Beranda/Bukan Pelit Tapi Ngirit/
36. Ingin Ditawari Sate
Bukan Pelit Tapi Ngirit
Bab 36
Aku penasaran sekali dengan apa yang terjadi di depan sana. Aku tetap berusaha fokus mengendarai motor ini. Kalau tidak fokus bisa bahaya ini. Sebab banyak kendaraan lalu lalang di jalan lintas ini.
Jalan yang kulewati saat ini adalah jalan lintas timur. Dari tadi banyak bersimpangan dengan mobil-mobil fuso atau mobil muatan lainnya. Jangan ditanya jumlah mobil pribadi yang bersimpangan denganku.
Kini aku berhenti di tempat orang-orang yang ramai tadi.
Ternyata tadi ada motor yang meletus bannya, katanya. Untung dia tidak sendirian. Mereka rombongan berkendara motornya. Jadi tadi yang pada ngumpul di pinggir jalan adalah rombongannya.
Sepertinya mereka sedang melakukan perjalanan jauh. Plat motornya bukan daerah sini, mereka sepuluh motor.
Tapi aku tidak bertanya mereka dari mana mau kemana? Itu bukan urusanku.
Aku mengendarai motor dengan cepat, ingin cepat sampai rumah. Ingin cepat menyerahkan sate kambing. Dan kini aku sudah sampai di depan rumah.
"Bapak dari mana, sih, kok lama sekali?" Tika berdiri di depan pendopo depan tangan memeluk tiang pendopo, kakinya digoyang-goyangkan.
Sudah diserbu pertanyaan dari Tika, padahal aku baru mematikan mesin motor. Belum turun dari motor. Tanpa menjawab pertanyaan Tika, aku hanya mengasongkan kresek yang berisi puluhan tusuk beserta sate kambingnya.
Tika menerimanya kresek tersebut, dia tampak mengernyitkan dahi, setelah membuka kresek tersebut. Sepertinya dia tidak percaya kalau aku beli sate. Tak lama kemudian senyum mengembang dari bibir gadis kecil itu.
"Bapak beli di mana satenya?"
Tika kembali bertanya. Jiwa serba ingin tahunya sepertinya nurun dari aku, kesal juga diberondong pertanyaan terus. Tapi tidak apa-apa karena itu nurun dari bapaknya, he he he.
Aku pandangi wajahnya sebentar, dia masih menenteng kresek tadi dengan wajah sumringah tapi masih menunggu jawabanku.
"Bapak belinya jauh sekali, makanya tadi pergi lama sekali. Itu demi Bune!" tegasku.
Tika terlihat melongo mendengar kata jauh dan lama, mungkin dia tidak percaya.
Supaya anak itu tahu bahwa aku benar-benar mengusahakan kesehatan untuk Bune. Supaya anak itu tidak seenaknya sendiri kalau ngomong.
Aku langsung memasukkan motor ke dalam rumah. Di ruang tamu ada Tika dan ibunya. Mereka sedang ngobrol.
"Bune ini sudah dibelikan sate kambing." Suara Tika terdengar dari tempat aku menaruh motor.
"Iya sudah taruh dulu di meja makan," perintah Bune pada Tika.
Kok tanggapan Bune datar sekali. Tidak terdengar suara bahagia telah dibelikan sate. Atau tidak bertanya itu dapat dari mana? Aku kan ingin ditanya. Jauh-jauh mencari sate tapi tanggapannya datar begitu. Aku berharap Bune banyak bertanya dan dia senang aku telah berusaha mencarikan obat untuk kesembuhan.
Tika pun langsung berjalan ke arah meja makan untuk menaruh sate tersebut.
Aku berjalan ke arah istriku yang sedang di ruang tamu. Dia terlihat sedang rebahan di sofa.
"Bune, masih pusing dan lemas?" tanyaku memastikan. Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Bune.
"Makan sate sekarang, ya!" Aku memberikan saran pada istriku.
"Nanti saja, Pak." Bune menolak saranku.
"Nanti gimana, sih, Bune! Sekarang saja biar cepat sehat!" ucapku tidak ingin dibantah. Kulihat Bune hanya pasrah terhadap ucapanku.
Kini aku menuju meja makan, langsung mengambil piring dan mengisi dengan nasi kemudian menaruh beberapa tusuk sate.
"Bune makan ini sekarang!" Aku setengah memaksa Bune sambil menyodorkan piring tersebut.
Dengan malas Bune menerimanya. Aku masih mengawasi Bune. Kini Bune mulai makan satenya. Nikmat sepertinya. Aku pun menelan saliva.
"Cie cie Bapak pengen, ya!" Tika mengagetkan saja. Dia mungkin tadi sempat melihat aku menelan liur.
"Sok tahu!" jawabku sekenanya.
Tika malah tertawa mendengar jawabanku.
Aku menunggu pertanyaanku istriku. Tapi tak kunjung dia bertanya. Padahal aku hanya ingin ditanya dapat dari mana sate ini? Beli berapa? Dan setidaknya bilang terima kasih kek. Dasar perempuan tidak peka! Padahal dia sudah habis lima tusuk sate. Aku mendadak jadi kesal.
Aku menghela napas berat. Karena menahan rasa sedikit emosi. Aku sedikit memanyunkan bibir ini. Tapi Bune tidak peduli dengan ekspresi wajahku.
Dia tengah menikmati satenya. Malah sangat menikmati terlihatnya. Aku tidak ditawari sama sekali. Padahal hanya basa-basi saja sudah membuat aku merasa dipedulikan. Jangankan basa-basi menoleh padaku saja tidak! Awas kamu Bune!
"Pak, Tika mau, ya, satenya," ucap Tika setelah melihat Bune menikmati satenya.
"Jangan banyak-banyak itu mau buat obat Bune," jawabku dengan menekan kalimat buat obat Bune.
Biar perempuan yang sedang menikmati sate tadi sadar bahwa sate itu dibeli untuk kesembuhan dia. Sayang sekali perempuan tadi tak peduli. Dia hanya melihatku sebentar terus kembali fokus makan.
"Tapi satenya banyak sekali, Pak," protes Tika. Ditanggannya kini sudah ada piring berisi nasi dan sate serta lauk lainnya.
"Itu buat Bune. Jangan banyak-banyak ngambilnya!" Suara sengaja aku keraskan supaya istriku dengar.
"Bapak pelit," Tika tidak mau kalah, suaranya juga ikut keras.
"Bukan pelit tapi ngirit! Tahu nggak ini belinya jauh? Ini buat obat Bune!" Aku masih dengan suara keras. Supaya peka orang yang masih ada di ruang tamu tadi.
Tika makan di meja makan. Aku sengaja mengikuti ke meja makan. Sebenarnya dari awal aku membeli sate itu untuk semuanya. Tapi karena sikap Bune yang datar, tiba-tiba membuatku kesal dan ingin menunjukkan padanya bahwa aku membeli sate ini jauh. Jadi pamrih aku.
Aku sendiri ingin ikut makan bersama Tika. Ini sudah sore, habis Ashar. Selain lapar juga karena ingin cepat makan sate. Aku pun ikut mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur yang telah ada serta beberapa tusuk sate. Aku juga menambahkan beberapa tusuk sate pada piring Tika.
"Terima kasih, Pak." Tika tersenyum padaku setelah ditambahkan sate pada piringnya. Berbeda dengan Bune yang tidak mengucapkan kalimat apa pun padaku tadi.
Aku hanya mengangguk saja. Kami sama-sama menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Bodo amat dengan Bune yang telah berdiri di sampingku.
Salah sendiri tadi aku diacuhkan. Bune hanya mengambil minum dan mengembalikan piring kotor bekasnya tadi. Aku hanya melihatnya sekilas. Tanpa ingin menyapa atau berbasa-basi dengannya. Biar dia peka dan tahu rasa.
"Asyik … ada sate," ucap Nurdin yang baru selesai mandi. Dia baru keluar dari kamar mandi mau menuju kamarnya.
"Ayo, sini makan!" kataku.
"Sebentar pakai baju dulu," jawabnya.
Dia baru pakai celana pendek belum pakai baju. Sepertinya dia tidak main bola hari ini. Kalau main bola jam segini tidak ada di rumah.
💐💐💐💐💐💐
Beberapa hari kemudian keadaan
Bune sudah kembali sehat, sudah tidak merasakan pusing maupun lemas. Tapi tidak juga keluar kata terima kasihnya padaku. Benar-benar tidak tahu terima kasih!
Padahal apa susahnya mengucapkan terima kasih. Cukup mengucapkan terima kasih saja sudah membuatku bahagia. Merasa dihargai usahaku.
Memang kewajiban suaminya untuk membelikan obat. Aku juga manusia biasa yang masih membutuhkan ucapan terima kasih. Apalagi tidak hanya sate kambing yang diberikan untuk Bune. Banyak macam makanan bergizi lainnya.
Sudahlah aku akan mengubur rasa kesalku ini. Aku akan berusaha meredam emosi jiwaku. Untungnya emosi tidak sampai meledak.
Yang terpenting sekarang Bune sudah sehat kembali.
"Pak kenapa beberapa hari ini kok banyak diam sama Bune?" Dia akhirnya menyadari.
"Tidak ada apa-apa," jawabku singkat. Ingin tahu seberapa jauh dia ingin tahu.
"Ya sudah kalau begitu. Oh iya terima kasih waktu itu Bapak sudah membelikan sate kambing sampai harus bermotoran jauh," ungkap Bune.
Akhirnya kalimat itu keluar juga. Tadinya aku sudah pasrah, memastikan kalau tidak ada ucapan itu dari istriku.
Kadang-kadang sesuatu itu datang setelah kita pasrah. Soalnya aku sendiri sering pasrah pada Allah, setelah apa yang aku usahakan dan harapkan tidak berhasil. Ketika dalam keadaan pasrah itulah Allah memberikan apa yang aku harapkan.
Kami yang sama-sama duduk di kamar saling pandang. Emosi yang selama ini aku pendam berangsur hilang, hanya karena ucapan terima kasih.
💐💐💐💐💐
"Bune, tadi kata Bu guru, Tika suruh bawa sapu besok." Tika memberitahu kami tapi hanya Bune yang disebut. Sementara matanya ketika ngomong memandang ke arah aku dan Bune. Kami sedang menonton televisi.
"Bua apa?" Aku menyela pertanyaan pada Tika.
"Suruh bebersih halaman sekolah," papar Tika.
"Bawa yang waktu itu Bune beli. Ada di dapur," Bune memberi tahu. Kemudian Tika melangkah ke dapur. Mungkin mau memeriksa keberadaan sapunya.
"Pasti mau dikumpulkan terus mau dibawa pulang gurunya!" ucapku asal. Soalnya dulu waktu aku sekolah dasar suka begitu.
"Hus … sok tahu Bapak! Suudzon aja bawaannya!" sergah Bune, sambil melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu dikunci. Tadi pintu depan belum dikunci.
💐💐💐💐💐
Aku baru pulang dari pabrik. Melihat
Bune sedang membeli buah yang dijual oleh mobil secara keliling.
Mau beli apa dia? Terus beli berapa kilo?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (76)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wah ceritaya menarik bangget seru👍👍
15/06/2022
3bukunya bagus dan bisa di pahami dengan mudah
12/02
0bagus👍👍👍👍
07/01
0Lihat Semua