Bab 12 Kemarahan

Jack mengendurkan simpul dasinya. Percakapannya dengan Ammy sejenak membuat adrenalinnya terpacu. Ia tak ingin terlihat buruk di mata gadis itu.
"Aku mencintaimu  Ammy, dan aku akan mempertanggung jawabkan perasaanku padamu, juga pada diriku sendiri. Aku janji akan berubah menjadi lebih baik, untukmu.  mengenai perusahaan, aku  akan mengurusnya dengan semestinya, tidak seharusnya aku bermalas-malasan dan membebankan  semua pekerjaan pada Davee."
"Kau bisa menangani perusahaan? Davee bilang kau payah dalam berbisnis, kau diktator yang cuma bisa main perintah-perintah."
"Aku lulusan Harvard. Mendapat nilai cum laude dan lulus dalam dua tahun. Apakah kau tidak berpikir itu keren?"
"Cukup keren selama otak mesummu tidak sedang bereaksi."
"Kau tahu, aku sebenarnya tidak pernah berminat pada perusahaan. Aku mengarang cerita jika aku memutuskan berhenti kuliah padahal aku sudah lulus, tapi ayahku tetap memaksaku menangani National Company. Jadi bukan salahku jika aku bermalas-malasan. Apa menariknya perusahaan itu? Jika saja bukan atas  paksaan ayahku tentu aku tidak akan mengambil mata kuliah bisnis. Itu membosankan. Aku pikir kuliah di bidang seni sepertinya akan terasa lebih menarik. Tapi entahlah, hidupku selau disetir."
Ammy manggut-manggut mengerti. "Oh ya, Jack. Mengenai Meghan Hospital  aku tidak tahu kenapa ayahku membenci tempat itu, itu membuatku bingung."
"Membencinya?"
"Aku baru tahu hospital itu milikmu saat kau mabuk dan berteriak di depan rumahku pagi itu, aku bodoh kan?" Ammy tersenyum polos.
"Anyway apa mungkin hospitalmu itu pernah berskandal, Jack? Ayahku bilang di dalam hospital itu dipenuhi dengan penghianat dan penjilat. Ia marah saat aku memilih hospital itu saat aku opname beberapa waktu lalu. Dia bilang aku tidak boleh memeriksakan diri ke tempat itu lagi karena aku putrinya, bukankah itu sangat aneh?"
"Aku tidak banyak tahu tentang hospital itu. Tempat itu sudah menjadi milik Ayahku sebelum aku lahir, menurut surat kabar lama yang kubaca, tempat itu dulunya milik seorang ahli bedah. Setelah ayahku membelinya, Ia mengganti namanya menjadi nama Ibuku---Meghan Antarez. Dan aku tidak tahu kenapa waktu itu aku tak menemukan namamu pada list pasien di resepsionis."
"Karena aku mendaftar dengan nama Florentine del Amigos."
"Pemalsuan identitas?"
"Bukan, itu nama keduaku, nama itu kudapat saat aku kuliah di Spanyol beberapa waktu lalu. Semacam gelar, Forentine artinya bunga, sementara Amigos artinya sahabat. Bunga yang bersahabat, karena kegiatan amal aku mendapat nama itu."
Jack mengangguk paham.
"Kau bisa duduk di kursi ini?" Jack menggeser sebuah kursi antik berbahan tembaga dengan kain beludru merah membalut sponge empuknya.
"Untuk apa?"
Menyiapkan kanvas dan cat air, ia meletakkan beberapa kuas di atas meja panjang.
"Melukismu"
"Aku tidak pernah menjadi Objek lukisan."
Jack mengusap pipi Ammy.
"Ayolah. Kau sangat menawan, ini pertama kali aku melukis wajah seseorang. Dan seseorang itu kau, Mi Amante (kekasihku)."
Ammy menurut. Menduduki kursi cantik itu lalu berpose.
"Apakah seperti ini?"
Jack tersenyum, melangkah ke arah Ammy lalu membetulkan posisi tangannya.
"Begini lebih bagus, kan?!"
Jack mulai menggerakkan tangannya dengan lincah, melukis wajah cantik Ammy dengan sangat serius, saat lukisan itu telah hampir selesaiAmmy mulai bersuara, "Jack, aku mau membuat sebuah pengakuan. Bisa janji kau tak akan marah padaku?"
"Sepertinya kau serius, memangnya marah kenapa, Mi Amor?"
"Janjikan dulu kau tak akan marah," tuntutnya.
"Mengenai apa dulu?"
"Aku tidak bermaksud membohongimu, Jack." Ammy menatap manik cokelat Jack penuh sesal. Sementara jack membersihkan tangannya yang belepotan sisa cat air dengan selembar tisu.
"Bohong apa, Ammy?" Pria jangkung itu mengarahkan maniknya ke arah Ammy dan tampak bingung pada pernyataan kekasihnya.
"Kotak musik itu tidak benar-benar rusak," akunya dengan wajah pucat pasi, jantungnya berdegup kencang. Ia tertunduk penuh penyesalan.
Jack mengerjap. Membuang wajah. "Kau mempermainkanku? Aku menghabiskan beberapa malam tanpa tidur karena merasa bersalah, ratusan ribu peso untuk membuat duplikasinya. Karena aku tidak mungkin bisa mendapatkan yang asli."
Ammy mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya.
"Kukembalikan padamu." Ia menyodorkan kotak karton yang di dalamnya terletak kotak musik kristal pada Jack.
pria itu meraih kotak karton itu, membukanya.
"Hhhh ... !" Jack mencebik, nyaris tak percaya dan ingin melempar benda sialan itu. 
"Jack."
"Aku melihatnya hancur berkeping-keping, mana mungkin tidak pecah?" Wajahnya tampak bodoh oleh ekspresi terkejut sekaligus tak percaya.
"Kau pikir aku akan membawa benda seberharga itu ke kantor? Itu hanya duplikasinya. Ayah sengaja membuat duplikasi benda itu untukku karena ia tahu aku sangat menyayangi benda itu dan khawatir benda itu akan rusak. Aku menyimpannya di brankas. Karena benda itu adalah harta karun bagiku."
Jack tersenyum miring,
"Lalu kenapa kau terlihat begitu sedih?"
"Aku ... " Ammy diam sejenak.
"KENAPA AMMY?!" bentaknya gusar.
"Aku ... "
"JAWAB!" ujarnya lugas dan parau.
"Aku hanya ingin mencari perhatianmu, aku tidak tahu kenapa aku jatuh cinta padamu. Dan aku ingin kau berubah. Aku jatuh cinta padamu tapi aku tidak jatuh cinta pada sikapmu. Aku sengaja ingin membuatmu menyukaiku sama seperti aku begitu menyukaimu dengan cara yang selayaknya." Ia menampakkan kaca-kaca yang mengumpul di pelupuk mata. Rasa sesal yang terasa mencekik di kerongkongan ia longgarkan dengan mengatakan semuanya pada Jack.
"Dengan cara selayaknya?" Jack tersenyum kecut. Meletakkan kotak musik kristal itu pada meja panjang di ujung ruang.
"Memperlakukanku layaknya wanita.  menghargaiku seperti kau menghargai Ibumu."
"Sayangnya aku tidak pernah memiliki seorang Ibu dan aku tidak diajarkan menghormatinya," ucapnya tampak tak terima.
Ammy meraih tangan Jack, memandangnya lekat  dengan ekspresi sedih. Ia merasa bersalah karena mempermainkan Jack. Pria itu tidak pernah sebegitu berjuang hanya untuk mendapatkan sebuah kata maaf. Dan, kali ini dia berjuang untuk mendapatkan maaf dari sebuah kesalahan kecil yang tidak berarti.
"Kau gila, Ammy. Kupikir itu benar- benar milik ibumu. Kau tidak tahu, aku tidak bisa tidur karena memikirkan itu. Dan sandiwaramu ini ... Ini sangat  tidak lucu!"
***

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Bimz Sapa

    bagus kak, keren, enak dibaca

    11/05/2025

      0
  • avatar
    Anggiinptsrii

    baguss banget

    18/04/2025

      0
  • avatar
    JumintenJuminten

    TV makasih

    03/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru