Sudah seminggu lamanya Velia dirawat. Di pagi hari yang dingin akan gerimis manja, Zendi begitu bersemangat saat datang menyambangi rumah sakit itu. Mulai dari parkiran sampai masuk lobi dan menaiki banyak anak tangga, Zendi berlarian dengan senyum samar-samar hingga kedua ujung jaket yang tidak dikancingkan nampak tertiup ke belakang disela-sela langkahnya. Beserta aoma parfum yang dipakai Zendi kental sekali berhembus di penciuman orang-orang yang ia lewati. Tiba di lantai tiga. Tiada henti Zendi membawa kakinya berlari kencang menyusuri beberapa lorong koridor yang ramai, berbelok kesana-kemari terkadang hampir terpeleset dan menabrak orang lain maupun suster-suster cantik yang hilir mudik membawa papan. Meski akward, tapi Zendi masih bisa tersenyum, ia sungguh tidak sabar ingin menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Velia sebagai pertanda bahwa keduanya saling mengikat. Sedikit terengah-engah, sejauh mata memandang ruangan tempat Velia di rawat masih berada di ujung koridor itu. Zendi semakin antusias menuju kesana. Namun, belum sampai tujuan Zendi sempat berpapasan dengan dokter dan suster mendorong brankar seorang pasien dengan sekujur badan tertutup selimut putih. "Segera dibawa ke ruang mayat ya, sus, lalu hubungi pihak keluarga. Saya akan membuatkan surat kematian." perintah sang dokter dengan langkah gegabah. Dokter Wildan yang nyaris dicekik oleh Zendi tempo hari. "Baik, dok." jawab para suster itu serentak. Mendadak langkah Zendi memelan, tangannya seketika terangkat mengusap di belakang tengkuk. Bulu kuduknya jadi merinding melihat pemandangan mayat itu berlalu pergi didorong suster, bersama suara roda-roda brankar bergesekan keras dengan lantai hingga terdengar memantul di dinding dan menegangkan suasana. Hawa semakin dingin, Zendi menelan ludah kasar dan kembali melanjutkan larinya menuju ke ruang inap Velia. Persis, tiba di depan pintu bercat abu-abu, dengan sebuah papan tergantung di atas dengan tulisan 'Kamboja' itu. Akhirnya sampai juga. Tanpa pikir panjang Zendi langsung masuk dengan raut sumringah terpancar di wajahnya. "Velia tebak gue dateng bawa apa—!" Sekejap saja, Zendi mengerem seiring dengan senyumnya luntur. Ranjang itu kosong hanya menyisakan bantal. Lalu dimana Velia? Zendi bertanya-tanya dalam hati. Sementara sisa infus dan alat medis lainnya sedang dibereskan oleh suster. Sorot mata Zendi kian bergerak ke seluruh penjuru ruangan itu dengan gusar, dengan cepat Zendi menuju pintu toilet di pojok dan mendobraknya, sama sekali tidak ada satupun jejak Velia yang tertinggal. Melihat suster itu bergerak keluar ruangan, Zendi langsung mengejar dan menghadang jalannya dengan panik. "Suster! Pasien yang dirawat disini kemana!" "Mohon maaf mas, pasien yang sempat dirawat disini nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi, dan baru saja dipindahkan ke kamar mayat. Saya permisi dulu." Hati rasanya mencelos, jantung berdetak lambat seiring napas Zendi tercekat seakan terhenti. Aura di wajahnya mulai memucat. Dadanya sesak bukan main, seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Seluruh persendian kakinya melemas hingga lutut terjatuh di lantai dengan putus asa. Apa suster itu tidak salah bicara? Velia tiada? Meninggal? Bagaimana mungkin padahal perkembangan terakhir kemarin berangsur membaik. Apa Zendi salah dengar? Jadi, mayat yang dibawa oleh dokter tadi.. "TIDAKKK!!!!" Zendi menggeram sejadi-jadinya dengan kedua tangan terkepal erat dan kepala menengadah nyaris urat leher ingin putus. Orang yang amat dicintai pergi secepat ini, sangat tidak disangka-sangka. Seketika cairan hangat itu berlomba-lomba keluar, tak peduli dengan pandangan orang-orang menatapnya risih. Zendi menjambak rambut frustasi seakan ingin merontokkan. "VELIAAA!!!! KENAPA LO TEGA NINGGALIN GUA!!!!" Zendi kembali memekik dengan rahang mengeras dan mata menyala-nyala. Bahkan ketika hampir sebentar lagi ia bahagia memiliki Velia tapi Sang Kuasa mengambilnya. Sungguh dunia ini tidak adil. Zendi menghantam ubin dengan membabi-buta meski tak cukup melampiaskan. "Lo jahat, Velia!!! Lo jahat!!!" gerutunya miris. Sekelebat bayangan saat bersama Velia bagai menjadi cambuk, menyakiti Zendi sampai ke ulu hati. Tersayat-sayat habis tanpa sisa, menjadi goresan luka mendalam yang menyiksa batin. Perasaannya hancur melebur sehancur-hancur. Teramat sulit untuknya menerima kenyataan, mungkin Zendi dipastikan gila kalau saja seseorang tidak buru-buru datang dan memanggilnya. "Kak Zendi ngapain?" suara lembut nan familiar itu sontak menginterupsi jeritan Zendi. Perlahan kepalanya terangkat dan menengok ke belakang dengan segenap keraguan, berjarak dua meter darinya tampak gadis dengan balutan sweater cokelat dan tempelan plester di sisi kening itu menatap Zendi bingung. Bukan ilusi, converse-nya benar-benar menapak di lantai dengan inner beauty memancar di wajahnya yang berseri-seri. "VELIA!!!" pekik Zendi. Astaga, dia masih disini. Perasaannya menggebu-gebu, Zendi bangkit dengan kilat dan memeluk gadis itu erat-erat. Membuatnya terkejut seketika. Zendi menelusupkan wajahnya dalam pundak mungil itu, mendekap erat leher dan punggung Velia penuh rasa haru seakan tidak memberikan celah untuk bergerak. Hingga Velia mabok akan aroma maskulin di badan Zendi dan kesusahan sendiri mencari asupan oksigen karena terkurung oleh dada bidang itu. Pun degupan kencang tidak karuan di dalam tubuh kekarnya amat terasa sampai telinga Velia. "Jangan pernah sekali pun lo pergi dari hidup gue, Velia. Gak ada lo gue kehilangan arah." ujar Zendi begitu melepaskannya. Menatap Velia dalam-dalam sembari meremas kedua pundak kecilnya. Tersirat jelas raut cemas dan khawatir di wajah Zendi saat itu juga. "Kak Zendi kenapa sih?" tanya Velia heran seraya menyelipkan anak rambut dibalik telinga. "kesannya kaya gue mau pergi jauh aja. Dari jam lima tuh gue sama mama udah prepare soalnya hari ini gue dibolehin pulang. Dan, barusan banget gue abis dari rooftop nyari udara seger. Emang dikiranya gue kemana?" Mengingat ucapan suster itu, pandangan Zendi teralih ke dalam ruangan di samping mereka, antara sendu sekaligus horor. Sepersekian detik Velia terawa geli memperhatikannya. Memang, ada pasien baru yang menempati ruangan itu tepat setelah Velia keluar masih pagi sekali. Saat kembali dari rooftop Velia juga sempat bertemu dengan dokter Wildan dan suster membawa mayat, ketika Velia menanyakan kondisinya ternyata pasien yang baru tiga jam dirawat itu sudah menghembuskan napas terakhir karena terlalu sekarat. "Gue pikir lo .." Zendi terlihat lesu, demi apapun tak bisa membayangkan jika Velia sungguh pergi dari hidupnya. "Tadi tuh ada nenek-nenek dirawat disini kak. Dia gak mau ditaruh di kelas reguler gitu, mintanya yang VIP, sampe teriak-teriak gak jelas gitu pas diasepin. Kata dokter Wildan penyakitnya udah komplikasi, ada liver sesak napas kanker rahim macem-macem deh. Meskipun dia sakit ya, tadi gue sempet nengok sebentar gue liat-liat neneknya masih bisa humoris dan becanda-becanda gitu, tapi sekarang udah gak ada. Kasian banget." Velia turut berduka. Zendi langsung merangkulnya dan mengusap-usap lengannya. "Ve, lo tau kenapa nenek itu meninggal?" "Emang kenapa?" "Karena nyawanya udah dicabut." Cengiran kuda terbit di wajah tampan itu. Velia langsung menempelengnya sebal, jokesnya sama sekali tidak lucu. Tak berselang lama Sasmita datang bersama Prakoso dan memberitahu kalau urusan administrasi sudah beres sehingga Velia bisa cepat-cepat pulang. Zendi senang akhirnya gadisnya sudah pulih kembali seperti sediakala. Ketika posisi matahari digantikan oleh sang rembulan, Ridwan sudah mengatur rencana untuk Zendi. Sengaja beliau membuat janji dengan Prakoso untuk makan malam bersama. Di sebuah resto dekat pantai, dua keluarga itu bertemu minus Jefri karena punya acara sendiri. Berbagai hidangan seafood kecuali udang sudah dihidangkan di meja besar khusus enam kursi itu. Dengan banyak lilin menghias di tengah-tengah. Zendi tiada henti memandangi Velia yang duduk manis di depannya. Ia terlihat cantik malam ini, berbalut dress hitam selutut dengan model atasan denim tanpa lengan, dipadukan sneakers putih dan rambut digerai beserta make up tipis. Semua tak lepas dari paksaan sang ibunda yang tentunya tidak mau mengecewakan. "Sebelumnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kangmas Prakoso dan keluarga, karena acara pertunangan antara Zendi dan Velia minggu lalu terpaksa batal dan tertunda karena hadirnya satu orang yang tidak penting, sampai-sampai kejadian yang tidak diinginkan harus menimpa Velia. Sekali lagi saya minta maaf setulus-tulusnya. Demi untuk mempererat silaturahim, maka izinkanlah anak kami, Zendi, untuk menuntaskan apa yang harus ia tuntaskan." Begitu mendapat interuksi dari Ridwan, Zendi hanya mengangguk samar lalu bangkit dari tempat duduknya. Menyentakkan jaket yang dipakainya lalu memutari meja menghampiri Velia. Dengan seulas senyum maut andalan, Zendi mengulurkan tangan meminta Velia ikut berdiri. Meski sempat bingung, Velia langsung menerima tangan itu kemudian berdiri berhadapan dengan Zendi. Mendadak sekujur badan gemetaran karena tatapan Zendi. "Velia, suatu ketika kita pernah sedekat nadi, kita pernah sejauh matahari, kita pernah tidak saling peduli, bahkan kita pernah saling membenci, tapi kita juga pernah saling mengasihi. Kita menghargai sepanjang lika-liku kisah ini. Maafkan aku sering mengecewakan dan melukaimu, sementara kamu paling mengerti dan memahami keadaanku. Kamu adalah gadis paling sabar menghadapi sikapku. Aku belajar banyak hal selama kenal kamu beberapa bulan ini, dan mungkin gak bisa aku jabarkan satu per satu. Tapi, pada intinya kamu selalu membawa pengaruh positif hingga mata hatiku terbuka." Zendi sesaat melihat ke arah Sasmita dan Prakoso. "Aku berjanji di hadapan ayah dan bundamu, aku ingin menyatakan, aku ingin menjadi lelaki yang kamu cintai. Aku akan menuruti semua kata-katamu yang tujuannya demi kebaikanku. Aku ingin berhenti melakukan hal-hal yang tidak berguna, aku ingin behenti jadi lelaki bagajulan seperti dulu-dulu. Aku ingin menjadi kesayanganmu, lelaki yang kamu banggakan dimanapun kamu berada. Aku yakin dan aku percaya dengan hatimu. Aku cinta ama kamu, Velia. Seperti udara yang tidak terhitung jumlahnya, namun kehadirannya sangat terasa." Velia pawang hati Zendi. Si pemenang yang berhasil meruntuhkan ego dan benteng kerasnya hati Zendi. Para orang tua saling melempar senyum bahagia melihat seriusnya penuturan Zendi, begitu pula Velia yang tersipu malu sebelum akhirnya Zendi mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak cincin merah, Zendi melepas cincin berlian yang sama terpasang di jari manisnya. "Cincin ini ingin kembali kepada pemiliknya, apa jari manismu itu bersedia menerimanya?" tanya Zendi. Sudut bibir Velia mengembang sembari menatap kedua orang tuanya seakan meminta persetujuan. Melihat mereka mengangguk berjamaah, Velia juga mengangguk malu saat kembali menatap Zendi. "Iya, aku mau." DUAR!!! Seperti ada banyak petasan banting dan kembang api yang meledak-ledak dalam diri Zendi. Senyumnya kian merekah saat menyematkan cincin itu ke jari Velia, detik demi detik momen itu sangat mendebarkan hingga cincin berakhir melingkar manis persis di singgasana-nya. Tak terkira betapa bahagianya hati saat Zendi dan Velia mengangkat tangan bersama, kentara sekali dari senyum diselingi tawa kecil mereka yang tidak ingin pudar sembari menunjukkan sepasang cincin yang sama-sama terpasang di jari manis. Pun terkadang berkilau saat terpapar cahaya lampu. "Berarti mulai sekarang, saya menyatakan kalian sudah resmi bertunangan! Sebagaimana hakikatnya, kalian akan menjaga komitmen untuk bertahan sampai tiba waktunya naik ke pelaminan! Dan kami para sesepuh ini akan menjadi calon besan, bukan begitu dimas Ridwan?" seruan antusias Prakoso mendapat acungan jempol mantap oleh ayah Zendi. "Betul sekali kangmas!" Disusul tepuk tangan meriah bersama. Mereka hanya membiarkan saja Zendi membawa pergi Velia asalkan tidak jauh-jauh dari resto itu. Hidangan di meja makan sudah menanti untuk dinikmati, ke-empatnya makan malam dengan keharmoniskan bersatunya dua keluarga. Malam yang indah. Zendi dan Velia duduk bersama di bawah pohon di pesisir pantai, masih di area resto itu namun sedikit minim pencahayaan. Keduanya saling terdiam memperhatikan hamparan pasir putih dan deburan ombak, mendengarkan samar-samar berbagai suara pengunjung yang juga bermalam di pantai itu. "Gue seneng banget malem ini, padahal baru tunangan belum kita nikah, jadi gak sabar pengen cepet nikahin lo." celetukan Zendi mengundang Velia menyikut lengannya. Wajahnya memerah, Zendi tertawa geli mendapatinya. "Sekolah belum bener udah ujug-ujug nikah." gerutu Velia sembari memeluk kedua lengannya, menepis hawa dingin yang dibawa sang angin yang bertiup hingga merasuki pori-pori. Sebagai lelaki sejati tentu Zendi tidak sampai hati melihatnya. Bergegas dilepasnya jaket itu, Zendi mendekapkan erat di punggung Velia hingga menutup lengan Velia yang semula tidak terhalang apapun. "Loh, kak .." Velia ingin protes namun Zendi mengangkat telunjuk di depan bibirnya, bersama sorot mata elang yang teduh nan hangat. "Bidadari gue gak boleh sakit." Sempat terpana, Velia menempeleng wajah tampan itu menjauh dengan kesal. "Sok romantis!" Zendi tertawa kecil dan menahan tangan itu berada dalam genggamannya. Lalu ditariknya mendekat sisi kepala Velia hingga bersandar di pundak kokohnya. Zendi mengusap-usap rambut Velia sebelum merangkulnya lebih erat. Sesekali Zendi menunjuk ke langit dimana berjuta-juta gemerlap bintang menghiasi malam, yang semakin menjadi pelengkap kebahagiaan mereka. "Oiya, yang tadi diomongin itu beneran kak? Kak Zendi mau berhenti merokok? Bokis ya?" tanya Velia. "Bokis rasa jujur." "Dih, serius." "Ya jujur dong." "Masa? Nanti kalo khilaf?" "Demi kamu, semoga engga." "Gue nanya kalo khilaf, terus mau dihukum apa?" "Dicium boleh, sepuasnya." "Gak jadi." Ternyata masih sama, Zendi tidak bisa serius sedikit, selalu saja tertawa. Namun Zendi mampu meyakinkan bahwa tekad itu sudah bulat dan matang, dengan adanya Velia di sisinya pasti pelan-pelan akan membantu Zendi berpegang teguh dengan niatnya itu. Zendi sungguh-sungguh tidak ingin paru-parunya rusak, jelas kalau itu terjadi Zendi tidak pantas bersanding dengan Velia. Tiba-tiba perhatian Zendi teralih akan banyaknya kerlap-kerlip berwarna kuning yang berterbangan di dekat pohon itu. Kunang-kunang, binatang yang jarang sekali ditemui. Perlahan Zendi angkat pantat dan mendekat sembari mengerahkan kedua tangan untuk menangkap, sesekali mengisyaratkan Velia supaya diam agar kunang-kunang itu tidak pergi. Tiba di depan mata, pelan tapi pasti kedua tangan besar Zendi mengepung dari sisi kanan dan kiri sejumlah hewan itu. Sinar kuning yang terpancar dari sayap kecil mereka yang mengepak-kepak terlihat begitu indah. Sambil menghitung mundur dalam hati, lama-kelamaan Zendi mulai mengepung dan bergerak kilat menangkapnya. Hap! Persis, Zendi mendramatisir keadaan sampai-sampai tersungkur di pasir, seiring dengan kunang-kunang itu langsung berpencar pergi ke berbagai arah. Velia sontak tertawa mendapati Zendi mengumpat 'sial' sebelum kembali duduk di sampingnya dengan wajah kusut dan rambut kemasukan debu pasir. "Harapan emang gak seindah kenyataan, kak." ujar Velia sambil membersihkan rambut Zendi dengan jari-jari lentiknya penuh perhatian hingga sesaat keduanya bertemu mata. "Lo belum liat yang di tangan gue." Kedua tangan Zendi masih menyatu, membungkam erat hewan yang terasa bergerak-gerak disana. Velia dengan fokus mengamati dan menarik tangan Zendi lebih dekat. Keduanya bersama menyaksikan, perlahan ibu jari Zendi membuka sepersekian inchi. Persis, nampak dua cahaya kuning berlarian di dalam bekapan tangan kekar itu. Dalam sekejap, sudut-sudut bibir Velia tertarik dan mengembang indah dengan wajah takjub. "Wow .." "Keren gak?" tanya Zendi senang. "Lucu." balas Velia gemas. Ditanya apa jawabnya apa. "Lo tau kenapa gue cuma dapet dua?" "Karena yang lain takut duluan liat kak Zendi." "Salah." "Terus?" "Karena takdir, mungkin mereka jodoh." Garing. Velia tertawa kegelian. Dia. Zendi sempurna berkatnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (239)
mulyaniNenk
aku suka ceritanya thor......lanjut baca nich...💪💪
02/05/2022
0
Claudiya
eyakkkk bagusss bangettt, ga kebayang sampe klk velia sama zendi nikah kirain velia sama rifai yang nikah. tp gaapa bagus bangett crtanya plot twist nya gaada seng tak sangka", kak fai dah ada gebtannya nihh yeee. semangat buat cerita yang lainnya ya kak ❤️
05/01/2022
2
Yesi
KAK MASIH ADA LANJUTAN NYA LAGI GA?😭😭😭😭 PENASARAN BANGET JADI KE INGET" PLISS,SEMOGA KAKAK BACA KOMENTAR AKU YAYAYA😭
MOGA HAPPY END JGA WKWKW😁😍🥰
aku suka ceritanya thor......lanjut baca nich...💪💪
02/05/2022
0eyakkkk bagusss bangettt, ga kebayang sampe klk velia sama zendi nikah kirain velia sama rifai yang nikah. tp gaapa bagus bangett crtanya plot twist nya gaada seng tak sangka", kak fai dah ada gebtannya nihh yeee. semangat buat cerita yang lainnya ya kak ❤️
05/01/2022
2KAK MASIH ADA LANJUTAN NYA LAGI GA?😭😭😭😭 PENASARAN BANGET JADI KE INGET" PLISS,SEMOGA KAKAK BACA KOMENTAR AKU YAYAYA😭 MOGA HAPPY END JGA WKWKW😁😍🥰
04/01/2022
0Lihat Semua