Beranda/Bukan Pelit Tapi Ngirit/
Bab 5. Uang Dari Mana?
Bukan Pelit Tapi Ngirit
Bab 5
Uang Dari Mana?
"Tika. Jangan dulu diantarkan pisang itu!" Istriku mengambil pisang di tangan Tika.
Tika hanya mematung melihat ibunya mengambil pisang di tangannya.
"Bu. Kenapa pisangnya diambil?" tanyaku heran.
"Pak. Jangan pelit! Mosok pisang kecil-kecil seperti ini yang mau dikasihkan orang." Istriku sewot.
Istriku langsung mengganti pisangnya.
Dia memberikan pisang yang besar-besar pada Tika. Tika pun mengantarkan pisang tersebut pada tetangga.
"Itu baru pantas dikasihkan orang!" sindirnya sambil melotot ke arahku.
Apa salahku dipelototi seperti itu?
"Bu, kenapa dikasihkan yang besar-besar, sih?" protesku.
"Pak, lihat! Sekecil ini akan dikasihkan orang? Kebangetan pelitnya!" Istriku ngamuk.
Memang, aku tadi memberikan pisang yang buahnya kecil-kecil. Sisir paling bawah.
Yang penting judulnya ngasih pisang, mau kecil atau besar tidak jadi masalah seharusnya. Tapi dasar istriku, aku selalu saja salah di matanya. Nasib nasib, kok begini amat.
"Bu, pisang itu mau dibawa kemana?"
"Buat diberikan pada adik dan kakaknya, Bapak."
"Kenapa harus sebanyak itu?"
"Pak, kalau sedikit malulah! Mereka itu kalau memberi sesuatu selalu banyak."
Istriku langsung mengantarkan pisang itu sendiri, ke rumah adikku dan yayukku. Aku tak bisa berkutik. Bayangkan! 6 sisir, kalau dijadikan sale itu sudah banyak.
Setelah pulang dari rumah saudaraku, Bune memisahkan lagi pisang 2 sisir.
"Mau dibawa kemana lagi, Bune?"
"Mau dikasihkan, Bude Sri." Istriku memilihkan 2 sisir yang besar-besar.
"Tuker sama yang kecil-kecil!" perintahku.
"Sudahlah, Pak! Itu masih banyak buat kita."
"Tika, anterin ini untuk Bude Sri." Istriku memberikan pisang dua sisir pada Tika.
"2 sisir, Bune?"
Istriku hanya mengangguk tanda setuju, kemudian dia pergi ke kamar mandi.
Aku mendekati Tika, jari telunjuk kutempelkan di bibir, sebagai isyarat untuk diam. Aku ambil satu sisir pisang dari tangan Tika, mau ditukar dengan sisir-an yang kecil. Jadi 1 sisir besar, 1 sisir lagi kecil 'kan imbang.
"Udah ini kasihkan, Bude !"
Aku menyuruh Tika pergi, sebelum istriku melihat pisang yang ditukar tadi.
Tika dengan malasnya melangkahkan kaki menuju rumah Bude Sri. Bude Sri tetanggaku yang berprofesi sebagai paraji atau dukun beranak.
Aku kembali melanjutkan mengupas pisang, yang akan dijadikan sale. Tentunya aku mengupas yang buahnya besar-besar dulu, takut keburu dibagikan lagi.
"Bune, ini dikasih buah mangga dari Bude Sri." Tika membawa 3 buah mangga dimadu.
"Pak, lihat! Baru saja kita membagikan pisang, langsung diganti dengan buah mangga. Makanys jadi orang jangan pelit-pelit."
Gara-gara mangga, Bune mendapatkan senjata untuk menyudutkan aku.
"Halah, coba kalau tidak dikasih pisang, belum tentu kita dikasih Mangga."
"Hmm, begini-ni kalau orang pelit …."
Istriku menggantungkan ucapannya.
"Pelat-pelit, sebenarnya siapa yang pelit, Bune? Bapak selalu disebut pelit!" Aku kesal disebut pelit, padahal aku hanya Ngirit.
"Pak, tidak ada orang pelit, yang merasa dan mengakui bahwa dirinya pelit!"
"Terserah, Bune!" sewotku.
Aku sebenarnya ingin pergi dari dapur, tapi takut kecolongan. Kalau aku lengah bisa jadi pisang dikasih-kasihkan orang, aku tak mau itu terjadi.
"Pak, kalau semua dibikin sale nanti boros minyak lho, mau beli minyak yang banyak?"
pertanyaan istriku seolah menyindirku. Karena beberapa hari kemarin, aku tidak memberikan uang untuk beli minyak.
Salah sendiri, disuruh bikin minyak tidak mau. Padahal banyak kelapa di rumah. Ah, kalau ingat itu aku suka kesal sendiri.
"Pak, kok malah diam, kenapa? Nggak mau beli minyak lagi?"
"Apa, sih, Bune. La wong Bapak sedang ingat sesuatu. Tenang, masalah minyak nanti dibelikan yang lima liter!"
Aku tidak masalah kalau harus beli minyak yang lima liter, demi menggoreng sale.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Kang Wono, pinjam tangki semprotan. Nggak dipakai, kan?" Kang Dawan mau pinjam tanki semprotan.
"Lagi rusak, Kang. Itu nggak tahu apa yang rusak."
"Ya udah, kalau nggak boleh pinjem." ucapnya sambil berlalu pergi.
Dia tidak percaya kalau tankinya rusak beneran. Dikiranya aku tidak mau meminjami tanki tersebut. Dia Itu suaminya Mbak Tumini, tetanggaku yang kemarin minta gori.
Nasib-nasib … orang jujur kalau alatnya rusak, malah dianggap pelit. Apa karena kemarin dia melihat aku menyemprot rumput di depan rumah pakai tanki? Padahal, itu punya Kirno yang aku pinjam.
"Pak, minta uang! Buat beli penggaris sama penghapus." pinta Tika.
Aku pun langsung memberikannya uang dua ribu.
"Eeh, lupa sekalian bukunya, Pak."
"Alasan saja! Kemarin habis beli buku sekarang beli buku lagi." Kutatap wajah Tika yang sedang senyum cengengesan.
"Siapa yang alasan, Pak? Kemarin buku tulis sekarang buku gambar."
"Pinter alasan!" Aku keluarkan lagi uang lima ribu, tapi tidak langsung aku berikan pada Tika.
"Mana yang dua ribunya?" Aku meminta Tika mengembalikan uang yang dua ribu tadi.
"Kenapa diminta lagi, Pak?"
"Lima ribu cukup!" tegasku.
"Nggak mau "
"Cepat berikan uang dua ribunya! Kalau tidak dikasihkan yang dua ribu, maka tidak dibelikan buku gambarnya!" ancamku.
"Bune …." Tika memanggil ibunya.
Bisa ribet urusannya kalau sampai memanggil istriku. Aku menoleh kebelakang, takut istri ku muncul tiba-tiba dari belakang. Seketika Tika mengambil uang, yang ada ditanganku. Ah, sialan itu hanya triknya dia saja untuk mengelabuhiku.
Kulihat Tika sudah lari ke warung sambil tertawa, seolah meledekku.
Tika semakin pintar, banyak ide untuk mengalahkanku. Mungkin sudah zamannya, anak-anak sekarang lebih cerdik akalnya.
"Apa itu, Bune?"
Istriku menyeret karung yang aku tak tau apa isinya
"Kelapa," jawab istriku yang sedang menata posisi karung di atas motor.
"Mau dibawa ke mana?
"Mau dibawa ke pasar. Mau dijual." Istriku melangkah pergi tanpa merasa bersalah.
Dia mengantarkan kelapa itu ke pasar, mengendarai motor yang biasa dipakai Nurdin cari rumput. Rumah kami dekat dengan pasar.
Tempo hari aku menyuruhnya bikin minyak kelapa, dia tak mau. Bahkan rela masak tanpa minyak, karena aku nggak memberi uang buat beli minyak.
Tapi hari ini dia malah menjual semua kelapa itu. Aku tak mengerti, apa maunya dia?
Sepulang dari pasar dia tidak membeli apa-apa. Berarti dia memegang uang banyak. Awas saja, kalau meminta uang lagi nanti.
"Bune, dari pasar, kok tidak beli apa-apa?"
"Memangnya mau beli apa? Di Rumah sudah ada semua bumbu dapurnya."
"Mana uangnya?" Aku meminta uang hasil jual kelapa.
"Uang apa, Pak?" Istriku pura-pura tidak paham.
"Ya, uang jual kelapalah!" Aku mulai kesal dengan istriku.
"Bapak, punya uang bukan? Itu uang siapa yang ada di saku celana itu?" Istriku menunjuk ke arah celanaku.
Dia tahu juga, kalau aku suka membawa uang di saku celana.
"Terus itu duitnya mau buat apa?" tanyaku penasaran.
"Ya buat, Bune. Habisnya tidak pernah dikasih uang buat pegangan sendiri. Suamiku 'kan pelit!" Istriku menekankan pada kalimat pelit.
"Bukan pelit tapi ngirit!"
Aku membawa motor ke belakang. Tapi kok rasa berat sekali? Motornya kenapa?
Aku lihat ternyata bannya bocor, pantas terasa berat. Ada paku nancep di ban motor.
"Bune … ban motornya bocor." Aku berteriak di depan dapur.
"Ya di bawa ke bengkellah, Pak! Masak Bune suruh nambal!" sewot istriku dari dapur.
"Minta uangnya!" Pintaku.
"Pakai uang itu aja!" Istriku menunjuk saku celanaku.
"Nggak mau! Ini uangnya seratus ribuan semua, Bune. Sayang kalau mau di pecahkan."
"Dasar pelit! Apa susahnya membayar
pakai uang seratus ribu, nanti juga dikembalikan."
"Bukan pelit tapi ngirit! Nanti kalau sudah jadi uang pecahan cepat habisnya."
"Ya Allah … Bapak kebangetan pelitnya! Cari uang kalau bukan dipake mau buat apa, sih, Pak?"
"Buat ditabung." Aku menjawab sesuai keinginanku, yaitu banyak tabungan.
"Tabungan banyak tapi buat sehari-hari nggak ada! Parah ngiritmu!" Istriku marah-marah dari dapur, mungkin kepala sudah berasap, kalau amarah bisa berwujud.
Sudahlah, daripada mengomelnya berkepanjangan lebih baik aku pergi kebengkel.
Terpaksa aku membayar bengkel pakai uang seratus ribuan, tadinya mau disimpan. Gara-gara paku sialan, aku harus merecehkan uang seratus ribuan 'kan sayang.
Coba tadi kalau istriku tidak ke pasar jual kelapa, pasti aman duitku. Aku benar-benar dibuat kesal hari ini oleh istriku. Aku tidak akan memberikan uang jatah sayuran untuk besok pagi.
❤️❤️❤️❤️
Bangun dari tidur siang aku mendengar rame suara orang, ada apa sih? Aku yang penasaran ke luar dari kamar menuju pendopo. Ternyata ada tukang bakso, sedang mangkal di depan rumah tetanggaku.
Rupanya ada beberapa ibu-ibu yang sedang membeli bakso. Di situ juga ada istriku yang sedang makan bakso, Nurdin sama Tika juga ada di sana.
Istriku punya duit dari mana? Kok tumben bisa beli bakso tanpa minta duit. Oh iya, aku lupa kalau dia punya uang hasil jual kelapa.
Sepertinya enak juga panas-panas gini makan bakso. Aku cuci muka dulu sekalian mengambil mangkuk. Malu makan bareng ibu-ibu. Mending dimakan di rumah.
Sebenarnya kalau anak-istriku tidak beli bakso, aku enggan membelinya. Sayang duitnya.
Aku berjalan menuju tukang bakso sambil membawa mangkuk. Istriku hanya tersenyum melihatku membawa mangkuk.
Aku membawa bakso ke dalam rumah. Aku mengambil nasi dulu, jadi makan bakso dikasih nasi. Biar kenyang sekalian.
"Pak, enak, ya baksonya?" tanya
Istriku, yang tiba-tiba sudah muncul di sampingku. Aku hanya menganggukkan kepala.
Pertanyaannya pasti akan menyindirku, sebab tidak pernah membelikan bakso pada mereka.
"Kok, tumben beli bakso, Pak?" Tuh, kan benar pertanyaannya menyudutkanku.
"Hanya nyobain, Bune. Penasaran sama rasa baksonya," jawabku asal.
Padahal, karena mereka sudah beli duluan. Coba kalau mereka tidak beli, mana mau aku beli. Tapi baksonya memang enak sih.
"Pak, besok beliin bakso, ya!" pinta Tika.
"Enak, ya, Nduk?" Istriku seolah sedang menyindirku.
"Iya, enak, Bune. Tika suka."
Istriku hanya tersenyum kemudian mencebikkan bibirnya ke arahku.
"Bune, kok bisa beli bakso emang duit dari mana?" tanyaku penasaran.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
Istriku malah balik bertanya dengan nada yang dibuat-buat. Mengesalkan sekali.
"Duit jual kelapa kemarin, ya?" Aku menebak.
"Bukan."
"Terus, dari mana?" tanyaku penasaran.
"Menurut, Bapak, Bune punya uang dari mana?" Malah mengajak main tebak-tebakan..
"Nggak tahu." Aku pasrah dikasih tahu syukur, tidak pun nanti aku cari tahu sendiri
Istriku malah senyum senyum sendiri. Apa mungkin dia mengambil uangku, rasanya tidak mungkin. Dia tidak pernah membuka dompetku.
"Pak, sekarang gantian Bune yang mau tidur."
Istriku tiduran di atas kasur lantai yang digelar di depan TV. Kasihan dia kecapaian, walaupun kerja di rumah.
Setelah sholat Ashar seperti biasa aku membersihkan kandang sapi. Aku masih memikirkan dari mana istriku dapat uang tadi? Katanya bukan uang hasil jual kelapa. Berarti duit siapa? Dari mana?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (76)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wah ceritaya menarik bangget seru👍👍
15/06/2022
3bukunya bagus dan bisa di pahami dengan mudah
12/02
0bagus👍👍👍👍
07/01
0Lihat Semua