logo text

Bab 20 Surat terakhirnya

Jatmiko mulai menyeka kaca-kaca yang menggenang di pelupuk matanya, sementara aku hanya membeku mendengar setiap tuturnya seperti aku sedang mendengarkan kisah tentang dongeng kematian begitu mengerikan yang membuat telingaku berdengung sakit.
"Sampai pernikahan itu terjadi, dia tetap tak pernah memberikan sedikit pun ruang kosong di sudut hatinya untukku. Aku tahu akulah yang memaksanya. Bekerja sama dengan ayahnya agar kami bisa secepatnya menikah karena aku tahu bahwa laki-laki yang dicintainya tidak akan pernah kembali. Aku ingin menjadi obat untuk semua lukanya. Kau tahu,Sab. Aku mencintainya, karena itu aku ingin sekali membuatnya bahagia. Aku ingin memutus semua kesedihannya dengan melupakanmu seiring waktu. Tapi ternyata tidak." Jatmiko mengerutkan dahi, menggeleng samarar dan kembali mengembuskan napas panjang.
Kalimat-kalimat Jatmiko menciptakan ilustrasi di kepalaku. Betapa hebat caranya mencintaiku, betapa berat yang dia lalui saat tanpaku dan aku tak pernah peduli. Tak pernah tahu apa-apa tepatnya. Kenapa Pras hanya diam? Karena Azhary juga sahabatnya maka dia menutupi hal itu dariku? Padahal yang aku tahu Azhary baik-baik saja. Aku menyesal, menyesal karena saat tahu semuanya--dia telah lebih dulu memeluk keabadian. Dia benar, dia sangat terluka dan berusaha menyembuhkan dirinya sendiri di sini.
Laki-laki itu mencebik, menertawai dirinya sendiri sembari meraup wajah dengan kedua belah telapak tangannya. Kini ia menatap langit-langit ruang agar genangan kaca yang mengumpul di pelupuk matanya tidak tercecer lantas berkata, "Aku begitu bodoh, Sab. Aku tidak pernah bisa membahagiakannya. Bahkan setelah menikah dia tidak pernah mau kusentuh. Sampai hari itu tiba di mana aku mengambil paksa kesuciannya saat aku mabuk dan menjadikan Dipta hadir di tengah-tengah kami."
Suara berat laki-laki itu berubah sedikit sengau. Tampak jelas ada tangis yang sedang ia sembunyikan. Hatiku kecut. Azhary mewariskan seluruh dunia untukku, lewat penglihatan yang dia hadiahkan. Nyeri di dadaku menyeruak, aku meremasnya dengan keras agar bisa meredam sedikit saja sakitnya. Kenapa rasa ini menyiksaku tanpa mereda sedetik pun. Tidak bisa kugambarkan sakit itu seperti apa. Yang aku tahu, aku telah hancur saat tahu dia tak lagi menghirup udara yang sama dan berteduh di langit yang sama denganku.
"Kau menodainya?" Kalimat pendek itu terlontar dari mulutku, sekali lagi Jatmiko memijit pangkal hidung dengan kedua tangan bertelekan pada meja.
"Tidak, dia istriku. Kau... yang menodainya." Sebaris kalimat itu menempelengku. Membuatku tertekur dihinggapi rasa malu dan bersalah. Sementara mata Jatmiko menikamku dengan tajam.
"Maafkan aku, Mas Jat." Hanya itu yang bisa kuucapkan. Akal sehatku menghilang, hanya tersisa ratapan kecil. Kembalikan dia padaku, kembalikan dia... maka aku tidak akan pernah meninggalkannya. Rintik air mata menghujan menjadikan sungai kecil mengalir dari ujung mata. Rasa sesak menyekap, bungkam namun menikam, membelenggu dalam sendu dan lagi-lagi semua rasa sakit mengutuk jiwaku.
"Aku hampir mati terbakar cemburu. Hatiku sakit, Sabta. Saat melihatmu mencumbunya di depan mataku, rasanya seperti gemuruh petir berdentum di dadaku, meledak, menghancurkan.  Kau menghujaniku dengan bilah pedang tanpa hati, kau menjadikan namaku yang sampai saat ini masih menjadi suaminya adalah alas kaki. Kau ludahi harga diriku sebagai laki-laki. Kau tahu apa yang aku pikirkan saat itu? Kau ingin tahu?" Jatmiko menjeda ucapannya sepersekian detik, tersenyum kecut.
Ingin sekali kujawab, bahwa pernah seringkali aku mencoba membenturkan memoriku agar lupa akan segala hal  mengenai dia. Tapi bukan lupa yang kutemukan, tetapi luka yang kian membesar dan menyebar. Aku bukan berniat mengusiknya lagi, aku hanya ingin tahu keadaannya, tapi aku hanya manusia biasa yang tidak cukup kuat memberi sekat pada cinta dan syahwat seperti yang Adam lakukan hingga membuatnya terusir dari surga bersama Hawa.  Atau malah Anto Sanjaya sang pewaris kebejatanku sesungguhnya.
"Demi Tuhan aku ingin membunuhmu. Tapi aku sadar, bahagianya selalu lebih utama daripada seluruh jagad untukku. Dia lebih berharga dari kemarahan sampahku yang aku sadari memang aku tak pernah bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya bahagia. Kau tahu, Sabta,berapa ratus kali aku mengalah pada keadaan, mengalah pada kenyataan, bahkan ada namamu yang bertengger pada nama darah dagingku. Katakan apa itu adil untukku? Tapi saat aku tahu dia sakit, aku menghiraukan semua ketidakadilan itu. Kutelan semuanya. Karena aku tahu dia tidak akan sanggup bertahan."
Aku merubah posisi, menekuk kedua lututku dihadapannya dan memohon maaf.
"Maafkan aku, Mas Jat. Maaf,"  ucapku dengan rasa bersalah yang membuncah.
"Saat aku memutuskan menemuimu di sini. Saat itu juga aku telah memaafkanmu. Dia telah pergi. Inilah caraku merelakan kepergiannya, dengan melupakan semua rasa sakit yang dia berikan. Jika saja Tuhan bersedia memberikan kesempatan. Aku rela melihatnya bahagia bersamamu, Sab."
Laki-laki itu memutar gelas kopinya beberapa kali mencecapnya sedikit kemudian melanjutkan ceritanya. "Tapi satu hal, aku kecewa padamu atas semua yang kau lakukan padanya. Kau menjatuhkannya berulang-ulang sampai dia benar-benar tumbang. Kau tak penah tahu, setiap malam dia menangis bahkan takut untuk pergi tidur, kemudian menangis histeris kala terjaga dan memanggil namamu. Mimpi buruk tentangmu selalu mengacaukan tidurnya dan yang kusesalkan adalah kenapa pelukanku tak pernah bisa meredakannya."
Aku menatap Jatmiko penuh ketulusan. Tak ada hal apa pun yang menutupi kalimat telanjang pengakuan dosaku, juga permohonan maaf dan berharap Jatmiko menerimanya dengan baik.
"Bangunlah, dan jangan menatapku seperti itu. Karena aku kan ingat dia ada di sana. Di dalam matamu." Jatmiko memicingkan mata, ada gurat tak senang tapi dia membantuku bangkit lalu mengangsurkan sebuah buku.
Jatmiko menatapku sekilas, sementara aku hanya bisa diam dan membiarkan air mata menerobos dari ekor mataku.
"Hitunglah berapa banyak kalimat rindu untukmu, Sab. Aku tak sakit hati walaupun aku tahu kau telah mencurinya dariku. Karena aku tahu, wanita yang kucintai itu rela mengandung, mengurus dan menyayangi putriku saat ia sedang bertaruh pada hidup dan mati melawan penyakitnya. Seharusnya aku bersyukur, dia bersedia menjadi istriku dan aku diijinkan menjaganya. Seharusnya aku berterima kasih padamu. Telah meminjamkan dia, wanita yang paling kau cintai sekaligus yang paling mencintaimu sebagai istriku." Laki-laki itu tersenyum, kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah sampaikan semuanya, aku harus pergi."
Laki-laki jangkung itu berdiri, mulai melebarkan langkah. Lamat-lamat suara derap langkah Jatmiko mulai memudar. Mengambil jarak dariku dan membiarkanku terpekur sendirian. Menerawang angkasa yang menyimpan bayangan Azhary membingkai senyuman. Bongkahan pilu merajam tubuhku, aku tak berdaya tertelan tangisan. Dan Azhary Agyata kini hanya tinggal menjadi bagian dari serpihan kisah masa silam
Perlahan aku membuka setiap halaman, kalimat yang sama berjajar rapi layaknya daftar absensi, "Aku merindukanmu, Sabta."
Dan di lembar terakhir, kalimat-kalimat itu semakin menyiksaku.
"Mungkin aku akan pergi, Sabta. Namun percayalah aku tak pernah meninggalkanmu, aku selalu tinggal di dalam hati dan pikiranmu. Tak ada yang abadi, Sabta. Rasa sakit ini mengajarkan aku bahwa pergi lebih baik daripada bertahan dengan sejuta rasa sakit.Tapi kau harus tetap hidup, untukku. Jadikan itu alasan untuk membuatku bahagia. Dengan mengijinkanku melihat apa yang kau lihat meskipun aku telah pergi. Berjanjilah, jaga Sabtaku dengan baik, aku mencintaimu."

Komentar Buku (126)

  • avatar
    Tri andiniNabilla

    Alur ceritanya bagus

    06/07/2025

      0
  • avatar
    FathoniAli

    bagus

    07/06/2024

      0
  • avatar
    putriMiracele

    baguss sihhh asik ceritanya

    02/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru