalin hubungan yang telah berakhir, Rico pun masuk ke dalam kamar rawat inap Silva. Rico pun tampak terkejut melihat Silva hanya berdua dengan teman prianya. Sedang sahabat-sahabat wanitanya tidak ada. Rico melihat tangan Erga yang menyentuh jemari Silva. Rico tidak tahu jikalau Erga adalah mantan kekasih Silva yang telah menyakiti Silva. Melihat Rico datang, Silva langsung buru-buru menepiskan jemarinya dari genggaman tangan Erga. "Maksudnya apa? Kenapa kalian hanya berdua? Ke mana yang lainnya?" tegur Rico memasuki ruang kamar rawat inap Silva. "Kamu yang dari tadi ke mana aja. Masa beli minuman lama banget. Ya, mereka mungkin ke kantin kali beli minum, habis nunggu kamu lama malah asyik-asyikan sama cewek lain," ketus Silva terlihat menahan emosi. "Lah kamu ngapain juga berduaan sama dia?" tanya Rico kembali, sambil menunjuk ke arah Erga. Erga pun langsung berdiri dari kursinya dan berkata, "Gue di sini cuma jagain cewek elo doang, nggak ngapa-ngapain dia juga kok. Lagian elo sebagai cowoknya malah ninggalin dia lama banget." "Diam elo! Nggak usah nyari-nyari alasan, ya," cetus Rico menahan emosinya. Sepertinya ia cemburu kepada Erga, apalagi tadi ia sempat melihat Erga memegang tangan Silva. Setelah mendengarkan perkataan dari Rico, Erga langsung ke luar ruangan dan meninggalkan Silva bersama kekasihnya itu. Ia pun mencari Malika, Vera, dan Shereen. Mereka pun saling berpapasan di pintu keluar menuju taman. Shereen menegur Erga, kenapa ia keluar dari kamar rawat inap Silva? Shereen dan Vera menyuruh Erga kembali lagi, tetapi Erga menolaknya. Ia malah pergi ke arah taman dan duduk termenung di sana. *** Shereen dan Vera menuju kamar rawat inap Silva. Lalu, mengapa Malika tidak ada bersama mereka? Ke mana Malika? Rupanya Malika mengekori Erga ke arah taman, dan duduk di sampingnya. "Masuk, yuk!" ajak Malika saat bokongnya mendarat di kursi taman. "Sepertinya gue udah nggak ada harapan lagi dengan Silva, Ka," ungkap Erga. "Lah? Masa elo gagal sih? Gue udah bantu dan ikuti semua rencana elo dari A sampai Z lho, harusnya elo lebih usaha lagi dong. Gini aja nyerah, rasa cinta dan sayang elo buat Silva segini doang?" geram Malika mengguncangkan bahu Erga. Erga pun menghadap ke arah Malika, mereka saling tatap. Dan Erga pun berkata, "Bantu gue lagi, ya, please!" "Ini pertama kalinya elo menatap gue sedekat ini dan megang tangan gue, Ga. Dulu kita nggak pernah seperti ini. Sekalipun gue pernah mengungkapkan perasaan gue ke elo. Ya ampun, apaan sih, kok gue jadi baper?" Malika terkekeh. "Gue serius, malah baper elo. Jangan-jangan elo masih suka lagi sama gue? Ayo ngaku elo!" "Ya udah, kita jadian aja, yuk!" ledek Malika terkekeh. "Bercanda mulu elo, malas gue," ketus Erga bangkit dari kursi taman dan berjalan begitu saja meninggalkan Malika yang masih tertawa geli. Tanpa sepengetahuan Erga, Malika malah terus mengekorinya dari belakang. Apa sebenarnya Malika masih mencintai Erga? *** Hi, Readers! Ini novel pertamaku di platform ini. Semoga kalian suka. Aku tunggu vote & krisan/review terbaik kalian ya. Mohon maaf, ya baru sempat update kembali. Bagaimana, semakin seru kan ceritanya? Yuk, lanjut baca! Terima kasih & selamat membaca. Follow IG: @yenifri29 & @yukishiota29
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
05/05/2025
0keren bngtt
22/04/2025
0bagus bngt
07/12/2024
0Lihat Semua