Beranda/Anak Selingkuhan Ayahku/
Bab 19 Kejutan
Sontak aku menoleh, seorang pria dengan baju berwarna biru langit dengan suara yang berat begitu khas. Suara yang kudengar di rumah sakit kala itu.
Deeeeeggghhhh.....
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Memacu darahku lebih laju dari gerak normalnya. Kuputar bola mata sesegera mungkin, mendapati wajah yang pernah tersenyum padaku beberapa jam sebelum aku kecelakaan. Ia melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya, menampakkan sisa kesedihan pada mata balut saksi air mata.
"Kau? Tidak mungkin!" Seperti nyawaku tercabut dari tubuh, kakiku lunglai tak berdaya. Rasa nyeri memagut dadaku, mendekapnya mesra dan tak mau enyah. Serbuan tanya menyerang pikiranku, berdawai layaknya denting senandung pedih kehilangan. Meski aku tak tahu pasti benarkah aku telah kehilangan.
"Ya, ini aku, Sab," Suara berat itu begitu lirih hampir seperti berbisik.
"Duduklah dulu." Ia mempersilakan aku duduk, memesan dua cangkir kopi hitam dan menautkan alis. "Bagaimana keadaanmu?"
"Jangan bertele-tele, apa yang terjadi? Siapa yang di rumah sakit kemarin?" kataku penuh penekanan. Tak ada kesabaran mau diajak berkompromi. Rasa hatiku bercampur tak menentu. Meski aku tahu laki-laki itu belum mengatakan apa pun.
"Kumohon, Mas. Beri tahu aku apa yang terjadi. Jangan biarkan aku jadi orang bodoh seperti ini."
Sejenak kemudian pelayan datang menyuguhkan pesanan. Aku sudah begitu gusar, dan kulontarkan kalimat yang begitu saja meluncur dari lidah kurang ajarku lagi.
"Mas tahu aku tidak memiliki kesabaran sebanyak itu, jawab, Mas!" Intonasiku meninggi beberapa oktaf, sejenak para tamu di meja lain memutar bola mata ke arahku. Menatapku datar, Laki-laki itu tak bereaksi mengecamku sekalipun aku tak menyembunyikan gurat kekesalan dan nada begitu agresif.
Hanya tundukan rendah yang seolah cukup menjadi sebuah jawaban, namun aku sudah meyakini isi kepalaku. Seperti bilah pedang ditikamkan ke arahku membabi buta, membawaku pada lorong kegelapan tak bertepi. Jiwaku meronta dihinggapi perih.
"Mas bercanda, kenapa kau menyamar?"
"Aku tidak menyamar. Nama itu adalah panggilanku di tempat kerja," jawabnya.
"Katakan sesuatu, Mas."
Aku menatapnya dalam dan penuh permohonan. Dia membalas tatapanku dengan senyum getir dan mata berkaca-kaca.
"Dia bersamamu, Sab," katanya seraya menatapku lekat. Dadaku berkedut nyeri.
Oh Tuhan, Semesta sedang bercanda lagi dengan cara begitu mengejejutkan.
Dia sakit, Sab. Spinocerebellar Ataxia. Penyakit langka yang menyerang otak kecil dan mengacaukan sistem saraf motoriknya. Menyesalnya aku mengetahui semuanya setelah aku mengambil harapan terakhirnya, kembali padamu." Tampak jakun lelaki itu naik turun, sangat jelas ada tekanan penyesalan begitu dalam di wajahnya.
"Kenapa tidak mengupayakan pengobatan ke luar negeri atau apa pun? Mas suaminya, Mas bukan orang susah, sudahkah maksimal megupayakan kesembuhannya?" Kepalaku berdenyut sakit, ada sesuatu menekan dadaku sangat kuat sampai aku tidak menyadari apa yang sedang kukatakan.
"Kau dengar dulu, Sab. Jangan buru-buru menuding. Aku belum selesai berbicara dan kau main serobot saja! Apa kau tahu, aku membunuh ego dan harga diri demi dia," protesnya.
"Penyakit Ataxia tidak bisa disembuhkan dan termasuk penyakit langka. Belum ditemukan obat maupun penyebabnya secara explisit, dokter bilang kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh mutasi genetik. Obat-obatan hanya membantunya mengurangi gejala, tidak ada satu kasus pun penderita Ataxia sembuh, Sab. Lalu kau minta aku melakukan apa?" Ia menghela napas panjang, netranya nanar berpendar menyusuri entah apa. Tatapannya hampa.
"Jelaskan semuanya, jangan lewatkan apa pun, Mas Jat. Aku ingin dengar. Perempuan bertangan dingin di rumah sakit itu dia?"
"Ya, kau benar. Dia sekarat saat itu. Ataxia bukan hanya menyebabkan dia terkadang sulit bergerak, kesulitan berbicara, kesulitan menentukan objek penglihatan seberapa jauh atau dekat, dia juga sering tersedak karena terkadang mengalami gangguan menelan secara tiba-tiba. Penyakit itu tidak hanya mempengaruhi kualitas hidupnya, tetapi juga menyebabkan dia mengalami penebalan otot jantung sehingga ritme jantungnya tidak stabil." jelasnya.
" Itu permintaan terakhirnya. Menemuimu agar dia bisa mengingat wajah satu-satunya laki-laki yang ada di hatinya. Dia adalah kau. Dia begitu mencintaimu, Sab. Kau masih laki-laki yang bertahta paling tinggi di hatinya sekalipun dia telah menikah denganku. Dia tidak memintaku menceritakan ini padamu. Tapi sebagai upayaku untuk membuktikan aku mencintainya, maka aku berjanji akan menyampaikan semua ini padamu."
Aku menghela napas panjang. Azharyku telah pergi? Aku tak bisa mempercayainya, ini mimpi, mimpi buruk tengah hari yang menakutkan. Tapi tidak, tak kuasa lagi kutahan, bulir-bulir kesedihan berleleran membasahi pipi. Dia telah pergi... sungguh, dia pergi meninggalkanku.
"Ini tidak adil, sangat tidak adil," keluhku.
"Pada siapa ketidakadilan ini berlaku, Sabta? Kepada Azhary? Kepadamu? Kepada Laras? Atau kepada laki-laki bernama Sujatmiko Hardiwilaga yang saat ini sedang berada di hadapanmu kini? Nyatakan apa ini adil untukku?"
Laki-laki itu menatapku datar tanpa ekspresi, dan aku hanya tertunduk lesu mendengar ceritanya.
"Gadis yang kau tinggalkan itu putus asa, sepanjang hari aku melihatnya menangis di sungai Kinasih saat sungai itu masih mengalirkan air dari hulu, sampai kini sungai itu telah mati. Tapi cinta wanita itu tak pernah mati untukmu. Walaupun setelah dia tak lagi bernyawa, dia memberikan seluruh dunia untukmu lewat apa yang kau lihat. Rasakan bagaimana dia mencintaimu, Sabta. Bayangkan penderitaanya saat dia berkali-kali berupaya menceburkan diri ke sungai dan nyaris hanyut. Di mana kau saat itu, pernahkah terpikir bahwa dia tak pernah baik-baik saja tanpamu?"
Hening sesaat. Aku tak kuasa menjawab.
Azhary, mampukah kau dengar, aku pun tak pernah baik-baik saja tanpamu.
"Dia begitu lemah, berkata berulang-ulang ingin menyusul ibunya, aku yang berkali-kali menyelamatkan dia dari upayanya mengakhiri hidup karena sudah tak sanggup. Sampai aku bertekad untuk menjaganya. Kau tau bagaimana aku membujuknya? Aku selalu mengatakan, tunggu dia kembali. Dia mencintaimu, dia pasti akan kembali."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (126)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Alur ceritanya bagus
06/07/2025
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0Lihat Semua