logo text

Bab 8 Tetaplah Sahabatku

MOHON BACA PELAN-PELAN BIAR PAHAM, ALUR KISAH INI EMANG MAJU MUNDUR, KALO READERS BACA INTENSIF PASTI MUDENG KOK..
Surai sebahunya tertiup embusan samar sepoi senja. Matanya yang kuyu tampak menerbitkan tetes-tetes air mata. Aku menyaksikan lagi luka yang sedang ia buka di hadapanku. Luka yang ternyata akulah yang telah dengan sengaja mencetaknya. Aku sadar akan itu walaupun aku tahu, sepuluh tahun lalu atau saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkannya pada takdir.
"Tak terasa, begitu lama. Kita bertemu lagi di sini. Di mana masa kecil hingga dewasa kita lewati bersama sampai akhirnya semuanya berubah," ucapku sembari tersenyum kecut.
"Kupikir kau tak akan datang dan memenuhi permintaanku untuk bertemu di sini. Aku sudah menunggumu cukup lama," lanjutku.
"Cukup lama? Aku menunggumu selama bertahun-tahun tapi itu tak pernah terasa cukup lama buatku, Sab," ujarnya sambil memainkan ujung kardigan yang ia kenakan.
"Semuanya memang telah berubah, Sabta. Dan yang begitu kusesalkan adalah kau menjadi bagian dari perubahan itu." Azhary menunduk sendu, menyembunyikan wajah ayunya yang tak pernah memudar. Rasanya ingin sekali merengkuhnya dalam pelukku. Tapi tubuh ini terlalu rapuh dan kurasa aku telah patah hingga ribuan kali karena cintanya.
"Aku tak pernah berubah, Azha. Tetap Sabta yang sama sampai kapan pun." Aku menatapnya intens, manik legamnya bersembunyi dalam tundukan rendah.
"Ya, kau benar. Dan aku tetap Azhary yang sama. Wanita yang kau buang karena aku sama seperti ibuku." Wanita itu menatapku lekat, aku masih bisa melihat dengan jelas cinta yang terpancar di sana---pada netra yang menuntutku memberi jawaban atas pertanyaannya. Dan, benar saja. Seutas kata itu terucap juga dari bibirnya.
"Mengapa, Sabta?" Meremas jemarinya dan menggigit bibir kuat-kuat untuk meminimalisir suara sesegukan yang tercipta. Azhary tampak begitu menyedihkan. Atau malah aku yang menyedihkan?
"Maafkan aku, Azhary."
"Aku membencimu, Sabta," ucapnya cepat. Kalimat yang membuat dadaku berdenyut nyeri.
"Jika itu bisa membuatmu bahagia, bencilah aku seumur hidupmu. Aku sangat pantas mendapatkan itu, Azhary." Aku mendengkus pasrah atas tuturnya. Meskipun hatiku tercabik perih.
"Kuingat-ingat kau pernah mengatakan apa, Sab. Bahwa kau tak akan meninggalkan aku apa pun yang terjadi. Kau bohong... Kau bohong, Sabta," tudingnya sambil menatapku pilu.
"Kau sudah menikah sekarang. Jadi jangan sesali apa pun. Sudah kukubur semua tentang kita begitu dalam, Azhary. Andai kau tahu apa yang terjadi padaku yang belum sempat kukisahkan padamu dan kau lebih dulu memilih untuk menyimpulkannya sendiri dari sudut pandangmu," kataku.
"Lalu apa yang akan kau pikirkan jika kau menjadi aku, Sabta? Kau, satu-satunya laki-laki yang kucintai, tidak menginginkan keberadaanku. Apakah aku harus mengemis dan mengiba padamu sepanjang waktu?"
"Aku tak ingin mendebatmu, Azha."
"Lalu untuk apa kau datang?" Azhary menyerangku kembali dengan tatapan penuh amarah. Berdecak kesal, aku tak pernah melihatnya semarah ini sebelumnya.
"Untuk apa kau datang dan memintaku menemuimu di sini, huh?"
"Aku merindukanmu," ucapku sambil menatap wajah ayunya. Ia membuang wajah dan tersenyum meledek.
"Merindukanku? Tak adakah kata lain? Itu sudah basi, Sabta." Mengusap air mata yang mengalir dengan kelingking jarinya, ia berujar begitu lirih. "Sakit, Sab. Yang kau lakukan begitu sangat menyakitiku. Kau bilang kau mencintaiku. Cinta tak akan membiarkan yang dicintai merasakan luka sebanyak ini. Terlalu banyak, Sab."
"Aku tahu semuanya sudah terlambat, tak ada yang bisa kita perbaiki dari ikatan kita. Tapi bisakah kita memulai ikatan baru layaknya saudara? Bukankah cinta memang tidak harus bersama? Tak semua cinta harus berujung pada pernikahan, Azha. Dan aku harap kau tetap bisa menjadi yang kusayang, menjadi adikku, atau sahabatku."
"Aku pun sakit, Azha. Bukan mudah meninggalkanmu. Jangan bertingkah seolah kau tak mengenalku. Bahkan ketika aku masih gendut dan keling kau selalu ada digendonganku dan kuutarakan pada gadis kecil di punggungku itu bahwa jika dewasa kelak aku akan menikah dengannya. Sampai saat ini aku masih anak laki-laki gendut itu, Azha. Yang akan melakukan apa pun agar aku senantiasa melihat senyum terbit di bibirmu. Kumohon, jika kita tak bisa menjadi pasangan, biarkan kita tetap menjadi Sabta dan Azhary. Sahabat kecil yang akan saling menjaga dan mencintai sampai kapan pun."
"Kau sakit?" Ia tersenyum mengolok, "begitulah laki-laki, meninggalkan lalu bertingkah seolah-olah dialah yang paling terluka." Ia membuang wajah. Indra penglihatanku cukup bisa merasakan rona yang telah tanggal dari wajahnya. Ia tak seberseri dulu saat bertemu denganku.
"Aku dipenjara, Azha," putusku cepat untuk membungkam kemarahannya. 
"Aku dipenjara saat kau menyusulku ke Jakarta," imbuhku perlahan. Tak butuh waktu lama untuk menunggu kalimatku ditanggapi.
"Tidak, kau sama sekali tidak memiliki bakat kriminal, Sab. Kau bohong." Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Membiarkan jari jemarinya menyugar rambutnya ke belakang dan membuat rambutnya sebagian teracak ke depan. 
"Maaf," kataku sambil merapikan rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kumohon! kau dengarlah dulu, Sahabatku. Aku belum selesai," pintaku dengan suara tercekat, ada sesuatu yang mencekik kerongkonganku saat kuucapkan kata sahabat. Demi Tuhan, aku terbiasa memanggilnya dengan nama indahnya, atau memanggilnya sebagai cantikku. Dan kini aku harus rela memanggilnya dengan sebutan asing itu. Dunia sungguh keterlaluan.
Aku menatap Azhary lekat, tubuh kurusnya terlihat semakin kurus saja.
"Kau makan dengan baik selama ini, kan?"  Tanyaku pelan. Dan hanya senyum getir yang ia berikan sebagai jawaban untukku.
"Aku terpaksa berbohong padamu, meminta Laras mengatakan padamu bahwa aku telah bahagia dengannya. Agar kau lekas pulang, Ayahmu pasti mencarimu. Tentu saja aku tak ingin membuatnya kecewa setelah apa yang Ayahku lakukan padanya, Azha. Tak ada yang berubah atas cinta ini, kau tahu itu dan tak perlu lagi mempertanyakannya. Tapi aku pun tahu semuanya sudah tak lagi mungkin. Kenapa, Azha? Kenapa aku tidak boleh mencintaimu dengan caraku sendiri?"
"Dan akhirnya kau benar-benar menikah dengan gadis itu, kan? Apalagi yang ingin kau jelaskan, Sab. Kau tak menginginkan aku, semuanya sudah jelas." 
Ia menghela napas panjang lalu berujar, "dia bilang kau tak ingin bertemu denganku, Sab. Dia menyampaikan pesanmu, bahwa sudah selayaknya kau membenciku karena apa yang telah diperbuat oleh ibuku. Dia menyampaikan dengan baik apa yang kau katakan, bahwa aku harus menerima kenyataan karena aku sudah bukan lagi mimpimu. Dan aku memang hanya sebuah mimpi buruk, kenangan kitalah yang mensugestimu seolah aku mimpi terindahmu. Sampai aku pulang dengan diri dan hati penuh luka. Aku cukup tahu diri, Sab. Aku memang tak pantas mendampingimu."
Matanya berlarian mengalihkan pandangan dariku. "Kau cinta padaku? Cinta macam apa itu, Sabta? Tak ada yang mengerti lukaku. Aku membalutnya sendiri walaupun harus berusaha setengah mati. Tidak berdarah, Sab. Tapi terasa menakutkan hanya untuk kuingat, sakit, masih terasa sakitnya sampai detik ini."
Aku mengusap air mata yang berleleran di pipinya, dia tak lagi mampu menahan suara sesegukan yang sejak tadi coba dia tahan. Kuraih jemarinya, menggenggamnya erat-erat lalu kukisahkan semua tentangku.
"Aku berhutang budi banyak sekali pada Laras. Aku didakwa mengotori dan membunuh seorang gadis kecil anak pemulung saat itu. Lewat surat yang Prasetio kirimkan padaku, aku tahu kau akan menyusulku, Pras bilang kau tahu alamatku dari surat yang kukirimkan padanya dan kau tak sengaja membacanya saat berkunjung ke rumahnya. Lalu aku buat skenario seolah aku telah melupakanmu, agar kau tidak pernah tau keadaanku yang sebenarnya, Azha," terangku.
"Jadi kau tidak melupakanku?" Ia menatapku dengan tatapan kosong.
"Tidak, Azha. Bahkan aku sempat jatuh sakit saat tiba di Jakarta. Tiga bulan lamanya aku berteman dengan halusinasi, kau selalu menemaniku dan tersenyum di langit-langit kamarku setiap malam. Kau tak akan mengerti, Azha. Bersamamu atau meninggalkanmu, semuanya terasa menjadi luka untukku."
Aku mengusap pundaknya, "hentikan tangismu. Apakah keberadaanku harus disambut tangisan seperti ini?"
"Boleh aku memelukmu, Sabta? Satu kali ini saja. Satu kali..." pintanya sambil menubrukkan diri dipelukanku, membenamkan wajahnya di dadaku sampai kemeja biru langit yang kukenakan basah oleh air mata.
"Aku sayang padamu, Sabta. Tidakkah ada jalan untuk kembali?"
"Peluklah aku, menangislah sepuas hatimu di dadaku. Karena kita sudah tidak lagi saling memiliki, aku tak melarangmu menangisiku, karena aku telah menangisimu sepanjang jalan yang kulalui tanpamu."
Kuusap surai lembutnya, setetes bulir air mata membasuh lukaku. Andai dia tahu yang kurasakan saat ini. Andai dia tahu betapa cinta ini menghukumku dengan begitu kejam. Larut bersama dalam luka, tenggelam dalam derai air mata. Sang surya yang semakin codong ke barat menyaksikan kami, menertawakan serpihan hati yang  sedang kami ratapi walaupun tak mungkin utuh kembali meski sekuat apa pun diratapi dan ditangisi.
Azhary, untuk kesekian kalinya aku akan katakan walaupun tak kau dengar, Aku mencintaimu.

Komentar Buku (126)

  • avatar
    Tri andiniNabilla

    Alur ceritanya bagus

    06/07/2025

      0
  • avatar
    FathoniAli

    bagus

    07/06/2024

      0
  • avatar
    putriMiracele

    baguss sihhh asik ceritanya

    02/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru